Indonesia Sendiri Yang Berjuang Memerdekakan Papua

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

28 Hari yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Peta Papua Foto : Ist

                                                               

                                                                     Oleh

                                                               Marius Goo

Keinginan Papua merdeka dipupuk bertahun-tahun. Dipupuk sejak tahun 1962 New York Agreement ketika Papua dipermainkan dari negara adi-kuasa demi meraup kekayaan rakyat Papua. PEPERA tahun 1969 merupakan satu bentuk diskriminasi terhadap rakyat Papua yang menguatkan perlawanan terhadap negara Indonesia atas sistem dan struktur yang menindas.

Keinginan rakyat Papua untuk merdeka sudah bertahun-tahun dan sudah lama. Keinginan itu mendarah daging dan tumbuh dalam peradaban dan pertumbuhan manusia Papua. Hampir semua manusia Papua telah mengetahui sejarah perjalanannya sebagai sebuah bangsa. Keinginan Papua merdeka sudah menjadi bagian dari hidup setiap manusia Papua di mana pun orang Papua berada. Menjadi orang Papua, sejak lahir telah membawa hak tentang kemerdekaan. Jadi entah secara langsung, entah tidak langsung, dari keberadaan dan kehadirannya di dunia ini secara tegas mengatakan “kemerdekaan Papua.” Hal ini terbukti bahwa dengan mengatakan kata “Papua”, orang Indonesia merasa tersinggung, apa lagi mengatakan “orang Papua” atau “Papua merdeka”. Artinya, dengan kehadiran dan keberadaan orang Papua di mana pun, secara tidak langsung menghadirkan keinginan kemerdekaan orang Papua. Apalagi kehadiran orang Papua dalam bentuk perkumpulan, atau rombongan. Orang Indonesia, paling kurang oleh militer Indonesia akan mencurigai keberadaannya. Bahkan keberadaannya dipolitisir bahwa orang Papua berkumpul untuk membicarakan kemerdekaan Papua. Artinya, yang menghidupkan kemerdekaan Papua bukan hanya orang Papua, namun terlebih orang Indonesia yang oleh orang Papua menganggap sebagai penjajah.

Barah Perjuangan Papua

Barah Perjuangan Papua ini bukan seketika terjadi diakhir-akhir ini pasca rasisme di Surabaya oleh oknum Ormas Reaksioner dan militer gabungan TNI/Polri tanggal 16-18 Agustus 2019. Melainkan sudah sejak tahun 1962 telah menyatakan sikap dari rakyat Papua untuk merdeka, yang secara gamblang membentuk kelompok-kelompok perjuangan karena merasa dirugikan pada tahun 1969 melalui PEPERA.

Keinginan rakyat Papua untuk merdeka terus dihidupi dan diteruskan dari generasi ke generasi hingga kini menjadi semacam bom yang meledak hampir di seluruh dunia. Barah kemerdekaan Papua saat ini sudah tidak dapat dipadamkan lagi. Semangat juang rakyat Papua makin menyala, apalagi orang Papua merasakan intimidasi lewat militer yang paling keji. Rakyat Papua merasa didiskriminasi dan merasa tidak ada tempat dalam NKRI. Karena itu melalui aneka cara dan bentuk memperjuangkan dan berusaha mempengaruhi PBB untuk menuntaskan problem Papua yang belum tuntas hingga kini. Kini masalah Papua sudah di meja PBB. Rakyat Papua merasa ada dukungan dunia dan merasa pintu kemerdekaan makin dekat. Karena itu, orang Papua bertekat kuat dan bersemangat lebih menuju dan mencapai kemerdekaan itu.

Pemerintah Indonesia Kurang  Peka

Barah perjuangan dan kemerdekaan rakyat Papua sudah di tangan PBB karena pemerintah Indonesia kurang peka. Artinya barahnya tak dapat dipadamkan lagi, karena itu tindakan pilihan apa yang diambil?

Pertama: permintaan maaf bukan lagi solusi. Pemerintah Indonesia sudah tidak bisa selesaikan masalah Papua dengan maaf-maafan, apalagi Indonesia adalah negara hukum. Artinya, Indonesia sudah terlambat untuk meminta maaf dan sudah tidak percaya dengan NKRI sekalipun negara mengakui kesalahan dan meminta maaf kepada rakyat Papua. Orang Papua merasa tidak ada masa depan bagi mereka dalam NKRI.

Kedua, Dialog Jakarta-Papua sudah terlambat. Dialog Jakarta dan Papua bukan saatnya lagi dan sudah tidak relevan bagi rakyat Papua. Rakyat Papua bukan saatnya berdialog dengan Indonesia untuk memadamkan barah perjuangan Papua. Dialog melalui militeristik selama ini makin menyuburkan barah perjuangan Papua.

Ketiga, Referendum bagi rakyat Papua. Referendum bagi rakyat Papua apakah masih relevan? Rasanya tak relevan lagi. Rakyat Papua tidak pantas lagi referendum karena pemerintah Indonesia tidak mau memberikan referendum bagi rakyat Papua untuk penentuan nasib sendiri. Nasib sendiri bagi rakyat Papua dihalangi pemerintah dan rasanya tidak relevan. Sebenarnya, penentuan nasib sendiri adalah salah satu cara meredam isu Papua merdeka di tingkat dunia namun hal ini tidak dilakukan. Pemerintah menjalankan cara lain untuk meredam barah perjuangan Papua, namun rasanya gagal dan bahkan makin menambah semangat juang dari rakyat Papua untuk berpisah dari Negara Indonesia.

Keempat, Papua merdeka. Karena pemerintah Indonesia sudah menutup bahkan meniadakan semua permintaan maka pintu kemerdekaan rakyat Papua adalah satu pilihan Indonesia sendiri. Kemerdekaan rakyat Papua bukan saja perjuangan Papua, melainkan pengakuan negara Indonesia sendiri karena permintaan rakyat Papua yang lain tidak diterima oleh negara Indonesia sendiri. Barah perjuangan kemerdekaan Papua sudah sampai pada tingkat kemerdekaan. Dialog, referendum dan Penentuan Nasib sendiri sudah dilewati dan ditinggalkan, bukan saja oleh rakyat Papua melainkan oleh Pemerintah Indonesia sendiri. Karena itu, perjuangan kemerdekaan rakyat Papua bukan saja diperjuangkan rakyat Papua, melainkan oleh pemerintah Indonesia sendiri. Jadi yang akan memerdekakan orang Papua bukan karena pertama-tama perjuangan rakyat Papua, melainkan juga oleh pemerintah Indonesia sendiri karena tidak peka.

 

Penulis tinggal di Malang

Baca Juga, Artikel Terkait