Di Era-Global, Pengaruh Terhadap Budaya Lokal Papua, Salah Siapa?

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

5 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Seorang Mahasiswa Papua, Di Era-Global Pengaruh Terhadap Budaya Lokal Papua, (Foto: Doc, Prib/KM)

 

Oleh; Mikael Gobai*)

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com – Masyarakat Papua ada sebagai ada bukan seadanya. Masyarakat Papua hidup berdasarkan moral mereka sendiri. Moral mereka sangat unik. Papua di dalam satu pulau yang besar, berdia banyak suku. Meskipun banyak suku, Papua disatukan dengan satuan identik yakni moral. Maka moral bangsa Melanesia unik. Maka, dengan adanya moral sehingga munculnya namanya budaya, dan budaya itulah merupakan kebiasaan mereka.

 

Masyrakat Papua dikategorikan dalam dua bentuk kelempok berdasarkan mata pencariannya. Masyarakat Papua dari bagian Pesisir Pantai dan masyarakat Papua dari bagian Pegunungan Papua. Masyarakat Papua yang berdomisili disepanjang Pesisir Pantai Papua mencari nafkah hidupnya dengan nelayan dan mengambil kesedian alam sekitar, seperti; (sagu dan beberapa makanan lainnya). Sedangkan masyarakat Papua dari bagian Pegunungan Papua mencari nafkah hidupnya dengan bercocok tanam atau berkebun dan berburu. Tapi, dalam cerita filosofi, antara masyarakat Pesisir dan Pegunungan, mereka saling ketergantungan dalam hidup. Masyarakat Pesisir Papua selalu membutuhkan alat peragak, misalnya kapak batu, dan alat peragak lainya. Sedangkan masyarakat Pegunungan membutuhkan kulit bia untuk keperluan maskawin. Itulah kebiasaan ketika zaman dahulu kala di Papua. Jadi, intinya mereka saling membutuhkan, tetapi unsur dan nilai-nilai kebudayaan mereka tetap sama sebagai satu bangsa Melanesia (Papua).

 

Sebagai masyarakat yang memiliki budaya, tentunya masyarakat itu bertindak berdasarkan budaya yang dimilikinya, entah apapun kodisinya. Itu merupakan kewajiban musti dilakukan sebagai suatu masyarakat yang berbudaya. Kondisi yang ada bukan berarti ikuti kondisi yang ada saja, tetapi justru kondisi itu di kondisikan berdasarakan budaya yang dimiliki oleh masyarakat itu sendiri, terutama masyarakat Papua. Sebab, budaya adalah produk hidup manusia, karena ada budaya manusia hidup.

 

Namun, melihat kembali kondisi dewasa ini, kondisi kemajuan global sangat mendunia dan lebih meluas. Kemajuan global era-iptek modern ini, tentu sangat mempengaruhi kondisi lokal yang utuh. Bayangkan saja, beberapa tahun lalu budaya berkebun masih di pegang oleh masyarakat Papua, tetapi sekarang mulai di lupakan karena di jamin oleh beras resking, bahkan bahasa daerah sebagai jati diri masih kental pun sekarang sudah mulai hampir hilang atau punah. Kemudian lagu daerah semakin hilang akibat tren-tren lagu luar, alat musik daerah sudah hampir hilang akibat tren-tren mxin bar luar, dansa adat hilang akibat goyang tren-tren luar dan lain sebagainya.

 

Ya, memang dunia ini harus global, kalau dibilang hilangnya budaya ini akibat global. Nah! Itu yang salah kritis dan tanggapi pada kondisi real. Kita manusia pada hari ini, terlalu cepat untuk ambisi identik diri pada kondisi. Jangan di bilang lebih-lebihnya itu pada kita kaum remaja. Selalu ingin identik dengan budaya laur. Misalkan saja goyang gaya patola, itukan budaya Afrika bukan budaya Papua. Nah! Hal-hal seperti ini yang perlu kita kritisi. Jika saya bandingkan dengan orang Jawa, atau Suku Dayak di Kalimantan Utara. Meraka justru masih memegang budayanya, misalnya seperti bahasa mereka masih kental dan budaya lainnya juga. Meskipun orang Jawa terlebih dahulu mengenal era-global itu. Bagaiman dengan Papua? Pernah banyak intelek bayangkan bahwa bahasa ibu kita 50 tahun kedepan orang Turis yang akan mempelajari kita, alasanya satu, seperti yang diatas  pokoknya sudah budaya kita terkikis.

 

Kondisi seperti ini apa yang perluh dilakukan? Untuk mempertahankan budaya kita! Salah satu upaya adalah pemerintah yang mengupayakan, dalam arti memberikan support ketika ada iven-iven budaya, misalnya ketika Festival Danau Sentani, Festival Lemba Baliem, maka iven-iven seperti itu pemerintah harus turut spoort. Kemudian dalam dunia pendidikan harus ada nilai budaya yang musti di terapkan, misalnya studi tambahan mengenai budaya, atau pun juga mengadakan iven-iven acara festivala budaya seperti SMA Adhi Luhur Nabire yang selalu di selenggarakan dua (2) tahun sekali. Hal-hal seperti yang membantu kita untuk mempertahankan budaya kita.

 

Kita kadangkala berpikir bahwa masih banyak diantara kita yang masih pegang budaya. Nah, hal ini terliat dari kondisi fisik real, karena ada banyak orang di kampong, terutama orang tua kita yang masih memegang budaya kita. Memang benar orang tua kita masih pegang, tetapi kehidupan itu seperti alur, setelah mereka tidak ada siapa? Saya menuliskan hal ini karena, banyak dampak yang terkena kepada kaum regenerasi kampung pelososk manapun di Papua. Misalnya saja, budaya minum, togel, goyang patola, judi, dan lain sebagainya. Nah, hal-hal itukan budaya luar bukan budaya Papua. Itu yang sedang terjadi. Maka, pemerintah harus memberantas dan memperbaikinya semuanya itu. Pemerintah susah apa? Prosedur tinggal dilaksanakan berdasarkan Otsus direalisasikan oleh pemerintah lalu di peka oleh MRP cukup.

 

Mengenai budaya, kebanyakan orang Ilmuan Antropolok Eropa merasa menarik simpati dengan budaya-budaya Nusantara, lebih khusus lagi budaya-budaya Papua yang ragam itu. Bahkan sampai UNESCO sudah terakuhi dengan nama baik budaya Papua itu sendriri. Pernah juga rombongan Antropolok Eropa datang berkunjung ke Papua pada tahun 1960-an di Meeuwodide yang berekspedisi patung serta budaya Mee bersama Pdt. Benny Giyai ketika beliau baru pulang dari Eropa setelah selesai kuliah S3 di Belanda. Banyaknya hal yang lainnya, yang meman unik budaya Papua dan sangat menarik perhatihan bagi bangsa lain.

 

Kemudia apapun potensi yang ada dari budaya kita harus di kembangkan seperti Bapak Titus Christoforus Pekei, SH, Msi, yang berhasil mendaftarkan tas tradisional Papua yang dikenal dengan nama Noken ke tingkat Internasional dalam sidang PBB di Paris, Prancis, beberapa waktu lalu. “Tanah Papua sangat potensi dengan sumber daya alamnya dan juga ilmu-ilmu dasar, dalam hal ini adat tradisi yang mana mengasa kreatif atau berimajinasi melalui kerajinana tangan yang sangat kaya, salah satunya tas tradisional Papua bernama Noken,” kutipan Titus Pekei.

 

Oleh karena itu, penulis menyimpulkan bahwa moral kita masyarakat Papua adalah unik. Kita lahir dan hidup karena adanya budaya. Budaya hilang masyarakat Papua tidak ada apa-apanya. Maka, masyarakat sendiri bahkan pemerintah perluh sport terus. Kemudian pendidikan juga harus diterapkan nilai budaya. Secara diri pribadi kritis terhadap real di era-global, maka budaya tidak akan hilang sebagai jati diri kita. Salam masyarakat Adat.

 

Penulis adalah Mahasiswa Papua, Kuliah di Jakarta - (Jakarta, 14 Novermber 2018)

Editor: Frans P

Baca Juga, Artikel Terkait