Egoisme dan Profesionalitas Dalam Organisasi

Cinque Terre
Manfred Kudiai

2 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
organisasi.ilu.ist

Oleh : Jeeno Alfred Dogomo)*

Artikel, KABARMAPEGAA.com--Egoisme sangat relevan dan tumbuh subur dalam setiap organisasi mengakibatkan pincangnya perjalanan organisasi mencapai setiap program-program kerja yang menjadi agenda bersama.

Egoisme dalam contoh genetiknya adalah sejenis partikel virus yang dapat menyebar akibat dari kepentingan-kepentingan individu yang dapat digunakan sebagai cara oleh setiap individu untuk memenangkan kepentingannya dan bersaing dengan lainnya.

Organisasi yang pada dasarnya dibangun atas dasar kepentingan bersama yang dalam setiap program kerjanya tercantum setiap aturan dan tujuan tujuan organisasi yang hendak dicapai tergantung organisasi model apa yang hendak di bangun.

Dalam organisasi pun memiliki struktur yang jelas mulai dari ketua sampai kepada sub-bidangnya, hal ini dimaksud agar dalam pembagian tugas pada kerja-kerja organisasi nantinya jelas dan sesuai dengan bidang masing-masing.

Walaupun demikian organisasipun memiliki sifat sub-kordinasi, dimana setiap bagian saling membutuhkan untuk menjalankan organisasi tersebut.

Dalam contoh genetiknya Organisasi itu ibarat tubuh manusia, yang setiap organnya memiliki fungsi masing-masing. Otak berfungsi untuk berfikir dan mengontrol seluruh organ dalam kerja-kerjanya, mata berfungsi untuk melihat dan memastikan keadaan/objek nyata disekitar, tangan untuk mengambil dan mengerjakan sesuatu, kaki berjalan menuju ke objek yang ingin dituju.

Begitupula Organisasi; Ketua ibarat otak, bidang-bidang lainnya ibarat organ tubuh. Dimana semuanya adalah satu kesatuan yang saling membutuhkan dan akan bekerja untuk mencapai suatu tujuan.

Dalam kerja-kerja  organisasi, egoisme hadir sebagai sifat yang individualis yang tidak mementingkan kesatuan dan agenda bersama tetapi menjadikan organisasi sebagai alat untuk meloloskan agenda/kepentingan individunya.

Hal seperti ini dapat kita jumpai dalam setiap organisasi apapaun bentuk organisasinya, yang mengakibatkan terhambat dan lumpuhnya aktivitas organisasi bahkan pada tingkat tertinggi Egoisme dapat menghancurkan organisasi tersebut.

 

 

Dalam organisasi egoisme jika digunakan dengan maksud dan tujuan untuk pembangunan organisasi maka dapat disebut dengan egosme positif tetapi jika egoisme yang dimaksud adalah untuk kepentingan individualis atau menghancurkan organiasi adalah egoisme Negatife.

Berikut Karakter atau ciri-ciri dari dari egoisme dalam organisasi;

Positife :

Terlalu ingin melindungi hal yang penting didalam organisasi demi ketahanan dan kemajuan, ngotot untuk mengatur orang untuk kebaikan, tidak suka melihat hal-hal yang tidak baik, selalu berusaha dan pantang menyerah walaupun sering mengalami kegagalan, membantah untuk sesuatu yang tidak baik dan berdampak buruk bagi organisasi.

Negatife :

Lebih mementingkan diri sendiri, tidak mau mendengar pendapat orang lain dan menganggap dirinya yang paling benar, acuh-tak acuh terhadap temannya, lebih mementingkan kepentingan individu daripada kepentingan organisasi.

Egoisme itu sendiri sudah ada dalam diri setiap individu sejak kita kecil yang timbul akibat dari pergaulan baik itu interen (didikan orang tua) maupun extern (Lingkungan sekitar), tergantung mau diarahkan ke jalur yang baik (Positife) atau jalur yang buruk (Negatife) kembali kepada individu masing-masing.

Satu hal yang dapat membantu untuk mengarahkan atau mengontrol egoisme kearah yang positif adalah Profesionlaitas. Profesionalitas adalah alternatife terbaik untuk mengarahkan pandangan dan pola fikir kita kearah yang lebih baik.

Profesionalitas secara garis besar merupakan kata sifat yang berarti karakter kerja seseorang dalam menekuni profesinya atau juga kemampuan dalam organisasi untuk bertindak secara profesional. Profesionalitas juga menyangkut perihal profesi atau keprofesian yang menyangkut kualitas sikap sang pemangku jabatan terhadap profesinya serta derajat pengetahuan dan keahlian yang mereka miliki untuk dapat melakukan tugas-tugasnya.

Contoh:

 Dalam sebuah organisasi ada seorang yang memiliki tanggung jawab sebagai koordinator bidang Humas dia paham terhadap tugas dan tanggung jawabnya sehinngga ia mampu merangkul anggotanya dan memberikan tugas sesuai kemampuan anggotannya masing-masing, demi mencapai tujuan organisasi tersebut.

Dengan demikian, sebutan profesionalitas lebih menggambarkan suatu “keadaan” derajat keprofesian seseorang yang dilihat dari sikap, pengetahuan, dan keahlian yang diperlukan untuk melaksanakan tugasnya.

 

Penulis adalah mahasiswa Papua, kuliah di Jawa)*

 

 

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait