Hentikan Pengiriman Pasukan Militer ke Papua.

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Keterangan Foto: Yunus Eki Gobai (Foto Dok KM)

Oleh: Yunus Eki Gobai

Pendahuluan

Melihat kondisi terakhir di seluruh tanah Papua dari sorong sampai Merauke, melihat kekuatan militer di tanah papua melebihi pemilik tanah Papua. Akhirnya rakyat  papua trauma melakukan aktivitas seharianya dan warga dapat mengungsi di daerah lain. 

Pendropan Militer bukan baru kali ini dilakukan Negara terhadap Rakyat Papua.  tetapi sejak tahuh 1961 hingga kini.  Ini merupakan Negara sudah tidak mamp mengindonesikan orang Papua di dalam Indonesia.  

Pendropan militer di Papua terutama di Kabupaten Nduga dan Intan Jaya menjadi pusat beroperasi antara OPM-TPN dan Militer yang belum terhentikan.  Sementara,  Pimpinan daerah  di tanah papua dalam hal legislatif dan eksekutif segera menangani pendropan militer di tanah papua.  Sehingga tidak membuat Rakyat Papua takut,  kwatir dalam aktivitasnya.
                                                
Bagaimana Pendropan Militer di Intan Jaya?

Tanah Papua terlihat banyak milter sedang menduduki dan menempati di titik-titik tertentu. Kenapa kok kedatangan TNI/PORLI malah meningkat. Dilihat seperti kabupaten Nduga, Intan Jaya, Paniai dan dan kabupaten lainya  di provinsi Papua.

Tahap pertama pendropoan militer di Bandara  Enarotali yang jarang ditemui alat transportasi udara semacam ini kini baru nampak dengan berbagai muatan yang berisi TNI/POLRI mulai dari 12 Desember hingga 14 Desember 2019 lalu.  
Tahap kedua, 600 pasukan militer Indonesia memantau jalan trans dari Enarotali ke Intan Jaya. Hari minggu (19/01/2019) ratusan militer dengan senjata lengkap memantau situasi di kampung Dagouto, kopabutu dan Obaiyoweta. 

Pengiriman TNI tahap pertama, ratusan TNI bergeser dari Kampung Kopabutu ke Toyaimuti Distrik Agadide menuju ke Kab.Intan Jaya. Dikabarkan Koramil di Distrik Agadide telah dibuka posko penampungan 103 personil TNI sedangkan 300 personel menempatkan distrik Obano

Ratusan Militer itu akan direncanakan berangkat ke Intan Jaya dengan jalan kaki dari Enagotadi, wegamo, ekadide, pasir putih, aradide, dauwagu hingga tembus ke Homeyo yang adalah distrik pertama dari Kabupaten Intan Jaya.

Bagaimana kondisi di  Intan Jaya dan Nduga?

Cara Milisteristik di Nduga terus menerus meningkat sejak terjadi saling kontak pada 2 Desember 2018 hingga saat ini, ratusan rumah, Gereja, Gedung-Gedung sekolah habis terbakar. 40 ribu warga mengungsi ke luar. Paling sedikit 139 warga meninggal dalam pengunsian. Kondisi kesehatan buruk, kekurangan makan, gisi buruk, putusnya akses sekolah, tempat tinggal, menjadi cerita wajah pengungsi di hari-hari mereka dibawa camp beratap terpal. Media suara Papua mengutip:" 18 dan 20 Januari 2020, Puluhan Angota TNI Didrop ke Distrik Homeyo, Intan Jaya dan terjadi kontak senjata antara TNI dan TPNPB sehingga anak usia 8 tahun korban dan warga pogapa mengunsi di tempat paroki dan rakyat Intan Jaya dalam kondisi trauma dan panik.

Kesimpulan

Melihat dengan Kondisi di daerah Intan Jaya dan Nduga atas Pendropan militer dan pembunuhan sebagai berikut:

Perlu adanya upaya dan sikap untuk memprotes Pendropan  Militer dan stop pembunuhan  yang berlebihan terhadap rakyat Papua di tanah Papua.

Mendesak pemerintah menghentikan pengiriman pasukan militer ke Papua. Pernyataan ini ditujukan kepada pemerintah Indonesia, terutama menkopolhukam. Menkopolhukam sebut Papua mulai kondusif meski masih ada Pendropan militer dan pembunuhan. Hal ini merupakan tindak teror mental dan psikologis bagi rakyat Papua oleh negara.

Konklusi dan kata  kunci adalah Presiden Jokowi, menkopolhukam, kapolda, kaporli   dan pemangku Negara segera tarik militer organik dan non-organik dari tanah papua.


Penulis adalah anak asli suku Mee yang membidangi Komisi HAM & Komsos di Paroki Kristus Sang Gembala, Wedaumamo.

#Budaya

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#Peristiwa Nduga

Baca Juga, Artikel Terkait