Ditengah Duka Penindasan Menjadi Saksi Mata

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

10 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
ilustrasi, putri Dogiyai Papua.

 

   

Oleh:  Melanesia black Girl

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM--Kejam aroma peluruh rasa menyirami sintesis bagaikan bola mata diatas dedaunan pada pagi di pelok negeri Cendrawasih. Sanksi bisu di amang pintu penindasan jejak kapitalis yang bertugas bertujuan untuk perwakilan terhadap rakyat lebur tak berdaya dibawah laras berkaki tiga.

 

“Tangisan rakyat keriting bangsa Papua!”

 

Kejam minim, luar biasa bahwa! Di dalam dunia sandiriwa menipis diatas lembaga yang mengerikan seperti ini, banyak orang dapat bertahan dalam kepercayan akan Tuhan yang baik dan penuh cinta kasih. Meskipun kejahatan ada, bahkan juga bukan karenanya, orang-orang itu tetap berpegang pada iman. Kenyataan akan adanya penindasan merupakan alasan yang paling kuat dan paling nyaring untuk melawan adanya Tuhan.

 

“Dengan mengalami suatu kejam penderitaan yang dilakukan sekelompok parasit, penindasan kita sering mempertanyakan pada diri kita dan sesama kita [Dari manakah datangnya sebuah penderitaan] Jika Tuhan yang menciptakan dunia, maka ini adalah Tuhan yang baik, bagaimana Tuhan bisa memberikan penderitaan?”

 

Sandiwara tak berdaya, Ketidak adilan sungguh nyata membisu di ujung pintu bumi cendrawasih. Kematian terus terjadi di pulau keriting ini. Bumi cendrawasih. Jika Tuhan bertanggung jawab terhadap semua penderitaan yang kita saksikan, namun, jika penderitaan ini bukan berasal dari Tuhan, Akan kah ini adalah sebuah misteri pilu di atas tanah damai surga kecil yang jatuh di pulau keriting.

 

Dunia menghitung angka ribuh jiwa banyak korban nyawa tak berdosa, yang telah dibinasakaan oleh salah satu penyakit terbesar di dalam sejarah itu. Di Negara ini, orang-orang berduka karena kehilangan orang makhluk Tuhan, seakan-akan kapitalis berkaki raja menghina makluk kebintangan hewan liar di alam Cendrawasih.

 

“Matahari terlalu panas. Perut ini selalu berteriak ,namun aku tak tau harus berbuat apa.”

 

Dia yang  cintai kekayaan Papua. Dia yang pemilik segala isinya [perut bumi] Cendrawasih. Aku jadi saksi, sebagai seorang diri membisu setia diambang pintu  penindasan. Leluhurku di singkirkan tayangan penindasan video maupun berita-berita pangkas [Tak akurat] melalui media sosial, baik TV, bahkan Internasional benar-benar menghadirkan rasa negeri ke seluruh penguasa kapiltasime seutuhnya.

 

Harapan Papua di tengah serangan  Covid-19. Tanah Papua saat ini mengalamai beragam konfilik membungkam, baik secara [horizontal] maupun [vertikal] yang mengancam seluruh eksistensi keberadaan orang Papua di tanah leluhur mereka sendiri. Dengan terciptanya beragama konfilik seperti kerusuhan dimana-mana, pertikaian, pembunuhan, pemerkosaan tak hentih-hentinya oleh berbagai oknum yang tak bertanggung jawab menjadi dalang bagi suburnya muncul beragam konfilik di tanah Papua ini.

 

“Papua Di ambang kehancuran beragam peristiwa dan fakta hak asasi manusia di Papua sejak terjadi tahun PEPERA hingga kini 2021 berturut duka jiwa membisu akan bersaksi betulian.

 

Mereka mengangkapku KKB pada hal TNPB. Ini faktual sehingga dengan tujuan untuk membinasahkan taring peluru panas mencabut jiwa Makluk Tuhan, peristiwa yang dimaksudkan adalah peristiwaa kekerasan, penangkapan, penyiksaan dan pembunuhan terhadap masyarakat sipil di Papua. Pengakuan hukum amat lemah, khusunya yang berkaitan dengan kekerasan kejam yang dilakukan oleh kapitalis perwakilan negara. Maka, komuunitas para pelaku pelanggaran HAM masih tebal sekali, lebih-lebih bila anggota aparatlah yang terlibat.

 

Dengan melihat, mengalami banyaknya pelangggaran HAM yang kini masih tersubur di tanah Papua. Pada zaman globalisasiini, melihat tantangan-tantangan itu memang orang yang ingin mencari enak diri akan membuat tembok-tembok diri. Sementara orang-orang disekeliling secara kelaparan, tak tergerak hati untuk melihat dan merasakan penindasan seolah-olah tidak berdaya.

 

Kejahatan faktual [realita] saat ini orang Papua pada umumnya sungguh-sungguh hidup dalam suasana penderitaan dan penjajahan, secara politis, dan ekonomis. Oleh sebab itu, para kapitalis berbondong-bondong datang menghancurkan. Totalitas Mama-mama Papua yang saat ini menangis karena anak-anaknya terjun ke dalam dunia kehancuran.

 

Hati para Mama-mama Papua (sang bunda perempuan) Papua saat ini sedang dilanda [kecemasan] karena kehilangan anak-anaknya, kepunahan generasi dan jati dirinya, serta kehancuran rahim bumi [alam] Cendrawasih yang indah.(*)

 

Penulis Adalah Mahasiswa Eksodus, Kota Studi Pontianak, Kalimantan Barat.

#Mahasiswa dan Pemuda

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait