dr. Agnella Chingwaro Terima Kado Natal Pertama dari Beberapa Komunitas di Papua

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

2 Tahun yang lalu
KESEHATAN

Tentang Penulis
Saat penyerahan kado Natal dari salah satu perwakilan Gerakan Perempuan Papua, kepada Klinik Klinik Wali Hole, Senin (10/12/2018). (Marselino Kudiai/KM)

JAYAPURA, KABARMAPEGAA.com- Klinik Wali Hole yang beralamat di Jl. Kampung Yoka, Waena, Kota Jayapura menampung sejumlah pasien yang terinveksi Human Immunodeficiency Virus (HIV) dan Acquired Immuno Deficiency Syndrome (AIDS) dan penyakit menular lainnya itu, Senin (10/12/2018) pada pukul 15.00 WIT didatangi beberapa Komunitas dan Solidaritas yang ada di Jayapura guna memberikan kado Natal kepada beberapa karyawan di Klinik tersebut.

 

Komunitas yang  datang berkunjung ke Klinik tersebut diantaranya: Komunitas papuansphoto,  Gepe-Gepe (Gerakan Perempuan Papua),  Komunitas Sastra Papua (Ko'sapa),  Elizabeth Salon Papua,  Forum Literasi Odiyai Meeuwo (Flom),  Gerakan Papua Mengajar (GPM),  Solidaritas Anti Miras dan Narkoba Kota Jayapura (SAMN Kota Jayapura),  dan Papuan Video Maker.

 

Dalam kunjungan tersebut disambut baik oleh  kepala Klinik  Wali Hole  dr. Agnella Chingwaro kemudian menyampaikan ungkapan terimakasih. "Kami sangat apresiasi sekali dengan kedatangan ini, dan pertama kali diberi peratian kepada perawat di klinik ini,”  kata  dr. Nella penuh semangat.

 

dr. Nella yang juga sebagai Kepala Klinik Walihole kepada kabar Mapegaa mengatakan, klinik   kami sudah dilengkapi beberapa alat untuk memeriksa penyakit  menular, seperti, HIV  Hepatitis,  dan Siplis.

 

"Kesedian alat di klinik ini sudah lengkap,  mulai dari pemeriksaan penyakit HIV, Hepatitis,  dan siplis melalui laboratorium sudah tersedia lengkap, "  ujar  dr Nella putri Afrika Selatan tepatnya di negara Sembaghwe.

 

Wanita kelahiran Afrika Selatan ini juga merindukan, nantinya Klinik Wali Hole "ditutup"  setelah ada bibit- bibit bangsa yang dapat menjaga, mencegah dan sadar  sebelum terinveksi HIV.

"Saya sangat rindukan sekali, klinik ini ditutup,  dalam arti bahwa,  semua orang mulai dari usia dini,  hingga usia tua menyadari dan mencegah HIV sebagai tempat kematian dan dalam proses pengobatannya bisa diminum secara teratur," harapnya.

 

dr. Nella juga mengaku bahwa pekerja di klinik “tenaga medis” sangat terbatas, sedikitnnya ada 20 tenaga medis yang bekerja di Klinik  ini, untuk itu kami sangat menginginkan teman-teman mantri dan suster yang masih dalam pengangguran agar dapat bisa bekerja di klink kami, agar kita saling melayani sesama.

 

Tempat yang sama,   salah satu suster yang bekerja  di klinik tersebut yang selama 7 tahun juga menuturkan bahwa dirinya sangat sedih melihat banyaknya pasien. “ Pasien yang datang di sini rata-rata ialah orang asli Papua dan kurangnya tenaga medis.”

 

"Jujur  saja, saya sangat sedih melihat pasien,  yang ada disini rata-rata ialah orang asli Papua  begitu pun yang melayani mereka cuma beberapa perawat.  Kami sangat rindukan perawat yang sudah selesai perguruan tinggi mau bekerja disini dari pada nganggur diluar sana," harapnya .

 

Melihat peluang tersebut, Bast Dogomo dari Komunitas Papuansphoto mengatakan anak muda-mudi Papua khususnya  yang selesai dari perguruan tinggi bidang kesehatan bisa mengambil peran di klinik ini.

 

"Secara pribadi saya sangat memberi apresiasi dan rasa hormat kepada perawat klinik Wali Hole yoka, yang secara manusiawi mau melayani orang yang terinveksi HIV dan penyakit lainnya", ujar Bast.

 

Untuk itu kata Bast, yang sudah selesai tetapi belum mendapatkan pekerjaan agar dapat mengisi dan melayani masyarakat Papua sebagai tugas pokok dalam pelayanan.

 

 

Pewarta : Marchelino Kudiai

 

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait