Egianus Kogeya: Mispo Gwijangge Bukan Anggota TPNPB

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Mispo Gwijangge Korban Polisi Salah Tangkap. (SP-Ist)

 

JAYAPURA, KABARMAPEGAA.com--Mispo Gwijangge yang ditangkap oleh Pasukan Keamanan Indonesia di Wamena dan sekarang diadili di Jakarta bukan anggota dari Tentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM) wilayah Ndugama. Hal tersebut dikatakan Bridgen Eginaus Kogeya melalui Jubir TTentara Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB-OPM), Sebby Sambom dalam pernyataan tertulis via pesan eletronik, (25/1).

 

Kami, para pemimpin TPNPB Wilayah III Ndugama, baru saja menerima laporan bahwa salah satu anggota TPNPB Kodap III Ndugama telah ditangkap oleh polisi dan saat ini sedang dalam proses hukum di Jakarta,” paparnya dalam pernyataan tertulis.

 

Pada masalah ini, para pemimpin dan pasukan khusus Pasukan Pembebasan Nasional Papua Barat (TPNPB) Wilayah Ndugama, katanya,  telah memeriksa anggota  mereka sehingga informasi tentang Misko yang saat ini dituding anggota TPNPB adalah tidak benar.

 

“Jadi kami katakan kepada publik secara nasional dan internasional bahwa mereka yang sementara dalam Proses Hukum saat ini di Jakarta bukan anggota TPNPB Ndugama, tetapi orang masyarakat sipil biasa,” tegasnya.

 

Dengan demikian, semua anggota Pasukan TPNPB ada di tangan mereka, terutama anggota Pasukan TPNPB Ndugama. Bridgen Egianus Kogeya mengatakan dalam laporannya “Kami TPNPB Kodap III Ndugama memiliki manajemen kontrol militer di sana, sehingga setiap Batalyon pasukan dan komandan semuanya bergerak dalam komando atasan dan semua Pasukan kami. Kami tahu segalanya.”

 

Namun belakangan, diketahui bahwa salah satu pelaku penembakan terhadap karyawan PT Istaka Karya adalah: Nama: Gwijangg Mispo (14 tahun), Pekerjaan: Petani, Suku: Ndugama Asal desa: Distrik Yigi, Kabupaten Nduga, Provinsi Papua.

 

Oleh karena itu,  pihak TPNPB mengeluarkan pernyataan sikap,  kepada  Pemimpin Militer dan Kepolisian Indonesia terkait dengan penangkapan MISPO GWIJANGGE pada tahun 2019, diantaranya:

  1. Kami menolak manipulasi Negara melalui TNI-POLRI Against Our Struggle, dan terhadap rakyat Papua Barat, yang telah melakukan penangkapan terhadap Mispo Gwijangge;
  2. Mispo Gwijangge bukan anggota Ndugama Nasional Papua Barat Pasukan Tentara Pembebasan, tetapi sebuah Masyarakat Sipil biasa yang berdomisili di Indonesia Wamena saat Penangkapan;
  3. Mispo Gwijangge adalah warga sipil murni, dan dia bukan anggota TPNPB Ndugama
  4. oleh karena itu, kami TPNPB Ndugama mendesak pemerintah Indonesia agar segera melepaskan Mispo Gwijangge.

 

Selain itu pihak OPM juga menambakan “kami, para pemimpin TPNPB Kodap III Ndugama sangat menolak bahwa Mispo Gwijangge dituduh membunuh seorang anggota Kopasus yang menyamar sebagai pekerja Jembatan di Sungai sebagai sepenuhnya tidak benar.”

 

Lagi-lagi pihak TPNPB menyatakan dengan tegas bahwa Mispo Gwijangge bukan anggota dari pasukannya sehingga diminta kepada Pemerintah Indonesia untuk membebaskan dan mengembalikan Mispo Gwijangge kembali ke keluarga.

 

“Saya Egianus Kogeya sebagai Penanggung Jawab Pembunuhan Karyawan PT. Istaka Karya dengan Pasukan masih hidup melawan Pasukan Keamanan Indonesia (TNI / POLRI) dan kami masih memegang senjata di lapangan,” kata Egianus yang diteruskan oleh Jubir kepada awak media.

 

Sementara itu, Tim Advokasi Papua mengungkap sejumlah kejanggalan terhadap kasus yang menjerat Mispo Gwijangge. Mispo ditangkap polisi karena diduga terlibat dalam kasus pembunuhan pekerja jalan PT Istaka Karya pada 2 Desember 2018 lalu, di Kabupaten Nduga, Papua. Proses hukumnya diduga menyalahi prosedur hukum.

 

Menurut anggota tim advokasi, Tigor Hutapea, penyidikan kasus tersebut sejak awal telah menyalahi prosedur. Di antaranya usia dan kemampuan Mispo dalam berbahasa Indonesia.

 

Tigor menuturkan Mispo mestinya menjalani prosedur hukum sesuai ketentuan pidana bagi anak. Sebab sesuai keterangan dari keluarga, Mispo lahir pada 2004. Namun Mispo ditangkap oleh polisi pada Mei 2019 dan diminta mengaku berusia 20 tahun.

 

"Sudah semestinya penyidik maupun penuntut umum memperlakukan Mispo sebagai anak yang berhadapan dengan hukum menggunakan mekanisme sistem peradilan pidana anak," ujar Tigor dalam konferensi pers di Graha Oikumene, Jakarta, Selasa (21/1) kepada CNN Indonesia.

 

Mabes Polri tak mempersoalkan keterangan Tim Advokasi Papua ihwal dugaan kejanggalan proses hukum Mispo. Kepala Biro Penerangan Masyarakat Mabes Polri Brigjen Pol Argo Yuwono bahkan mempersilakan dugaan kejanggalan itu diungkap di pengadilan.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Politik

#TPNPB-OPM

Baca Juga, Artikel Terkait