Dokter Muda, Veronika Sawen Minta Pemerintah Lockdown Papua

Cinque Terre
Aprila Wayar

8 Hari yang lalu
KESEHATAN

Tentang Penulis
Freelance Journalist
dr. Veronika Sawen (Dok. Pribadi)

 

Kegelisahannya sebagai tenaga medis yang melihat persebaran virus Corona atau yang dikenal dengan Covid-19 (C-19) membuat dr. Veronika Sawen, seorang dokter muda lulusan Manila Central University, Philippines menggagas LIVE di akun facebooknya beberapa hari lalu demi memberi pemahaman yang benar tentang C-19. Kelompok yang disasarnya adalah masyarakat Papua.

KABARMAPEGAA.com – Dokter muda perempuan Papua, dr. Veronika Sawen meminta Pemerintah melakukan lockdown Papua. Papua dalam wawancara ini berarti wilayah administrasi Provinsi Papua dan Provinsi Papua Barat. Berikut petikan wawancara Aprila Wayar dengan dr. Veronika Sawen.

 

Beberapa hari lalu, di akun facebook, anda melakukan siaran LIVE tentang C-19. Bisa anda jelaskan secara ringkas, apa itu C-19?

Corona Virus Desease 2019 atau yang dikenal dengan C-19 adalah penyakit yang menyerang sistem pernafasan yang disebabkan oleh jenis SARS-COV2 yang merupakan jenis strain baru yang dipercaya  merupakan mutasi dari jenis Corona Virus yang menginfeksi kelelawar dan reptil lainnya seperti ular. Virus ini ditemukan pada akhir tahun 2019.

Bisa anda dijelaskan sedikit tantang gejala C-19 ini?

Jadi gejala C-19 menurut beberapa case report dan journal yang diterbitkan serta data dari World Health Organization (WHO) menunjukan bahwa gejala C-19  antara lain seperti demam, batuk kering yang disertai sakit tenggorokan, badan lemah atau fatigue dan sesak nafas. Selain gejala pada sistem pernafasan dilaporkan juga adanya gejala pada sistem pencernaan seperti diare dan mual serta muntah.

Bagaimana sebaiknya masyarakat mengantisipasi ini mengingat respon Pemerintah dinilai lamban oleh beberapa pihak dalam menangani C-19 ini?

Cara yang dapat kita lakukan adalah menjaga kesehatan masing-masing dengan bertanggung dan mendisiplinkan diri melalui social distancing atau tinggal di rumah, menghindari tempat-tempat umum karena sangat besar dampaknya dalam kontrol penyebaran. Selain itu, dua kali mencuci tangan adalah saran saya. Sebaiknya juga menghindari membeli makanan dari luar rumah karena telah terbukti virus ini dapat menyebar melalui fecal-oral atau dari anus ke mulut sehingga akan lebih baik apabila kita menyiapkan makanan sendiri di rumah untuk pencegah penularan.

Beberapa kasus berkembang di media sosial belakangan ini bahwa ada pasien yang dipulangkan pihak oleh rumah sakit. Bagaimana sebaiknya menyikapi ini?

Saya sebagai dokter, sangat menyayangkan hal ini. Kalaupun ada rumah sakit yang tidak memiliki fasilitas memadai untuk merawat pasien C-19 harusnya didampingi untuk dirujuk ke rumah sakit yang memang sudah dirujuk. Bila tidak dilakukan, hanya akan menambah masalah dalam proses kontrol penyebaran virus.

Kita coba melirik ke Papua sekarang. Di media masa dikabarkan sudah ada Orang Dalam Pemantauan (ODP), Pasien Dalam Pemantauan (PDP) dan juga ada yang positif terkena C-19 di beberapa kota di Papua. Kita tahu kondisi fasilitas kesehatan sana yang sangat minim. Bagaimana dengan ini?

Dengan fasilitas kesehatan yang minim apalagi di daerah pedalaman atau daerah terpencil yang sulit dijangkau, ini akan sangat susah merawat pasien C-19. Papua juga tidak memiliki test kit untuk mengkonfimasi pasien. Proses ini akan membutuhkan beberapa hari atau seminggu karena hasilnya harus dikirim ke Jakarta untuk melakukan konfirmasi. Padahal test kit di Jakarta pun masih kurang. Dengan demikian kita juga belum tentu bisa menghandle pasien C-19 apalagi kalau jumlah pasien C-19 terjadi dalam waktu yang bersamaan dengan jumlah besar.

Analoginya seperti ini, dalam satu kompleks atau area terdapat 10 kepala keluarga dimana hanya ada dua orang yang terinfeksi namun karena masyarakat melakukan social distancing dan kedua orang ini dapat ditangani, ada waktu untuk recovery. Namun kalau masyarakat di area ini tidak melakukan social distancing ataupun tinggal di dalam rumah maka dari dua orang ini bisa menjadi 50 orang. Misalnya mereka sakit di saat yang bersamaan maka akan susah untuk ditangani bahkan bisa saja semua pasien meninggal dunia karena fasilitas yang kurang. Ini yang saya maksud dengan pentingnya lockdown Papua atau setidaknya social distancing.

Ini menarik. Orang asli Papua sangat dekat dengan budayanya dan dengan pola hidup yang masih komunal (berkelompok). Artinya, social distancing akan sulit dilakukan. Apakah ada jalan keluar lain?

Benar bahwa orang Papua adalah masyarakat yang memiliki jiwa sosial tinggi seperti kata Ibu saya. Saat saya menjelaskan hal ini melalui jaringan telepon kepada keluarga, saya dapat menangkap perlawanan dari keluarga. Malah yang ingin memanfaatkan waktu ini untuk berlibur ke kampung halaman padahal ini justru akan membantu penyebaran C-19 sehingga lebih tidak terkontrol karena kita semua tahu, masa inkubasi C-19 ini setidaknya 14 hari, bahkan ada yang mencapai 35 hari berdasarkan beberapa laporan. Sehingga, orang bisa saja telah terinfeksi virus SARS COV2 ini namun tidak menampakan gejala sehingga pulang kampung dengan membawa virus ini dan menularkan ke orang lain di kampung.

Melihat orang di Papua dengan perilaku seperti ini, muncul ide saya untuk membuat LIVE di facebook untuk mejelaskan betapa seriusnya penyebaran virus ini. Bukan untuk menakuti tetapi meningkatkan kesadaran di masyarakat kita bahwa social distancing itu penting sekali dan harus kita lakukan setidaknya dalam dua minggu. Selain itu, kita dapat menekankan pencegahan seperti self hygine, mencuci tangan sebelum dan sesudah makan, tidak memegang wajah dan juga menjaga kesehatan pribadi demi menjaga sistem kekebalan tubuh kita. Hal ini perlu dilakukan agar tidak mudah terserang penyakit. Misalnya dengan minum multivitamin satu kali sehari atau Vitamin C sebanyak dua kali sehari.

Ada rekomendasi dari beberapa profesor saya di Manila untuk minum vitamin C dan Zinc 20 mg sekali sehari, makan makanan bergizi yang banyak mengandung anti oksidan atau zat melawan radikal bebas dan juga zat-zat lain yang membantu sistem pertahanan tubuh dan menjaga tubuh kita tetap sehat. Sayur-sayuran segar dan buah-buahan semua tersedia di tanah Papua. Papua punya banyak tumbuhan yang sangat baik bagi kekebalan tubuh, seperti buah merah misalnya dan lain sebagainya.

Dalam LIVE, anda menyebut double case Indonesia dalam tiga hari. Bisa anda jelaskan lebih rinci?

Baik. Jadi, saya menyebut double case di Indonesia adalah tiga hari itu sebenarnya adalah data dari ourworld.org, salah satu website yang didukung Oxford University. Ini merupakan instititusi yang memantau C-19 dan juga membantu WHO dalam membenahi berita apabila ada kesalahan pada data WHO. Di sini saya melihat data dalam bentuk tabel yang diperbaharui setiap hari. Jumlah kasus baru C-19 setiap hari pernegara dan juga secara global. Juga double case per negara dan global.

Jadi, double case artinya peningkatan kasus C-19 dua kali lipat dari suatu negara. Misalnya seperti di China yang mana ada peningkatan jumlah kasus C-19 setiap 35 hari. Walau angka ini tidak selalu konsisten namun ini menjadi dasar untuk mengetahui seberapa pesat penyebaran virus ini dalam suatu negara untuk dapat memprediksikan jumlah kasus baru yang akan datang dari angka-angka tersebut.

Nah, dari data yang saya baca, secara global, double case adalah 17 hari. Di Italy lima hari. Dari data ini kita bisa menarik kesimpulan bahwa jika di bandingkan China dan Italy, dengan double case 35 hari dan lima hari, kita bisa memahami bahwa penyebaran di Italy lebih cepat karena setiap lima hari akan ada pertambahan dua kali lipat. Itu juga dapat menunjukan bahwa penyebaran di China telah dapat dikontrol karena memiliki double case day yang cukup lama.

Hal yang mengagetkan saya adalah saat saya melihat data Indonesia. Double case kita adalah tiga hari. Artinya sangat cepat bila dibandingkan dengan China maupun Italy. Setiap tiga hari kasus C-19 meningkat dua kali lipat atau lebih, karena itu saya dengan berani mengatakan bahwa kita menghadapi puncak iceberg di Indonesia. Apalagi dengan perilaku masyarakat kita yang tidak mau tinggal di dalam rumah. Angka 369 ini akan bertambah terus.

Terima kasih penjelasan yang sangat mencerahkan. Beralih sejenak dari C-19, anda saat ini berada di Yogyakarta. Apa yang sedang anda kerjakan di kota pelajar ini?

Saat ini saya sedang mengikuti Ujian Program Adaptasi di Fakultas Kedokteran – Universitas Gajah Mada (FK-UGM) untuk bisa beradaptasi di RSUD Sardjito. Ini salah satu syarat agar saya dapat bekerja dan berpraktek sebagai dokter di Indonesia.

Sudah berapa lama anda dalam proses ini?

Sudah hampir dua tahun. Saya balik ke Indonesia sejak September 2018 dan proses ini masih sedang berjalan. Saya tidak mengerti mengapa proses adaptasi ini sangat lama. Dimulai dari pengurusan di Jakarta, dari instituti satu ke institusi lainnya hingga saya sekarang berada di FK-UGM. Proses yang cukup panjang dan rumit menunggu surat ditandatangani sampai jadwal ujian yang ditunda empat bulan. Ada proses yang cukup panjang padahal saya ingin segera pulang ke Papua dan berpraktek di sana mengingat Papua masih sangat membutuhkan tenaga dokter hari ini. Saya ingin mengabdikan diri untuk Papua dengan semua ilmu yang telah saya pelajari di negeri orang,

Pertanyaan terakhir saya menyangkut Papua. Apa saran anda untuk Pemerintah Daerah Provinsi Papua dalam menangani kasus C-19 ini?

Saran saya, Papua harus lockdown secepatnya, karena selain itu tidak ada hal lain yang dapat kita lakukan. Kita harus minta masyarakat masyarakat agar lebih baik tinggal di rumah masing-masing karena kalau menunggu vaksin, belum ada dalam waktu dekat. Test kit pun masih belum cukup. Kita berharap agar pemerintah pusat segera menyediakan test kit untuk segera disalurkan ke daerah-daerah. Walau saya masih ragu dapat tercapai dalam waktu dekat.

Saya juga menyarankan Pemerintah agar menyediakan kembali obat choloroquine. Walaupun tidak membunuh SARS-COV2 namun ada beberapa clinical atau experimental studies yang menunjukan bahwa chloroquine dapat menghambat replikasi dari virus dan masuknya virus ke dalam sel. Obat ini dapat diberikan bagi penderita C-19 yang menunjukan gejala ringan, sedang dan berat. (*)

#Papua Bisa

Baca Juga, Artikel Terkait