Festival Kataok Abang Pantai Watu Kodhok  

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

2 Tahun yang lalu
INFORMASI

Tentang Penulis
Festival Anak-Anak SD Negeri Pantai Watu Kodok. (foto: Frengki/ist)

Oleh: Frengky Syufi)*

 

Festival Kataok Abang Pantai Watu Kodhok  “ Festival Anak-Anak SD Negeri Pantai Watu Kodok”  

Kesadaran kita untuk merawat kelestarian alam hari ini adalah kepedulian kita untuk  menjaga kehidupan pada masa yang akan datang”.

 

Pantai Watu Kodok  memiliki keindahan alam yang sangat asri  dengan hamparan pasir  yang putih, desiran ombak  yang mengencang dan suasana pantai yang sejuk karena ditumbuhi oleh beberapa tanaman khas pantai berupa pandan laut (Pandanus amaryllifolius) serta beberapa tanaman perindang yang ditanami oleh beberapa kelompok peduli lingkungan dari berbagai institusi dan komunitas yang berdomisili di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY). Keindahan pantai yang  alami dan asri ini menarik minat tersendiri bagi para wisatawan lokal maupun wisatawan mancanegara untuk berwisata di pantai tersebut. Hal yang menarik dari pantai ini adalah penataan pantai dengan ciri khas tersendiri dengan mempertahankan pantai yang natural tanpa adanya kerusakan alam.

 

Sejak tahun 2009 para warga sudah berdomisili dan beraktivitas di  pantai Watu Kodok. Para warga yang mendiami disepanjang pesisir Pantai Watu Kodok memiliki relasi dan persaudaraan yang begitu kuat antarsesama sehingga terciptanya kesadaran yang satu dan sama untuk menjaga sekaligus melestarikan kawasan pantai. Namun dalam selang waktu selama enam tahun yaitu pada tahun 2014 para warga dikejutkan dengan kedatangan seorang pengacara dan  para aparat militer yang menyuruh warga Watu Kodok untuk berpindah ke tempat yang lain karena kawasan tersebut akan diambil alih dan dikelola oleh seorang investor. Namun warga tetap bersikeras untuk berdomisili di Pantai Watu Kodok dan tidak mau berpindah ke tempat  yang baru.

 

Berbagai upaya pun ditempuh oleh investor untuk merebut kawasan Pantai Watu Kodok sebagai daerah yang dikelola untuk kepentingan pribadinya. Hari demi hari, minggu demi minggu, bulan demi bulan hingga berganti tahun. Strategi yang dilakukan oleh investor tidak berbuah manis.  Persatuan masyarakat begitu kuat sehingga tidak mudah bagi investor untuk menembus dan menghancurkan benteng pertahanan warga untuk menguasai dan mengelola Pantai Watu Kodok. Konflik yang diciptakan oleh investor untuk mengadu domba dan memacah belah persatuan masyarakat tidak efektif karena masyarakat menaggapi persolan tersebut dengan berkepala dingin serta pada saat yang sama masyarakat juga mengatur stategi untuk melawan investor dengan cara-cara yang damai dan berperikemanusiaan.

 

Pada awalnya Pantai Watu Kodok sering kali dapat dijadikan oleh para mahasiswa/i dari berbagai Universitas untuk melakukan kegiatan inisiasi baik tingkat Program Studi maupun tingkat Fakultas. Salah satu Universitas yang setiap tahun ajaran baru mengadakan kegiatan inisiasi dan melibatkan puluhan hingga ratusan mahasiwa/i untuk melakukan kegiatan kuliah lapangan di daerah Pantai selama empat hingga lima hari adalah Program Studi Pendidikan Biologi  Universitas Sanata Dharma Yogyakarta. Melalui kegitan inisiasi inilah para mahasiwa didik dan diajarkan oleh para dosen, bagaimana kita sebagai mahasiswa mengamati dan menggali potensi-potensi yang terdapat di daerah pantai untuk dikembangkan agar memberikan kesejahteraan dan kehidupan yang layak bagi masyarakat.

 

Informasi mengenai konfilik kawasan Pantai Watu Kodok pun sampai di telinga para mahasiswa/i Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta yang menagdakan kegiatan inisiasi di Pantai Watu Kodok pada tahun 2014 dan 2015. Akhirnya beberapa mahasiswa dari Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan beberapa mahasiswa dari alumni Seminari Petrus Van Diepen yang mengenyam pendidikan di Daerah Istimewa Yogyakarta melakukan diskusi dan berdialog dengan warga mengenai solusi seperti apa yang harus dilakukan untuk mengatasi persolan tersebut. Diskusi dan dialog pun sering dilakukan antara warga dengan beberapa mahasiswa yang memiliki rasa kepedulian terhadap lingkungan. Dari hasil diskusi dan dialog tersebut dapat ditemukan sebuah solusi untuk mengatasi agar investor tidak mencaplok kawasan Pantai Watu Kodok untuk dikelola menjadi hak milik investor adalah melalui advokasi lingkungan secara damai.

 

 

Advokasi lingkungan ini pun dilakukan oleh kumunitas Opera Yogya (Orang-Orang Muda Peduli Alam Yogya) yang dibentuk oleh Bruder Antonius Dieng Karnedi, Frater Wempirius Mauk, Ester Nurani Keraru, Evarista Saragih dan Paulina Yuliani yang merekrut mahasiswa/i Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dari lintas angkatan. Komunitas ini dibentuk sejak awal tahun ajaran baru 2014 dan banyak melakukan advokasi-advokasi lingkungan di Yogyakarta maupun diluar daerah Yoyakarta dan salah satunya adalah advokasi lingkungan di Pantai Watu Kodok. Advokasi lingkungan ini dilakukan secara swadaya oleh para mahasiswa yang memiliki kepedulian terhadap lingkungan.

 

Bruder Antonius Dieng Karnedi, SJ selaku kordinator komunitas Opera Yogya melakukan dikusi dengan para mahasiswa yang terlibat dalam komunitas Opera Yogya, pengurus HMPS PBIO USD (Himpunan Mahasiswa Program Studi Pendidikan Biologi Universitas Sanata Dharma), komunitas Panglipuran Yogyakarta, komunitas alumni Seminari Petrus Van Diepen Sorong, Pusat Studi Lingkungan Universitas Sanata Dharma (PSL USD) dan komunitas Papua  untuk menentukan waktu yang sesuai untuk melakukan penghijuan di Pantai Watu Kodok bersama masyarakat. Dari hasil dikusi tersebut maka waktu yang tepat untuk melakukan penghijauan di Pantai Watu Kodok adalah 14 Februari 2015 sebagai perayaan hari Valentine Day. 500 bibit tanaman cemara udang pun dibeli oleh Bruder Antonius Dieng Karnedi, SJ dengan mengeluarkan uang sakunya sendiri dan beberapa tanaman berupa keben, nyamplung, munggur dan ketapang disumbangkan secara gratis oleh kumunitas Panglipuran Yogyakarta   yang digunakan untuk penghijauan di kawasan pantai.

 

Tepat pada tanggal 14 Februari 2015 maka seluruh komunitas yang bekerja sama dengan komunitas Opera Yogya pergi ke Watu Kodok untuk melakukan penghijauan bersama dengan warga. Kehadiran para mahasiswa yang berasal dari berbagai komunitas disambut baik oleh masyarakat. Kegiatan advokasi lingkungan ini adalah advokasi yang pertama kali dilakukan di Pantai Watu Kodok untuk menentang investor secara damai. Advokasi lingkungan ini dilakukan setiap tahun dari tahun 2015 - 2018.

 

 Melalui kegiatan pengijauan yang dilakukan maka  investor pun menarik mundur sehingga ada ruang bagi orang-orang muda yang peduli terhadap alam memberikan advokasi lingkungan bagi masyarakat untuk melestarikan kawasan pantai.  Oleh sebab itu, masyarakat yang mendiami Pantai Watu Kodok melakukan musyawarah dan menetapkan bahwa tanggal 25 Mei 2016 ditetapkan sebagai hari ulang tahun Pantai Watu Kodok yang dapat diisi dengan Festifal Kataok Abang Pantai Watu Kodhok “Festifal Anak-Anak SD Negeri Pantai Watu Kodok”. Kegiatan ini sudah diadakan selama tiga tahun berturut-turut yaitu tahun 2016, 2017 dan 2018. Festifal Kataok Abang Pantai Watu Kodhok kali ini diperingati pada 10 Mei 2018 yang bertempat di kawasan Pantai Watu Kodok yang dibuka secara langsung oleh Bapak Yunus Sudarmanto selaku ketua panitia pada pukul 10.00 hingga berakhir pada16.00 WIB.

 

Festifal ini didesain sedemikian rupa yakni para warga yang tergabung dalam panitia penyelenggara festifal mengenakan pakaian seragam SD sehingga menarik para wisatawan maupun tamu undangan yang ikut menyaksikan acara festifal yang  sedang berlangsung dengan penuh khidmat. Pakaian seragam SD yang dikenakan oleh warga adalah suatu sindiran  halus bagi investor dan pemangku kepentingan (pemerintah) yang mengatakan bahwa para warga Watu Kodok tidak mungkin mempertahankan kawasan pantai ini dan  mereka harus direlokasi ke tempat yang lain karena mereka pada umumnya berseragam merah atau tidak lulus SD sehingga tidak mampu untuk mengelola pantai secara baik. Namun apa yang terjadi, warga mampu mengelola pantai secara bijak dengan mempertahankan keaslian pantai sehingga menjadi salah satu destinasi wisata yang diminati oleh wisatawan hingga kini.

 

Acara festifal ini dihadiri oleh beberapa instansi pemerintahan (Camat Tanjungsari, Polsek Tanjungsari, Danramil Tanjungsari, Lembaga Bantuna Hukum Yogyakarta, Lurah, Pokdarwis (kelompok sadar wisata) yang berasal dari pantai Baron, Kukup, Sepanjang, Drini, Krakal, Sadranan, Srili, Sundak dan Pok Tunggaal, Komunitas Jiwa Laut, Komunitas Papua  serta para awak media yang hadir untuk meliput acara festifal kataok Abang Pantai Watu Kodok. Pada sambutan pembukaan yang disampaikan oleh Bapak Yunus Sudarmanto selaku ketua festifal menghimbau warga Watu Kodok untuk menjunjung tinggi persaudaraan dan merawat persatuan antarsesama untuk melestarikan Pantai Watu Kodok dan lingungan sekitarnya agar menjadi kawasan pantai yang asri dan alami. Selain itu juga, sambutan penutup yang disampaikan oleh Bapak Rakhmadian Wijayanto selaku Camat Tanjungsari untuk mengakhiri kegiatan festifal Pantai Watu Kodok. Beliau memberikan apresiasi yang setingggi-tingginya kepada warga yang bekerja secara swadaya melestarikan pesisir Pantai Watu Kodok dan akan membantu menyelesaikan senketa tapal batas Pantai Watu Kodok dengan Pantai Sepanjang yang dikeleim oleh investor agar pantai tersebut dikelola secaara mandiri olah warga Watu Kodok.

 

 

Penulis adalah Mahasiswa Kerjasama dari Keuskupan Manokwari - Sorong  dan Keuskupan Agats-Asmat yang Kuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)*

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait