Gembala Yoman Minta Kepada Semua OAP Wajib Baca Tanggapan ini

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

10 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Sebuah Tanggapan untuk artikel politik Gembala Dr. Socratez Sofyan Yoman tanggal 8 November 2019. (Mwn)

 

 

Jeritan Perih Di Bumi Cendrawasih. Sebuah Tanggapan untuk artikel politik Gembala Dr. Socratez Sofyan Yoman tanggal 8 November 2019. Gembala Dr. Socratez Sofyan Yoman adalah Presiden Persekutuan Gereja-Gereka Baptis Papua.

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM-- Politik yang baru saja dirilis oleh Gembala Yoman (8 November 2019) begitu menggetarkan hati. Bagaimana tidak, sejumlah premis yang dilontarkan beliau menunjukkan kegetiran hati seorang putra bangsa yang sedang menjerit karena kondisi bangsanya yang terjepit.

 

Isu utama yang diangkat Gembala Yoman dalam artikel ini adalah pemekaran propinsi di Papua yang sedang menjadi buah bibir di media nasional akhir – akhir ini. Yoman menyebutnya dengan istilah pemekaran propinsi boneka.

 

Sejak 30 Oktober 2019, Gembala Yoman sudah menggaungkan kecamannya terhadap pemerintah Indonesia terkait rencana pemekaran Propinsi di Papua melalui Surat Terbuka kepada Ir.Jokowi. 1 November 2019, beliau bersuara kembali lewat Cendrawasih Pos dengan penekanan yang sama persis pada surat terbuka.

 

Tak berhenti sampai disitu, 2 November 2019, Gembala Yoman kembali melayangkan surat terbuka kedua kepada pemerintah Indonesia terkait ketidaksetujuan terhadap pemekaran propinsi di tanah Papua. Selanjutnya, gembala Yoman tetap menulis beberapa kutipan pendek yang menentang segala tindakan pemerintah yang dinilainya jutsru merugikan bangsa Papua.

 

Artikel politik yang baru dirilis ini sepertinya menjadi puncak dari semua yang sudah ditulis sejak 30 Oktober 2019 mengenai kecaman terhadap rencana pemekaran propinsi di Papua. Tiap kalimat yang berkelindan dalam artikel ini bukan saja menggambarkan sikap protes, tetapi lebih dari pada itu, suatu jeritan dan erangan yang sangat kuat atas rasa sakit yang begitu dalam.

 

Hal ini terlihat dari penggunaan istilah _Firaun dan Goliat modern_ oleh Yoman untuk menggambarkan posisi pemerintah Indonesia di tanah Papua Barat.

 

Berbicara tentang Firaun, kita tentu mengetahui dengan jelas bagaimana kisah Mesir menindas bangsa Israel di bawah pimpinan Firaun. Dalam Kitab Keluaran tertulis dengan jelas bagaimana keras dan bengisnya Firaun dalam memperlakukan bangsa Israel. Bangsa Israel juga berseru-seru dan berteriak minta tolong agar dilepaskan dari penindasan bangsa Mesir.

 

Gembala Yoman menggunakan istilah _Firaun modern_ untuk menggambarkan posisi pemerintah Indonesia. Sudah menjadi rahasia umum, bagaimana keras dan bengisnya pemerintah Indonesia dalam memperlakukan Papua sejak 1961. Sumber daya alam dikeruk, manusianya di-garuk. Tanahnya dirampas, manusianya di-tumpas.

 

Sama seperti bangsa Israel yang berseru akan penindasan yang mereka alami, saat ini bangsa Papua juga sedang berseru, berteriak minta tolong. Teriakan bangsa Papua terdengar jelas melalui kalimat demi kalimat dalam artikel ini.

 

Selanjutnya, Gembala Yoman juga menggambarkan pemerintah Indonesia seperti _Goliat modern_ Mengapa Goliat ? Kita tentu pernah mendengar cerita perkelahian antara Daud dan Goliat. Goliat dengan segala perlengkapan perang yang _termutakhir_ pada masa itu, meremehkan dan menantang bangsa Israel dengan nada sinis. Kata-kata terorpun dilontarkan untuk menakut-nakuti bangsa Israel.

 

Bagaimana dengan Papua saat ini? Kejadian 17 Agustus 2019 di Surabaya tentu masih segar dalam ingatan kita, bagaimana mahasiswa Papua diremehkan dan diteror. Jauh sebelum itu, bangsa Papua juga sudah selalu diracuni dengan stigma negatif. Bahkan orang – orang Papua dilabeli bodoh dan terbelakang sehingga belum bisa memimpin dirinya sendiri. Pembunuhan karakter melalui ucapan dan stigma negatif ini yang selalu dilontarkan kepada orang Papua. Persis seperti apa yang dilakukan Goliat ketika menantang bangsa Israel.

 

Selain itu, Indonesia juga hadir dengan kekuatan militernya yang _termutakhir_ di bumi Cendrawasih tak pelak memberikan rasa takut dan tidak aman juga kepada orang asli Papua.

 

Pantas saja, Gembala Yoman dalam refleksi imannya, memandang tindakan penguasa Indonesia seperti tindakan _Firaun dan Goliat Modern_.

 

Lantas, tindakan-tindakan apa saja yang dilakukan para _Goliat dan Firaun Modern_ ini bagi bangsa Papua?

 

Setidaknya ada 4 _main action_ yang disoroti Yoman dalam artikel ini. Keempat tindakan ini dilakukan dengan tujuan yang berbeda namun dalam kemasan yang sama, yaitu pemekaran.

 

Kemasan Pemekaran ini menurut Gembala Yoman dilakukan untuk 4 tujuan, yaitu :

 

1. Pengalihan akar persoalan di Papua,

 

Gembala Yoman berpendapat, pemekaran hanyalah momen untuk mengalihkan akar persoalan bangsa Papua yang selama ini gagal diselesaikan oleh Indonesia. Salah satunya Pelanggaran HAM berat dan tindakan rasisme terhadap orang Papua.

 

Selain itu pengalihan akar persoalan di Papua juga merupakan bagian dari kepanikan Negara setelah kekalahan diplomasi di tingkat internasional. Pil pahit yang dialami dalam diplomasi pemerimtah Indonesia ialah kekalahan di kawasan Negara-Negara Pasifik. Pada Juli 2019 ULMWP memenangkan resolusi dari 18 Anggota Negara-Negara Pasifik yang menyatakan Persoalan Pelanggaran HAM di Papua diselesaikan dengan memggunakan instrumen internasional.

 

Intinya, Indonesia panik karena gagal mempengaruhi Negara-Negara Pasifik dan juga Dewan Gereja Dunia, Dewan Gereja Pasific, Para Uskup Ocenia-Pasifik yang berdiri bersama dan mendukung perjuangan rakyat Papua yang sedang mencari keadilan demi martabat dan masa depan di atas Tanah leluhur mereka.

 

Selain itu, pemerintah juga bekerja keras melakukan pengalihan pokok masalah Papua dengan menangkap Basoka Logo, 42 mahasiswa, 7 orang yang dikirim ke Kalimantan, 9 orang ditangkap di Deiyai dan mereka semua ini diadli, hukum dan dipenjarakan dengan alasan politik, yaitu pasal makar.

 

Tak hanya sampai disitu. Penahanan Surya Ginting dan penetapan status tersangka yang sangat berlebihan kepada rekannya Veronica Koman juga terus dilakulan kepolisian. Melalui CNN Indonesia (4 Oktober 2019), Veronica bahkan mengakui menerima teror pembunuhan.

 

Hal ini jelas menunjukkan usaha pemerintah untuk mengalihkan akar persoalan yang terjadi di Papua selama ini yang sudah menjadi agenda dan perhatian komunitas internasional dalam semangat solidaritas, keadilan, kesetaraan, martabat kemanusiaan.

 

2. Usaha pemusnahan etnis Melanesia di tanah Papua Barat,

 

Dalam artikel ini, gembala Yoman sempat mengutip kembali apa yang pernah ditulis dalam bukunya “Pemusnahan Etnis Melanesia”. Gembala Yoman mengutip pernyataan Herman Wayoi yang mengatakan bahwa pemerintah Indonesia hanya berupaya menguasai Papua, merencanakan pemusnahan etnis Melanesia dan menggantinya dengan etnis melayu dari Indonesia. Hal ini terbukti dengan mendatangkan transmigrasi dari luar daerah dalam jumlah ribuan untuk mendiami lembah-lembah yang subur di tanah Papua.

 

3. Kelanjutan Operasi Militer dari Sorong – Merauke,

 

Gembala Yoman berpendapat, pemekaran hanya menjadi tameng untuk mempermudah kelanjutan operasi militer di Papua. Konklusi ini diambil Yoman berdasarkan beberapa dokumen Negara yang sangat rahasia (sudah bocor?) seperti, Nota Dinas Kesbang,, radiogram gubernur kepada daerah tingkat I Irian Jaya, serta Dokumen Ketahanan Nasional yang berhubungan dengan tuntutan penentuan nasib sendiri orang asli Papua. Semua dokumen tersebut berisi strategi penyelesaian konflik separatisme Papua dengan pendekatan militer.

 

Selain itu, hal ini juga diperkuat dengan pernyataan Tito Karnavian bahwa pemekaran propinsi di Papua sudah dikaji berdasarkan data intelejen. Menurut Gembala Yoman, hal ini makin mempertegas niat buruk Indonesia terhadap masa depan orang Papua.

 

4. Mengadu-domba (politik devide et impera) antara rakyat Papua sendiri dan juga antar rakyat dengan para elit-elit Papua untuk menciptakan konflik horizontal,

 

Politik adu domba ini dilakukan dengan tujuan mengalihkan konflik vertikal selama 50 tahun. Selain itu negara juga hendak mencuci tangan ketika konflik hirizontal itu tercipta di Papua.

 

Analsis Gembala Yoman mengenai kemasan pemekaran yang dilakukan untuk 4 tujuan ini perlu diperhatikan secara serius. 4 tujuan besar dibalik pemekaran yang menjadi hipotesis Gembala Yoman menunjukkan bahwa pada dasarnya pemekaran merupakan sebuah tindakan kapitalistis. Penguasa Indonesia mendapatkan keuntungan bombatis, sedangkan orang Papua dikurung dalam kehidupan yang bengis.

 

Disisi lain, akar persoalan Papua juga terus digantung tanpa penyelesaian yang tuntas dan transparan. Salah satunya masalah rasisme yang selama ini terjadi di Papua.

 

Salah satu bentuk tindakan rasisme melalui stigma negatif dan pelabelan tertentu kepada orang Papua begitu kental terasa, bahkan sampai kepada anak – anak.

 

Sebagai guru, saya merasakan betapa sulitnya menolong anak – anak Papua untuk bisa mengungkapkan ide/pendapat dengan percaya diri. Mereka perlu latihan berulang kali, diberi kesempatan berulang kali sampai bisa. Selain itu, untuk tampil di depan kelaspun mereka perlu penyesuaian dalam waktu yang lama. Jika ditanya kenapa malu menyampaikan pendapat, mereka menjawab _“dia (baca : kulit putih, rambut lurus) lebih bisa dari saya”_

 

Tanpa disadari, tindakan rasisme ini sudah menggerogoti tumbuh kembang anak – anak Papua. Label yang diberikan penguasa sejak dulu bahwa orang Papua tidak bisa apa-apa (bodoh dan terbelakang), separatis, makar, OPM, yang terbaru KKSB, ternyata sudah menjelma menjadi virus yang menyebar dan menyerang generasi emas Papua. Potensi terbaik mereka terkubur secara prematur akibat tindakan rasisme.

 

Apakah dampak seperti ini mendapat tempat dalam agenda rapat diruang ber-AC, tempat berjajar kursi empuk bagi para penguasa yang sedang kong kalikong membahas pemekaran?

Apakah jeritan dan teriakan bangsa Papua didengar oleh penguasa Indonesia?

 

Ataukah penguasa menutup rapat seribu telinga dan pura-pura tuli?

Jika Indonesia memang tulus terhadap perkembangan manusia Papua, seharusnya inti akar permasalahan Papua- (pelanggaran HAM, rasisme, dll) yang harus menjadi agenda prioritas untuk dibahas dan diselesaikan satu per satu. Sekali lagi, bukan pemekaran!

 

Namun, meskipun penguasa toh pura-pura buta dan tuli juga, Allah yang dipercaya oleh bangsa Papua telah mendengar erangan mereka. Dia melihat dan memperhatikan bangsa Papua. Seperti yang sudah Dia lakukan terhadap bangsa Israel. Dia juga yang akan melakukan bagian-Nya bagi bangsa Papua Barat.

 

Keluaran 2 : 25 “Maka Allah melihat orang Israel itu, dan Allah memperhatikan*mereka”

 

Kezia, 9 November 2019

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait