Guru Kristen Mengdiskriminasi Rasial Terhadap Pelajar, Tidak menjiwai Nilai-nilai Kristus 

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Marselino Pigai/doc. prib

Oleh, Marselino Pigai]*

 


Sekalipun sistem pendidikan ditata di atas dasar keagamaan tak akan runtuh mengenai diskriminasi rasial. Sebagaimana terjadi pada pelajar SMP dan SMA Katolik di jayapura adalah realitas sosial yang terdoktrin dalam mundset berpikir orang yang jiwanya tidak meberikan citra diri sebagai pengikut keteladanan Kristus. 

 

Jiwa pelayanan yang tervisual dari keadaan di Jayapura menggambarkan pesan pelayanan yang tidak menjiwai hukum cinta kasih sebagai bentuk roh dari sekolah katolik yang berpondasi dari nilai-nilai gerejani. 

 

Gereja katolik tidak pernah mendidik dan mencetak pribadi manusia yang berkrater diskriminatif rasial dan tidak memberikan hukum cinta yang terlahir dari ajaran kristus. Dalam pelayanan Kristus tidak dapat dijumpai kalimat yang mengstigma terhadap siapa saja (entah itu atau entah ini) dengan kalimat atau ujaran yang menggambarkan seperti yang dilakukan di Jayapura. 

 

Keadaan ini mohon ditanggapi oleh pihak gereja dalam hal Gereja Katolik. Harga diri dan martabat manusia tidak pantas disamai dengan binatang atau apapun yang substansinya menghina martabat manusia. Manusia tidak sama dengan binatang, manusia adalah segambar dan secitra dengan Allah. 

 

Kekhasan iman gereja katolik bertumbuh dengan nilai-nilai gerejani. Gereja katolik sebagai pijakkan kaki untuk bertumbuhnya sekolah katolik yang ditandai dengan nilai-nilai katolik. Sekolah Katolik mengajarkan nilai-nilai kemanusiaan sebagai tolakkan dari ajaran Kristus. Kristus mengajarkan kemanusiaan, bahkan kehadiran Kristus merupakan wujud nyata untuk membebaskan dan mengangkat harkat dan martabat manusia. 

 

Di mana karena sistem ketidak benaran dan penindasan yang dihadapi oleh kaum yang ditindas oleh kekuasaan para ahli-ahli taurat dan tua-tua. Kristus hadir untuk membela dan mengangkat kehidupan yang ditindas. Maka dengan demikian ujaran diskriminatif rasial yang lontarkan ibu guru adalah sama sekali tidak mencitrakan ibu guru yang kristen.

 

Para guru yang tidak paham dengan guru yang berjiwa katolik harus banyak belajar dari uskup para sejarahwan yang terdahulu di atas tanah ini serta santo dan santa yang melayani dengan cinta kepada nilai-nilai kemanusiaan. Ibu-ibu guru harus belajar dari Mother Thresia. Belau adalah teladan bagi setiap wanita yang melayani kaum yang tidak pedulikan. Musti memaknai ungkapan beliau tentang pelayanan kepada sesama yakni “melayani kepada sesama dengan cinta yang besar”. 

 

Oleh karena itu, ujaran diskrimansi rasis terhadap para pelajar di Jayapura merupakan ungkapan yang merepresentasikan sebagai bukan guru yang terlahir dalam roh sekolah katolik. Sekolah katolik membentuk dan membina manusia-manusia yang bermoral dan berjiwa katolik. Oleh karena guru yang terhimpun dalam wadah sekolah katolik yang ada adalah guru yang bertumbuh dan terlahir dari iman kekatolikkan. 

 


Penulis adalah ketua pengurus Keluarga Mahasiswa Katolik IMPT manokwari]*

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait