Diskusi “Perempuan di Titik Nol” online: Kupas tuntas sistem patriarkhi

Cinque Terre
Manfred Kudiai

1 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Proses diskusi online "Perempuan di Titik Nol" Fawawi Club

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com– Diskusi sastra bulan April 2020 Fawawi Club diselenggarakan secara online di akun Instagram @fawawi.club pada Minggu (26/04/2020). 

 

“Secara garis besar, buku ini terbagi menjadi tiga bab dimana menurut saya, 80% isi novelnya berada di bab dua,” Marsinah Dhede dari Perempuan Mahardika yang hadir online sebagai narasumber dalam diskusi kali ini.

 

Dalam pemaparannya, Dhede melihat bab satu sebagai bagian dimana penulis bertemu dengan tokoh Firdaus; bab dua berisi kisah Firdaus, perempuan yang akan menjalani hukuman mati; dan bab tiga berisi Firdaus menjalani hukuman mati. Menurutnya, isi novel ini bercerita banyak tentang kuatnya sistem patriarkhi di Mesir yang berkelindan dengan budaya dan agama. Ini membuat posisi perempuan menjadi sangat lemah.

 

“Nilai paling menonjol dalam tokoh novel ini adalah keinginan besarnya untuk melanjutkan sekolah dan juga kegigihannya mencari kerja,” ujar Dhede.

 

Sebagai perempuan yang berada dalam ketertindasan, Firdaus dihadapkan pada pilihan-pilihan paling pahit yang harus diambilnya. Dalam prosesnya sebagai pelacur, Firdaus bertemu dengan kelompok manusia munafik seperti jaksa, polisi yang menggunakan jasanya. Dari isi novel ini, Dhede menilai bahwa tidak ada yang menguntungkan dari patriarkhi.

 

“Apapun yang terjadi, perlu melawan balik dengan segala macam cara meski konsekuensinya adalah hukuman mati,” ujarnya.

 

Dalam konteks Papua, Dhede menilai bahwa apa yang dialami perempuan Papua jauh lebih berat bila dibandingkan dengan apa yang dialami Firdaus. Perempuan Papua bukan hanya menghadapi patriarkhi tetapi juga genosida.

 

Diakhir diskusi online ini, Aprila Wayar yang berperan sebagai moderator mengucapkan banyak terima kasih kepada Dhede yang telah bersedia menjadi narasumber dalam diskusi Fawawi Club untuk bulan April ini.

 

“Diskusi kami setiap bulan dengan tatap muka tetapi karena Pandemi Covid-19, online adalah cara yang paling memungkinkan kami lakukan. Kesanggupan Dhede untuk hadir dalam diskusi online pertama kali ini sangat luar biasa,” kata Wayar.

 

Wayar mengajak semua peserta yang telah bergabung selama diskusi online berlangsung untuk kembali bergabung dalam diskusi sastra Fawawi Club pada bulan Mei 2020 mendatang. (*)

 

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait

Tidak ada artikel terkait