Intelektual Muda Nilai, Pernyataan Vennetia  Menyudutkan Orang Papua

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

4 Bulan yang lalu
NASIONAL

Tentang Penulis
Admin Redaksi Kabar Mapegaa Online
Tradisi KUR (seks bebas) yang dilakukan warga Papua bagian pegunungan jika mereka menang dalam sebuah peperangan dinilai melanggar Undang-undang. Foto Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan Vennetia R Dannes/iNews TV/Nathan M. (sumber: daerah.sindonews.com)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com-- Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) Deputi Bidang Perlindungan Perempuan, Vennetia R Dannes  diminta mempertanggungjawabkan pernyetaannya yang dilontarkan beberapa waktu  lalu kepada sindonews.com,   edisi Kamis (24 Mei 2018 - pukul  14:46 WIB) yang menyatakan "KUR adalah bahasa orang Papua bagian pengunungan, dan jika di terjemakan dalam bahasa Indonesia pesta Seks."

 

Pernyataan Vennetia dinilai mencemarkan nama baik warga Papua, karena hal yang disampaikan tersebut bertolak belakang dengan kenyataan atau kebiasaan masyarakat Papua, khususnya di Pengunungan Tengah Papua.

 

Menanggapi hal tersebut, Krismas Bagau, S.IP asal Intan Jaya, pengunungan tenah Papua meminta agar berita yang ditayang sindonews.com harus  diklarifikasi. Karena menurutnya berita tersebut meyudutkan orang Papua dan  isinya tidak menunjukkan fakta dengan data objektif.

 

Untuk itu, Krismas juga menanyakan pesata yang dimaksud Venneti. "Pesta perdamaian dengan bakar batu  atau pesta seks, Ibu Vennetia R. Dannes?"

 

Vennetia mengatakan (seks bebas) yang dilakukan warga Papua bagian pegunungan jika mereka menang dalam sebuah peperangan dinilai melanggar Undang-undang. Namun yang membidangi Perlindungan Hak Perempuan. Vennetia dalam tulisannya tidak menunjukkan  data objektif yang dilakukan oleh Tradisi KUR .

 

"Yang menjadi pertanyaan, apakah tradisi perdamaian dengan bakar batu yang dimaksud atau apa? Seperti dinyatakan bahwa:" Yang dilakukan warga Papua bagian pegunungan jika mereka menang dalam sebuah peperangan dinilai melanggar Undang-undang. KUR adalah bahasa orang Papua bagian pegunungan, dan jika diterjemahkan dalam bahasa Indonesia pesta seks," jelas Bagau dalam pernyataan singkat yang dibagikan lewat pesan WhatSAP yang diterima media ini, Rabu (20/6/2018).

 

Menurut Krismas pesta seks apa yang dimaksud oleh  Menteri Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (P3A) melalui Deputi Bidang Perlindungan Hak Perempuan, Vennetia R Dannes ini, tidak bisa hanya mengatakan sepekulasi yang berkaitan dengan salah satu kekerasan terhadap kaum perempuan dengan melakukan seks sebagai nagian dari perdamaian perang suku.

 

Katanya: "Ini bukan saja menyangkut kesalahan moral tetapi hal ini melanggar Undang-undang(UU)," ungkap Vennetia, Selasa  22 Mei 2018. Namun ia belum menunjukkan daerah mana. Papua itu luas dan dikali dua dari pulau Jawa.

 

"Namun menurut saya, pandangannya mungkin keliru bahwa setiap akhiri perang melakukan seks bebas adalah hal yang tidak masuk akal. Karena orang Papua setelah akhiri perang suku mereka melakukan tradisi bakar batu sebagai pesta perdamaian. Pesta perdamaian dengan bakar batu sering dilakukan oleh orang Gunung Papua pada umumnya," katanya.

 

Jika melihat fakta, lanjut Krismas, mengapa tidak menunjukkan  dalam tulisannya.  Bahwa kabupaten ini, suku ini dan daerah ini melakukan hal demikian. Yang terlihat dalam tulisannya hanya berita tidak objektif dan tidak bertanggungjawab. Jika fakta menunjukkan hal demikian mana tidaklanjutnya dengan aturan hukumnya.

 

Menurut Venne, Indonesia telah memiliki UU tindak pidana perdagangan moral, sekali ada barter atau pertukaran perempuan dan anak, itu masuk dalam pidana P3A. Lebih lanjutnya, ia mengatakanbahwa : "diselesaikan secara hukum dan Jika sudah sampai hal itu maka pelaku akan ditindak lanjuti dan dikenakan hukum," tegas Vennetia. Tetapi ia tdk menunjukkan daerah mana yang sedang melakukan seks bebas itu belum paparkan secara detail.

 

"Beritanya model ini mengiring presepsi orang Papua bahwa orang Papua selesai perang suku dengan melakukan seks. Jika orang papua, selesai perang, orang Papua selalu adakan pesta bakar batu sebagai bagian dari rekonsiliasi perdamaian. Orang Papua tidak pernah melakukan barter dan seks bebas untuk perdamaian," jelas Krismas.

 

Harapnya, jika memuat berita mustinya  klarifikasi terdahulu dan menunjukkan dari mana tempat, Suku, dan kabupaten. "Jangan hanya memuat berita hoax untuk mengklaim orang papua selalu berdamai dengan pendekatan seks bebas setelah perang suku. Musti menunjukkan dimana kejadian, kabupaten mana,  suku mana dan apa model perang sukunya seperti apa. Musti hal ini jelas."

 

Sementara itu, Yeremias Degei, salah satu Intelektual dari Pengunungan tengah Papua, wilayah Mepagoo megatakan saya asal dari pengunungan dan sampai saat ini hampir tiap bulan saya ada di pengunungan Papua. Tapi budaya sebagaimana yang di sampaikan oleh Ibu Deputi dari sebuah kementrian ini tidak perna saya temuai.

 

"Ia mesti menjelasakan pengunungan bagian mana dan suku apa, agar ia berurusan dengan suku yang bersangkutan, yang menurut saya, Ia rendahkan martabat orang Papua di publik," tulis  Yeremias dalam akun Fbnya.

 

 

(Admin/KM)

#Budaya

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait