Kabar Baik dan Ajakan untuk Mengerti

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

15 Hari yang lalu
TULISAN

Tentang Penulis
Alangga dwika. Ist 

Oleh, Alangga Dwi Kusuma

 

Teman-teman saya bertanya, 
“Baik-baik di sana?” 
“Apa kabar?” 
“Aman?” 
Ya , terima kasih sudah bertanya. Itu sangat berarti. Dapatkan salah satu kebahagiaan sebagai perantau adalah mendapatkan pertanyaan tentang kabar yang datang dari orang-orang di kampung halaman, mungkin keluarga, teman, atau pujaan di masa lalu. Melonjak girang hati ini????

Saya sedang baik dan berbahagia, teman. 
Segala macam hiruk pikuk yang menyangkut pulau tempat saya tinggal saat ini, tidak disetujui saya sama sekali. Saya masih mengajar anak-anak, seperti biasa. Saya masih berteman dengan teman-teman di sini, tidak ada bedanya. Saya masih ke pasar, belanja, menggandulkan noken di kepala, berbalas salam selamat pagi, masuk ke gereja, jabat tangan dan menerima "selamat hari Minggu" atau "wa wa wa", salam khas di pegunungan tengah Papua. Seakan tidak ada yang berubah, sama.

Akan tetapi, ada juga yang mengusik pikiran saya. Meskipun jaringan internet masih sangat terbatas, berita tentang Papua yang pernah menjadi trending topic di twitter Indonesia sampai juga Wamena. Saya melihat beberapa teman memulai di media sosial. Kabar-kabar tentang gejolak yang muncul dari berita itu juga mulai terdengar. Jarak dua-tiga jam naik mobil dari Wamena tentu bukan penghalang bagi berita macam begitu masuk ke Bokondini. Sampai akhirnya tersiar kabar terbaru tentang mencekam di Jayapura akibat aksi massa yang ricuh.

Meskipun demikian, seperti sudah saya miliki sebelumnya, tidak ada yang berbeda. Anak-anak remaja di sekolah tetap menerima saya dan pelajaran yang saya bawa, Bahasa Indonesia.

Teman, hanya memberikan kabar “saya dalam keadaan baik” saja tidak cukup bagi saya, maka seperti “Sebuah Berita Kepada Kawan”, saya sampaikan tulisan ini.

Setelah satu tahun melihat Papua dari tengahnya, mata saya semakin terbuka dalam hati mereka yang menggelar aksi massa, dalam perjuangan mereka yang terungkap melalui kata-kata dan status di media sosial , dan bahkan dalam kehidupan sehari-hari orang Papua yang terlihat “ tanpa suara ”, saya melihat tidak ada hati untuk Indonesia.

Teman, 
Kamu bisa jadi akan tersinggung berat jika saya ceritakan beberapa hal tentang apa yang orang Papua pikirkan tentang Indonesia. Akan tetapi tunggu sebentar, saya akan menceritakan sedikit tentang apa yang saya pikirkan tentang orang Papua. Dulu.

Sebelum saya mengenal istilah rasisme, kesukuan, dan teman-peserta, saya anggap mentertawakan orang-orang Papua dari jauh lalu menerima waspada kompilasi harus dekat dengan mereka adalah hal yang wajar. Apa yang saya mengerti tentang orang Papua waktu itu — saat masih kanak sampai remaja — berbeda, terbelakang, berkulit gelap, dan berbahaya. Pengertian semacam ini tentu saja saya dapat dari Lingkungan terdekat saya. Lalu setelah saya kuliah dan bertemu banyak orang Papua yang kuliah di Yogyakarta, saya mulai mengenal apa itu rasisme, tetapi tidak sepenuhnya paham. Saya sudah tahu itu bukan semestinya saya menganggap mereka sebagai "alien", tapi tetap saja, di beberapa kesempatan, saya mentertawakan orang Papua.

Sampai akhirnya kompilasi saya memutuskan untuk bekerja di Papua, banyak yang berpesan "hati-hati" yang kesannya berbeda sekali dengan "hati-hati" yang pernah saya dapat sebelumnya. Ada juga yang berpesan, "jangan sampai bisa jodoh orang sana". Ada yang bilang, "Wah, kamu pasti akan jadi yang paling putih di sana," atau "Kamu pasti akan jadi yang paling ganteng di sana" dan masih ada beberapa lainnya. Semua itu berasal dari keluarga dan teman-teman saya sendiri. Sampai sekarang.

Pernahkah kamu melakukan itu? Atau kamu tahu banyak orang di sekitarmu yang melakukan hal yang sama?

Pernah ada yang bertanya, "Bagaimana sebenarnya di sana (Papua)?"

Pertanyaan saya sudah enam bulan tentang tinggal di Papua Waktu itu dan saya ceritakan apa yang sudah saya lihat dan saya singgung tentang keinginan orang Papua untuk merdeka. Teman saya membalas, "Wah sayang lah kalau merdeka, Papua kan sangat menguntungkan."

Seketika hati langsung bergejolak, ingin marah, membalas pesannya dengan huruf kapital, “KENAPA KAMU HANYA PIKIRKAN TANAHNYA YANG MENGUNTUNGKAN, TIDAK PIKIRKAN ORANG-ORANGNYA? ITU KENAPA MEREKA MAU MERDEKA !!! " 


Itu sebelum saya mempertimbangkan bahwa mungkin saya mendapatkan pertanyaan," Bagaimana kalau Papua merdeka? "Enam bulan sebelumnya, saya juga akan mengatakan hal yang sama dengan apa yang teman saya katakan. Sekaligus aku sadar pada saat itu, itulah pandanganku terhadap Papua sudah berubah. Enam bulan setelah saya tinggal di Papua.

Beberapa bulan yang lalu, saya mendapat teman baru di Bokondini, orang Jawa. Suatu hari, dengan terang-terangan dia mengatakan, “Anak-anak ini bodohnya kebangetan,” sambil sambil memeriksa berlembar-lembar kertas ujian nasional anak SMA negeri yang bingung dalam memahami identitasnya, “masa pengisian identitas saja tidak bisa.” Dia terus bersungut-sungut mengatakan bahwa mimpi buruk pendidikan di Bokondini adalah sia-sia, karena anak-anak Papua itu bodoh. Sementara itu, anak-anak di sekolah saya bisa kok. Anak-anak Bokondini juga, masih SMP, bekerja sendiri lagi, tanpa kunci jawaban. ”

Sekitar dua bulan yang lalu, teman dari teman saya, seorang perwira, mentraktir kopi di Wamena sambil berbagai cerita. Saya bertanya pada si perwira muda yang tampak berwibawa dan berkharisma ini sampai ia menanyakan tantangan yang saya hadapi sebagai guru di pedalaman. Saya ceritakan dengan semangat bagaimana saya berada di sekolah dengan visi yang sangat jelas yang menyediakan pendidikan terbaik dan tetap di kampung dengan harapan bisa memberikan dukungan kepada lingkungan di sekitarnya. Saya ceritakan juga bagaimana banyak orang berjuang bertambah-tahun membantu anak-anak Papua mendapatkan masa depan yang lebih baik melalui pendidikan yang benar-benar, harus lebih banyak berkaitan dengan halangan yang datang dari lingkungan anak-anak itu sendiri. Memotong cerita gembira saya, sang perwira berkata,

Sedikit mangap , saya tak mampu menjawab. Seketika itu, runtuhlah hormat dan sa pusemangat. Beruntung sekitar lima menit kemudian kami pulang.

***

Lirik Lagu Mengutip Sherina yang berjudul “Lihat Lebih Dekat”

"... lihat semuanya lebih dekat, dan kau bisa mengerti lebih,
... lihat semuanya lebih dekat, dan kau bisa mengerti."

Teman, saya ingin mengajakmu untuk “menilai lebih setuju” dan “mengerti” Orang Papua yang ingin merdeka. Bukan melepaskan "ada" tapi buanyak orang Papua yang ingin merdeka, seperti saya pernah menulis sebelumnya, yang bukan hanya mereka yang ingin saja merdeka, bahkan dalam diam mama-mama yang membawa ubi, tergambar bintang kejora di nokennya, dalam semangat anak -anak sekolah kami yang meminta guru-gurunya seperti telur agar tidak pecah, terungkap kata merdeka. Indonesia adalah penjajah bangsa Papua. Saya malah menemukan gambar-gambar “tentara pembebasan Papua” yang terselip di lembar-lembar buku tugas anak-anak.

Pada awalnya, kompilasi saya berbicara banyak hal tentang impian merdeka dari lingkungan sekitar, jiwa nasonalis saya bergejolak dan berpikir, “bodoh sekali orang-orang ini kalau mau merdeka. Mereka merdeka memangnya mau buat apa? Mereka belum siap dan Indonesia tidak menjajah Papua. Papua adalah Indonesia. ”

Perlu satu tahun bagi saya, waktu yang sebenarnya masih terlalu singkat, untuk lebih dimengerti memang tidak ada hati untuk Indonesia bagi banyak orang Papua. Sementara itu, Indonesia “hadir” di tempat ini dalam bentuk yang bernuansa: sekolah-sekolah negeri tidak jalan, fasilitas-fasilitas umum yang macet, desa-desa terpelosok dengan akses sangat terbatas pada apa pun, pemerintahan yang membuat lahan korupsi, PNS yang lebih sibuk dengan bisnisnya dari pada tugas yang dikeluarkan, hukum nasional yang tidak dilakukan pada saat otoritasnya terus digaji, dana desa dibagi-bagi, dan angka kematian akibat HIV yang terbilang tinggi. Apakah ini karena orang-orang Papua itu sendiri? Pelaku-pelakunya mungkin orang Papua, tapi siapa di balik semua ini? Kenapa ketidakberesan yang terjadi ini dibiarkan terus terjadi? Saya lantas singkirkan dulu jiwa nasionalis saya. Saya coba buka mata, buka hati, pasang telinga. Saya ingin mencoba untuk memahami.

Saya mengingat bagaimana saya mengingat orang Papua satu tahun sebelumnya dan saya mengingat pastinya masih banyak orang-orang Indonesia yang melihat orang Papua dengan cara pandang lama saya. Teman pasti juga sudah melihat perlakukan yang berbeda untuk orang-orang Papua di tempat Teman berada. Saya bahkan melihat sendiri di Papua, yang salah satunya adalah rumah sakit dan Puskesmas yang sangat galak untuk orang Papua tetapi lembut dan penuh perhatian untuk orang pendatang. Saya pernah pernah berobat untuk bisul sebesar kacang ijo dan dimanja-manja, sementara seorang mama yang mengobservasi infeksi saluran pernafasan terlalu banyak membantu secepat mungkin mendapat bentakan, "Makanya mama juga harus tahu anak-anak, bukan hanya tahu bikinnya saja!"

Itu yang terlihat. Ada lagi yang tidak terlihat, tetapi terasa sangat kuat menjadi alasan orang-orang Papua ingin merdeka.

Dendam.

Dendam yang diturunkan dari generasi ke generasi, diobrolkan dari honai ke honai, dikhotbahkan dari gereja ke gereja dan sekarang disebarluaskan melalui berbagai media di dunia maya. Bersama dengan dendam itu, pesan kemerdekaan disampaikan. 
Dendam apa? Di Bokondini, orang-orang menyebut "Peristiwa tahun '77", di Biak orang menyebut "Biak Berdarah", di media sosial orang-orang menyebut "Kekejaman TNI-POLRI", dan juga masih banyak acara yang ditampilkan yang dilihat dendam sedang muncul. Kata-kata seperti pembantaian, penganiayaan, pembunuhan, ditangguhkan dan dianggap cukup mencerminkan dendam seperti apa yang dipertanyakan di sini. Teman bisa mencari referensi yang pantas untuk ini, salah satunya yang saya rekomendasikan adalah buku Seakan Kitorang Setengah Binatang,yang isinya adalah wawancara untuk Filep Karma, tokoh penting dalam perjuangan Papua. Dari dia juga lah saya mendapatkan istilah "tidak ada Indonesia di hati orang Papua". Teman juga bisa membuat tulisan saya ini sebagai pengantar untuk memahami Papua lebih dekat.

Papua memandang Indonesia sebagai penjajah yang diperparah dengan tanda kedatangan Indonesia di Papua: kebobrokan. Otsus dan dana besar yang menyertainya, membuat situasi di Papua semakin sulit. Itu datangnya dari Indonesia.

Teman, saya cinta Indonesia, tetapi kompilasi melihat dan berusaha “Indonesia” dari sisi Papua, 
sungguh. . . 
Saya jadi mengerti dari mulut anak kecil yang belum puber pun muncul kata “MERDEKA”. Teman, kamu tidak boleh setuju jika Papua merdeka, tetapi diminta untuk memahami orang Papua ingin merdeka, lalu kamu akan tahu apa yang harus kamu lakukan.

***

Beberapa hari yang lalu, saya telah melihat beberapa kiriman di media sosial tentang kekejaman Kelompok Kriminal Bersenjata (KKB) OPM untuk orang pendatang di Papua dengan judul kira-kira “Hentikan kekejaman gerakan separatis. Basmi mereka. NKRI harga mati ”sambil memanggil beberapa akun media sosial lembaga keamanan RI. 
Hal seperti ini hanya akan menambah kebencian di hati orang Papua. 
Kalau kamu pernah melakukan ini, Teman, jangan lakukan lagi. Jika Anda tahu temanmu melakukan ini, tolong beri tahu dia, atau berikan dia tulisan ini, karena di sisi lain, sebarkan pula beberapa kiriman yang menunjukkan kekejaman TNI-POLRI kepada orang Papua yang dilengkapi teks keterangan panjang lebar tentang HAM dan kemerdekaan. Mari kita buat keadaan ini lebih mendamaikan.

Teman, saya senang tinggal di sini. Apalagi dengan sifat saya yang senang belajar, saya menjadi mengerti banyak hal. Sifat ini pulalah yang telah membawaku kembali kepada Tuhan dan oleh karena Tuhanlah, aku masih ada di sini dan menulis ini kepadamu.

Jika Teman seorang nasionalis yang peduli dan ingin Papua tetap bersama RI, Teman bisa mendukung dan mendoakan saya dan rekan-rekan di sini, sebagai rekan Indonesia dalam upaya meningkatkan hubungan dengan Papua.

Kalau teman-teman yang pro-kemerdekaan Papua, Teman bisa mendoakan kami di sini sebagai perwakilanmu yang menyiapkan kemerdekaan yang baik melalui pendidikan yang benar.

Kami akan sangat senang mendapatkan dukungan dan doa darimu, tapi mohon maaf jika kami tidak peduli dengan merdeka atau ikut RI, karena kami di sini bekerja untuk Tuhan. Kami percaya Tuhan memiliki tujuan yang baik. Kami di sini untuk melaksanakan kehendak-Nya. Kami di sini, di Ob Anggen, sedang melakukan bagian yang sudah Ia percayakan untuk kami.

salam hangat, peluk erat

 

Diposting pada 31 Agustus 2019 oleh alangga dwika di blog pribadinya, selanjutnya ditayang ulang oleh Kabar Mapegaa

 

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait