Fawawi Club Gelar Diskusi Novel “Orang-orang Oetimu”

Cinque Terre
Aprila Wayar

6 Bulan yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
Freelance Journalist
Peserta Diskusi "Orang-orang Oetimu" Fawawi Club. (Doc. Fawawi Club)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com – Fawawi Club menggelar Diskusi dan Bedah Novel “Orang-orang Oetimu” karya Felix K. Nesi, novelis muda asal Timor di AOA Resto & Creative Space, Selokan Mataram, Yogyakarta pada Sabtu (14/03).

“Ada baiknya kita memahami terlebih dahulu letak Oetimu secara geografis sebelum memulai diskusi ini agar dapat memperoleh gambaran utuh tentang kehidupan masyarakat di sana,” kata Edoardo Mote, moderator diskusi yang juga salah satu pendiri Fawawi Club.

Lanjut mahasiswa pascasarjana Universitas Gajah Mada ini, Oetimu adalah nama sebuah kampung yang terletak di perbatasan RI – Timor Leste yang mana novel ini menceritakan kehidupan sebenarnya yang dialami masyarakat perbatasan. Setelah tuntas membaca novel ini, Mote jadi ingin tahu, di mana sebenarnya posisi Felix di dalam novel yang menang dalam Sayembara Novel Dewan Kesenian Jakarta tahun 2018 ini.

Di tempat yang sama, penikmat sastra, Veronika Sawen merasa sedikit terganggu dengan adegan-adegan seksual yang dianggapnya terlalu vulgar dideskripsikan dalam novel ini oleh penulis. Walau diakui memang ada juga di beberapa novel yang pernah dibacanya tetapi deskripsi Felix dianggap cukup mengganggu di dalam proses membaca.

“Selain soal seksualitas yang digambarkan, cara bercerita dengan alur yang maju mundur membuat saya sedikit bingung di awal membaca novel ini. Walau akhirnya saya suka,” kata Sawen yang juga salah satu pendiri Fawawi Club.

Sementara itu, Ignasius Jaques Juru, pemantik yang tidak sempat hadir dalam diskusi Fawawi Club pada Sabtu (14/03) mengatakan jika ada yang mau disalahkan dalam kisah “Orang-orang Oetimu” adalah kolonialisme! Ia membungkam kebenaran sejarah, ia bertingkah atas kemauannya sendiri, ia menolak kecerdasan, merawat kedunguan bahkan memujanya!

“Kolonialisme melemahkan kemauan untuk bertindak benar, ia melawan apapun yang kritis, menggiring manusia ke arah yang tak terduga, bahkan melahirkan paradox yang menggetirkan. Dan yang pasti, ia selalu berkhianat,” kata Ignasius dalam diskusi santai bersama anggota Fawawi Club di Diraja Café, Nologaten, Yogyakarta, Selasa (17/03).

Menurutnya, penggambaran tokoh-tokoh dalam novel “Orang-orang Oetimu” merupakan kecerdasan penulis dalam membungkus narasi-narasi politik yang terjadi post-colonial di tanah kelahirannya.  

“Kolonialisme membunuh identitas kita,” pungkasnya.

Fawawi Club adalah club baca sastra yang digagas enam pemuda/i Papua yang berdomisili di Yogyakarta. Kegiatan pertama dilakukan pada November 2019 dengan mendiskusikan dan membedah novel “Matahari” karya Paulo Cuelho. Sejak saat itu, diskusi bulanan rutin dilakukan dengan mengajak public untuk terlibat.

Dengan kehadirannya, para pendiri Fawawi Club berharap dapat mendorong minat baca khususnya sastra di kalangan generasi muda Papua di Yogyakarta. Dalam diskusi kali ini dihadiri lima orang anggota Fawawi Club dan tiga orang penikmat sastra di Yogyakarta. (*)

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait