Janji Cinta Kini Menjadi Jejak Darah

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

28 Hari yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
 Eman Muyapa, Pelajar siswi Papua.

 


Oleh  Eman Muyapa

OPINI, KABARMAPEGAA.COM--Saya bukan orang yang punya suatu otoritas untuk menembus langit dalam memecahkan persoalan-persoalan papua yang menjadi makanan keseharian orang papua, tetapi yang membuat saya berani untuk menulis adalah fakta-fakta yang real yang bisa diakui oleh para penggemar membaca.

 

 Jujur dalam dunia ini banyak trauma salalu menimpah pada kaum yang lemah tetapi apa salahnya kalau kita anak pribumi papua mengangkat pena untuk menyiratkan isi hati kita dalam upayah memperkaya diri kita dan menolak ketidak adilan yang diciptakan oleh pihak kedua di papua.



Papua memiliki kekayaan alam yang mengaruhkan dan papua itu sendiri juga dihuni oleh beragam suku dan etnis. Makin kesini papua sudah tidak menjadi pedoman hidup bagi orang pribuminya karena di tumpangi dengan darah dalam perselisihan waktu yang terjangkau pendek.


Perjanjian New Agreement dibuat suatu momentum yang dipandang sebagai alternatif oleh para kapitalis dan elit kepentingan. John F Keneddy dan beberapa elit Indonesia membuat New Agreement dengan melandasi suatu bentuk atau upayah untuk mensejahtrakan rakyat papua bahkan dinyatakan penuh Indonesia memiliki kedaulatan atas negeri papua.

 

New Agreement dibuat pada 1 Mei 1963, namun makin kesini terasa tidak ada ruang yang dikosongkan untuk memuai keadilan di tanah papua. Ungkapan cinta masih tersirat dalam benak cendarawasih namun kini cinta menjadi cerita jejak darah. Papua dilandai oleh pelanggaran Hak asasi manusia (HAM), Penindasan, bahkan tragedi menjadi subur terus bertumbuh entah harus bagaimana papua harus tanggung luka.


Dua data pelanggaran HAM brutal yang dapat dikumpulkan tidak lama ini sebagai berikut :


1. TNI/POLRI telah menembak, Matias Soo, mahasiswa semester 7, Fakultas Ilmu Pendidikan Universitas Cenderawasih pada 27 oktober 2020.


2. Pelaku yang menembak Agustinus Duwitau (23) Katekis (pewarta) muda di State Emondi, Paroki Bilogai, Keuskupan Timika pada 7 Oktober 2020 adalah anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) non organik dari satuan Yonif Raider 400/Brawijaya dari bandara Bilogai, Sugapa, Intan Jaya, Papua. https://suarapapua.com/2020/07/27/oknum-pelaku-penembak-dua-warga-sipil-di-nduga-diminta-diberhentikan/ dll.


Banyak orang bersuara demi keadilan tetapi banyak juga yang main lelucon dan biarkan tanpa disadari persaudaraan yang masih menari diantara orang asli papua (OAP).

 

Melihat kondisi yang makin kesini terasa tidak teratur dan tidak terorganisir Indonesia masih mengakui dirinya mencintai papua padahal ketidakadilan masih dijadikan sebagai sahabat penolongnya untuk menghabisi orang papua.

 

Saya bicara mengenai cinta palsu yang salalu diberi oleh Jakarta karena banyak keterbelakangan juga banyak pelanggaran HAM yang masih dipiaharanya.
Sebentar lagi membuat jejak darah, besok, lusa dan seterusnya.

 

Harus kemana orang paua? Apakah ke Jakarta untuk hidup sebagai pribumi ataukah ke negeri lain? Kau tahu papua itu memiliki keunikan yang luar biasa sehingga mendekatinya untuk hidup layak pribumi tetapi disamping kehadiran mu banyak tragedi yang anda simpan.



Konklusi:  Ko papua sa papua, mari kita lawan ketidak adilan dengan cara yang TUHAN kehendaki. Kita akan mengalahkan setiap bangsa sebab kita sudah landasi TUHAN sebagai basis dari segalanya. Terima tawaran cinta instan juga terima tawaran jejak darah!

Penulis adalah salah satu siswa di Papua

 

Baca Juga, Artikel Terkait