Jubir KNPB Teluk  Cendrawasih Nabire: kepulangan mahasiswa luar Papua jelas karena diintimidasi

Cinque Terre
Manfred Kudiai

1 Bulan yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Ilustrasi Logo Komite Nasional Papua Barat. Ist

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com--Ribuan mahasiswa Papua yang sedang menempuh studi di luar Papua memilih pulang. Kepulangan mahasiswa tersebut dinilai karena mereka mendapat intimidasi oleh aparat di setiap asrama maupun Kos-kosan. Menanggapi kepulangan mahasiswa tersebut, Juru Bicara Komite Nasional papua Barat (KNPB) Teluk Cendrawasih Nabire, Papua angkat bicara.

 

Jubir  KNPB Teluk Cendrawasih, Deserius Goo kepada kabar mapegaa.com mengatakan pemulangan mahasiswa/i dan pelajar di Nabire sudah jelas karena di intimidasi dan di teror di asrama-asrama dan kontrakan-kontrakan bahkan di kos-kos.

 

Untuk itu, pihaknya mengajak kepada pemerintah, toko agama, kepala suku, pemuda, Alumni se - Jawa Bali dan Sulawesi, mahasiswa Uswim, Mahasiswa STT dan Rektornya. Yang ada di Nabire diminta untuk jelih dalam melihat persoalan ini.

 

“Mereka tidak aman sama sekali di kota study mereka di luar papua. Ini dilakukan setelah adalah penghinaan rasis yang dilakukan oleh Ormas Reaksioner bentukan militer dan militer itu sendiri di surabaya, malang, semarang, makasar, manado dan beberapa kota lainnya di luar west Papua,” jelas Deserius Goo saat dihubungi kabarmapegaa.com, Senin (16/9/2019).

 

Goo menjelaskan, Intimidasi, teror dan pengintaian militer bersama antik-antiknya terhadap mahasiswa  papua di luar West Papua adalah bentuk penindasan dari sekian penindasan militer Indonesia di West Papua.

 

“Wajar jika Indinesia adalah penjajah di mata orang West Papua saat ini. Penindasan Indonesia terhadap orang Papua, diskriminasi, teror, rasis dan lainnya akan terus berlanjut selama Indonesia masih menduduki dan menjajah West Papua,” katanya.

 

Sudah puluhan bahkan ratusan mahasiswa/i dan pelajar yang sudah ada di Nabire, wilayah Meepago West Papua. “Mereka jelas telah diusir dan di teror oleh militer dan mengintai aktivitas mereka di kampus-kampus maupun sekolah-sekolah di luar papua yakni Indonesia. Akibatnya, maka mahasiswa trauma dan memilih pulang dari kota study mereka masing-masing. Apa yang akan mereka lakukan setelah pulang? Apapun yang mereka laksankan ketika pulang adalah HAK yang tidak bisa di batasi oleh siapa pun,” bebernya.

 

Menurutnya, Pemerintah, toko agama, kepala suku, pemuda, Alumni se Jawa Bali dan Sulawesi, mahasiswa Uswim, Mahasiswa STT dan rektornya  yang ada di Nabire; apa sikap anda untuk mahasiswa/i dan pelajar yang pulang dari Sejawa bali dan sulawesi yang sudah ada dinabire?

 

“Apakah memaska mereka balik ke kota study mereka masing-masing agar mereka dilakukan tidam manusia di luar papua? Apakah kita biarkan mereka agar mereka terbakar hingga lontarkan amarah?. Tergantung anda? Mau tunggu sampai terbakar juga tergantung anda? Kita tidak apa apa yang akan mereka buat? Silakan anda simak,” tanyanya.

 

Katanya, Kita tahu, Pmimpin Pemerintah, toko agama, kepala suku, pemuda, Allumi sejawa bali dan sulawesi, mahasiswa Uswim, Mahasiswa STT dan rektornya yang ada di nabire; telah di intimidasi dan ditekan habis-habisan oleh militer indinesia. “Dan anda semua mendukun agenda mereka untuk terus melakukan penindasan-penindasan di nabire meepago west papua. Silakan pilih mau sandar dimana? Apapun yang mahasiswa/i dan pelajar yang pulang mereka lakukan adalah HAK mereka. Kita menunggu dan simak saja sambil berdoa-berdoa tunggu penyelamat dating,” katanya lagi.

 

Lanjut Deserius, secara pelang kita sudah datang dan meminta menampung mahasiwa/i dan pelajar yang pulang di kampus anda "membuat Posko", tapi kalau anda tolak kita tidak tau apa yang akan terjadi? “Kepada mahasiswa/i dan pelajar, silakan ambil langka anda, dan lakukan Hak kalian,  Tuhan bersama Kalian,” ajaknya.

 

Sementara itu, sebelumnya, menyikapi perkembangan dan situasi terakhir, terutama berhubungan dengan persoalan rasisme terhadap mahasiswa Papua di berbagai  kota di Indonesia, yang  memicu terjadinya gelombang demonstrasi  di Papua dan Papua Barat, maka Bupati Nabire, Isaias Douw, mengimbau kepada mahasiswa Papua asal Nabire di kota studi di luar Papua untuk tidak terprovokasi dengan isu eksodus.

 

“Saya imbau kepada mahasiswa asal Nabire di Pulau Jawa, Sulawesi, Bali dan Sumatera agar tidak terprovokasi isu eksodus,” ujar Bupati Isaias kepada Jubi usai membuka Festival Robani di Taman Gizi. Kamis (12/09/2019).

 

Menurutnya, mahasiswa Papua asal Nabire harusnya tidak ikut – ikutan kembali ke daerah asal, mengingat belum ada sistem pendidikan yang menjamin seluruh mahasiswa yang kembali ke Papua,  dapat ditampung dan melanjutkan perkuliahan pada perguruan tinggi yang ada di Papua.

 

Pewarta: Manfred Kudiai

 

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait