Eks Tapol Rasisme, “Saya Dapat Akses Keluarga  Kunjungan di Tahanan Mako Brimob”

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

4 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Alexander Gobai, Eks Tapol Rasisme

 

Oleh : Alexander Gobai

 

Tulisan ini tentang Hak tersangka selama saya di dalam Tahanan Mako Brimob Kotaraja, Abepura selama satu bulan akibat peristiwa Rasisme pada tahun 2019 di Kota Jayapura, Provinsi Papua.

 

***

 

Awalnya, saya ditangkap di Jln. Silva Griya, Kotaraja Luar, Distrik Abepura, Kota Jayapura, Provinsi Papua pada tanggal 6 September 2019 saat saya sedang berpulang setelah memipin rapat Evaluasi Kejadian aksi Rasisme pada tanggal 29 Agustus 2019 di kota Jayapura.

 

Saya ditangkap oleh sejumlah Intel Mabes Polri. Mereka menggunakan Lima Mobil dengan merek Avansa dan mengejar saya dari belakang sepanjang berpulang dari Asrama Tolikara di Ekspo, Waena. Setelah menangkap, saya dibawah di dalam mobil avansa berwana hitam dengan kondisi menutup kepala dengan topeng kain dan memborgol tangan saya selama kurang lebih 45 menit sepanjang jalan dari arah kotara raja menuju jalan baru seputar RS. Bayangkara dan menuju kembali ke Mako Brimob Kotaraja untuk dilakukukan pemeriksaan tersangka.

 

Saya diperiksa dimulai dari pukul 21.00 Wit – 03.30 Wit pagi. Ada sejumlah pemuda yang datangi saya, diantaranya, Ketua GMKI Cabang Jayapura tahun 2019 dan Wakil Presiden Mahasiswa Periode 2017-2019. Keduanya membawa  Makanan cemilan (Kue Mcdonald) dua kotak untuk kami makan bersama dengan penyidik dan saya. Namun, saya tidak memakannya.

 

Setalah saya diperiksa, pukul 07.00 Wit pagi. Dan saya dinyatakan Tersangka dengan  pasal Makar (106), Penghasutan (160), Perencenaan dan permufakatan (110, 105) KUHP. Selanjutnya, penyidik mengantar masuk di ruang Tahanan Mako Brimob yang sudah ada. Saya mendengar, ada tahanan lain juga, diantaranya Feri Kombo (Mantan Ketua BEM Uncen) dan tahanan lainnnya dengan kasus yang berbeda.

 

Hak Tersangka

 

Sepanjang saya di tahan di tahanan Mako Brimob, Kota Raja, Abepura kurang lebih satu bulan. Akses keluarga untuk mengunjungi dan membawa makan dan minum hingga melakukan kunjungan diberi waktu dengan baik. Kaluarga dari tahanan Agus Kosay, Buchtar Tabuni dan saya (Alexander Gobai, red) mendapatkan pelayanan yang cukup baik. Keluarga bisa datang membawa makan dan minum apalagi kunjungan untuk berbicara kurang lebih 15-20 Menit lamannya.

 

Hak tersangka, seperti kunjungan keluarga, kami mendapatkannya. Saya merasakannya sendiri. Kami diperlakukan baik.  

 

Sekitar tiga kali, istri saya datangi melihat keadaan saya di dalam tahanan Mako Brimob.

 

Hak lainnya, hak mendapatkan Medis. Saya mendapatkannya. Selain itu, makanan yang disiapkan Brimob cukup baik. Menu makananya berganti-ganti hampir setiap hari.

 

Kondisi Viktor Yeimo

 

Setelah melihat Rilis dari berbagai sumber, salah satunya dari Pengacara Kolisis Penegak dan Hak Asasi Manusia (HAM) memberikan rilis bahwa hak tersangka terhadap Viktor Yeimo dipersulit. Seperti kunjungan keluarga apalagi membawa makan-minum sejak tanggal penangkapan hingga saat ini.

 

Melihat dinamika ini dengan kasus yang sama ditangkap Tuan Viktor Yeimo, yaitu kasus Rasisme. Maka, setidakanya Pihak Polda Papua dalam hal ini, Reskrim dan Direktur Tahti memberikan hak tersangka yang luas sama seperti kami yang pernah di tahanan Brimob, kotaraja.

 

“Berikan akses agar keluarga bisa mengunjungi Tahanan Viktor Yeimo (VY) di tahanan Mako Brimob. Yang juga pernah melakukan akses pada saat menahan kami di Mako Brimo dengan kasus yang sama,”.

 

Apabila tidak memberikan akses yang baik antara keluarga dan pihak Polisi, maka Nyawa Viktor Yeimo menjadi terancam, cukup akses untuk memberi makan dan minum (kunjungan Keluarga).

 

Saya prihatin dengan perilaku Polisi yang tidak memberikan akses yang baik kepada tahanannya. Berikan akses sama seperti kami ditahan di Mako Brimob pada saat itu di tahun 2019.

 

Penulis adalah Eks Tapol Rasisme Tinggal di Nabire.

#Pemerintahan

#Politik

#Mahasiswa Papua

#LBH Papua

Baca Juga, Artikel Terkait