Dies Natalis Ke-8 Media Online Kabar Mapegaa Gelar Acara Syukuran dan Diskusi Publik

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

7 Hari yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Keterangan Foto: Foto bersama Usai Rayakan Diea Natalis KM Ke VIII Tahun. (Foto: Dok KM).

 

TIMIKA, KABAR MAPEGAA.com - Dalam rangka Dies Natalis ke VIII Komunitas Media Online Kabar Mapegaa (KM) merayakan acara Syukuran dan Diskusi Publik berthemakan "Semangat Berkarya Demi Manusia dan Tanah Papua" dan  sub tema "Melalui HUT KM ke VIII Jurnalis dituntut semangat berkiprah dalam dunia Menulis" di Black Caffe, Timika  Minggu, (22/03). 


Acara Syukuran itu dipimpin oleh Frater Marius Goo dan dihadiri sejumlah Tokoh Perempuan, Aktivis Mahasiswa, Tokoh Pemuda dan masyarakat serta Jurnalis KM. Usai Syukuran, dilakukan pemotongan kue oleh sejumlah Perwakilan Tokoh Perempuan, Mahasiswa, Pemuda dan Jurnalis KM.

 
 
Berikut  Ringkasan  dan Rangkuman jalannya Dies Natalis Media Kabar Mapegaa.


Akhir dari acara  Dies Natalis, salah satu wartawan Kabar Mapegaa. Yunus Eki Gobai, S.kom memimpin jalannya diskusi dalam menyikapi Gejolak Sosial yang terus meningkat di Papua.  dimana moment tanggal 22 adalah moment dunia merayakan hari Air Sedunia.

Dalam Acara syukuran ulang Tahun Media Online Kabar Mapegaa mengangkat, Tema: Semangat Berkarya Demi Manusia dan Tanah Papua Sub Tema: Melalui Hut KM ke- 8 Jurnalis dituntut semangat berkiprah dalam dunia Menulis. Dalam kegiatan tersebut diisi dengan renungan singat dipimpin oleh Fater Marius Goo yang dihadiri 15 perwakilan masing-masing dari tokoh dan Gerakan lainya. Dan dilanjutkan dengan pemotongan Kue Ulang Tahun ke- 8 diwakili, Melvin Yogi ( (Pengurus KM) Perwakilan Tokoh Perempuan (Ibu Betty Kobepa, Masyarakat Adat Independen (MAI), Perwakilan Mahasiswa Eksodus Timika, (Henky) pemangku acara oleh Emanuel Muyapa.

Usai dari Acara inti Dies Natalis ke-8, Yunus Gobai selaku kordinator tim kerja mengharapkan melanjutkan dengan diskusi, menyikapi Gejolak Sosial yang terus bertambah di Papua. 

Elemen yang hadir nyatakan sikap sebagai berikut:

Narasumber pertama, Perwakilan Tokoh perempuan, Ibu Betty Kobepa, menjelaskan semenjak rakyat papua dicaplok ke dalam wilayah Indonesia, tidak ada tanda  bagi rakyat Papua Barat. 

Tanda yang kami rasakan oleh rakyat Papua hanya ada penindasan, pemerkosan, kertinggalan dan lain sebaginya.

" Saya sebagi perempuan Papua,  hati saya hancur atas semua tindakan yang dilakukan negara terhadap kami rakyat Papua," Kata Kobepa dalam sambutannya.

Lanjutnya, Negara mencapkan orang papua sebagai monyet. Korban dari Rasisme terhadap anak- anak pelajar dan Mahasisswa Timika Papua sudah eksodus. Kini masih terdampar di kota Timika.

"Saya sebagai perempuan yang melahirkan anak-anak, maka saya minta kepada Majelis Rakyat Papua, Gubernur, DPR Papua serta Pemerintahan kabupaten Mimika bertanggung Jawab nasib bagai Mahasiswa dan segera pulangkan pelajar dan Mahasisawa ke Kota Studi," Katanya.

"Kami mendesak juga bebasakan tapol rasisme di  di Papua, Kalimantan dan Jakarta," Tambah Kobepa.


Selain itu, Kata Kobepa, melihat dengan pembungkaman Informasi, sehingga, Media yang di kelola oleh Jurnalis Muda Papua terutama KABAR MAPEGAA dan Lainnya semangat untuk memberitakan informasi secara akurat dan benar di publik. 

"Media ini penting bagi Masyarakat Papua,"Ungkapnya.

Ketua Posko Mahasiswa Eksodus Timika Henky Obamak menceritakan perjalanan Eksodus dari luar ke Papua. Ia menjelsakan pada acara Dies Natalis ke  VIII bahwa pemerintah tidak  boleh mengabaikan kondisi mahasiswa yang pulang kampung dan meninggalkan kota tempat studi.

"Pemerintah Kabupaten Mimika tidak memperhatikan dengan baik nasib mahasiswa eksodus. Padahal, saat ini masih ada dua ratus lebih mahasiswa yang ingin kembali ke kota studi mereka," Katanya.

 Ada 4 poin tuntutan yang disampaikan mahasiswa kepada pemerintah daerah, LPMK, Freeport dan OMKI diantaranya, 

Pertama, mengembalikan pelajar dan mahasiswa eksodus ke kota studi sesuai dengan kemauan mahasiswa. 

Kedua, pelajar dan mahasiswa eksodus meminta pemerintah segera membangun universitas standar internasional di Kabupaten Mimika.

Ketiga, pemerintah, PT Freeport dan LPMAK dapat membiayai sumber daya manusia ke luar negeri.

Keempat, apabila tidak merespons tiga poin di atas, maka pelajar dan mahasiswa akan tutup Freeport dan membatalkan PON 2020.

Sementara, Frater Marius Goo, menyikapi persoalan dalan konteks  Hari Air Internasional Prespektif  Antropologi budaya. Kata dia, Batas Air dalam bahasa Mee disebut Uwo One, Filsofi Air menurut Suku Mee menggabarkan Alam Semesta termasuk di dalamnya kehidupan manusia dan sesama manusia, manusia, alam dan Air dengan manusia dengan Tuhan.

Dunia atau alam semesta itu tidak merusak manusia tetapi manusialah yang merusak. Jadi, kehidupan atau tingkah laku manusia di dunia digambarkan dalam filosofi Uwodide.

Lanjutnya, sisi Filosofi dari pengetahuan lokal itu sangat berbeda dengan filosofi pembuangan Limbah yang justru melakukan kapitalisasi terhadap tanah alam dan Air. Dalam konteks yang lebih problematik, perampasan Air, dan pembuangan limbah juga telah menjadi pemicu keterpecahan dan sikap pragmatis-salah satunya terhadap tanah-yang telah menjalar di tengah masyarakat Papua dan Indonesia umumnya.

"Maka momentum Hari Air Sedunia air sebagai Air hidup. Namun sebagi hak ulayat pemilik tanah, pemilik dusung wajib dihargai dan dihormati. Ketika Masyarakat Adat atau pemilik hak ulayat menyuarahkan hak tanah dan memprotes air sebagi sumber hidup," Ujarnya.

Ia menilai, siapapun yang datang, dan mendiami di negeri orang, maka yang diutamakan adalah Hargai pemilik tanah, siapa pun Peresiden, gubernur, TNi/Porli dan siapapun dia yang datang hidup di tanah orang lain wajib di hormati. Akhirnya Filsafat Air mengatahkan Air adalah sumber kehidupan dan manusia dalah tanah.

Perwakilan Mogok Kerja FTPI Musyawir, mengusulan agar karyawan Freeport, kontraktor dan prevatisasi yang sedang cuti khususnya di luar Timika agar mengcancel balik ke jobsite setelah lockdown di tiap daerah asal masing-masing.

"Tujuan untuk menghindari wabah virus CORONA yang sedang marak sehingga bumi amungsa ini benar-benar steril dari wabah virus yang saat ini lagi marak di bicarakan," Katanya.

Sementara, aktivis Masyarakat Adat Independen (MAI) di Mimika, Jonsent menyikapi perang media di Tanah Papua. Kata dia,  Papua banyak masalah. Maka media yang dikelolah wartawan papua lebih pertajam memberitahkan secara benar dan akurat.

"Kondisi hari ini, propoganda media Nasional yang dikelolah oleh media yang tidak jelas lebih mendomimasi untuk menkonsumsi informasi kepada masyarakat Indonesia. Hal ini dilihat dari banyak media yang tidak jelas di Papua," Katanya.

Ia menilai,  perang media makin kencang memputar balik dan manipulasi berita. 

" Contihnya,  kasus 1100 Masyarak di Evaluasi dari Tembagapura di Timika itu saja. Berita yang ditulis versi di luar Papua yang tidak terjun ke lapangan, sehingga informasi hoax lebih tersebar," Tegasnya.

Ia berharap, Media- media di Papua seperti Jubi, Suara Papua Kabar Mapegaa adalah media Masyarakat Papua yang kredibel dan akurat.


Koordinator Umum Melano Beanal, membacahkan penyatan sikap menyikapi Hari Air Se dunia pada 22 Maret 2020 rakyat dunia kembali memperingati momentum hari air sedunia. Peringatan ini tentunya sebagai momentum yang sangat berarti bagi seluruh rakyat dunia.

Hal menjadi penting untuk di perjuangkan karena air menutupi hampir 71% permukaan bumi, terdapat 1,4 triliun kubik air yg tersedia namun air yg dapat di konsumsi untuk keperluan minum jumlahnya sudah mulai berkurang.

Momentum hari air internasional juga bertepatan dengan kondisi buruk masyarakat kabupaten Mimika yang mengalami kelangkaan mendapatkan sumber air bersih untuk memenuhi kebutuhan pokok sehari-hari.

"Rata-rata masyarakat kabupaten mimika mendapatkan air dengan membeli air bersih dalam kemasan berupa Air Gallon, Air Aqua (kemasan botol) atau menunggu datangnya hujan," Katanya.

Kata dia,  bertepatan dengan hari Internasional Masyarakat Independent Melakukan Aksi bagi-bagi selebaran dan Membanyak Pernyataan sikap yang di tunjukan kepada: 

Pertama, Wujudkan Air bersih dan berikan Hak Masyarakat kabupaten Mimika untuk mengakses air seluas-luasnya tanpa hambatan apapuan.

Kedua, PT Freeport Indonesia segerah bertanggung jawab terhadap pembuangan limbah taling yang telah membahwa dampak buruk terhadap manusia dan lingkungan.

Ketiga, PT Perkebunan Argo Lestari (PT.PAL) Stop melakukan perluasan area oprasi perkebunan dan segerah bertanggung jawab terhadap kerusahkan lingkungan Alam dan manusia Milik Masyarakat Adat.

Pesan dan Kilas Balik Lahirnya Media Kabar Mapegaa dan Perjuangannya

" Media Kabar Mapegaa lahir pada tanggal 22 Maret 2013, yang dibentuk oleh mahasiswa Papua yang kuliah di Yogyakarta saat itu, diantaranya Saudara Alexander Gobai, Andy Ogobay dan Marcelino Yogi. Lahir media Kabar Mapegaa di tengah-tengah situasi yang mendesak dan dibutuhkan media Papua yang dapat memberitakan informasi tentang kondisi Papua secara beragam dan berimbang yang biasa dipercaya dan bertanggungjawab terhadap rakyat Papua. 
Selain itu, juga keterbatasan media Papua yang jarangan mengangkat masalah Papua secara kompleks. Contoh, mengangkat suara kaum kecil, merosotnya Pendidikan, Kesehatan. Sosial Budaya dan lain sebagainya. Dengan mengangkat persoalan Papua yang dialami oleh rakyat Papua dan didengar dan ditangapi oleh pemerintah untuk memberikan solusi terhadap persoalan Papua.

Media Kabar Mapega dikelolah oleh anak-anak muda yang memiliki jiwa kritis, semangat dan jiwa besar. Anak-anak muda diantaranya Pelajar dan Mahasiswa sejak dibentuk hingga saat ini. mereka masih eksis hingga saat ini. Pada tahun 2019, ada sebagian mahasiswa sudah menyelesaikan pendidikan tingkat perguruan tinggi, sedangkan yang lain masih berstatus Mahasiswa aktif yang kuliah di berbagai daerah, baik di Papua maupun diluar Papua.

Media Kabar Mapegaa memiliki jiwa muda dengan slogan, "Kataku, Tintaku". Yang artinya, tiap kata yang dirangkaikan menjadi kalimat dan paragraf adalah benar-benar memberikan dampak positif kepada rakyat melalui kuli tinta. Slogan itu menjadi pondasi bagi Wartawan Kabar Mapegaa yang hari-hari bekerja sebagai Jurnalis di lapangan.

Media Kabar Mapegaa memiliki program kerja mendidik dan membina wartawan pemula. Program tersebut telah berjalan sejak tahun 2015 sampai saat ini. Memberi pelatihan Jurnalistik kepada mahasiswa/I diberbagai daerah Papua dan di luar Papua. 

Selain itu, Juga memasukan sebagian wartawan sesuai bidangnya, seperti fokus belajar di Puisi, Fotografi dan pembuatan film dokumenter. Program itu sudah berjalan sejak tahun 2015 hingga saat ini.

Namun, kadang dalam perjalanannya mengalami kendala dan keterbatasan dalam komitmen wartawan. Padahal, program yang dilakukan justru melatih dan membentuk SDM wartawan agar lebih tajam dan kreatif.

Semangat program itu telah menghasilkan wartawan-wartawan muda yang kini menjadi penulis-penulis baik dan bekerja di berbagai media di tanah Papua. Hasil itu menjadi kebanggaan Kabar Mapegaa tersendiri, yang mampu menulis dan meciptakan kader-kader penulis Papua di tanah Papua.

Ditengah perkembangan teknologi yang semakin canggih dan media Papua yang sudah semakin banyak dan notabenya memiliki visi dan misi menyuarakan informasi tentang Papua membuat rakyat Papua mengonsumsi informasi yang kadang membingungkan sehingga, membosankan dan salah menganalisa masalah secara terpercaya.

Ada sejumlah media di Papua yang memiliki media namun wartawannya tidak ada. Ada pula media Papua yang hanya memberitkan informasi yang bertentangan dengan informasi fakta. Ini yang disebut Media Hoax. Masyarakat Papua perlu menyadari hal demikian, sehingga kedepan tidak terprovokasi dengan media-media di Papua.

Kini media Kabar Mapegaa telah berusia 8 Tahun. Menunjukkan Usia yang masih mudah. Perlu mempertahankan semangat, bekerja keras dan fokus. Agar media Kabar Mapegaa benar-benar menjadi media yang dapat dipercayakan oleh masyarakat luas, bukan hanya Papua saja, melainkan masyarakat Internasional.

Semangat 8 Tahun terus bertumbuh dan membangkitkan semangat Wartawannya untuk dapat berkaca dan melirik setiap masalah untuk diberitakan terhadal masyarakat Papua.

Semangat 8 Tahun, jangan dipandamkan, hanya karena kurang kompak. Persaudaraan dan kekeluargaan tetap dijaga dan terus di jaga.

Semangat dan mencerminkan semangat tali persaudaraan yang erat, dan peduli antara satu dengan yang lain.

Selamat Ulang Tahun Media Kabar Mapegaa Ke 8 Tahun. Dan Pesan saya, Tetap saling menjaga kekerabatan, kekeluargaan dan persaudaraan kita.


Diringkas  oleh Wartawan  Kabar Mapegaa, Yunus Gobai.

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait