HUT Hari Noken Se- Dunia VII: Kalungkan Noken Menghadapi Segala Perkara di Tanah Ini

Cinque Terre
Manfred Kudiai

1 Bulan yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
itus Pekei, penggagas Noken Papua Warisan Dunia. Doc. Prib.

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com-- Titus Pekei, penggagas Noken Papua Warisan Dunia dari Papua menyatakan sambutan pada peringati Hari Noken Warisan Dunia ke- 7, 4 Desember 2019. Dalam sambutan itu, dirinya meminta supaya kalungkan Noken Warisan Budaya Dunia dalam menghadapi segala perkara di tanah ini.

 

Hal tersebut dikatan Titus dalam press release yang diterima media ini via pesan eletronik, Rabu (4/12). Pertama-tama dirinya menyatakan selamat merayakan Hari Noken Warisan Dunia ke-7.” Cukup Kalungkan Noken Warisan Budaya Dunia dalam Menghadapi Segala Perkra di Tanah ini,” paparnya dalam sambutan tertulis.

 

Untuk menghormati dan Noken sebagai wariasab budaya, dirinya juga menyebutkan nama noken dalam bahasa daerah yang ada di Papua yang selanjutnya mengawali dengan kalimat: “Salam Noken.”

 

“Salam Noken! Salam Men, Halombo, Kangke, Toye, Inawe-faru, Rota, Kakabo, Yuta, Kwok, Rotasua, Efa Fru, Ndumb, Agiya, Kemaombo, Wii, Etaa, Ese, Suu, Sum, Yum, Taware, Kamboti, Irwa, Kabu, dan lain boleh tambahkan...,” jelasnya.

 

Berikut adalah Press Release yang diterima media ini:

 

PRESS RELEASE

Selamat Merayakan Hari Noken Warisan Dunia Ke-7 (Tujuh)
Cukup:

“KALUNGKAN NOKEN WARISAN BUDAYA DUNIA DALAM MENGHADAPI SEGALA PERKARA DI TANAH INI”

 

Salam Noken!

Salam Men, Halombo, Kangke, Toye, Inawe-faru, Rota, Kakabo, Yuta, Kwok, Rotasua, Efa Fru, Ndumb, Agiya, Kemaombo, Wii, Etaa, Ese, Suu, Sum, Yum, Taware, Kamboti, Irwa, Kabu, dan lain boleh tambahkan...

 

Tanah Ini adalah Tanah Papua yang kaya dengan berbagai potensi sumberdaya alam. Tidakkalah penting  juga  memiliki  potensi  kekayaan  ragam  warisan  budaya  luhur  yang  unik,  khas  dan  tak tergantikan. Merupakan keadaban manusia Papua di tanah ini. Warisan budaya yang diluhurkan turun- temurun hingga sampai generasi sekarang dan masa depan. Pada hari ini posisi ragam budaya Papua dihadapkan pada tantangan serius – menuju kepunahan ketika negara Indonesia aneksasi Papua sejak tanggal 1 Mei 1963 namun tidak ada arti penting untuk melestarikan, melindungi dan mengembangkan “Ragam Budaya Tanah Papua”.

 

Ragam budaya tanah ini sudah tercecer kemana-mana tanpa control menjadi agen yang kian hari hancur di rusak dan bakar tak berbekas di tujuh wilayah adat Papua. Faktanya, tanah tumbuhnya hutan bahan baku warisan budaya Papua dibabat tanpa pertimbangan untuk menanam kembali atau budi-daya lewat dinas kehutanan dan lingkungan hidup, tampaknya merestui kepunahan ragam budaya Papua. Otoritas Dewan Adat Papua dilemahkan menurut kepentingan Jakarta. Tanah ras Melanesia berupaya untuk klaim menggabungkan dengan pulau lain. Warisan leluhur tanah ini menuju di ambang kehancuran identitas jati-dirinya. Mereka selalu kalungkan noken ditubuhnya. Pihak tertentu tidak hargai justru curigai, adu-domba dan klaim kepentingan penuh rekayasa sejarah, ras, artefak hubungkan masa lampau seakan benar penuh rekayasa bias substansi. Penghuni tanah ini adalah mereka yang memiliki tarian, ukiran, pahatan dan kesenian serta kerajinan tangan masyarakat Papua. Keunikan dan kekhasan telah terajut dan teranyam kuat sebagai pemersatu penghuni tanah ini dari masa ke masa sampai kedepan. Merupakan warisan budaya takbenda yang menjadi potensi andalan manusia tanah ini. Pada Hari Ulang Tahun Noken ke-7 (tujuh) evaluasi posisi Noken Warisan Luhur Papua. Ternyata, setiap saat dirobek, dirusak dan dimusnakan dengan berbagai bentuk dan cara tanpa jaminan  negara  Indonesia  atas  Noken  Warisan  Budaya  Takbenda,  4  Desember  2012  kini  Rabu  4 Desember 2019.

 

Noken  adalah buah  talenta mama-mama Papua. Pada hari Selasa tanggal  4 Desember 2012 tercatat dalam sejarah warisan budaya dunia. Di Markas UNESCO Paris France. Komunitas kebudayaan dunia mengakui keringat mama-mama perajin noken rajut, noken anyam dan noken nyulam dari tanah Papua. Dibahas dan diakui menjadi warisan budaya takbenda yang terdaftar dalam “memerlukan pelindungan mendesak” karena Noken Papua sedang menuju Kepunahan.Tugas dan tanggung jawab negara Indonesia adalah menyelamatkan noken sesuai Konvensi 2003 tentang Perlindungan Warisan Budaya Takbenda, (Pasal 17). Fakta hari ini, warisan budaya Papua dan/atau warisan budaya dunia tidak ada  nilai  penting  oleh  aparat  Tentara  Nasional  Indonesia  (TNI)  dan  Kepolisian  Republik  Indonesia (Kapolri) ditanah Papua, atas nama “TNI Pelindung Rakyat” dan “Polisi Pengayom rakyat” telah melakukan hal sewenang-wenang untuk memeriksa dan mengambil sepihak atribut budaya Papua. Merupakan cara-cara manusia yang tidak berbudaya, beradat atas nama jabatan keamanan negara merampas atribut budaya lokal tanpa hargai kearifan sosial budaya lokal. Setiap tanggal 1 Desember selalu   menjadi   proyek   keamanan   (TNI/POLRI)   di   tanah   Papua.   Pada   hari   noken   ke-tujuh   ini menyampaikan Stop, Stop dan Stop merobek noken kehidupan tanpa melakukan rekayasa masalah satu ke masalah lain ditanah ini. Hargai Budaya Diri-Sendiri Tanpa Merusak dan Membakar Budaya Tanah Ini!

 

Dalam Nama Allah Bangsa Manusia Dunia dan Papua. Komitmen komunitas kebudayaan dunia tetapkan bahwa setiap tanggal penetapan warisan budaya takbenda menyambut untuk mengenang dengan merayakan hari warisan budaya takbenda, yaitu Noken.Pada hari ini merayakan hari ulang tahun yang ke-7 tahun.

 

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Papua Bisa

Baca Juga, Artikel Terkait