Isu Pemekaran dan Angket Terselubung

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
penulis: Agustinus Kadepa/KM

 

Oleh Agustinus Kadepa, S.T

OPINI KABARMAPEGAA.COM--Fenomena perubahan memiliki alasan sendiri tentunya agak sulit untuk menterjemahkan oleh para pelaku dan pengkonsumsi perubahan tersebut secara efektif dan progresif dari menit ke menit.

 

Manusia milenum berkewajiban dan bertanggung jawab atas pembiaraan fenomena perubahan (global changing). Tentu perubahan tersebut lahir dari hati nurani dan lakunya pada ruang dan waktu bersama hidup manusia. Tingkatan perubahan tersebut dia tidak memihak kepada siapapun dan kapanpun hanya saja yang jadi pertanyaan adalah apakah kita siap atau tidak menjempt dan hidup bersama perubahan itu??  Jika tidak maka mau dan tidak mau nyawa kita sedang terancam punah.

 

Ya, kita tahu benar perubahan itu dikendalikan oleh manusia. Namun perubahan itu memiliki tingkatan perubahan yang sangat berlipat ganda dari hari ke hari dan sudah mengeras bersama waktu. Kini menjadi lokasi Korban perubahan adalah Papua dan lebih khusus di Wilayah Meepago.

 

Melihat Kabupaten wilayah Meepago dari berbagi fenomena alam dan manusia kesimpulannya adalah tidak menjawab pembangunan yang sesungguhnya yakni memanusiakan manusia yang tidak manusiawi.

 

Ancaman perubahan tersebut bermekar dan bertumbuh subur sehingga lahirlah black Morality Moral yang saling mengorbankan sesama orang Mee atas Kolusi Korupsi dan Nepotisme (KKN) yang semakin membesi di watak intelektual orang Mee. Dengan Demikian lahirlah teori local yang sangat crusial dan membunuh karakter bangsa Orang Mee.

 

Dampak serius dan terus menerus di rasakan mulai dari akar rumput hingga sel-sel manusia tidak menyatukan pendapat. Teori Local yakni “orang lumpuh suruh Berjalan Kaki, Orang Buta suruh Melihat, Orang Tuli suruh mendengarkan dan orang gila suruh menjadi manusia normal tidak ada santunan sama sekali tidak.” Kekagetan menimpa alam semesta. Manusia di atas semua mendapatkan predikat yang sama seperti manusia normal adanya. Tidak menghargai kehidupan alaminya artinya tidak ditempatkan pada tempat yang selayaknya dia huni.

 

Ilustrasi yang sangat kencan dan terkutuk itu bertumbuh subur di kalangan masyarakat lokal dan di nikmati secara kontinyu dan meresap dalam waktu yang singkat dan terstruktur penyebarannya. disitu lahan tindakan anarkis berdinamika dan bereaksi spontan. Dengan demikian dapat disimpulka bahwa nilai transfer moral intelektual Mepagoo rata-rata tidak terjangkau "sama sekali tidak ada" adapun juga tetapi ada motifasi tersembunyi yang sekiranya merugikan orang Mee sendiri.

 

Wilayah administrasi pemerintahan Indoneisa sampai kini tidak tinggal diam, dia terus saja membuka lahan baru administrasi dengan alasan membuka akses pelayanan pemerintah ke masyarakat agar tersentuh pembangunan fisik maupun non fisik.

 

Peredaraan program negara semakin hari, semakin meyakinkan masyarakat lebih khusus wilayah Adat Meepago. Tentunya dalam program tersebut masyarakat di libatkan dengan atasnamakan "kesejahteraan masyarakat."

 

Sesuatu yang sangat membahayakan adalah fokus dan terdokrinasi dengan penyediaan program kemudian menjadi lahan konflik antar golongan masyakarat. Hal ini saya pribadi berkeliling di beberapa kampung wilayah Dogiyai dan pengalaman tersebut menjadi pemicu menuliskan persoalan konflik batin dan fisik hampir semua masyarakat mengalaminya. Disamping itu ketergantungan yang tadinya usaha sendiri sekarang bergantung pada seseorang atau pemerintah sebagai penyedia kebutuhan primer (makan minum).

Pemekaran wilayah administrasi dalam kondisi lokal yang menyakitkan, dianjurkan pemantapan intelektual dan moralitas yang mapan tidak hanya menyandang gelar di berbagai perguruan tinggi. Saking baik intelektualitas dan moral tindakan aksi nyata pun akan mengikuti kemampuannya untuk mengatur apa yang rencanakan. Tentu kalo tidak maka akibatnya pun akan dirasakan oleh para penikmat pembangunan generasi selanjutnya. Saya bersikap jelas bahwa Kabupaten- Kabupaten wilayah Meepagoo gagal dalam pembangunan yang memanusiakan manusia dari gencatan sikap arogansi adikuasa. Kemudian lahirlah perluasan konflik sosial yang amat merugikan generasi penerus Pribumi Papua. Entah mau mekar atau tidak sampai detik ini kita sedang di Ambang kepunaan.

 

Pesan

1. Perbaiki intelektualitas yang sewajar-wajarnya.

2. Perbaiki moral untuk memanusiakan manusia lain.

 

Bukan gong-gong minta pemekaran Kabupaten dan gong-gong tidak di mekarkan Kabupaten. Biar yang tersisa dapat dapat hirup udara segar di atas tanahnya sendiri (KM).

 

Di ruang kebisuan. Kalibobo (02/10/2018) Nabire Papua.

Baca Juga, Artikel Terkait