dr.F. Sayori: Pasien Positif C-19 di Nabire Ditangani Sesuai Kriteria Karantina

Cinque Terre
Eman B Youw

22 Hari yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Foto: Ketika Plt.Sekda Nabire, Kepala BNPB, dan Jubir Tim Gugus Tugas Covid-19 Nabire mengklarifikasi informasi-informasi yang sedang berkembang di khalayak umum, di aula rapat Kantor Bupati Nabire, Senin (4/5/20)

 

 

NABIRE.KABARMAPEGA.com - Betapa tidak di khalayak umum kini menjadi perdebatan sesuai pemahamannya masing-masing. Apalagi penularan Corona Virus Disease 2019 (Covid-19) tidak sama dengan penularan virus atau bakteri lain yang biasanya diderita oleh manusia. Tentu membuat semua orang perhatian  tertuju, fokus, dibahas dan menjadi viral.

Perdebatan panjang hingga kerang khotba pun telah terbuka. Ya, Covid-19 berhasil. Kita  harus aduh pendapat, saling menghujat hingga caci maki pun di media sosial (medsos) menjadi mimbar utama. Lantaran mendengar dan mengenal istila baru mengenai status pasien Covid-19, OTG, ODP dan PDP.

Kendati pun demikian, bukan saja di Nabire, dalam penanganan pasien positif Covid-19, secara Nasional ditangani berdasarkan kriteria yang telah ditentukan oleh Kementerian Kesehatan Republik Indonesia (Kemenkes RI).

Jurus Bicara Tim Gugus Tugas Covid-19 Nabire, dr. Frans Sayori, M.Kes  mengklarifikasi informasi terkait perdebatan panjang terhadap kriteria karantina pasien positif Covid-19 di Nabire.

Dalam  keterangan persnya, dr.Sayori menjelaskan, tentunya sesuai pedoman baku yang diperlakukan secara Nasional dalam mengkarantinakan pasien positif Covid- 19, adalah dua kriteria  yakni karantina mandiri dan karantina wajib.

Untuk karantina mandiri, dikatakan dr.Sayori, walaupun terkonfirmasi positif covid-19 tetapi tidak mengalami gejala atau gejalanya sangat ringan mereka disebut sebagai OTG, sehingga sesuai kriteria OTG diwajibkan untuk menjalani karantina mandiri.

Menurut  dr.Sayori menuturkan, sesuai pedoman seperti 13 pasien positif  Covid-19 saat ini, kondisi mereka tidak mengalami gejala atau gejalanya sangat ringan sehingga mereka disebut sebagai Orang Tanpa Gejala (OTG).

“karena itu mereka wajib menjalani karantina mandiri, tempatnya dirumah sendiri atau fasilitas sendiri, untuk tanggungan pembiyaaan pun mandiri alias diluar tanggungan Pemerintah,” beber dr. Sayori, sembari membacakan buku pedoman Kemenkes RI hal : 15. Senin (4/5/20).

“selama menjalani karantina mandiri di rumah atau di fasilitas sendiri, kewajiban pemerintah adalah melalui petugas medis (dokter, perawat) melakukan pengawasan dan bisa dibantu pengamanan oleh Babinsa dan Babinkamtikmas. gitu prosedurnya,”tandasnya.

Sementara itu, Plt, Sekda Nabire, Daniel Maipon,S.STP menambahkan, walaupun pedomannya demikian, lantaran beban moril Pemda Kabupaten Nabire sehingga  pekan kemarin telah menyediakan sejumlah fasilitas yang diperlukan oleh 13 OTG positif Covid-19  yang kini sedang menjalani masa karantina mandiri  seperti kasur, kompor, kelambu dan lain-lain.

Apakah itu karena istilah ada aksi barulah ada reaksi? “sekali lagi dengan tegas saya katakan, kerena beban moril Pemda Nabire,” tegas Maipon, menjawab pertanyaan awak media.

Sedangkan untuk karantina wajib, dikatakan, dr. Sayori bahwa menjadi kewajiban Pemerintah   bagi ODP atau PDP yang terkonfirmasi Positif terinfeksi Covid-19 yang sudah memiliki gejalah sedang dan berat, seperti demam, batuk, sakit tenggorokan dan sesak napas. Dalam pedoman bisa di rawat di RS Darurat atau RS Rujukan.

“Seperti 3 pasien positif covid-19 kita saat ini, kondisi mereka memiliki gejalah seperti yang saya jelaskan sehingga tentu menjadi kewajiban pemerintah untuk menyediakan fasilitas baik fasilitas khusus ataupun karantinakan mereka di  rumah sakit,”jelas dr, Sayori.

Dibeberkan, dr.Sayori, pengawasan di rumah sakit tetap dilakukan oleh dokter, perawat atau tenaga kesehatan. Pembiayaan ditanggung sepenuhnya oleh pemerintah (BNPB, Gubernur, Bupati, Kepalah Distrik, Kepala Kampung) dan sumber lainnya.

“pasien positif covid-19 baik yang dikarantina mandiri maupun yang dikarantina wajib, untuk monitoring dan evaluasi dilakukan oleh dinas kesehatan,”kata dr.Sayori.

“teman-teman wartawan pedoman ini setiap saat ada ditangan saya, untuk menjadi pedoman dalam tindakan-tindakan atau Keputusan-keputusan yang dilakukan oleh Tim Gugus Tugas Covid-19 Nabire,” aku dr. Sayori.

Ditegaskan dr, Sayori, tentunya semua hal yang dilakukan sesuai kriteria pedoman baku yang dikeluarkan oleh Kemenkes. Termasuk  dalam penanganan 16 pasien positif yang dikarantinakan saat ini adalah sesuai kriteria.

“saya mengklarifikasi ini, bertujuan untuk memberikan informasi yang sejelas-jelasnya kepada masyarakat menyangkaut cara penanganan pasien kita yang ada di kabupaten Nabire,”pinta dr.Sayori mengakhiri. ***

 

#Pandemi Covid-19

Baca Juga, Artikel Terkait