HIMABODI Menolak Pemekaran Provinsi Papua Selatan dan Wujudkan Nasionalisme Papua

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

13 Hari yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Saat HIMABODI diskusi- Foto: Alfred Victor Bobii/KM

 

Oleh Alfred Victor Bobii

                                                   

KABARMAPEGAA.COM—“Setiap pohon Mangga atau Matoa buahnya jatuh tak jauh dari pohon”. Hal ini sama persis pula dengan ukuran generasi manusia bukan? Mestinya sama. Sejarah di masa silam, sesungguhnya harus diteruskan oleh serumpun dari generasi itu sendiri. Untuk menjemput hari kemerdekaan Papua Barat yang jatuh pada 1 Desember 2019. Persoalan serius lain di Boven Digoel, Merauke, Papua Selatan yang harus kita lakukan, maka kami adakan diskusi publik.

 

Kami diskusi ini dari, Himpunan Mahasiswa Boven Digoel (HIMABODI) se-Jateng bersama Aliansi Mahasiswa Papua (AMP) komite kota-Yogyakarta dan kawan-kawan partisipan Indonesia membuka ruang diskusi publik. Pada, selasa 26 November 2019. Di kaffe Kebon Laras, Timoho.

 

Dengan makna lain dari meja-meja diskusi ini bahwa, untuk mempererat persatuan dan kebersamaan mahasiswa Boven Digul dan Aliansi Mahasiswa Papua. Kemudia titik perhatian yang menjadi puncak diskusi adalah permasalahan-permasalahan yang menjadi tanggungan berat yang terjadi di Papua, lebih khususnya di daerah Boven Digoel, Merauke dan umumnya di wilayah Anim Ha, Papua selatan.

 

Dalam panggung perdebatan dan pengajuan ide, dimoderator oleh Natalia Yawiwa. Kemudian selanjutnya diskusi dapat berjalan dengan penuh antusias oleh para hadirin.

 

Dalam diskusi kami membahas persoalan-persoalan di wilayah Anim Ha. Tentang pelayanan kesehatan yang buruk dan hampir tiap hari penghembusan jiwa manusia lebih dari 5 orang, lingkungan sosial yang buruk bagi masyarakat (togel, judi), kenakan remaja yang tidak terbendung, dan pula pendidikan bagi siswa yang kurang memadai dan pemekaran propinsi Papua selatan.

 

Namun jauh lebihnya adalah bagaimana perusahan MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) sejak 2010 ke bawah hadir dengan bentuk illegal. Kemudian tahun 2010, hingga 90% dari wilayah itu masih ditutupi oleh hutan. Proyek MIFEE diharapkan mencakup area 1,2 juta hektar, atau seperempat dari tanah Merauke.

 

Pada 2010 mulai merancang anak-anak perusahaan yang masuk melalui MIFEE, seperti PT Wimral. PT. Sinarmas. PT Bakrie Sumatra Plantation, PT. Medco. PT. Bangun Cipta Saran, PT. Artha Graha dengan berbeda integritas  yakni, perkebunan sawit dengan luas minimal 316.347, perkebuna tebu dengan luas 156.812 hentar, perkebunan jagung dengan luas 97.000 hektar, Hutan Tanaman Industri (HTI) dengan luas 973.057,56 hektar, tanaman pangan dengan luas 69.000 hektar, pengelolahan kayu serpih dengan luas 2.818 hektar dan pembangunan dermaga dengan luas 1.200 hektar. Total izin kerja yang terpakai adalah 1.616.234, 56.

 

Dan selanjutnya  MIFEE (Merauke Integrated Food and Energy Estate) menawarkan dan diresmikan oleh mantan Bupati Merauke, Jhon Gluba Gebze, pada HUT kota Merauke ke-108, 12 Februari 2010.

 

 

Bersamaannya pula kehadiran jumlah besar unit tentara di daerah MIFFE, yang memberi kesaksian tentang peran militer dalam melindungi kepentingan kolonial Indonesia dan korporat investor asing terhadap penolakan penduduk lokal. Ada keterlibatan besar menglomerat agribisnis Indonesia. Ada banyak penduduk menantang proyek MIFEE. Sebab proyek ini mengancam kawasan konservasi misal hutan perawan dan daerah resapan air, serta lingkungan adat masyarakat Merauke Papua.

 

Apa yang terjadi?

 

Induk perusahan (MIFFE) dan perusahaan-perusahan sawit lain seperti di atas dan enam perusahan baru lain di kawasan Malind Bian, Merauke yakni, PT, Dongin Prabhawa (Korindo Grup), PT Bio Inti Agrindo (Korindo Grup), PT Central Cipta Murdaya (CCM), PT Agriprima Cipta Persada, PT Hardaya Sawit Papua, dan PT Berkat Cipta Abadi yang membuat ketiga sungai berubah warna dan mengeluarkan bau tak sedap, “Masalah air bersih tidak soal bagi warga yang bermukim di sekitaran kali itu.” Kata Wiliam, salah satu mahasiswa Boven Diguel.

 

Di sana, penabrak anak sekolah banyak. Karena jarak rumah dengan sekolah harus di lewati pekarangan sawit berhektar. Truk bertambah dan penambrakan lain semacam liar pun banyak. Upah kerja tidak bayar total pada masyarakat lokal yang bekerja, dan perawatan pendidikan bagi anak-anak mereka kurang terawat. Hingga akhir-akhir ini terancam terhadap tanah Adat dan kehilangan nyawa rakyat wilayah Anim Ha sangat drastis meningkat dari tahun ke tahun sampai detik ini.

 

Untuk mengatasi dalam perlawan, semua tokoh agama, tokoh pemuda, tokoh perempuan, tokoh adat yang bentuk versi pro-rakyat Papua menolak, namun sampai saat ini juga Bupati, DPR dan gereja tidak pernah bersuara. Tidak ada tindakan sama sekali atas penyelesaian persoalan yang sangat terancaman tersebut.

 

“Kehancuran tanah dan rakyat di tanah Merauke tak terlepas dari politik praktis bagi kepentingan rezim ke rezim di negara ini dan politik nasionalisme Papua Barat itu sendiri. Ini memenuhi kata Ali Murtopo, bahwa, jika Papua Barat ingin mau merdeka, cari pulau lain di Fasifik karena Papua adalah kekuasaan negara Indonesia.” Aden Isodorus Dimi, mewakili Aliansi Mahasiswa Papua.

 

Sehingga tugas kami mahasiswa dan masyarakat luas serta organ gerakan adalah tolak untuk tutup MIFFE (Merauke Integrated Food and Energy Estate), dan anak-anak perusahan besar yang ada di tanah Merauke. Berjuang untuk Freeport. Tutup perusahan-perusahan yang ada di seluruh tanah Papua. Dan tolak pemeran propinsi-propinsi. Sebab tak ada untung selain kehancuran wilayah Anim Ha dan pemusnahan rakyat Papua. Apa lagi utamanya pemerakaran Propinsi Papua selatan.

 

Maka, kawan-kawan partisipan Indonesia dalam public discation, kami Himpunan Mahasiswa Boven Diguel Jawa Tengah mewakili rakyat dan tanah Adat wilayah Anim Ha, serta Aliansi Mahsiswa Papua dengan tegas tolak terhadap perusahan-perusahan lama maupun baru dan pemekaran Propinsi selatan.

     

Akhirnya diskusi publik bersama mahasiswa Boven Digoel dan Aliansi Mahsiswa Papua, mengkampanyekan 1 Desember yang akan masuk pada 58 tahun sebagai hari lahirnya nasionalisme West Papua. Dan menambah pengetahuan bagi mahasiswa baru Boven Digul yang baru-baru dimakrabkan pun diakhiri pada 23.00, waktu Yogyakarta.

Semoga berguna bagi pembaca yang budiman.

 

Penulis adalah: Alfred Victor Bobii Mahasiswa Papua Kuliah di Yogyakarta.

 

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

#Tolak Pemekaran Paniai Timur

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait