Dari Kota Dingin Berdarah

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

2 Tahun yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
12 Peringatan Wamena berdarah. (Sumber: suarapapua.com/Ist)

 

Akan jatuh pada 6 Oktober 2018. Pada tanggal ini akan menambah 1 angka lagi. Sedikitnya, 8 hari lagi akan menjadi 18 Tahun.

Usianya seperti seorang anak yang siap semakin dewasa. Namun amat sedih. Karena status dan nasib di meja hijau tak jelas.

Nasibnya sampai saat ini berada tengah-tengah. Tepatnya diantara Kejaksaan Agung dan Komnas HAM RI.

Ahli-ahli penegak hukum ini baku tolak. Kejaksaan Agung RI mempermainkan tetesan darah orang kulit hitam.

Komnas HAM RI tak lagi mengawal ketat. Peristiwa baru membuat mereka melepaskan kasus ini. Nasib puluhan orang berambut keriting tersilip dari ribuan kasus di Indonesia.

Sikap para pelaksana norma-norma yang tak tegas, bikin kasus ini makan waktu lama. Amat memprihatinkan. Karena sikap mereka menambah penantian bagi keluarga korban.

Menunggu jawaban dari proses hukum dari ini terasa amat membosankan. Mengharapkan kepastian lama begini, bikin daya hati nurani terkikis parah.

Paling menyebalkan adalah janji-janji Joko Widodo. Katanya akan selesaikan. Tapi nyatanya tak kunjung bukti. Jokowi nampak tak berhati manusiawi.

Untung keluarga dia tak pernah mendapat timah panas. Jadi, ia anggap janji itu gampang. Dia pikir beri janji itu sama dengan bisa mengobati luka korban.

Tidak, janji Jokowi itu palsu. Dia membuat janji dibawah matahari. Janjinya yang tak pernah terbukti itu menambah luka.

Bukan main-main. Dia bikin keluarga luka diatas luka. Sakit diatas sakit. Derita diatas derita. Penantian diatas penantian.

Hai, Kejaksaan Agung RI? 
Hai, Komnas RI?
Kapan kalian akan selesaikan kasus Wamena Berdarah ini?

 

Karya: Soleman Itlay

 

Admin/KM

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait