Cerpen “Nemangkawi” Menggeledah Kedaruratan Melalui Sastra

Cinque Terre
Aprila Wayar

18 Hari yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Freelance Journalist
Diskusi Fawawi Club Membedah Cerpen "Nemangkawi" (Aprila Wayar/Kabarmapegaa)

 

Yogyakarta (27/07/2020) – Fawawi Club, komunitas sastra di Yogyakarta kembali menggelar diskusi sastra bulanan. Kali ini Cerita Pendek (Cerpen) “Nemangkawi” karya Topilus B. Tebay diulas Romo Heri Setyawan, dosen sastra Universitas Sanata Dharma Yogyakarta di Café Basabasi Timoho, Yogyakarta pada Rabu (22/07/2020).

“Pertama, cerpen-cerpen Bastian (Topilus) memeriksa keadaan darurat (state of exception) di Papua. Bukan hanya mendeskripsikan tetapi Bastian menggeledah asal-usul, memeriksa genealogi kedaruratan itu,” kata Romo Heri mengawali diskusi.

Kedua, lanjutnya, bagaimana hasil pemeriksaan Bastian? Bastian menelusuri kisah besar dan kecil mengenai Papua. Bastian menceritakan John Reoland van Loursef yang terkesima dengan "gadis Melanesia" berambut "keriting." Rambutnya terjuntai sebahu menutupi kulit halusnya, Maria Immaculata (Pantai Hollandia). Dikisahkan juga cerita Willem Janz yang "melaporkan perjalanannya menelusuri pantai barat dan selatan Papua serta penemuannya terhadap sungai Digul..." tahun 1600-an. Kisah itu dilanjutkan dengan penguasaan lahan dan penentuan nasib sebuah suku bangsa. Kisah-kisah besar diceritakan sebagai latar cerita kisah-kisah kecil karena fokus Bastian adalah kisah kecil. 

“Cerita-cerita yang lain adalah kisah yang berkelindan antara fakta dan fiksi mengenai dampak dari masuknya budaya dan orang "asing" ke Papua,” kata Romo Heri yang adalah guru SMU Bastian saat masih berada di SMU Adhi Luhur, Nabire.

Diskusi berjalan kurang lebih tiga jam diselingi pertanyaan dan diskusi terkait isi buku maupun proses menulis kreatif Bastian. Diskusi ini sendiri dihadiri 10 peserta diskusi yang terdiri dari empat anggota Fawawi Club dan sisanya adalah penikmat sastra Papua di Yogyakarta, termasuk Faiz Ahsoul, salah satu penulis buku di Yogyakarta.

Herman Degei, selaku moderator jalannya diskusi mengutip kalimat sastra yang tersohor, sastra yang baik selalu merupakan cerminan sebuah masyarakat. Sastra memang bukan tulisan sejarah dan juga tidak dapat dijadikan sumber penulisan sejarah.

“Akan tetapi, sastrawan yang baik akan selalu berhasil melukiskan dan mencerminkan zaman dan masyarakatnya. Sastrawan yang baik akan dapat menampilkan pengalaman manusia dalam situasi dan kondisi yang berlaku dalam masyarakatnya,” ujarnya.

Menurutnya, apa yang dilakukan Topilus Bastian Tebai dan beberapa sastrawan Papua lainnya seperti Aprila Wayar, Vitalis Goo, dan lain-lain adalah dalam upaya itu. Mereka "meneriakkan kedaruratan" di Papua melalui karya sastra. Entah itu dalam bentuk puisi, cerpen maupun novel. (*)

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait