Cengkaraman bagi Perempuan Papua  dan  Pembebasan Nasional West Papua

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Tahun yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Doc. Pribadi. Ist

Oleh : Nerop Desi Krisstinney Siep]*

 

Perempuan papua merupakan manusia yang sudah menghuni di atas tanah papua  sejak awal mula wilayah Papua belum terbagi kedalam   beberapa pulau di kawasan pasifk  sebelum mapun sesudah zaman es di kutub utara dan barat terpecah menjadi beberapa bagian benua. Perempuan  Papua sendiri sudah hidup bersama alam dan tanah papua sebelum agama,bangsa barat (Portugis, Inggris, Amerika, Belanda, Jepang dan Indonesia ) masuk ke wilayah Papua. Sementara perempuan Papua itu sendiri terbagi kedalaman  tujuh (7)  wilayah adat  (BOMBERAY, DOMBERAI, SAIERERI, MEPAGOO, LAPAGOO, HANIM,MAMTA). Masing masing wilayah adat memiliki total jumlah suku 255 suku (papua.go,id).

 

Perempuan Papua  dari masing masing suku memiliki karakteristik dan kebudayaan yang berbeda beda baik dalam menyikapi persoalan ekonomi, social masyarakat. situasi perkembangan perempuan Papua ini,menjadi analisa tersendiri dalam memetahkan persoalan dan musuh utama yaitu: imperialsiem  kolonialisme, militerisme dan patriarki.


Penyadaran juga perlu di bangun berdasarkan kontek tujuh wilayah adat Papua. Agar dalam menjangkau basis rakyat itu mendapatkan emosional yang sama. Musuh rakyat secara umum sudah mengetahui, maka musuh khusus untuk penidasan perempuan itu juga perlu di pahami dan di jalankan secara bertahap dan detail dalam menggambarkan situasi masayarakat papua secara objektif dan rasional.

 

Imperialisme

Kebijakan dimana sebuah Negara besar dapat memegang kendali atau pemerintahan atas daerah lain agar Negara itu bisa di pelihara atau berkembang. Bagaimana iperialisme itu sediri sudah di jalankan dari bangsa barat di Eropa dengan cara menguasai wilayah dan tanah tanah dan meongklonisasi rakyat pribuminya dan di singkirkan jauh jauh hingga tidak berdaya atas nasib dan massa depan rakyat nya sendiri. Kekuatan hegemoni ini mempengaruhi hayat hidup perekonomian dalam diri perempuan Papua dalam mengatur ekonomi keluarga dan anak. Situasi ini kapitalisme menghisap,mengalienasi, menguasai pasar dan menjadikan perempuan Papua tidak bisa bersaing dan berjuang untuk tetap mencari ekonomi keluarga dan anaknya.

 

Secara garis besar sebelum masuk zaman imperialisme, perkembangan manusia sudah di mulai sejak zaman komunal primitive, feodal, Perbudakan, hingga kapitalisme. Historis  Penindasan  (Patriarki ) terhadap  perempuan Papua  sudah  menjadi bagian dari kebudayaan  lama dari suku masing masing  dan juga selalu terjadi  baik  secara  langsunng , maupun tidak langsung, baik sadar maupun   tidak sadar dalam kehidupan sehari hari. Dalam sejarah mencatat bahwa kehidupan perempuan Papua, zaman dahulu dalam aktivitasnya   tidak ada perbedaan antara perempuan dan laki laki, mereka biasa bekerja sama sama. Kolektifitas  dalam  hidupnya pun berpindah pindah  (Nomaden Life) dan ketika ada penemuan  alat  kerja untuk  di gunakan saat  kerja kebun disitulah, akhirnya mulai munculah perbedaan antara perempuan dan laki laki. Stigma (Sterotipe) terhadap perempuan   dengan symbol  seperti terbelakag, lemah , tidak mampu    dan lain  sebagainya.

 

Itu secara tidak langsung menjatuhan martabat perempuan dan perempuan merasa tidak di hargai  dan merasa terbelakang, lemah dan sebagainya. Padahal jika  semua perempuan papua  itu seperti demikian, jika di latih dengan baik maka otomatis  cara berpikir dan bertindak  pastinya mengalami perubahan dari pasif ke kritis dan rasional. Begitu pun sebaliknya  laki-laki yang  berpikiran maju ,kritis dan rasional yang bisa mendidik dan mendorong perempuan papua untuk maju. Sisi lain laki laki yang  berpikiran pesimis dan tertutup pastinya masih memelihara  egonya tinggi  dan tidak  akan perna memberikan  ruang kepada perempuan Papua  untuk maju dan berkembang.

 

Sebenarnya laki-laki Papua itu punya tanggung jawab besar terhadap perempuan papua untuk tetap  mendorong ,memberikan  ruang kebebasan dan saling mengekspor, memberikan  rasa kenyamanan dan tidak merasa  di tindas dan bisa berpikir dengan  menggunakan logika yang baik dan benar. Perspektif keadilan  dan kesetaraan perlu dipahami  oleh perempuan Papua  itu sendiri agar perempuan Papua mampu untuk melawan segala bentuk penindasan, imperiallisme, kolonialisme, patriarki dan militerisme. Inil adalah bentuk dari pada akar penindasan perempuan papua dan memposisikan perempuan papua sedemikian tidak berdaya, sehingga secara sadar atau pun tidak, perempuan Papua merasa minder untuk bersaing dalam segala hal .

 

Kolonialisme

Suatu sistem dimana suatu Negara menguasai rakyat dan sumber daya alam Negara lain. Sistem kerja kolinialisme itu sendiri selalu bergandengan tangan dengan rakyat sipil suatu wilayah yang di koloninya itu untuk tetap memajukan kesejahteraan,pembangunan infrastruktur. Kekuasaan hegemoni selalu di gerakan dengan bergam strategi ,program dan rancangan guna menguasai wilayah yang di koloninya. Dalam konteks ini sistem kolonial men-stetting semua Rakyat papua  kedalam tiga  pandangan  politiknya , yaitu:

  1. Pemahaman kebudayan dari tujuh wilayah adat, serta   karakteristik masing masing dari 250 suku
  2.  Pemahaman untuk tetap mendorong pembanguan dan kesejahteraan di seluruh tanah papua. 
  3. Pemahaman untuk tetap berkomitment dalam perjuangan melawan colonial Indonesia dan  pembebasan bangsa  West Papua.

 

Pemahaman masyarakat Papua juga kolonial mampu memetahkan satu sama lainnya.Menghancurkan konsetrasi solidaritas antar rakyat papua sendiri.Sehingga hubungan antar keluarga juga hancur, hanya karena persoalan subjektif semata yang belum tentu benar kebenarannya. Kepercayaan antara perempuan dan laki-laki selalu tidak bersatu dan bertentangan satu sama lain. Sistem ini di bangun demi untuk meloloskan kepentingan penjajahan di atas tanah papua dan menyingkirkan rakyat pribumi di atas tanhnya sediri.

Militerisme  adalah suatu pemerintahan yang di dasarkan pada jaminan keamanannya terletak pada kekuatan militernya dan mengklaim bahwa perkembangan dan pemeliharaan militernya untuk menjamin kemampuan itu adalah tujuan terpenting dari masyarakat colonial.Kekuasaan penjajahan itu tidak selalu dijalankan oleh pemerinatahn dari Negara tersebut. Namun akan bekerjasama dengan militer dalam mengamankan program nasional,kepentingan nasional dan penguasaan tanah tanah dari wilayah yang dikolonisasi.Kehadiran militer di tanah papua telah menelan ribuan nyawa manusia mulai dari tahun ( 1961-2020).Banyak operasi operasi militer di jalankan, banyak pula perempuan Papua yang dipaksa, dianiaya, disiksa, di perkosa, dihamili  bahkan di bunuh. Segala bentuk kekerasan yang di terima oleh perempuan papua ,tidak di adili bahkan di hukum pelakunya.Malah Negara melegalkan itu sebagai bentuk dari makar,unsure pembiaran dan penggelapan kasus Hak Asasi Manusia (HAM).

 

Patriarki

Sebuah system social yang menempatkan laki-laki sebagai pemegang kekuasaan utama dan mendominasi dalam peran kepemimpinan politik, otoritas moral, hak social dan penguasaan property. Penindasan terstruktur  ini sudah lama melekat  baik dalam sisi kebudayaan maupun agama. Sehingga kontruksi berpikir masyarakat  itu selalu berada dalam system yang lama.

 

Simon de Beauvoir seorang perempuan perancis,dalam bukunya “The Second Sex “ menegaskan sejak masa patriakal, perempuan secara umum telah di tempatkan pada posisi kelas dua di dunia yang ada kaitannya dengan laki-laki. Teori ini menjelaskan bagaimana kekuasaan laki laki papua itu selalu dominan ,sehingga dalam hubungan social masayarakat mapun keluarga.

 

Perempuan Papua tetap saja masih dianggap remeh dan di jadikan kelas dua dalam kegiatan apapun dalam kehidupan bersmasyarakayt di Papua barat padahal yang seharusnya  dibangun itu  adalah bagaimana membangun hubungan antara laki-laki dan perempuan degan berlandasakan pada demokratisasi, kerja kolektif , dan kritik   oto kritik.

 

Apa saja bentuk penindasan yang di alami oleh perempun papua dari berabad abad tahun yang lalu hingga sekarang  dan masih saja di alami baik di kehidupan social masayarakat maupun dalam organisasi  yaitu :

  1.  Jenis “penindasan perempuan: Penindasan secara fisik (Langsung),pemukulan, pelecehan seksual, verbal, non verbal, pembunuhan dan moral /karakter.
  2. Penindasan secara tidak langsung, intimidasi/ancaman, budaya lama yang memposisikan perempuan sebagai pelengkap laki-laki (Patriarki).

 

Perempuan Papua tanpa sadar  sudah  ditindas dan praktek praktek penindasan perempuan  di atas tanah Papua tidak dapat dilepaskan dari budaya masih terselimuti oleh budaya kita sendiri terhadap perempuan Papua. Ada beberapa kelas penindasan perempuan  Papua dari sisi social, budaya, ekonomi, politik.

 

Perempuan Papua harus sadar  bahwa banyak hal yang menindas  perempuan dan  tugas laki-laki Papua yang sudah  sadar  itu harus  punya tanggung jawab  besar  terhadap perempuan Papua. Salah satunya dengan cara mendorong, mengajar, mengajak berorganisasi sama-sama dan mengarahkan kedepan karena perjuangan pembebasan  sejati rakyat Papua untuk terbebas dari cengkraman  imperialisme, kolonialisme dan militerisme akan tercapai jika disatukan dengan perjuangan  pembebasan perempuan Papua.

 

Pembebasana Nasioanl West Papua adalah syarat utama dan keingian rakyat Papua dari Sorong sampai Merauke. Namun terhambat karena belum ada penyadaran kritis, menyeluruh di seluruh tanah papua. Gerakan perempuan Papua juga  belum ada yang di jalankan. Proses persatuan antara tujuh wilayah adat dan kampung-kampung  juga belum terbangun dan tidak terkoodinasi. 

 

Jadi, akar penindasan perempuan  Papua adalah,imperialisme, kolonialisme, patriarki dan militerisme. Maka, marilahh  perempuan Papua yang tertindas kita harus  bersatu lawan, lawan dan lawan karena  ketika kita diam dan terima penindasan ini sangat konyol dan menyengsarakan penindasan itu terus hidup dalam lingkaran penghisapan dan tertindas  sampai habis diatas tanahnya sendiri .

 

Mari  kita 
Hancurkan Imperialisme !
Hapuskan Kolonialisme!
Lawan Militerisme !
Lawan Patriakri!

 

Penullis Adalah Mahasiswa  kuliah di Malang}*

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait