Gerekan Pemulihan Diri Menuju Pemulihan Bangsa Papua

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

9 Hari yang lalu
ROHANI

Tentang Penulis
Gerakan Pemulihan Diri Menuju Pemulihan Bangsa Papua, Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua (JDR-P2). Yesus berfirman: Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah,’ Injil Lukas 18 : 27. Penulis adalah  Selpius Bobii, nomor kontak 0823 9938 1321.)*


 

Oleh Selpius Bobii(*

 

ARTIKEL ROHANI, KABARMAPEGAA.COM--Manusia Papua dan segala yang ada di Tanah Papua berada dalam bayang-bayang kehancuran dan kepunahan. Penindasan terhadap sesama manusia dapat dikatakan ‘tirani’ apabila penindasan itu menjadi sebuah tradisi yang menyebabkan penderitaan paling mengerikan terhadap sesama manusia. Bangsa Papua terpenjara dalam dua kategori tirani di bawah ini:

 

 

Pertama, Tirani penindasan Jasmani; Bangsa Papua terpenjara dalam berbagai macam tirani. Tirani yang paling mengancam kelangsungan hidup bangsa Papua adalah tirani Negara (kejahatan negara RI dalam berbagai bentuk dan cara) yang bekerja sama dengan swasta tertentu dan masyarakat adat tertentu, serta para negara sekutunya.

 

 

Kedua, Tirani penindasan Rohani; Kita juga terpenjara dalam tirani dosa. Tubuh rohani kita terpenjara dalam tembok ‘salah dan dosa’. Ada dosa warisan, ada dosa sosial, ada dosa para moyang kita, ada dosa kutukan, ada dosa pribadi (perkataan, pikiran/keinginan, kelalaian, dan perbuatan).

 

 

Gerakan pemulihan penting dilakukan untuk membebaskan diri kita dari berbagai macam tirani ini. Untuk itu, ‘pemulihan diri’ adalah ‘kata kunci untuk pemulihan Papua’. Hal-hal penting yang perlu dilakukan dalam pemulihan diri adalah:

 

 

Pertama, Kita berdamai terlebih dahulu dengan diri kita, lalu berdamai dengan sesama kita. Agar pemulihan diri dapat terjadi, maka pelepasan pengampunan kepada sesama manusia penting untuk dilakukan; kita melepaskan pengampunan dalam doa kepada orang yang menyakiti atau menindas kita, agar pemulihan diri dapat terjadi. Pelepasan pengampunan itu Bukan supaya kita menerima segala bentuk penindasan dengan hati dan tangan terbuka, tetapi pelepasan pengampunan itu penting dilakukan agar Tuhan juga mengampuni dosa kita dan menjawab kerinduan bangsa Papua. Pelepasan pengampunan ini bukan supaya kita tunduk ditindas, tetapi itu sebagai Pra-Syarat Pemulihan bangsa Papua. Kata Yesus dalam Matius 6: 14 “Karena jikalau kamu mengampuni kesalahan orang, Bapamu yang di Sorga akan mengampuni dosamu juga”. Ada pula tertulis: “Dan jika kamu berdiri untuk berdoa, ampunilah dahulu sekiranya ada barang sesuatu dalam hatimu terhadap seseorang, supaya Bapamu yang di Sorga mengampuni kesalahan-kesalahanmu” (Markus 11:25); Selain itu, baca juga dalam Injil Matius 6:15, Matius 18:35, dan Lukas 11:4. Ini adalah perintah Tuhan Yesus, maka kita sebagai pengikut Yesus mau atau tidak mau perlu menaati dan melakukan perintah ini.

 

 

Kedua, Kita juga berdamai dengan segala sesuatu yang Tuhan ciptakan yang ada di sekitar kita, baik yang terlihat maupun yang tidak terlihat. Rekonsiliasi atau berdamai kembali dengan semua yang ada di sekitar kita, karena ada yang tersakiti oleh sikap dan perbuatan tidak terpuji yang sering kita lakukan.

 

 

Ketiga, Kita juga berdamai kembali dengan Allah Tritunggal. Hubungan kita dengan Tuhan yang telah terputus akibat dosa, kita perlu memulihkan kembali hubungan itu melalui kesadaran dan penyesalan atas salah dan dosanya, serta kita memohon pengampunan dari Tuhan dan bertobat, selanjutnya menjaga kekudusan dalam kebenaran Firman Allah.

 

 

Pemulihan diri akan menentukan pemulihan bangsa Papua. Jikalau kita katakan bahwa bangsa Papua adalah bangsa yang diberkati Tuhan dan kita akan memberkati bangsa-bangsa lain, maka syaratnya hanya satu: ‘kita harus memulihkan diri kita masing-masing, agar bangsa Papua dipulihkan oleh Tuhan’ dengan demikian bangsa Papua akan menjadi berkat bagi bangsa-bangsa lain di dunia dalam penantian kedatangan Yesus yang kedua kali ke dunia ini untuk memimpin Kerajaan 1.000 tahun.  Inilah saatnya untuk kita memulihkan diri. Untuk itu, atas perkenan Tuhan, kami telah membentuk dan meluncurkan JARINGAN DOA REKONSILIASI untuk PEMULIHAN PAPUA (JDR-P2) untuk menjadi agen Pemulihan Diri Menuju Pemulihan Bangsa Papua. Dengan bantuan Roh Kudus, kami sudah siapkan Mazmur Ratapan, Mazmur Rekonsiliasi dan Mazmur Pemulihan Papua. Doa-doa ini, kita doakan pada jam-jam yang telah ditentukan. Sebelum berdoa, terlebih dahulu Anda membaca doa itu untuk mengerti isinya, lalu Anda mengmbil waktu yang tepat untuk berdoa dengan penuh keyakinan, entah doa pribadi atau doa bersama. Jangan Anda anggap remeh dengan doa-doa ini, bagi siapapun yang memandang remeh, ada bahaya berat akan menantinya. Tolong foto copy dan bagikan ke sesama Anda. Terimakasih, Tuhan memberkati. Syalom.

 

Tunas Harapan, Port Numbay (Jayapura) - Papua, Minggu, 4 Oktober 2020. Selpius Bobii. Pusat Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua [ Nomor kontak 0823 9938 1321].

 

 

1.Mazmur Ratapan Papua

 

Selpius Bobii, Mazmur Ratapan di bawah ini kita mendaraskan atau doakan pada jam 12 siang dan jam 12 malam.

 

Alam raya adalah buah karya-Mu ya Allah: Engkau menciptakan segala sesuatu yang ‘tak ada’ menjadi ‘ada’ dengan firman-Mu; Di dalam firman yang keluar dari mulut-Mu mengandung kuasa ‘daya cipta’ Kecuali manusia pertama ‘Adam’ Kau mengukirnya dengan tangan-Mu; Dikau menciptakan manusia serupa dengan gambaran-Mu ya Allah; dan melengkapi  manusia dengan akal budi sebagai pusat daya pikir, dan hati nurani sebagai pusat daya timbang.

 

 

Engkau juga menciptakan makhluk lain yang tak dapat dilihat dengan mata jasmani sebagai saksi-Mu di bumi, Mereka juga melaksanakan tugas yang Dikau berikan untuk melindungi dan memelihara keutuhan Ciptaan-Mu dan berperan sebagai saksi-Mu.

 

 

Sungguh mengagumkan buah karya-Mu ya Bapa; Engaku mendandani alam raya dengan kemuliaan-Mu, Keelokan alam raya mewartakan keagungan-Mu yang maha dasyat; Pesona kemuliaanMu terpatri dalam semua ciptaanMu; Engkau menciptakan aneka macam planet; Dan menempatkan semua mahluk ciptaan-Mu di planet bumi ini; Dikau membentuk beragam benua dan pulau; Dikau menempatkan segala suku dan bangsa di berbagai benua dan gugusan pulau dengan batas-batasnya yang amat jelas.

 

 

Padamulanya dunia hidup dalam suasana damai sejahtera dipenuhi kemuliaan-Mu ya Bapa; Manusia awalnya menikmati buah karya-Mu dengan bebas tanpa perbudakan; Namun dalam sejarah perjalanan bangsa manusia dipenuhi berlumuran air mata darah; Suku bangsa yang satu bangkit melawan suku bangsa yang lain; Bangsa yang satu bangkit melawan bangsa yang lainnya. Ini semua terjadi karena ‘ada golongan bangsa manusia tertentu’ yang merasa dirinya paling unggul dan lebih beradab.

 

 

Mereka memandang suku bangsa lain, atau bangsa lain tidak beradab, primitif, kolot, dan jijik; Kaum yang merasa diri paling unggul dan beradab melahirkan ‘rasisme’ Rasisme melahirkan ‘ketidak-adilan’ Ketidak-adilan melahirkan pelanggaran HAM dalam segala aspek kehidupan, penaklukan dan penguasaan wilayah baru, melahirkan kemelaratan, kemiskinan struktural, diskriminasi, marginalisasi, meminoritasi, pemusnahan etnis dan lain sebagainya.

 

 

Ya Tuhan, bangsa Papua adalah korban dari penjajahan bangsa lain yang merasa dirinya paling unggul dan beradab; Padahal padamulanya nenek moyang mereka juga tentu hidup dalam penuh keterbelakangan, keterbatasan dan primitive.  Namun, karena ya Bapa Engkau terlebih dahulu memberkati mereka, Engkau terlebih dahulu membuka mata akal-budinya, artinya mengenal budaya tulis-menulis; Oleh karenanya peradaban bangsanya berkembang dengan cepat.

 

 

Ya Bapa, jika Engkau tidak membuka mata akal-budi mereka terhadap segala realita alam raya dan tidak menuntunnya untuk mengenal budaya tulis-menulis, maka sesungguhnya mereka juga sama keadaannya dengan bangsa-bangsa lain yang hanya mengenal budaya lisan; Mereka tidak mengucap syukur atas hujan berkatMU yang terlebih dahulu diturunkan kepada mereka;

 

 

Sesungguhnya dengan berkatMu yang diterima dengan cuma-cuma itu, mereka gunakan untuk memberkati bangsa-bangsa lain yang belum berkembang dalam ilmu pengetahuan dan teknologi, terlebih dahulu menuntun suku bangsa yang dipandang primitif itu untuk mengenal budaya tulis menulis.

 

 

Ya Bapa, walaupun mereka telah melaksanakan tugas mulia itu, tetapi motivasi mereka tidak murni; Motivasi utama mereka adalah penguasaan wilayah baru untuk kepentingan politik dan ekonominya, mereka menunjukkan kekuatannya dengan penuh kesombongan bahwa mereka berkuasa melakukan apa saja, dan hal itu terkait dengan ‘kekuasaan politik’; dan untuk mencapai ‘kekuasaan politik’ itu didukung oleh ‘kekuatan ekonomi’.

 

 

Penaklukan wilayah baru demi ‘Gold, Gospeland  Glory (Emas, Injil dan Kejajaan); Pekabaran Injil sebagai jalan masuk untuk menguasai sumber-sumber ekonomi di wilayah baru; ‘Kepentingan ekonomi’ adalah ‘kata kunci’ dari penjajahan dan perbudakan itu; Walaupun demikian, ya Bapa, Engkau memakai mereka untuk mewartakan Injil sampai ke ujung bumi, walau cara-cara yang ditempuhnya tidak terlepas dari penjajahan dan penjarahan; Di tengah penjajahan dan penjarahan, pewartaan Injil serta pengenalan budaya tulis-menulis pun dijalankan sebagai jalan untuk memuluskan penguasaan wilayah baru secara politik dan ekonominya, serta sebagai pelengkap untuk penguasaan politik dan ekonomi di wilayah baru itu dibekap dengan kekuatan militer (aparat keamanan – polisi dan pertahanan - tentara) sebagai alat paksa, agar masyarakat setempat tunduk dan taat kepada penguasa (kolonial).

 

 

Ya Bapa yang maha pengasih, Engkau memperkenankan bangsa lain masuk ke Tanah Papua untuk mempersiapkan orang asli Papua demi terwujudnya rencana-Mu di Tanah Papua, namun Engkau tak merestujui segala bentuk penindasan dan penjarahan besaran-besaran yang dilakukan oleh bangsa-bangsa lain yang sudah pernah dan sedang menduduki Tanah Papua; Bangsa Papua sudah satu setengah abad berada dalam penaklukan bangsa-bangsa lain; Papua dari pangkuan Belanda ke pangkuan Jepang, dari Jepang kembali ke pangkuan Belanda, dan dari tangan Belanda diserahkan ke sebuah badan PBB – UNTEA, dan Papua dari tangan UNTEA dipaksa masuk ke pangkuan NKRI.

 

 

Di depan mataMu ya Bapa, bangsa Papua bagian barat merana seorang diri dari episode demi episode, dari pangkuan yang satu ke pangkuan berikutnya; Tak terbayangkan betapa banyaknya manusia Papua korban berguguran akibat kekejaman kaum manusia yang merasa dirinya paling super dan beradab; Orang asli Papua gugur bagaikan daun di musim semi; Mereka hilang lenyap bagaikan uap air; Mereka pergi tanpa berkata, tanpa perlawanan; Alam semesta Papua menjadi saksi bisu.

 

 

Ya Tuhan, Dikau tahu bahwa Tanah Papua sudah dan sedang memandi darah; merahnya ‘api’ bisa dipadam, tetapi ‘merahnya darah’ di Tanah Papua tak kunjung padam; Air mata darah Papua terus membasahi pelosok negeri Cenderawasih.

 

 

Tanah Damai’ berubah menjadi ‘Tanah Darah’  ‘Tanah Leluhur’ berubah status menjadi ‘Tanah Jajahan’ ‘Tanah Kasih’ beralih wujud menjadi ‘Tanah Kekerasan’ Negeri Cenderawasih menjadi pekuburan umum; Pusara tak bernama dapat dijumpai di mana-mana di pelosok negeri Papua; Tulang belulang manusia Papua dapat dijumpai di gunung, di bukit, di lembah, di pesisir pantai, di laut, di kali dan di danau.

 

 

Ya Bapa, bangsa Papua terus menerus meratap; Dari episode ke episode, dari Pangkuan ke Pangkuan - Papua tak berhenti meratap; Meratapi kehilangan anak, meratapi kehilangan ayah, meratapi kehilangan mama, meratapi kehilangan suami, meratapi kehilangan isteri, meratapi kaum kerabatnya, meratapi kehilangan dusunnya, meratapi kehilangan hutan sebagai sumber penghidupannya, Meratapi kehilangan pekerjaannya, meratapi kehilangan hak-hak dasarnya, meratapi sungai-kali – danau yang jernih berubah menjadi kabur dan kotor di penuhi sampah dan limbah perusahaan raksasa para kapitalis lokal, nasional dan global, Ini sungguh menyedihkan ya Tuhanku!

 

 

Atas kehendakMu ya Bapa, Dikau perkenankan bangsa Papua bangkit bersuara, Gong perlawanan dikumandangkan di seantero Papua; Awalnya bangsa Papua menempuh perjuangan dengan jalan damai pada tahun 1960-an, tetapi karena penjajahan Indonesia atas orang asli Papua paling kejam dan bengis, maka gong perlawanan dengan senjata di Arfai Manokwari Papua dicetuskan di bawah pimpinan Lodewik Mandacan dan adiknya pada 18 Juli 1965, Selama puluhan tahun gong perlawanan bergema di rimba raya Papua menghadapi operasi-operasi militer dari TNI-POLRI; Walaupun ya Bapa, perjuangan dengan cara kekerasan Dikau tidak merestujuinya.

 

 

Ya Bapa yang maha suci, atas perkenaanMu, perjuangan bangsa Papua dari rimba raya masuk di dalam kota; sejak tahun 1978 perjuangan bangsa Papua masuk di dalam kota dengan memproduksi lagu-lagu nuansa budaya Papua melalui group Mambesak di bawah pimpinan Tn Arnold Cup. Pada tahun 1980-an perjuangan dengan damai masuk kota ditandai dengan peristiwa-peristiwa pengibaran Bendera Bintang Fajar secara damai; Negara Indonesia menyikapi perjuangan damai di dalam kota dengan tangan besi.

 

 

Hampir semua rakyat sipil Papua yang berjuang dengan damai di dalam kota diperlakukan tidak bermanusiawi, ditangkap, dianiaya, diperkosa, ada yang diculik dan dibunuh dengan sadis, serta dipenjara; Sementara para gerilyawan tetap melakukan perjuangan di rimba raya Papua menghadapi operasi-operasi militer yang dilancarakan oleh TNI-POLRI atas perintah pimpinan tertinggi pertahanan dan keamanan, serta presiden RI atas persetujuan DPR-RI dan MRP-RI.

 

 

Banyak rakyat sipil yang tertembak mati dan terluka, akibat kontak senjata antara militer Indonesia dan TPNPB-OPM, serta banyak kerugian yang dialami masyarakat Papua akibat operasi-operasi militer yang tak henti-hentinya yamg diterapkan oleh Negara Indonesia menghadapi gerilyawan TPNPN-OPM selama Papua dalam pangkuan NKRI.

 

 

Ya Bapa yang maha kuasa, atas perkenaan-Mu pula, rakyat Indonesia menurunkan pemerintahan tangan besi, presiden Soeharto dari singgasana, sehingga momentum itu memberikan ruang dan kesempatan bagi bangsa Papua untuk menata kembali barisan perjuangan, maka diselenggarakanlah Musyawarah Besar (MUBES Papua) dan Kongres II Papua pada tahun 2000.

 

 

Dalam forum demokrasi yang menentukan itu memutuskan bahwa perjuangan bangsa Papua ditempuh dengan cara-cara yang bermartabat – perjuangan dengan damai; Perjuangan dengan damai adalah perjuangan kudus, suci dan mulia, maka hingga kini rakyat bangsa Papua, dalam hal ini sipil dalam kota dan orang Papua rantauan di kota-kota studi di Indonesia, serta di luar negeri mengawal perjuangan Papua dengan jalan damai; sementara TPN-OPM sudah lama bertahan di rimba raya Papua dari tahun 1965 menghadapi operasi-operasi militer TNI-POLRI yang berusaha keras menumpas pergerakan bangsa Papua.

 

 

 Ya Bapa yang kekal, Dikau tahu bahwa perjuangan ini diperjuangkan hingga kini sudah tiga generasi; Generasi pertama yang telah merintis perjuangan ini sudah tiada; Kemudian perjuangan ini diteruskan oleh generasi ke dua; Kini generasi kedua ada yang sudah tiada dan hanya sedikit orang masih mengabdi, Dan kami adalah generasi ketiga bersama generasi kedua yang tersisa sedang mengawal perjuangan penegakkan keadilan ini; Ya Bapa, kami telah bertekad untuk mengakhiri penindasan ini pada generasi ketiga, agar di era generasi ke empat yang sedang tumbuh mekar di tengah penjajahan ini, nantinya mengisi kemerdekaan itu; Inilah kerinduan kami yang menjadi harapan; Sekiranya Bapa mendengar rintihan derita bangsa Papua dan menjawab kerinduan umat-Mu yang mengembara dalam padang derita.  

 

 

Ya Tuhan, sudah puluhan tahun bangsa Papua bersuara ke Barat, ke Utara, ke Selatan dan ke Timur; tetapi suara Papua jatuh di padang sunyi, seruan Papua dibuang ke tong sampah; Belakangan ini walau ada yang mendengar, namun itu tak mampu menghentikan darah Papua; Belakangan ini ada pihak tertentu yang peduli dengan derita Papua, tetapi itu tak mampu memadamkan api yang terus membara.

 

 

 Ya Bapa di depan mata-Mu, ‘isu Papua’ merdeka dijadikan sebagai aset bisnis dari pihak-pihak tertentu; isu Papua dijadikan untuk menaikan pangkat, mendapat kekuasaan (promosi jabatan); isu Papua juga dipakai untuk mendapatkan uang untuk kepentingan sekolah (kuliah), untuk kepentingan hidup berfoya-foya; isu Papua juga digunakan untuk meningkatkan kerja sama dengan Negara Indonesia; Papua menjadi korban demi kepentingan ekonomi kapitalisme lokal, nasional dan global;  Papua bagai kancil kecil yang terinjak di antara gajah-gajah raksasa dunia yang saling bertarung menguasai sumber-sumber ekonomi di Tanah Papua; Para pembesar hanya sibuk dengan kepentingan ekonominya; Manusia Papua korban di atas korban akibat pengisapan ekonomi di Tanah Papua.

 

 

Ternyata ‘dunia’ tak mampu menghentikan ‘darah Papua‘ yang terus menetes di Tanah Papua; Ya Bapa, beratnya penderitaan yang menimpa Papua; Betapa beratnya salib yang dipikulnya; Ya Bapa, atas salah siapa dan dosa siapakah, sehingga penderitaan yang berat ini Dikau embankan ke atas pundak bangsa Papua? Jawablah kami ya Bapa, karena Dikau maha tahu dan maha adil.

 

 

Ya Allah, sudah puluhan tahun tanah Papua dijadikan sebagai arena pertarungan para kapitalis lokal, nasional dan global; orang Papua diinjak-injak oleh para kapitalis ini; Mereka menguasai Tanah Air; Tanah Papua bagai tanah tidak bertuan; Kaum kapitalis dunia ini menguasai dan merampok hasil kekayaan tanah Papua; Mereka membagi-bagi hasil jarahannya untuk kenikmatan semata; Sementara kami masyarakat setempat semakin melarat; Mereka menikmati hidup ini dari hasil rampasan kekayaan kami, mereka berpesta pora sambil menari-nari di atas air mata darah orang asli Papua - pemilik negeri ini.

 

 

Ya Bapa, Dikau menempatkan kami orang Papua – berambut keriting dan berkulit hitam ini di Tanah Papua, dilengkapi dengan kekayaan alam yang berlimpah ruah; namun di depan mata-Mu Tuhan orang asli Papua mati terinjak punah di antara para kapitalis dunia yang bertikai menguasai kekayaan yang Engaku siapkan bagi bangsa Papua; Bangsa Papua hidup melarat di tengah hiruk pikuknya para kapitalis lokal, nasional dan global yang menguasai pusat-pusat ekonomi;  Mereka memperalat orang asli Papua tertentu hanya untuk memuluskan kepentingan ekonomi mereka di Tanah Papua; Demi menguasai sumber-sumber ekonomi, orang setempat diintimidasi, diteror, dianiaya, dibantai dan direlokasi.

 

 

Kami tidak ada kekuatan untuk menghentikan perampokan kekayaan alam Papua dari para konglomerat dunia; Ketika kami protes, kami selalu dihadapkan dengan para algojo Indonesia yang memang disiapkan untuk mengamankan asset-aset bisnisnya;  Para algojo memasang jerat, agar supaya kami terjerat; Para algojo menaruh batu di jalan, agar kami tersandung; Kami selalu ditempatkan pada pihak yang bersalah; Pada hal kami orang Papua adalah pemegang hak atas Tanah dan segala yang ada di atas, di permukaan dan di dalam perut bumi Papua; Orang Papua menjadi penonton di tengah hiruk pikuknya perampokan besar-besaran atas sumber-sumber kekayaan yang ada di Tanah Papua oleh para kapitalis lokal, nasional dan global.

 

 

Ya Bapa di depan mata-Mu telah terjadi bahwa hak kesulungan bangsa Papua dicaplok ke dalam NKRI; Kepentingan ekonomi kapitalis menjadi alasan utama dikorbankannya hak kesulungan bangsa Papua; Ketika bangsa Papua menuntut hak kesulungan kami untuk diakui sebagai ‘bangsa yang berdaulat secara politik’, kami dihadapkan dengan para algojo Indonesia; Beragam operasi terbuka dan tertutup diterapkan oleh Indonesia untuk meredam dan menumpas gerakan perjuangan bangsa Papua; Walaupun kami menyuarakan kebenaran, namun pihak penguasa memutar-balikkan kebenaran itu dan berusaha membengkokannya; Walaupun kami menuntut keadilan dengan damai, namun penguasa Indonesia menjawabnya dengan memasang jerat, agar kami terjerat, dan menaruh batu agar kami tersandung.

 

 

Bahkan pula sesama Papua tertentu dipasang penguasa Indonesia menjadi kaki tangannya; Para kaki tangannya ini memainkan perannya untuk membendung gerakan pembebasan; Sebagai balasannya, para kaki tangan RI mendapat HARTA, TAHTA dan WANITA dari Indonesia dan para sekutunya.

   

 

Ya Bapa yang kekal, mengapakah Engkau membiarkan kami orang Papua makin melarat dan terancam musnah di negeri leluhur kami? Mengapakah Engkau terus membiarkan para kapitalis dunia ini menginja-injak kami masyarakat setempat, agar dengan leluasa menjarah beragam kekayaan alam di Tanah ini?

 

 

Mengapakah Engkau tidak memberi kami kesempatan ‘merdeka berdaulat’ untuk mengatur rumah Papua sendiri, agar nantinya beragam kekayaan alam yang ada itu diatur oleh orang asli Papua untuk kepentingan bangsa Papua sendiri dan juga kepentingan bangsa lain demi terwujudnya damai sejahtera di dunia? Berapa lama lagi ya Bapa, kami merana seorang diri mencari keadilan untuk perdamaian dan kesejahteraan di bumi ini?

 

 

Ya Bapa yang penuh kasih setia; sesungguhnya kedamaian dan kesejahteraan itu ada pada kami, ada di dalam diri kami, ada di Tanah Papua; Akan tetapi ‘kedamaian’ itu tidak akan terwujud, dan ‘kesejahteraan lahir bathin’ itu tak akan tercapai, jikalau Engkau terus membiarkan bangsa lain menduduki di Tanah Papua untuk menjajah dan menjarah dengan tangan besi.  

 

 

Ya Bapa yang maha adil, bangsa Papua memohon dari lubuk hati kami yang paling dalam serta dengan penuh kerendahan hati bahwa: ‘Turunkanlah hujan berkat keadilanMu ke atas bangsa Papua – bangsa yang menderita di ufuk Timur ini, agar bangsa Papua mewujudkan rencana dan kehendakMu pada menjelang akhir zaman bahwa ‘Papua menjadi saksi-Mu bagi dunia’ untuk mempersiapkan kedatangan Yesus yang kedua kali untuk memimpin Kerajaan 1000 tahun sesuai amanat firmanMu.

 

 

Ya Bapa yang maha kudus, selama puluhan tahun bangsa Papua sudah mencari keadilan di dunia ini, namun di dalam pengadilan yang menegakkan keadilan pun, kami tidak menemukan keadilan di sana; Kami juga tidak menemukan keadilan dalam forum-forum para pembesar di dunia, seperti PBB; Ternyata forum PBB diselenggarakan bukan untuk menjamin keadilan dan perdamaian dunia, tetapi forum PBB dibentuk untuk menjamin dan meloloskan kepentingan para konglomerat (kapitalisme global).

 

 

Bangsa Papua adalah korban dari konspirasi kepentingan yang dijamin dan diloloskan oleh PBB atas skenario presiden Amerika Serikat, John F. Kennedy; Hingga kini forum PBB tidak bertanggung jawab atas kesalahan masa lalunya, yang kini berdampak pada terancam musnahnya etnis Papua secara perlahan-lahan (slow moving genocide).

 

 

Di depan mataMu ya Bapa, para tokoh Papua bagai pohon-pohan yang tinggi menjulang, sedang ditebang satu persatu oleh Negara Indonesia; Mereka ditumbangkan satu persatu melalui berbagai cara; Kini tinggallah beberapa pohon tinggi yang masih tersisa; Sehingga ibu bumi Papua sedang mengalami kekeringan, karena akar dari pohon-pohon tinggi yang menyimpan cadangan air sedang berkurang; Pohon-pohon tinggi yang dedaunannya rindang, yang selama ini memberikan kesejukan bagi masyarakat akar rumput Papua, yang berlindung di bawahnya, sedang kepanasan mencari perlindungan; Kesuburan ibu bumi Papua mulai berkurang, karena dedaunan pohon tinggi menjulang yang selalu menghasilkan humus, banyak yang sudah ditebang oleh Indonesia atas kerjasama para sekutunya.

 

 

Ya Bapa, di depan mataMu, para penjajah berpesta pora merayakan keberhasilannya setelah menebang banyak tokoh Papua bagai pohon-pohon tinggi menjulang di Tanah Papua; Target para penjajah adalah dengan ditebang habisnya pohon-pohon tinggi, maka ibu bumi Papua akan mengalami kekeringan karena cadangan airnya tak ada, ibu bumi akan menjadi tandus, karena tak ada dedaunan yang membusuk jadi pupuk, dan masyarakat akar rumput akan mati kepanasan, karena pohon tempat berlindungnya sudah ditebang. Ya Bapa, kami berdoa dengan kerendahan hati: ‘mohonlah kiranya ya Bapa menjaga para tokoh Papua yang masih tersisah, demi menyelamatkan ibu bumi Papua dari kekeringan dan ketandusan; dan menyelamatkan akar rumput Papua dari panas membara yang paling mematikan’.     

 

 

Bangsa Papua melayangkan padangan ke Barat, ke Utara, ke Selatan dan ke Timur, namun tak ada upaya pertolongan yang sungguh-sungguh dari para pembesar di dunia untuk menghentikan penebangan para tokoh Papua yang paling berpengaruh, yang berpandangan luas dan berkarakter serta berjiwa membangun; Para pembesar dunia juga tidak tergerak hatinya untuk memadamkan api yang terus membara memakan habis masyarakat akar rumput Papua; Dunia berlomba-lomba datang ke Papua hanya untuk menjajah dan menjarah.

 

 

Ya Bapa, Dikau mengetahui bahwa demi mempertahankan integritas wilayah NKRI, integritas manusia Papua dikorbankan; Untuk mempertahankan ‘kedaualatan wilayah NKRI’, ‘kedaulatan rakyatnya’ dikorbankan; Ketika ‘kedaulatan rakyat’ tidak dihargai dan dikorbankan, maka sesungguhnya ‘kedaulatanMu ya Allah’ di dalam ‘diri manusia’ dinodai, dilecehkan dan tidak dihargai, sebab ‘manusia’ yang disebut ‘rakyat’ itu adalah gambaran Allah yang kelihatan, karena manusia adalah ciptaanMU yang serupa dan segambar denganMu, ya Bapa.

 

 

Berapa lama lagi bangsa Papua harus menderita ya Bapa? Tak cukupkah banyaknya air mata darah Papua yang tercurah memenuhi kirbat-Mu selama ini? Bukankah Tuhan menenpatkan manusia Papua di Tanah ini dengan maksud tertentu?  Kapankah Bapa menggenapi rencana dan ketetapanMu yang telah Dikau janjikan itu?

 

 

Ya Bapa yang maha pengasih dan penyayang, pulihkan hak kesulungan bangsa Papua yang telah dianeksasi ke dalam NKRI; Pulihkanlah hidup kami sebagaimana sediakala para nenek moyang kami menikmati semua yang Dikau siapkan di atas tanah ini tanpa rasa takut, tanpa perbudakan serta tanpa adanya penjarahan.

 

 

Ya Bapa yang maha suci, untuk mengawal pemulihan bangsa Papua, pada hari Minggu, 4 Oktober 2020 pada jam 00.30 malam di Tunas Harapan, Port Numbay (Jayapura) – Papua, di dalam nama-Mu Allah Tritunggal, kami meluncurkan secara resmi:  “JARINGAN DOA REKONSILIASI untuk PEMULIHAN PAPUA”  Di dalam nama-Mu Tuhan, bagi siapapun yang terlibat dan peduli dengan PEMBEBASAN bangsa Papua dari belenggu penjajahan RI dan para sekutunya, yang selama ini mendukungnya dalam ‘Doa-Puasa’ di manapun berada adalah menjadi ‘Tim Doa’ dalam ‘Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua’. Maka itu, di dalam namaMu Allah Tritunggal: ‘Kami semua yang terlibat penuh dan peduli dengan pembebasan bangsa Papua di mana saja berada yang mendukungnya dalam ‘Doa-Puasa’, ditetapkan secara resmi menjadi Tim Doa dari Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua’ Ya Bapa berkatilah kami semua dan pakailah kami dengan bantuan Roh-Mu menjadi agen Rekonsiliasi untuk Pemulihan Bangsa Papua bagi perdamaian dunia, hanya demi hormat dan kemuliaan namaMu).

 

 

Ya Bapa yang maha adil, bangsa Papua merindukan ‘surga dunia’ yang sudah terhilang;  Papua merindukan ‘zaman bahagia’ di mana tiada ratap dan tangis; Bawalah bangsa Papua ke dalam rencana dan kehendak-Mu; Hanya Dikaulah yang memiliki Otorita Tertinggi untuk memutuskan mata rantai penjajahan ini. Hanya kepada-Mu Bapa, bangsa Papua bermohon, berpasrah serta berharap. AMIN.

 

Mazmur Ratapan ini didaraskan oleh Selpius Bobii pada jam 00.00 – 00.33 malam  dalam ‘Doa Pemulihan Bangsa Papua’, di Tunas Harapan - Port Numbay (Jayapura) – Papua, Minggu 4 Oktober 2020.

 

 

2. Mazmur Rekonsiliasi Papua

 

Selpius Bobii. (Mazmur Rekonsiliasi di bawah ini kita mendaraskan atau doakan pada jam 3 sore dan jam 3 subuh serta pada jam 9 pagi dan jam 9 malam).

 

Ya Bapa, kekallah hidup-Mu, kekallah kuasa-Mu dan agunglah karya-Mu; Engkau menjaga tatanan kosmos alam raya dengan daya kasih-Mu yang tak terhingga; Dengan kasih-Mu yang maha besar, Dikau menciptakan manusia pertama; Dan menempatkan manusia itu di taman bahagia ‘di Taman Eden’; Namun, kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa mengakibatkan hilangnya ‘zaman bahagia itu’; Pelanggaran manusia pertama berakibat pada putusnya hubungan antara Allah dengan manusia; Tatanan kosmos menjadi rapuh, relasi manusia dengan Allah terputus, manusia menjadi serigala bagi sesama, keharmonisan antara manusia dengan alam lingkunganpun terganggu.  

 

 

“Karena begitu besar kasih Allah bagi dunia ini, maka Bapa mengutus ‘anakMu Yesus’ ke dunia; Yesus adalah ‘Adam baru’ yang diutus Bapa untuk memulihkan hubungan yang sudah lama terputus dengan manusia dan Allah akibat kejatuhan manusia pertama ke dalam dosa; Yesus adalah firman Allah yang ‘terinkarnasi’ yang telah mengosongkan dirinya dan mengambil rupa sebagai seorang hamba. Yesus adalah hamba Allah yang paling setia dalam melaksanakan misi Agung ‘Allah untuk mengembalikan umat manusia kepada hakekatnya yang asli; Yesus menebus umat manusia dengan ‘darah-Nya yang murni dan tak bercela’; Yesus adalah ‘jalan, kebenaran dan hidup’; Setiap umat manusia yang percaya kepada-Nya dan menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruslamat tidak akan binasa, melainkan ‘akan beroleh hidup yang kekal’, disebut ‘anak-anak Allah’ sebagai ahli waris ‘warga kerajaan Allah’.

 

 

Ya Yesus, putra Allah yang tak bernoda, dengan darah-Mu yang maha suci, Engkau menebus umat manusia; Barangsiapa percaya kepada-Mu dan bertobat, serta menerimaMu dalam hidupnya sebagai Tuhan dan Juruselamat, maka semuanya yang percaya padaMu masuk dalam kawanan bangsa yang terpilih, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri; Engkau disebut ‘Kristus’ yang adalah ‘pemenang abadi’ yang telah mengalahkan dosa; Dosa adalah ‘maut’; dan maut itu adalah ‘kematian kekal; Walau Engkau mati dan dikuburkan, tetapi Dikau dibangkitkan Allah dengan Jaya; Dengan demikian maut tidak akan menguasainya lagi kepada semua orang percaya yang memelihara hukum Tuhan dalam berbagai tradisi; semuanya akan dibangkitkan pula dengan tubuh kemuliaannya.

 

 

Ya Yesus Kristus yang maha mulia, Dikau telah mengajarkan ‘Kebenaran’; ‘Kebenaran’ itulah ‘firman Allah’; Dan Engaku sendirilah ‘Kebenaran itu’ karena Engkau adalah ‘Sang Logos, Sang Sabda’ yang telah menjelma menjadi manusia; Setiap umat manusia yang menerima-Mu sebagai ‘kebenaran’ akan dimerdekakan; ‘Kebenaran-Mu’ yang memerdekakan, ‘kebenaran-Mu’ yang menghidupkan, kebenaran-Mu yang mendamaikan; Setiap umat manusia yang mengikuti teladan-Mu, akan menemukan ‘jalan menuju kepada Bapa’ karena Engkaulah ‘jalan menuju kepada Bapa’;  Setiap umat manusia yang menerima ‘kebenaran-Mu’ dan menghayatinya dalam hidupnya, mereka menemukan kehidupan dan kedamaian kekal bersama Bapa di Surga.

 

 

Dua ribuh tahun lalu Engkau, ya Yesus memaklumkan berita tentang ‘Kerajaan Allah’ yang adalah Kerajaan Damai yang tiada ratap dan tangis; Engkaa mengundang semua umat manusia untuk masuk menikmati ‘Kerajaan Damai’ yang kekal itu; Setiap umat manusia yang mendengar firman-Mu dan percaya kepada-Mu serta bertobat, sehingga menerima-Mu sebagai Tuhan dan juruselamat, maka Engkau akan membukakan pintu Kerajaan Allah yang abadi itu bagi umat manusia yang hidupnya berkenan kepadaMu dan memberi mahkota kemuliaan serta memberinya jubah putih yang diliputi kemuliaanMu.

 

 

Dua ribuh tahun lebih telah berlalu, setelah Dikau ya Yeus Kristus memaklumkan berita tentang ‘Kerajaan Allah’; Akan tetapi masih banyak umat manusia belum percaya kepada firman-Mu, walaupun Dikau, ya Yesus adalah satu-satunya tokoh sepanjang sejarah manusia yang memaklumkan bahwa ‘tiada jalan lain menuju kepada Bapa di Surga, jikalau tidak melalui-Mu; Engkau telah memaklumkan bahwa Engkaulah ‘JALAN, KEBENARAN dan HIDUP’, namun kebanyakan umat manusia tidak percaya bahwa Engkau adalah ‘Anak Sulung Allah –Mesias dari Allah’ firman Allah yang hidup, yang telah menjelma menjadi manusia - mengambil rupa seorang hamba; Walaupun ada banyak umat manusia yang percaya kepadaMu, namun dalam hidupnya tidak dengan sungguh-sungguh melaksanakan perintah-perintahMu-ajaran-ajaranMu yang membebaskan, menyelamatkan dan menghidupkan.  

 

 

Yesus Kristus yang maha mulia, Engkau mengetahui bahwa ‘kebanyakan umat manusia di bumi ini’ masih berjalan dengan hikmat duniawi; Sebagian besar umat manusia sejagat ini menolak hikmat dari atas – ‘hikmat dari Allah’; Hikmat dari Allah menuntun manusia pada ‘kebenaran’, menuntun manusia kepada keadilan yang sejati, menuntun manusia kepada damai sejahtera lahir bathin; Tidak percaya kepadaMu ya Yesus dan tidak mentaati perintah-perintahMu berarti menolak hikmat dari Allah; Menolak hikmat dari Allah berarti menolak ‘kebenaran’ yang adalah setiap firman yang ke luar dari mulut Allah.   

 

 

‘Takut akan Tuhan’ adalah ‘permulaan pengetahuan, Takut akan Tuhan itulah hikmat dari Allah itu; Takut akan Tuhan berarti menaati perintah-perintahMu dan menjauhi larangan-laranganMu; Akan tetapi, kenyataan kehidupan di dunia ini berbanding terbalik; Kehidupan dunia dewasa ini dipenuhi dengan kejahatan; Dunia diliputi kecemasan, ratap, tangis, derita dan kecemasan; Kehidupan dunia dipenuhi kesombongan dan keserakahan; Dunia hancur karena kesombongan manusia yang merasa diri paling super, sehingga menghalalkan segala cara untuk mencapai tujuan, walaupun cara-cara yang seringkali ditempuhnya adalah tidak benar dan tidak terpuji.

 

 

Ya Tuhan, di depan mata-Mu dunia sedang hancur berpuing-puing karena ‘kesombongan manusia’ yang tidak menghargai martabat manusia dan tidak menjaga keutuhan ciptaan-Mu; Martabat manusia diinjak-injak oleh kaum tertentu yang merasa diri paling unggul dan beradab; Hak-hak dasar masyarakat pribumi dikuasai dan dijarah, bahkan terjadi pemusnahan etnis di belahan dunia; Ya Tuhan, manusia adalah makhluk yang paling mulia di antara makhluk hidup yang lain, namun ada marga, ada suku dan ada etnis tertentu sudah dan sedang hilang musnah dari muka bumi ini. Wilayah tempat hunian masyarakat pribumi dikuasai, dijajah dan hasil kekayaan buminya dijarah; sehingga di sentero dunia terjadi kekacauan, kemelaratan dan ketidak-adilan dalam berbagai dimensi kehidupan.

 

 

Ya Tuhan, salah satu bangsa yang mengalami penjajahan di era modern sampai post modern ini adalah Papua; Di depan mata-Mu Tuhan, bangsa Papua dijajah dan dijarah oleh bangsa-bangsa tertentu yang merasa diri paling super dan beradab; Bangsa Papua berjalan bertahan hidup ini dari pangkuan bangsa Belanda, Bangsa Jepang, kembali ke Pangkuan Belanda, diserahkan ke pangkuan PBB (UNTEA) dan terakhir bangsa Papua dipaksa masuk ke dalam NKRI; Penjajahan dan penjarahan paling mengerikan yang dirasakan oleh bangsa Papua di era pendudukan Jepang dan terakhir pendudukan Negara Kesatuan Republik Indonesia; Martabat manusia Papua dipandang rendahan, bahkan dianggap manusia kelas dua dan dilabeli dengan berbagai stigma: monyet, kera, kotor, jijik, primitif, dan lain sebagainya.

 

 

Kehormanisan kehidupan di Tanah Papua yang telah lama dibangun dari generasi ke generasi telah hancur berantakan; Relasi yang dibangun antara sesama ciptaan Tuhan serta dengan Yang Ilahi menjadi rapuh dan khaos; Hak kesulungan bangsa Papua ‘untuk kemerdekaan kedaulatan’pun dirampas.

 

 

Ya Tuhan Yesus, bahtera kehidupan bangsa Papua sebagai sebuah bangsa di ufuk Timur sedang ditimpa badai dari barat yang dasyat; Hidup kami semakin terancam, teraniya, terpenjara dan semakin terkekang; Hidup kami bagaikan bunga bakung di padang yang kian mekar sebentar dan layu serta mati; Hari-hari umur hidup orang Papua diperpendek, karena kapan saja etnis Papua dibantai bagai binatang oleh para algojo Indonesia dan rakyatnya.

 

 

Ya Tuhan, kami jalani hidup di atas tanah leluhur kami diliputi perasaan takut, gentar, gelisah, kecemasan dan ketidakpastian akan hari esok; Karena di semua lorong jalan diduduki oleh manusia pengintai, pembunuh dan perampok; Langkah kaki kami semakin diperpendek, dibatasi, dikekang dan dipenjara; Masa depan kami semakin suram.

 

 

Tuhan Yesus Kristus, Engkau datang ke dunia untuk mendamaikan kembali hubungan manusia dengan manusia, hubungan manusia dengan makhluk ciptaan lain, dan terlebih memulihkan hubungan manusia dengan Allah yang telah lama terputus akibat pelanggaran Adam dan Hawa; Dua ribuh tahun yang lalu, Tuhan Yesus, Dikau memaklumkan ‘kasihilah musuhmu, berdamailah dengan sesamamu sebelum engkau mempersembahkan korban persembahan di Mezbah, agar doamu didengar Bapa di Surga, ampunilah maka dosamu juga akan diampuni Bapa, berdoalah bagi musuhmu, dan lain sebagainya; Betapa berat bagi kami ya Tuhan untuk melaksanakan perintah-perintahMu; Karena begitu beratnya penindasan yang kami bangsa Papua alami selama satu abad lebih; Tetapi Engkau berfirman: “ampunilah dan kamu akan diampuni” (Lukas 6:37), seperti dalam doa Bapa kami yang Tuhan Yesus sendiri ajarkan: ‘ampunilah akan dosa kami, sebab kamipun mengampuni setiap orang yang bersalah kepada kami’ (Lukas 11:4).

 

 

Ya Yesus Kristus sang pendamai sejati, bangsa Papua menyadari bahwa kami (baik yang terlihat dan tidak terlihat) adalah makhluk ciptaan Allah yang tidak luput dari salah dan dosa; Banyak pelanggaran-pelanggaran yang bangsa Papua lakukan sepanjang sejarah suku-suku di seluruh pulau Papua dan pulau-pulau di sekitarnya;

Untuk itu, walau begitu beratnya hati kami untuk melepaskan pengampunan, tetapi kami bangsa Papua mengambil inisiatif, sehingga di dalam namaMU Allah Tritunggal: ‘Dari lubuk hati kami yang paling dalam, kami memaafkan mereka semua, kami melepaskan pengampunan kepada mereka semua yang telah melakukan kejahatan kepada bangsa Papua’; Karena bangsa Papua juga hendak berdiri sama tinggi dan duduk sama rendah dengan bangsa-bangsa merdeka lainnya, serta hidup damai dengan siapapun dari bangsa manapun di dunia yang telah menyakiti hati kami; Pelepasan pengampunan ini dilakukan atas dasar tuntutan perintahMu ya Yesus Kristus: ‘ampunilah dan dosamu juga diampuni, kasihilah musuhmu, berdamailah dengan sesama sebelum berdoa memohon kepada Allah’, dan perintahMu yang lain.

 

 

Ya Tuhan Yesus, Sang Rekonsiliator Agung! Pelepasan pengampunan ini tidak semata-mata untuk selamanya kami bangsa Papua tunduk ditindas dan menerima penindasan dari Negara Indonesia dan para sekutunya, akan tetapi ini adalah perintah-Mu ya Yesus Kristus yang harus dilakukan oleh kami sebagai pengikut Kristus yang setia; karena menjadi murid Yesus berarti merelakan diri sepenuhnya mengikuti teladan yang diajarkan olehMu melalui perkataan dan perbuatan; Ya Tuhan, kami berdoa dan berharap bahwa bagi sesama bangsa Papua yang mengaku dirinya sebagai pengikut Kristus dan penganut agama lain yang mendambakan keadilan dan perdamaian Papua bagi perdamaian dunia, digerakkan oleh Roh Kudus untuk melepaskan pengampunan juga bagi bangsa-bangsa lain di dunia yang menjajah dan menjarah bangsa Papua selama ini.

 

 

Tuhan Yesus, sang tokoh pendamai, pelepasan pengampunan ini tidak serta merta tunduk ditindas atau menerima segala bentuk penindasan dari bangsa lain kepada bangsa Papua, tetapi pelepasan pengampunan ini dilakukan sesuai perintahMu, agar doa permohonan bangsa Papua didengar dan dijawab oleh Allah Tritunggal;  Karena RohMu bersaksi kepada kami bahwa hal ini menjadi salah satu faktor penghalang bagi terwujudnya kerinduan bangsa Papua untuk memulihkan kembali ‘kedaulatan bangsa Papua’ yang dirampas oleh Indonesia atas dukungan bangsa-bangsa lain.

 

 

Ya Tuhan Yesus atas perintahMu, kami melakukan pelepasan pengampunan kepada bangsa-bangsa lain di dunia adalah ‘sebagai pra-syarat bagi pemulihan kembali hak kedaulatan bangsa Papua yang telah dirampas oleh NKRI dan para sekutunya’; Dan pelepasan pengampunan ini ‘BUKAN sebagai pra-syarat untuk selamanya bangsa Papua menerima pendudukan dan penjajahan Negara Indonesia dan para sekutunya’.

 

 

Ya Allah, padamulanya Engkau menciptakan ‘semuanya baik adanya’, namun ketika kejatuhan Adam dan Hawa ke dalam dosa, tanah ini dikutuk, maka semuanya ada dalam kutukan-Mu; Sehingga bangsa Papua juga diserang oleh makhluk lain (alam roh) atas perintah para penindas yang menjajah bangsa Papua, maka itu kami bangsa Papua di dalam namaMu Yesus: ‘melepaskan pengampunan’ kepada semua makhluk lain di dunia yang menyerang bangsa Papua dalam ‘alam roh’ dalam segala bentuk dan cara; Bangsa Papua berdamai dengan mereka serta ingin hidup damai segaimana adanya pada sediakala di zaman bahagia di Taman Eden.

 

 

Ya Tuhan, kami bangsa Papua sebagai manusia biasa sebagaimana manusia lain di seluruh dunia, yang tidak luput dari salah dan dosa, terlebih menumpahkan darah sesama manusia dari bangsa lain, maka bangsa Papua (baik yang terlihat maupun tidak terlihat),‘di dalam namaMu Yesus: ‘kami memohon dimaafkan kepada bangsa-bangsa lain di dunia atas segala pelanggaran-pelanggaran yang dilakukan sepanjang sejarah hidup manusia Papua sejak berkontak dengan bangsa lain di dunia hingga saat ini.

 

 

Tuhan Yesus Kristus, dalam perjalanan bangsa Papua, kami juga menyadari bahwa di antara sesama bangsa Papua, baik yang terlihat maupun tidak terlihat melakukan pelanggaran-pelanggaran yang menyebabkan sesama Papua menderita, terluka, tersakiti, terbunuh dan teraniaya; Untuk itu, melalui doa mazmur rekonsiliasi ini, di dalam namaMu Yesus, sang pendamai agung: ‘kami saling memaafkan dan dimaafkan serta saling melepaskan pengampunan untuk merajut kembali kedamaian yang terhilang, demi terwujudnya ‘syalom” yang menjadi kerinduan bangsa Papua.

 

 

Ya Tuhan, dalam perjalanan perjuangan bangsa Papua, kami menyadari bahwa kebanyakan aktifis Papua tidak memahami rencana dan kehendakMu, sehingga rencanaMu dan rencana kami tidak konek; Sikap primondialisme, nasionalisme Papua yang sempit, faksisme, keangkuhan dan tidak saling menghargai sesama aktifis dan antar organisasi pergerakan mewarnai perjuangan ini, sehingga kami tidak bersatu sehati, sejiwa, sepikir, sesuara, seaksi dan sekomando (artinya bangsa Papua tidak bersatu). Hal inilah yang menjadi perjuangan bangsa Papua menempuh jalan panjang yang berliku-liku dan mengakibatkan banyak anak negeri Papua telah tiada; Untuk itu, Ya Tuhan yang maha pengasih, di dalam namaMu: ‘kami saling memaafkan dan dimaafkan untuk merajut kembali kesatuan bangsa Papua sebagai kekuatan yang utuh dan tak terceraikan, yang disatukan oleh kuasa RohMu, sehingga selanjutnya sehati, sejiwa, sepikir, sesuara, seaksi dan sekomando sesuai rencana dan kehendakMu ya Tuhan, yang digerakkan dan dituntun oleh RohMu ke dalam kehendakMu dan kebenaranMu yang menghidupkan, mendamaikan, menyelamatkan dan membebaskan bangsa Papua dari segala bentuk penjajahan dan penjarahan dari Negara Indonesia dan para sekutunya. 

 

 

Ya Kristus, pemulih hidup kami, mazmur ratapan, rekonsiliasi dan restorasi (pemulihan) Papua ini dibuat atas perkenaanMu yang digerakkan RohMu; Pasti ada pihak tertentu mencemoh dan menolak doa-doa ini; Untuk itu, kami memaafkan mereka bagi pihak tertentu yang akan meremehkan doa-doa ini, dan kami mohon kepadaMu, ampunilah mereka, karena mereka tidak tahu rencana dan kehendak Allah untuk masa depan bangsa Papua.

 

 

Selanjutnya, kepada-Mu ya Yesus Kristus, sang rekonsiliator sejati, kami bangsa Papua memohon dengan sungguh-sungguh dari lubuk hati kami yang paling dalam: ‘Dengan tangan kudus-Mu menurunkan berkat pengampunan bagi bangsa Papua dan bangsa-bangsa lain di dunia (baik terlihat maupun tidak terlihat)’; serta pakaikanlah jubah kemulianMu kepada segenap ‘alam roh’ di Tanah Papua pada khususnya dan di dunia yang takut dan berharap kepadaMu ya Tuhan; sebab ada tertulis: ‘Dengan sangat rindu seluruh makhluk menantikan saat anak-anak Allah dinyatakan, karena seluruh makhluk telah ditaklukkan kepada kesia-siaan, bukan karena kehendaknya sendiri, tetapi oleh kehendak Dia, yang telah menaklukannya, tetapi dalam pengharapan, karena makhluk itu sendiri juga akan dimerdekakan dari perbudakan kebinasaan dan masuk ke dalam kemerdekaan kemuliaan anak-anak Allah; sebab kita tahu, bahwa sampai sekarang segala makhluk sama-sama mengeluh dan sama-sama merasa sakit bersalin; dan bukan hanya mereka saja, tetapi kita yang telah menerima karunia sulung Roh, kita juga mengeluh dalam hati kita sambil menantikan pengangkatan sebagai anak yaitu pembebasan tubuh kita’ (Roma 8:19-23). Dan kami memohon kepada-Mu ya Yesus Kristus: ‘Damaikanlah Bangsa Papua dengan bangsa-bangsa lain di dunia yang menduduki dan menjajah bangsa Papua serta menjarah segala macam kekayaan yang ada di atas tanah leluhur kami Papua; Serta kami memohon dengan penuh kerendahan hati: ‘Engkau memulihkan kembali hak kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua yang telah dicaplok ke dalam NKRI’, sehingga keadilan dan kedamaian-Mu itu sungguh nyata dan hadir di Tanah Papua bagi perdamaian dunia.

 

 

Akhirnya Ya Yesus, sang rekonsiliator agung, tebuslah bangsa Papua dengan ‘darah suci-Mu’ menjadi bangsa alternatif di akhir zaman sesuai janji-Mu, bergandeng bersama dengan bangsa Israel pilihanMu, serta bangsa lain di dunia yang benar-benar takut akan Tuhan dan taat pada perintah-perintahMu untuk mempersiapkan JALAN bagiMu yang akan memimpin Kerajaan 1000 tahun, sehingga menjadi ‘bangsa yang diberkati, imamat yang rajani, bangsa yang kudus, umat kepunyaan Allah sendiri, supaya kami semua memberitakan perbuatan-perbuatan yang besar dari Tuhan, yang telah memanggil kami menjadi murid-Mu dan diangkat menjadi umat kepunyaan-Mu, yang ke luar dari kegelapan kepada terang Tuhan yang ajaib’. Terpujilah Tuhan, kekallah kasih setiaMu sepanjang segala masa. AMIN.

 

 

Mazmur Rekonsiliasi ini didaraskan oleh Selpius Bobii pada jam 03.00 – 03.33 subuh dalam ‘Doa Pemulihan Bangsa Papua, di Tunas Harapan - Port Numbay (Jayapura) – Papua, Minggu 4 Oktober 2020. (Bagi yang punya berkat, tolong foto copy dan disebarkan kepada sesama Anda untuk dipahami dan untuk didoakan).

 

 

3. Mazmur Restorasi Papua

 

Selpius Bobii. (Mazmur Pemulihan di bawah ini kita mendaraskan atau doakan pada jam 6 pagi dan jam 6 sore).

 

Ya Bapa yang maha tahu, Dikau mengetahuinya bahwa masalah mendasar Papua adalah ‘distorsi sejarah politik’ bangsa Papua. Kami berdiri di sini bersama sejarah ‘Deklarasi Manifesto Politik Bangsa Papua’ pada 19 Oktober 1961 dalam Kongres I bangsa Papua dan kami juga berdiri di sini bersama sejarah Sang Bintang Fajar yang pertama kali mengudara pada 1 Desember 1961. Ya Allah pencipta langit dan bumi serta segala isinya, Dikau tahu bahwa bangsa Papua berjuang untuk menegakkan kebenaran sejarah yang dibengkokkan dan ditutupi oleh NKRI dan para sekutunya.  Kami yakin dengan sungguh-sungguh bahwa sejarah politik Papua yang diteruskan oleh para pendahulu kami adalah benar adanya, dan hal ini didukung oleh sebuah tulisan ilmiah karya Profesor Dr. Drooglever di Belanda serta karya ilmiah lainnya yang ditulis oleh orang Papua dan non Papua.

 

 

Ya Bapa sumber kebenaran Ilahi, walaupun kami adalah generasi ketiga dalam perjuangan ini, kami berusaha mendalami sejarah Papua dan kami meyakini dengan sungguh-sungguh bahwa kami berada pada jalan yang benar, karena jalan sejarah adalah jalan benar; Kami tidak akan pernah keluar dari jalan sejarah, jalan yang dirintis para pendahulu kami, karena jalan sejarah ini dibayar dengan banyaknya air mata darah Papua yang tidak bersalah.

 

 

Ya Bapa yang maha kudus, kami tidak pernah mundur selangkahpun, karena kami berada pada jalan sejarah – jalan kebenaran; hidup kami dipertaruhkan untuk membela yang benar, untuk menegakkan kebenaran sejarah Papua demi keadilan dan perdamaian Papua untuk perdamaian dunia; Kami tidak seperti Negara Indonesia serta negara pendukung lainnnya yang selama ini pantang mundur dalam mempertahankan penjajahan dan penjarahan di tanah Papua untuk membela yang salah.

 

 

Ya Allah yang maha adil, Engkau mengetahui dengan pasti siapa yang benar dan siapa yang salah; Karena semua yang terjadi dalam perjalanan sejarah bangsa Papua terjadi di depan mata-Mu Tuhan; Pertarungan Ideologi Pancasila dan Ideologi Mabruk telah memakan korban yang tiada tara; Indonesia di dukung oleh negara-negara pendukungnya mempertahankan kebenaran menurut versi mereka; sementara bangsa Papua serta para simpatisan Internasional mempertahankan kebenaran sejarahnya. Jika kedua-duanya tidak ada yang mengalah dan mengakui kesalahannya, maka ke depan banyak manusia yang akan dikorbankan selama mempertahankan kebenarannya masing-masing. Kami bangsa Papua bertekad berjuang sampai titik darah penghabisan- artinya selagi masih ada generasi Papua yang jatuh cinta pada tanah airnya, mereka akan terus bangkit untuk memperjuangkan penegakkan kebenaran untuk keadilan dan perdamaian Papua bagi perdamaian dunia; kami bertekad berjuang sampai kebenaran itu membuktikan dirinya bahwa ‘ia benar adanya’ dan pada akhirnya ‘kebenaran itu akan ke luar sebagai pemenang akhir yang tak terkalahkan. 

 

 

Ya Bapa, hakim agung yang maha adil, kami bangsa Papua memohon-Mu yang kesekian kalinya dari lubuk hati kami yang paling dalam bahwa “mohonlah kiranya selidikilah dan selesaikanlah perkara status politik bangsa Papua yang sudah 57 tahun lebih bangsa Papua bertarung dengan Negara Indonesia; Keadilan-Mu bagaikan hujan pada musim penghujan, keadilanMu bagaikan embun pada musim semi, dan kasih setiaMu bagaikan. sungai yang mengalir siang dan malam tiada henti.

 

 

Ya Bapa, kami mohon campur tangan-Mu untuk menyelesaikan distorsi sejarah Papua yang telah memakan korban materi, korban perasaan, korban waktu, korban tenaga, dan bahkan korban nyawa manusia yang tidak sedikit; Biarlah ya Tuhan, keadilan-Mu bergulung-gulung meresap ke bumi ini membangkitkan jiwa-jiwa yang rindu kebebasan, biarlah keadilan-Mu mengalir deras meresap ke dalam lelung jiwa-jiwa bangsa Papua yang sedang letih, lesuh dan berbeban berat memikul Salib kebenaran untuk keadilan dan perdamaian Papua.

 

 

Ya Bapa, tak cukupkah jutaan orang asli Papua yang telah tewas dibunuh, baik secara nyata dan terselubung oleh para algojo Indonesia? Ya Tuhan, tak cukupkah air mata darah Papua yang telah tercurah demi menebus kebebasan bangsa Papua untuk terwujudnya keadilan dan perdamaian Papua?  

 

 

Ya Tuhan, kepada siapakah kami meminta pertolongan? Kami telah berulang kali meminta tolong kepada para pembesar di dunia ini, tetapi tidak ada yang mampu memutuskan belenggu penindasan ini; Kebanyakan dari mereka hanya sibuk bekerja sama dengan Indonesia untuk menjajah bangsa Papua dan menjarah sumber-sumber ekonomi di Tanah Papua; Pada forum-forum terhormat, misalnya di forum PBB, kebanyakan dari mereka berbicara pentingnya penegakkan hukum, HAM dan demokrasi, tetapi itu hanyalah sederatan kata-kata indah yang tak bermakna; Di balik kata-kata indah tersembunyi kepalsuan, kebohongan, kesombongan dan kepentingan, serta keserakahan. Walaupun demikian, kami bangsa Papua menghargai beberapa orang pembesar di manca negara yang dengan sungguh-sungguh menyuarakan pembebasan bagi bangsa Papua dari segala bentuk penindasan dan perbudakan terselubung yang sangat mengerikan dari Negara Indonesia serta para negara sekutunya kepada orang Papua.

 

 

Ya Tuhan yang pengasih dan penyayang, berapa lama lagi Engkau membiarkan bangsa Papua merana seorang diri mencari keadilan dan perdamaian di dunia ini?  Selama ini para politisi Indonesia serta rakyatnya mengatakan bahwa ‘kemerdekaan bangsa Papua sedang menunggu waktu Tuhan’, ada yang bilang bahwa ‘bangsa Papua tidak akan merdeka.

 

 

Pernyataan-pernyataan ini menantang Tuhan: ‘Apakah Tuhan sungguh-sungguh turun tangan untuk menolong bangsa Papua keluar dari lingkaran belenggu penjajahan dan perbudakan ini?’ Atau apakah Tuhan hendak membiarkan bangsa Papua hilang musnah dari tanah leluhurnya– tanah Papua?  Jika Allah terus membiarkan bangsa Papua menderita dan musnah dari tanah leluhurnya, mengapakah Allah menciptakan Tanah Papua dan menempatkan kami bangsa Papua di atas tanah ini? Bangsa Papua mati terbunuh habis bagaikan ‘kancil kecil’ terinjak-injak oleh gajah-gajah raksasa dunia; Mengapakah Allah terus diam membisu?  

 

Allah Roh Kudus berdoalah bagi kami bangsa Papua kepada Tuhan di Surga; Karena hari-hari hidup kami semakin terancam, para algojo memasang para pengintai di pelosok negeri leluhur kami; Hanya demi sesuap nasi sesama Papua tertentu diperalat menjadi hamba NKRI untuk mempertahankan penjajahan dan penjarahan, Hanya demi HARTA, TAHTA dan WANITA, orang Papua tertentu menjadi hamba NKRI; Para hamba NKRI ini melancarkan berbagai bentuk aksinya untuk memburu para pejuang keadilan dan kedamaian; Mereka nekad memburu, meneror dan mengintimidasi sesama Papua, bahkan ada pula yang nekad membunuh sesama Papua yang jalan dalam barisan perjuangan; Langkah kami semakin dibatasi; suara kami semakin dikekang; Tiada hari tanpa intimidasi. Walau kebebasan kami dibatasi, ruang gerak kami dikekang, langkah kami dibatasi, tetapi kami tetap di sini – di negeri leluhur Papua, kami tetap berdiri kokoh bersama kebenaran sejarah Sang Bintang Fajar.

 

Tiada hari tanpa pengintai yang memantau gerak langkah kami; tetapi tidak takut dengan kehilangan nyawa kami; Kami hanya takut dan khawatir akan musnahnya etnis Papua dari tanah leluhurnya, akibat penjajahan Indonesia yang didukung negara-negara sekutunya yang tak henti-hentinya melancarkan operasi terbuka dan tertutup untuk memusnahkan etnis Papua; Seluruh hidup ini, dipersembahkan untuk kebebasan bangsa Papua; Jika Tuhan menghendaki nyawa kami pun siap dipertaruhkan demi sebuah keadilan, demi sebuah kebebasan dan demi sebuah kedamaian;  Untuk itulah kami dilahirkan, untuk itulah kami dibesarkan dan untuk itulah kami mengabdi; Banyak anak negeri Papua telah gugur dalam medan perjuangan adalah bukti kecintaannya untuk pembebasan tanah tumpah darah Papua.

 

Tiada tempat untuk kami bersembunyi; Tiada tempat untuk kami berlari menyelamatkan diri; Walaupun setiap saat kami diburu oleh para algojo dan para hamba NKRI, akan tetapi di tempat inilah - di Tanah Papua tempat kami dilahirkan, tempat kami dibesarkan, tempat kami dibentuk, tempat kami dididik, tempat kami berjuang, tempat kami mengabdi dan tempat ini pula – di Tanah Papua akan mengakhiri hidup kami ketika nafas hidup ini diambil kembali oleh Tuhan; dan di negeri leluhur inilah tempat kami disemayamkan jika waktu Tuhan tiba untuk mengakhiri nafas hidup ini; sementara sesama Papua lainnya ke luar negeri dengan tujuan melaksanakan peran kampanye dan diplomasi. Ya Tuhan, di manakah tempat sandaran kami, di manakah tempat untuk kami berlindung? Hanyalah kepada-Mu Tuhan tempat perlindungan, tempat sandaran, kota yang berkubu dan benteng pertahanan kami.

 

Ya Bapa, di tangan kami hanya ada kebenaran sejarah dan realitas masa kini; Di tangan kami hanyalah kebenaran FirmanMu; Itulah kebenaran yang kami gunakan untuk menghadapi Indonesia dan para sekutunya; Selama ini negara Indonesia menghadapi bangsa Papua dengan segala kekuatan yang dimilikinya; Namun, hingga kini, RI dan para sekutunya tak mampu menghentikan perjuangan bangsa Papua untuk menegakkan kembali ‘kemerdekaan kedaulatan Papua’ yang telah dicaplok ke dalam NKRI.

 

Mengapa RI tak mampu mematahkan perjuangan bangsa Papua? Bangsa Papua tidak memiliki kekuatan seperti yang dimiliki oleh Negara Indonesia dan para sekutunya; Kekuatan kami adalah komitmen kami.  Kekuatan kami adalah kasih setia kami; Kekuatan kami adalah doa kami; Kekuatan kami adalah beriman dan berpengharapan hanya kepadaMu Tuhan; Selama ini negara Indonesia dan para sekutunya dengan mudah menghancurkan apapun yang ada di Tanah Papua, tetapi mereka tak akan mampu menghancurkan kekuatan-kekuatan di atas ini yang dimiliki oleh bangsa Papua. Kekuatan-kekuatan itu telah menjadi darah daging dalam jiwa-jiwa Papua, sehingga mereka sangat sulit untuk menghancurkannya.

 

Wahai Roh Allah, Dikaulah diberi tugas untuk melanjutkan misi agung yang ditinggalkan oleh Yesus; Engkau diutus Tuhan untuk melanjutkan misi penyelamatan Allah bagi umat manusia di planet bumi ini. Papua berada dalam rencana dan ketetapan Allah; Papua adalah bangsa alternatif menjelang akhir zaman, maka kami mohon dengan penuh kerendahan hati dan dari lubuk hati kami yang paling dalam: mohonlah kiranya wahai Roh Allah pasanglah busur kebenaranMu dan luncurkanlah anak panah Roh Kebenaran-Mu ke segala penjuru dunia, kepada pembebasar-pembesar di dunia yang mengemban tugas untuk mengambil keputusan-keputusan penting.

 

Biarlah anak panah kebenaran-Mu meresap masuk ke dalam ruang terdalam – di lubuk hatinya dan meresap masuk juga ke dalam akal budi mereka; agar para pembesar dunia ini berpikir dengan matang dan menimbang di hatinya dengan baik, sehingga dapat menggerakkan hati mereka untuk mengambil keputusan yang adil dan bijaksana bagi penyelesaian masalah status politik bangsa Papua, yakni mengakui secara de facto dan de jure kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua, 1 Desember 1961, yang mana presiden RI, Soekarno pernah mengakui ‘adanya negara Papua’ dalam maklumat Tiga Komando Rakyat (TRIKORA), tetapi Negara Indonesia dibantu oleh para negara sekutunya menganeksasi Papua ke dalam NKRI pada tahun 1960-an melalui invasi militer dan invasi politik, yaitu traktat perjanjian New York, 15 Agustus 1962 secara sepihak tanpa melibatkan wakil dari bangsa Papua.   

 

Wahai Roh Allah, Dikaulah diutus Tuhan ke dunia dan diberi tanggung jawab untuk melanjutkan karya agung yang ditinggalkan oleh Tuhan Yesus; Untuk itu, kami juga memohon kepada-Mu dengan penuh kerendahan hati, bahwa mohonlah kiranya Roh Allah memasang busur keadilan-Mu dan tembakkan ke seluruh dunia, kepada para pembesar di bumi yang mengemban tanggung jawab untuk penegakkan kebenaran untuk keadilan dan perdamaian, Biarlah anak panah keadilan-Mu merembes masuk ke dalam akal budi dan hati mereka, agar tergerak oleh belas kasihan akan penderitaan yang dialami bangsa Papua, sehingga pada saatnya yang tepat mengambil keputusan yang paling penting dan solusi final untuk memutuskan mata rantai penindasan dan perbudakan oleh Indonesia serta para sekutunya kepada bangsa Papua.

 

Ya Roh Allah, Dikaulah diutus Tuhan ke dunia sebagai daya yang menggerakkan, daya yang menghidupi dan daya yang menginspirasi Gereja agar semakin tumbuh berkembang menuju kepenuhan janji Allah, Tanah Papua adalah tanah tempat penuaian akhir Gereja Tuhan yang akan menjadi saksi-Mu untuk mewartakan perbuatan-perbuatan besar yang dilakukan Allah bagi Papua dan dunia; Jika busur anak panah kebenaran, anak panah keadilan, dan anak panah kedamaian-Mu tidak direspon oleh para pembesar di dunia, terlebih pembesar di Indonesia, maka pada kesempatan ini kami memohon kepada-Mu dengan penuh kepasrahan dan kerendahan hati, bahwa mohonlah kiranya Roh Allah melepaskan ‘Pedang Roh yang membara’ dan luncurkanlah ke seluruh dunia untuk memberikan peringatan dan teguran dengan tanda-tanda keajaiban-Mu yang maha dasyat kepada para pembesar di dunia yang mengemban tugas luhur dalam menangani dan menuntaskan berbagai konflik di dunia.

 

Biarlah ‘Pedang RohMu yang membara itu merasuki ke dalam akal budi dan hati mereka, agar daya Pedang Roh menyadarkan mereka, sehingga mereka mengambil keputusan yang mengikat dan paling menentukan dengan ‘jalan damai’ untuk mengembalikan hak kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua yang dianeksasi ke dalam NKRI dengan jalan mengakui kemerdekaan kedaulatan bangsa Papua secara de facto dan de jure, 1 Desember 1961.

 

Ya Bapa yang panjang sabar, namun setia dalam melaksanakan ketetapan dan janji-Mu, mata iman kami melihat dan RohMu bersaksi kepada para hambaMu bahwa sesungguhnya anak panah-anak panah Kebenaran, Keadilan, Kedamaian, dan Pedang RohMu yang membara itu sudah dan sedang dilepaskan oleh-Mu, namun dunia tidak menyelaminya, dunia tidak memahaminya, dunia tidak menangkap maksud di balik semua bentuk peringatan yang menimpa Indonesia dan belahan dunia lainnya.

 

 

 Gerakan Pemulihan Diri Menuju Pemulihan Bangsa Papua, Jaringan Doa Rekonsiliasi untuk Pemulihan Papua (JDR-P2). Yesus berfirman: Apa yang tidak mungkin bagi manusia, mungkin bagi Allah,’ Injil Lukas 18 : 27. Penulis adalah  Selpius Bobii, nomor kontak 0823 9938 1321.)*                

#Gereja

Baca Juga, Artikel Terkait