ISTANA PASIR --Kisah Seorang Penderita HIV/AIDS, (Bagian Satu)

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

4 Bulan yang lalu
CERPEN

Tentang Penulis
Foto Istimewaa.

 

Tak seorang pun bercita-cita menjadi pekerja seks komersial, demikian pula dengan Anita. Ia tak berkuasa menolak sekaligus menempuh jalan hidup yang menjadi demikian rumit dan menyakiti. Ibu kandung yang dibakar cemburu, ayah tiri yang semena-mena, sahabat yang mengasihi, dan istri manager tempatnya bekerja yang dipanggang rasa dengki. Anita harus menyingkir dari semua kehidupan ini. Akan tetapi, ketika menerima tawaran pekerjaan lain, Anita terlambat menyadari, bahwa sesungguhnya ia telah menjadi penghuni tetap sebuah rumah hiburan. Sementara kota tempatnya tinggal dinyatakan sebagai wilayah dengan prevalensi tertinggi penderita HIV/AIDS. Hal itu berarti Anita termasuk ke dalam kelompok resiko penyebaran virus mematikan ini. Bagaimana kisah cintanya yang terlarang? Bagaimana ketika penyesalan selalu terlambat? Apa pesan terakhir ketika ia berada dalam keadaan kritis sebagai seorang penderita?

 

 

…..Jalan terjal berliku hanya memungkinkan untuk

membangun rumah boneka — istana pasir — bangunan

yang tampak “cantik”, namun sama rapuh dengan

rumah kardus, sehingga jilatan lidah ombak yang paling

kecil sekalipun sudah cukup untuk merobohkannya!

 

 

Dewanti, dokter muda berbakat itu

kembali melakukan rutinitas seperti

yang pernah terjadi pada hari-hari

lalu. Ia telah bersiap dengan blazer putih,

blouse warna serupa, dan rok span sebatas

lutut berwarna hitam seakan gelap malam.

Usianya telah menjelang tiga puluh lima

tahun, ia melakukan perawatan wajah secara

cermat, sehingga penampilanya tak banyak

berubah, bahkan setelah hampir sewindu ia

meninggalkan masa lajang. Dewanti biasa

terbangun pada pukul 05.00 WIT ketika

suara panggilan untuk mendirikan sholat

bergaung. Ia menetap sejak masa PTT,

sembilan tahun yang lalu pada sebuah kota

yang terletak di ujung sebelah timur wilayah

Republik. Hal itu berarti ia termasuk salah

seorang warga negara yang terbangun

lebih awal dari pada warga negara yang

menetap di wilayah lain di bagian tengah

atau di bagian barat. Di kota ini matahari

selalu lebih dulu terbit, sehingga kehidupan

masyarakatpun terjaga lebih awal, bahkan

ketika di wilayah lain sementara orang

tengah nyenyak berselubung mimpi.

Dokter itu mengawali seluruh hari

dengan sepenuh keyakinan, bahwa jarum

waktu yang telah berputar tak akan dapat

ditarik undur ke belakang, sebab itu ia

selalu mengambil manfaat yang terbaik bagi

datangnya hari ini. Ada begitu banyak hal

yang harus dikerjakan, ada begitu banyak

kesibukan, sehingga ia tak mempunyai cukup

waktu untuk berkeluh kesah atau menyesali

segala yang pernah terjadi. Ia meyakini

hukum alam yang telah berlaku secara baku

sejak awal masa purba, yaitu hukum tarik

menarik! Apabila seseorang menginginkan

hal-hal yang baik, maka kebaikan itu secara

langsung maupun tidak langung, sadar atau

tidak sadar akan tetarik dan masuk secara

pasti ke dalam hidupnya. Seluruh energi

akan tersalur untuk mencapai kebaikan itu,

sehingga keinginan akan hal-hal yang baik

itu tercapai sudah. ....................Diri manusia adalah

magnet yang dapat menarik segala hal baik

dan buruk atas dasar kendali.

Demikian, Dewanti melewatkan masa

muda dalam kendali diri yang pasti,

sehingga cita-cita sebagai seorang dokter

tergapai setelah melampaui kesulitan demi

kesulitan. Ia mengenal seorang teknisi yang

bekerja selaku konsultan jasa konstruksi

bangunan, menikah atas restu kedua orang

tua kemudian melahirkan dua anak, laki-

laki dan perempuan. Sebagaimana layaknya

perkawinan, gesekan dan kerikil tajam

selalu menjadi hambatan dalam kehidupan

sehari-hari. Akan tetapi, Dewanti tak mau

mengorbankan pekerjaan, karena urusan di

dalam rumah tangga. Suami adalah teman

hidup, bukan tempat bergantung, ia tak

akan menempatkan diri sebagai korban dari

budaya patriarkal. Ia adalah wanita yang

hidup di alam merdeka di alam kebebasan,

sekaligus yakin, bahwa hal terpenting dalam

hidup supaya ia dapat tetap berarti di tengah

orang banyak, adalah berkarya.

Dewanti memerlukan waktu sekitar lima

belas menit dari rumah menuju ke Klinik

Reproduksi Sehat tempatnya bekerja dengan

mengendarai mobil pribadi berwarna putih.

Sepeninggal dokter itu, maka suasana rumah

menjadi sunyi. Byan, sang suami telah

meninggalkan rumah pada pukul 06.30

WIT beserta kedua anaknya yang masih

belajar di TK dan Sekolah Dasar. Dewanti

perlu membereskan seisi rumah dibantu

seorang pelayan dari daerah transmigrasi

yang biasa kembali untuk menengok cucu

sebulan sekali. Setelah yakin tak ada yang

kurang dalam suasana di rumahnya dan ia

yakin pula, bahwa ketika kedua anaknya

kembali dari sekolah dalam keadaan lelah

akan mendapatkan kondisi rumah yang

nyaman, maka iapun bersiap dengan tugas

keseharian yang dicintai, yaitu pekerjaannya

sebagai dokter.

Jalanan kota tampak lengang, tata kota

secara keseluruhan berbentuk seakan jajaran

genjang dengan empat garis lurus yang

saling berhubungan sebagai jalan utama.

Tak ada tampak bukit, gunung atau dataran

yang lebih tinggi. Keseluruhan wajah

kota adalah bidang datar, kecuali sebuah

gundukan rendah menuju ke Pantai Lampu

Satu. Semula penampilan seisi kota tampak

seakan raut muka perawan yang bangun

kesiangan. Akan tetapi, kepala dan wakil

kepala daerah yang dipilih langsung oleh

DPR di era Reformasi telah melakukan

perubahan mendasar pada pembangunan

daerah secara totalitas, sehingga wajah kota

berubah menjadi cerah seakan roman gadis

belia menjelang malam pesta dansa.

Dokter itu mengemudikan mobil dengan

hati-hati, sebuah kijang produk terbaru yang

diberikan Byan pada ulang tahun ke tujuh

perkawinannya. Beberapa kali ia menyalakan

lampu dan membunyikan klakson ketika

berpapasan dengan teman kerja atau sahabat.

Ia harus mengerutkan kening ketika di tepi

jalan tampak gadis muda berpenampilan

selayaknya perempuan penghibur berdiri

menunggu taksi dengan tatapan mata yang

teramat liar. Ah! Siapa yang tak mengenal

kehidupan malam di kota ini? Kota yang

menjadi tempat persinggahan terakhir dari

rute penerbangan? Setelah menyentuh

landasan pacu, maka satu-satunya pesawat

dari maskapai penerbangan Merpati tak

akan lagi memiliki tujuan kecuali kembali

ke ibu kota provinsi untuk melanjutkan

penerbangan menuju ibu kota negara.

Kota di ujung timur ini terkenal dengan

Bar sebagai satu-satunya tempat hiburan,

telah menjadi rahasia umum, bahwa

alternatif bagi laki-laki berkantung tebal

untuk melewatkan saat-saat membosankan

adalah dengan berpesta pora bersama

para PSK di bawah remang cahaya lampu

rumah hiburan. Alhasil, kota ini menempati

prevelansi teritinggi bagi penderita HIV/

AIDS bila dibandingkan dengan jumlah

penduduknya. Tahun 1992 dua orang

penderita HIV ditemukan di kalangan

nelayan Thai Land dan PSK. Kasus ini terus

meningkat dari tahun ke tahun tanpa padang

bulu. Tragedi sebuah keluarga yang musnah,

karena terinfeksi HIV yang bermula dari

perilaku menyimpang sang suami menjadi

buah mulut dari tahun ke tahun. Akan tetapi

lambat laun, berita kematian masyarakat

dari bermacam kalangan, karena HIV/AIDS

akhirnya menjadi suatu hal yang biasa. Mati,

karena HIV bukan lagi berita baru, adalah hal

yang amat biasa!

Lokalisasi bahkan telah ditempatkan

pada sebuah posisi yang amat jauh dari

wilayah perkotaan dengan melewati padang

ilalang dan tanah pekuburan. Akan tetapi,

pengunjung tetap ramai berdatangan, bahkan

pada jam kerja dengan mengenakan pakaian

dinas pula. Kota ini tampaknya benar-benar

miskin tempat hiburan, sehingga masyarakat

tak mengenal takut untuk mengunjungi

lokalisasi. Semula khalayak mengira lokalisasi

adalah konsentrasi hunian layak tinggal

dengan suasana alam yang menantang

untuk berwisata. Ternyata perkiraan itu jauh

dari kenyataan yang ada. Lokalisasi adalah

sekumpulan rumah panggung dengan bahan

dasar kayu yang berdiri saling berhadapan.

Sebatang jembatan kayu dengan lima buah

papan terpaku secara beraturan sebagai

satu-satunya jalan utama di tempat itu. Di

dalam rumah-rumah panggung itu para

PSK menempati kamar sempit, berukuran 2

x 2 meter dengan penerangan bolam lampu

10 watt. Sebuah tempat tidur mini, sebuah

almari kecil, dan sebuah meja selalu ada di

dalam setiap kamar. Di atas meja terdapat

seperangkat perlengkapan kosmetik, foto

diri, kondom, dan beberapa botol minuman

beralkohol.

Seorang mami bertindak selaku manager

pada setiap rumah, mami tidak boleh

berlaku seperti halnya PSK, melayani tamu.

Ia mengontrol kinerja para PSK, memberi

teguran apabila PSK bertindak di luar jalur

yang telah ditentukan. Lokalisasi tak pernah

sunyi dari hari ke hari, dari malam ke malam.

Semula para pengunjung menghibur diri

dengan bermain bilyard, para PSK duduk

di teras rumah dengan penampilan paling

menantang yang bisa dilakukan. Selanjutnya

transaksi seks terjadi. Pengguna jasa PSK

selalu menolak menggunakan kondom pada

saat transaksi, PSK kehilangan segala daya

untuk melindungi diri dari infeksi penyakit

menular. Maka HIV/AIDS menyebarlah!

Dewanti membelokkan kemudi, mobil

yang dikendarai bergerak memasuki

halaman klinik Reproduksi Sehat. Bangunan

ini seluruhnya bercat putih, posisi tepat

di sebelah kiri Rumah Sakit Daerah, ada

sebuah jalan setapak yang menjadi tempat

lalu lalang dari Rumah Sakit Induk menuju

ke Klinik tempat dokter muda itu bekerja.

Dewanti memarkir mobil di bawah rimbun

dedaunan pohon mangga, ia mematikan

mesin, mengatupkan sekaligus mengunci

pintu mobil kemudian bergegas menuju

ruang tempatnya bekerja. Beberapa pegawai

dan pekerja sosial di bidang penanggulangan

HIV/AIDS berpapasan dan segera tersenyum

ramah dengan ucapan salam. “Selamat

pagi”.

Dokter wanita itu merogoh saku tas

kerja, mendapatkan anak kunci dengan

gantungan minatur gajah dari bahan logam

berwarna keemasan. Ia mendapatkan dari

seorang rekan sepulang dari konferensi

tentang HIH/AIDS dan Gender di Thai

Land. Terdengar suara gemerincing diiringi

anak kunci berputar, sedetik kemudian daun

pintu itupun terkuak. Dewanti mendapati

kembali ruangan kerja dalam keadaan bersih

dan teratur sama persis dengan situasi hari

kemarin ketika ia meninggalkan ruangan ini.

Di dalam ruangan itu terdapat sebuah meja

kerja satu biro merek Olimpyc, kursi putar

ET 171 dengan sandaran tinggi, almari kayu

dengan buatan yang sangat halus dengan

relung yang dipenuhi buku, seperangkat sofa

berwarna putih serupa dengan korden dan

cat dinding. Pada sekitar bulan November

hingga Januari ketika matahari berada

di garis balik selatan, udara akan terasa

menyengat, ruangan ini akan berubah

seakan oven, karena udara yang membakar.

Akan tetapi pada sekitar bulan Juni hingga

Agustus ketika matahari berada di garis

balik utara, salju berguguran di Australia,

maka udara dingin akan menghembus dan

menggigit pori-pori. Sementara anak muda

berkomentar, bahwa pada bulan-bulan itu

udara akan berubah seakan kulkas jebol.

Pada pagi hari sinar surya tampak sebagai

cahaya yang teramat pucat sementara udara

beku terus menghembus, menyebabkan

sesiapapun orangnya menjadi malas untuk

beranjak dari tempat tidur.

Saat ini penanggalan telah memasuki

minggu terakhir di bulan Juli, udara menjadi

jahat dalam dingin yang menyayat. Dewanti

berlindung di balik blazer dan pakaian dari

kain yang lebih tebal. Ia tak perlu menyalakan

mesin pendingin, untuk beberapa lama alat

elektronik itu harus berhenti bekerja. Dokter

itu membuka jendela, menyibakkan korden,

ia dapat menyaksikan sebuah taman mungil

dan kolam ikan yang terletak tepat pada

halaman bagian belakang kantor. Bangunan

ini berbentuk leter U dengan koridor pada

bagian dalam bangunan. Ada beberapa

ruangan di dalam bangunan ini, yaitu aula

dengan kapasitas 50 orang, laboratorium,

ruang kepala, sekretaris, tenaga medis,

ruang staf, perpustakaan, dapur serta ruang

makan.

Setelah membiarkan udara segar

bebas masuk ke dalam ruangan Dewanti

menempatkan diri di belakang meja. Ia

membuka kembali catatan dan terpekur, hasil

pemeriksaan pada kelompok prostitusi liar

yang mendiami lima buah “hotel terapung”

yang terletak tepat di belakang klinik

ini benar-benar menjadi laporan yang

mengerikan. Dari fluktuasi 25 PSK yang

tinggal, tiga di antarnya telah dinyatakan

positif HIV, dua orang telah meninggal,

karena AIDS, satu orang tengah menunggu

hari. Kehadiran para pengguna jasa PSK tanpa

memahami betapa berbahayanya penyakit ini

telah menyebabkan infeksi terus menyebar,

seorang pemuda PNS meninggal, korban

lain menunggu. Dewanti memejamkan mata.

Ia dan rekan-rekan sejawat lainnya bukan

hanya berhadapan dengan suatu bahaya

yang disebut dengan ancaman prostitusi,

akan tetapi dengan akumulasi persoalan

hidup yang sangat komplek. Prostitusi

hanya salah satu dari mata rantai yang

berpotensi dalam menyebarkan penyakit

mematikan ini. Tampaknya penanggulangan

HIV/AIDS bukan semata-mata tanggung

jawab dokter, akan tetapi seluruh komponen

masyarakat, khususnya para pemimpin

yang berwenang secara mutlak dalam

pengambilan keputusan.

Dokter itu tersentak ketika tiba-tiba

terdengar suara ketukan di pintu, “Masuk”,

suaranya halus namun tegas. Sedetik

kemudian di depan pintu telah berdiri

sesosok tubuh wanita dalam balutan T shirt

warna merah ketat dengan celana jeans batas

lutut yang tak kalah ketat dengan pakaian

di atasnya. Sepasang sepatu warna menyala

berhak tinggi membalut sepasang kaki yang

jenjang. Wajah wanita muda itu tentulah

amat menarik, andai sepasang matanya

yang pucat dan roman mukanya yang pias

dapat berubah menjadi binar kegembiraan.

Akan tetapi, sebuah hal yang bernama

kegembiraan untuk sementara ini ternyata

menjadi barang yang sangat langka, bahkan

tak terjangkau.

“Kau Anita, mari duduk”, dokter itu

mempersilakan tamunya duduk, iapun

menutup catatannya.

“Selamat pagi dokter, maaf saya

mengganggu”, suara itu terdengar lirih dan

parau, amat berbeda dengan penampilan dan

rias wajah yang dipenuhi goresan bedak tebal

dan gincu merah membara serta perhiasan

emas yang bergelantungan seakan ramai

suasana pasar malam. Tampaknya wanita itu

tengah berusaha untuk tampil dalam sikap

cemerlang, akan tetapi gagal. Penampilan

badaniah sama sekali tidak memantulkan

keadaan jiwa yang gundah gulana.

“Mari duduk, apa kabarmu?”

“Seperti yang dokter lihat, saya merasa

tidak sehat, cepat merasa lelah. Seminggu

yang lalu seorang rekan saya meninggal

setelah dinyatakan positif HIV. Apakah saya

akan menyusul? Apakah sampel darah saya

juga termasuk yang positif HIV dokter?”

“Saya baru memeriksa laporan hasil

pemeriksaan sampel darah pada kalangan

PSK yang menetap di belakang rumah sakit

ini. Saya belum memeriksa hasil laporan

pemeriksaan darah di bar tempatmu bekerja.

Apa yang kau cemaskan?”

“Saya mencemaskan banyak hal dokter.

Adalah suatu hal yang amat baik, bahwa

manusia tidak pernah mengerti kapan ajal

akan datang, tetapi penderita yang telah

dinyatakan positif HIV harus mengerti.

Bukankah hal itu menakutkan?”

Jawaban itu membuat Dewanti terdiam,

kalangan PSK berhak merasa cemas terhadap

nasib yang dijalaninya. HIV adalah ancaman

mengerikan, bukankah naluri paling kuat di

dalam diri seorang manusia adalah strategi

pertahanan hidup? Strategi apa yang akan

dilakukan seorang PSK ketika tahu, dirinya

terinfeksi HIV? “Anita, kau memilih profesi

yang penuh resiko”.

“Saya tidak punya pilihan dokter, tak

ada yang dapat saya lakukan untuk bertahan

hidup kecuali dengan menjual diri. Saya

sadar akan resiko yang harus hadapi, jadi

saya mohon dokter tidak berkeberatan untuk

menyampaikan hasil pemeriksaan darah

saya”.

Dewanti kembali terdiam, ia perlu

menimbang beberapa lama sebelum akhirnya

memutuskan untuk menekan tombol

intercome dan memanggil nama seseorang.

“Pak Esko, tolong antar ke ruangan saya hasil

pemeriksaan darah yang terakhir, terima

kasih”.

“Baik dokter”, terdengar jawaban

dari dalam intercome. Tak berapa lama

kemudian daun pintu diketuk, sesosok laki-

laki berumur dengan rambut dan alis mata

memutih menampakkan diri di tangannya

tergenggam selembar map bermotif batik,

kolaborasi antara warna kuning dan coklat.

Laki-laki itu tampak demikian tua, akan

tetapi ketekunan dalam bekerja teramat

mengagumkan. Ia telah melewatkan masa

muda sebagai tenaga medis di tempat-

tempat terpencil, ia memahami hasil dari

jerih payah dan segala dedikasinya. Maka di

masa tuanya, ia tetap memiliki sebuah posisi

yang menuntut kemampuannya untuk tetap

aktif bekerja. Paramedis itu meletakkan map

batik dengan sangat hati-hati di atas meja

kemudian mengangguk pergi.

Dewanti menimang-nimang map itu, ia

tahu di dalamnya terdapat selembar kertas

yang sekaligus menjadi vonis mati bagi

pasien di depannya. Ia sudah terlalu sering

dan teramat ahli dalam melakukan tugas-

tugas semacam ini. Sikapnya tetap dingin dan

terkontrol, tetapi diam-diam hatinya mulai

gelisah, ia turut andil dalam menentukan

hidup matinya orang lain. Dewanti harus

menyadari, bahwa kemampuannya sebagai

seorang dokter untuk kesekian kali tengah

diuji.

“Apa yang akan kau lakukan, bila akhirnya

terjadi kemungkinan paling buruk, hasil tes

ini adalah positif?” Dewanti menatap wajah

pasien di depannya dalam-dalam, seolah ia

ingin menjenguk isi hati wanita itu.

“Hal yang pertama, saya berhak tahu,

karena saya pernah merelakan darah

sebagai sampel. Hal kedua, saya harus

mempersiapkan segala sesuatu bila maut

memang telah dekat. Setidaknya saya dapat

mempersiapkan liang bagi jenazah saya”.

“Baik, kalau itu jawabanmu. Tetapi

sebagai dokter saya harus berpesan, bahwa

hal pertama yang harus dilakukan seorang

penderita HIV adalah tidak menularkan

penyakit kepada orang lain. Kedua, ada

penderita HIV yang dapat bertahan hidup

hingga 18 tahun, karena ia menjalani

hidup secara wajar. Ia bekerja, makan, dan

beristirahat dengan seimbang, menikmati

hidup sama seperti ketika ia belum terinfeksi.

Sikap hidup semacam ini amat membantu

penderita, ini pesanku”.

“Saya akan selalu mengingat pesan

dokter”.

Dewanti membuka map, memeriksa

hasil tes dari sebuah mesin bernama Elissa

seharga hampir setengah milliar. Ia membaca

dengan teliti, mencocokkan nama dan hasil

yang keluar dalam bentuk print out. Dokter

itu merasa seakan letusan gunung berapi

menggelegar dengan semburan larva pijar

mengguncang isi dada. Ia mencoba bersikap

tenang, meski diam-diam lututnya gemetar.

Kemampuannya sebagai seorang penyembuh

tampaknya tengah dipertaruhkan, ia

harus membesarkan hati seorang pasien,

seorang PSK yang telah menerima vonis

bagi kematiannya. Hasil tes darah Anita,

menyatakan PSK itu positif terinfeksi HIV.

Tiba-tiba Dewanti merasa tenggorokannya

terbakar, ia memerlukan segelas air. Dokter

itupun beranjak menuju sebuah rak, meraih

dua gelas kristal bertangkai sekaligus

kemudian meraih pula sebotol air mineral

berukuran satu liter. Ia menuang air ke dalam

dua gelas kemudian meneguknya, sekejap

dokter itu merasa lebih nyaman. Ia tak punya

pilihan terhadap tuntutan sang pasien, Anita

berhak tahu nasib dirinya.

“Baik Anita, seperti yang sudah saya

katakan, bahwa hal terpenting yang harus

dilakukan seorang penderita HIV adalah

tidak menularkan penyakit kepada yang

lain. Hal kedua, menjalani hidup secara

wajar dengan aktivitas, gizi, dan isirahat

yang seimbang. Siapapun berhak tahu akan

nasib dirinya, ini permintaanmu, ini hakmu.

Kuatkan hatimu, tes darahmu positif, kau

telah terinfeksi HIV”, Dewanti mengira

ia akan segera dikejutkan oleh sebuah

teriakan menakutkan atau tangis memecah

atau sebuah atraksi sempurna dari seorang

pemain teater di atas panggung kelas dunia.

Ternyata perkiraan itu keliru, wanita di

depannya tak bereaksi. Anita diam, wajahnya

memang berubah menjadi semakin pucat,

akan tetapi expresi itu justru menampakkan

sebuah daya tarik yang demikian kuat.

Alangkah cantiknya wanita ini, seandainya

ia bukan seorang PSK, seandainya ia tidak

terinfeksi HIV.

Di pihak lain Anita segera merasakan

sebuah tikaman telak tepat di ulu hati,

ia tahu apa arti hukuman mati, usianya

bahkan belum tiga puluh tahun. Kemudaan

dan kecantikan telah membuat sekian

banyak tamu tergila-gila, setiap malam

berlalu ia tak pernah sepi dari kehadiran

tamu. Mereka menunggu secara bergiliran,

bahkan terkadang berselisih dan baku

hantam. Ia mendapatkan bayaran yang

sangat mahal, ia mampu mengumpulkan

pembayaran itu menjadi sejumlah modal.

Ia telah memiliki cita-cita suatu saat akan

menyelamatkan diri dari kubangan lumpur

ini, memiliki sumber mata pencaharian

baru dan mengubur kehidupan PSK sebagai

masa lalu. Akan tetapi, rencana itu kini

tinggal rencana, ia terlambat mengubah

jalan hidup. Hari-hari hanya tinggal sisa

sebelum akhirnya tertanggal seakan daun

kering dan gugur entah kemana. Apa

yang akan dikerjakan pada sisa hidup

dalam keadaan tanpa daya. Anita tak sadar

ketika sepasang matanya menjadi basah.

Siapakah diri sebenarnya? Manusia selalu

sebagai hasil dari sebuah situasi, ia adalah

produk dari situasi yang paling buruk. Anita

memandang dokter muda di depannya,

mereka demikian dekat dan hubungan

mereka memang benar-benar dekat. Dokter

Dewanti bukan menganggapnya sebagai

pasien semata-mata atau ia adalah seorang

pasien istimewa, pasien yang bisa berkeluh

kesah berlama-lama dengan sang dokter. Ia

dapat merasakan keramahan dan ketulusan

hati dokter Dewanti, ia bersyukur dapat

mengenal wanita ini di saat-saat yang

paling kritis dan mengerikan. Anita dapat

merasakan tatapan lembut dari dokter itu, ia

tak seorang diri dalam menerima hukuman

mati, ada seorang pelindung.

Akan tetapi, tiba-tiba Anita merasa

demikian asing, ia merasa terlalu kerdil untuk

sekedar duduk berhadapan dengan seorang

dokter. Mereka sama-sama wanita, sama-

sama memiliki kecantikan di masa muda.

Namun, Dewanti adalah seorang dokter,

wanita masa kini memiliki kemampuan

setara dengan seorang laki-laki. Seorang

yang telah mampu mencapai suatu hal yang

disebut dengan kesetaraan gender, seorang

yang mampu keluar sebagai pemenang

dalam setiap persoalan, menggapapi cita-

cita, merebut posisi kuat dalam kehidupan

masyarakat. Dewanti seorang wanita yang

beruntung, dokter yang sukses, memiliki

harapan hidup tinggi. Ia seorang pejuang

dalam rangka penanggulangan HIV/

AIDS di tempat ini, masyarakat mengakui

kegigihannya.

Akhirnya, Anita harus melihat dirinya

sendiri, ia adalah sesosok pribadi, korban

dari sebuah tragedi. Adakah orang yang

dapat memahami liku-liku hidup jalan yang

harus ditempuh, sehingga akhirnya ia harus

mendapatkan selembar kartu mati yang

bernama pernyataan positif mengidap HIV/

AIDS. Apakah liku-liku hidup yang harus

dilalui dokter Dewanti sama dengan liku

hidup yang harus dilalui? Pasti tidak! Tak

mungkin seorang wanita yang dibesarkan

dalam keluarga baik-baik, dalam lingkungan

baik-baik harus bertaruh hidup dengan

berkubang lumpur seperti yang terjadi

pada dirinya. Anita harus kembali menoleh,

harus kembali mengingat jalan hidup yang

dipenuhi tragedi, ia merasakan kembali

pedih perih dan kegetiran demi kegetiran

yang harus ditelan tanpa kenal ampun.

Tanpa sadar mata Anita menjadi basah.

Menangis adalah ekspresi dari PSK itu

dalam bereaksi dengan hasil tes darah yang

sengaja ingin ia ketahui. Sungguhpun ia

telah siap dengan kemungkinan yang paling

buruk, akan tetapi ketika kemungkinan itu

benar-benar terjadi, ia menjadi sedemikian

terguncang dan tak dapat membendung

emosi. Anita segera merasakan tangan halus

menyentuhnya, ia tahu dokter itu tetap

memberikan simpati, Dewanti tak merasa

takut menyentuh tangan seorang penderita

HIV, karena penyakit ini tak menular melalui

sentuhan.

“Manusia bisa berharap tentang sesuatu,

tetapi takdir ada yang mengatur, kita

hanyalah pelaku”, Dewanti menghibur.

“Waktu kecil saya pernah bercita-cita

menjadi seorang dokter, tetapi takdir saya

ternyata menjadi seorang pelacur. Saya

tak menginginkan semua ini, andai saya

memiliki keluarga dan lingkungan seperti

dokter, saya tak akan datang ke mari untuk

mengemis sebuah pernyataan yang berisi

hukuman mati”, air mata Anita kembali

berlinang-linang, ia merasakan sakit sungguh.

Ia telah kenyang dengan perasaan yang

disebut dengan kesakitan, ia telah mati rasa

dengan segala tragedi hidup. Kini, di akhir

tragedi yang paling menakutkan, tanggul

pertahanannya bobol, ia mesti terisak-isak

di hadapan seorang dokter.

“Apa yang pernah terjadi dengan

dirimu?” pertanyaan itu terlontar dari

mulut Dewanti secara refleks, dokter itu

tiba-tiba perlu menyingkap sebuah tirai

yang menyelubungi tabir hidup Anita, tabir

hidup seorang PSK. Bukankah menjadi PSK

adalah akibat dari suatu sebab? Sebab yang

teramat panjang!

“Apa yang pernah terjadi dalam hidup saya?”

Anita bertanya pada dirinya sendiri.

Ia menatap wajah dokter itu lekat-lekat, ia

tahu wanita itu tak pernah ragu dengan

pasiennya, ia selalu peduli, sekalipun

pasiennya seorang PSK. Anita menyusut

air mata, pandanganya menerawang jauh,

menembus dinding ruangan, menuju lapisan

waktu yang telah membeku dan berubah

menjadi masa lalu. Masa yang mengantarnya

hingga hari ini, sehingga ia harus bersiap

menuju alam kematian pada usia yang sangat

muda.

Ketika bibir terpoles gincu merah darah

itu mulai bergerak, mengucap kata-kata,

menyusun sebuah rangkaian cerita. Dewanti

terpana, ia seakan menembus kembali lorong

waktu, ia tersedot ke dalam ketegangan film

tiga dimensi, iapun terguncang ke dalam

tragedi demi tragedi. Mata dokter itu terus

menatap pasien di depannya tanpa berkedip.

Tanpa berkedip!

 

 ***

Artikel ini sebelumnya ditayang di https://newlinggasaridewi.blogspot.com

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait