Dapur Papua: Mahasiswa Papua di Jogja, Merajut Persatuan melalui Bakar Batu

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
Mahasiswa Papua serta partisipan saat makan bersama di halaman Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I Yogyakarta. Doc Yubal Nawipa

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Mahasiswa Papua yang sedang menempuh pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) dan sekitarnya mengadakan reuni yang ditandai dengan bakar batu dan makan bersama sebagai agenda puncak dari Dapur Papua se-DIY. di di Asrama Mahasiswa Papua Kamasan I Yogyakarta, Sabtu (11/07/20).

 

Dalam acara tersebut mereka (mahasiswa/red) mengambil tema: “Satu Tungku Bakar Batu untuk Persatuan Nasional Papua Barat.” 

 

Inisiator membentuk Tim Dapur Papua adalah Aliansi Mahasiswa Papua Komite Kota Yogyakarta (AMP-KKY) dan Serikat Perempuan Indonesia (SERUNI) se-Yogyakarta sebagai upaya untuk menyikapi ancaman krisis  ditengah pandemik Covid-19.

 

Koordinator Umum Dapur Papua, Yassica Hadytia  mengatakan sebelumnya, selama dua bulan dirinya dan rekan-rekannya telah masak sebanyak delapan kali dan memproduksikan paket makanan sebesar 1096 (seribuh sembilang ratus enam) kemudian didistribukan ke setiap paguyuban-paguyuban, kos-kos, kontrakan, dan komunitas-komunitas dari Papua termasuk kelompok rentan serta komunitas transgender di kota Yogyakarta.

 

“ini merupakan kegiatan dari dapur Papua  yaitu masak ke delapan yaitu dimana masak puncak dari agenda dapur Papua yang mana hari ini dapat mempersatukan kawan-kawan semuanya dari seluruh wilayah adat hari ini datang untuk bersatu untuk  mempesatukan seluruh masyarakat Papua yang ada di Yogyakarta,” jelas, Hadytia saat ditemui di halaman Asrama Kamasan Yogyakarta, Sore tadi pukul 18:40 WIB.

 

Hadytia membenarkan bahwa agenda Dapur Papua memang  muncul ketika adanya pandemik covid19 tujuan yang mendasar adalah untuk saling mencukupkan satu sama lain di tengah wabah covid.

 

“memang agenda ini ada setelah pandemik covid19, yang dimana untuk membantu mahasiswa yang merantau dari Papua di Yogyakarta," jelasnya.

 

Karena itu kata Adytia, agenda Dapur Papua layak diberikan apresiasi sebab melalui berbagai sumber donatur dan uluran sumbangan yang rela saling membantu dan berbagi dalam kondisi genting ternyata  capaiannya memberi nilai positif yaitu berhasil mengumpulkan semua mahasiswa Papua dari 7 Wilayah Adat Papua kembali bersama-sama bakar batu  (barapen) dan makan bersama. 

 

Selain itu, Kordinator barapen, Antallo Etis Sub menjelaskan, agenda Dapur Papua  merupakan kegiatan rekonsiliasi untuk merajut persatuan dan selain itu menunjukkan Papua  sebenarnya adalah satu.

 

“Papua itu satu, jadi melalui bakar batu ini mengajak semua mahasiswa Papua yang ada di Yogyakarta untuk hadir dapat ambil bagian supaya kami juga melihat bahwa kebersamaan dan kekompakan itu ada," ujar Antallo, saat diwawancarai media ini.

 

Kata dia, kadang-kadang orang-orang mengsitgma tentang Papua itu, ada yang dari pante, gunung, lembah dan lain-lain tapi  itu oknum-oknum tertentu, maka tujuan bakar batu adalah mau menciptakan memupuk persatuan, kebersamaan, dan kekompakan” 

 

Dirinya  berharap semua mahasiswa maupun rakyat harus bersatu agar dambaan kebebasannya dapat tercapai. “Apapun yang kita perjuangkan untuk papua kalau jalan sendiri-sendiri itu trada arti. Jadi dengan bakar batu ini kita Papua bersatu memperjuangkan untuk mencapai yaitu kemerdekaan," harapnya.

 

Pantauan media dilapangan, proses bakar batu berjalan aman, rangkaian acara dilalui dengan lancar dan terkendali kemudian seusai makan bersama, mahasiswa Papua dan individu maupun kelompok yang sempat berpartisipasi acara ini mengeskpresikan dengan berbagai syair lagu menggunakan bahasa daerah masing-masing serta mempraktikkan kebudayaan tarian adat masing-masing dari tujuh wilayah adat Papua. 

 

Pewarta: Yubal A. Nawipa

 

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait