KAMRAT Jumpa Pers: Ruang Demokrasi Terancam Di Hari Buruh Sedunia

Cinque Terre
Manfred Kudiai

2 Bulan yang lalu
NASIONAL & DUNIA

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
KAMRAT menggelar  jumpa pers di aula asrama mahasiswa Papua, Kamasan I, Jalan Kusumanega Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (2/5/2019). (Foto: Manfred Kudiai/KM)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--KAMRAT menggelar  jumpa pers di aula asrama mahasiswa Papua, Kamasan I, Jalan Kusumanega Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (2/5/2019). Jumpa pers tersebut dipimpin oleh Wakil Kepala Divisi Advokasi LBH Yogyakarta, Abdul Maliq  Akdum, Humas aksi KAMRAT, Rico Tude dan Koordinator Umum Aksi KAMRAT, Julia Opki .

 

KAMRAT adalah aliansi yang terdiri dari beberapa organisasi dan individu yang berniat memperingati Hari Buruh Seluruh Dunia dan memperingati Hari Aneksasi Indonesia terhadap Papua yang terjadi 1 Mei. 

 

Jumpa Pers yang dilangsung itu,  membahas dan memberitahukan kepada media terkait peristiwa sebenarnya yang terjadi  kemarin,  Rabu (1/5/2019)  saat aksi May Day dan Hari Aneksasi Indonesia terhadap Papua yang berakhir  dengan pemukulan terhadap massa aksi serta atribut aksi (Mobil komando dan dan Ampli yang dirusak Polisi) dan dipukul mundur  oleh gabungan aparat dan beberapa ormas reasioner yang sempat memblokade ruas jalan Kusumanegara, DIY.

 

Julia Okpi selaku koorum mengatakan tujuan diadakannya jumpa pers hari ini. Kata dia, kami melakukan aski ini, didukung oleh Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang Kemerdekaan Menyampaikan Pendapat di Muka Umum.”

 

Deklarasi Universal Hak-hak Asai Manusia yang menjamin kebebasan mempunyai dan mengeluarkan pendapat tanpa gangguan apapun dengan cara apapun dengan tidak memandang batas-batas.  Dalam undang-undang ini dijelaskan bahwa kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum berlandaskan asa keseimbangan antara hak dan kewajiban, asas musyawarah dan mufakat, asas kepastian hukum dan keadilan, asas proporsionalitas, dan asas manfaat. 

 

Penyampaian pendapat yang disebut dalam produk hukum ini meliputi penyampaian pendapat secara lisan, tulisan, dan sebagainya.  Hak  dan kewajiban warga negara juga dicantumkan dalam bab tiga undang-undang ini.  Selanjutnya juga diterangkan kewajiban pemerintah dan tanggung jawab pemerintah untuk melindungi hak asasi manusia dalam menyampaikan pendapat dan menyelenggarkan pengamanan atasnya.


Baca juga:

 

May Day dan Hari Aneksasi Papua: Di Jogja, Polisi Hadang Massa Aksi

Aksi May Day dan Hari  Aneksasi Papua: Massa Aksi KAMRAT Kena Pukulan, Atribut Aksi Dirusak

Aksi 1 Mei di Yogyakarta: Ini Alasan Polisi Hadang Massa Aksi

Aksi 1 Mei di Manado, Solidaritas Mahasiswa Papua dan FRI-WP Serukan Papua Merdeka

 

Sementara itu, dalam selebaran yang dibagikan kepada awak media  yang hadir, aksi damai yang dilakukan oleh KAMRAT  tesebut direpresi oleh sejumlah Polisi yg memblokade Asrama Mahasiswa Papua di Kamasan. Akibatnya beberapa masa demonstran (12 orang) luka-luka, properti mobil komando dirusak dan kerugian materi lainnya. Ruang demokrasi terancam di Hari Buruh Sedunia.

 

Rico Tude juga mengklarifikasi terkait blokade yang terjadi di depan asrama mahasiswa Papua. Kata Rico, Blokade di ruas Jalan Kusumanegara yang mengakibatkan kemacetan lalu lintas bukan direncanakan oleh massa aksi.

 

Menurutnya hal itu terjadi karena, massa aksi dihadang  sebelum melanjutkan long march ke titik Nol Kilometar (Malioboro) dan beberapa rekan-rekannya mendapatkan pukulan dari aparat.

 

“Kebebasan dalam berekspresi dan menyatakan pendapat di Indonesia kembali tercoreng. Rabu, 1 Mei 2019 aliansi KAMRAT Yogyakarta yang hendak melakukan aksi memperingati Hari Buruh Internasional dan 56 Tahun Aneksasi West Papua mendapatkan represi Kepolisian Resor Kota Yogyaarta,” papar KAMRAT dalam selebaran yang diterima www.kabarmapegaa.com.

 

Dalam selebaran tersebut juga, KAMRAT menuliskan kronologi  lengkap, sebagai berikut:

 

Pukul 07.00 WIB, Massa aksi berkumpul di titik kumpul (Asrama Kamasan) mempersiapkan perlengkapan aksi.

 

Pukul 09.45 WIB, Massa Aksi bersiap, berbaris keluar Kamasan, Long March menuju Titik Nol KM Yogyakarta.

 

Pukul 10.00 WIB, Kapolresta Yogyakarta, Armaini, menghalangi massa aksi bergerak ke Titik Nol, dengan alasan ada massa tandingan dari ormas Paksi Katon dan FJR. Kapolres Khawatir akan terjadi gesekan, dan bersikeras agar Massa Aksi KAMRAT berpindah lokasi aksi.

 

Pukul 10.10 WIB, Negosiator, Korlap Aksi dan pendamping hukum dari LBH Yogyakarta melakukan perundingan dengan Kapolres agar Massa Aksi tetap bisa bergerak menuju Titik Nol KM.

 

Pukul 11.00 WIB, Perundingan berjalan alot dan akhirnya massa aksi berkompromi dan akan berpindah titik aksi di Monumen Tugu Jogja, namun itu juga tidak diterima oleh pihak kepolisian. Mereka memaksa agar aksi dilakukan di Balaikota Yogyakarta.

 

Pukul 11.15 WIB, Massa aksi membangun barisan lagi  dan tetap bergerak keluar Kamasan, namun dihadang, di dorong, lalu  dan dipukuli oleh Sabhara.

 

Pukul 12.00 WIB,  Saling dorong terus terjadi, dan massa aksi berhasil menerobos barikade Sabhara di pagar Kamasan, namun Polisi memblokade jalan Kusumanegara menuju Titik Nol dengan truk polisi. Polisi bernama Armaini juga merusak Ampli Mobil komando KAMRAT.

 

Pukul 12.15 WIB, Saling dorong kembali terjadi dan pemukulan semakin brutal. Polisi mulai menembakan gas air mata sehingga massa aksi berhamburan masuk kembali menuju Asrama.

 

Pukul 13.00 WIB, Massa aksi mengatur barisan lagi di dalam asrama.

 

Pukul 13.30 WIB, Massa Aksi mencoba keluar lagi, namun kembali massa aksi direpresi dan dipukuli.

 

Pukul 14.00  WIB, Massa aksi tetap melakukan aksi, menyampaikan orasi politik di depan asrama Kamasan.

 

15.30 WIB, Aksi berakhir dengan pernyataan sikap.

 

Korban Pemukulan:

 

1. Jhon Nawipa (21) luka di bibir dan jidat
2. Gasrul (22) ditendang di kemaluan
3. Junior Ireuw (19) Luka di leher
4.Wahyu (20) Dipukul dan dicekik leher
5. Yoseph Sakof (21) Luka di tangan
6. Yulianus Degei (21) luka robek di hidung
7. Fabby Pigome (22) Luka di kaki (tulang  kering), dan jidat.
8. Remis Praha (20) Luka di bibir
9. Aris Yeimo (32) Luka di Jidat
10. Imam (21) Luka di Kaki
11. Ali (25) Luka di leher dan pelipis
12. Fatihah (18) Luka di kaki

 

Kerugian Materil:

  1. Ampli dan  Mobil komando  dirusak Polisi.

 

Dengan demikian, tulis KAMRAT, Atas segala tindakan represi aparat kepolisian terhadap massa aksi , maka KAMRAT menyatakan sikap:

 

Pertama, Mengutuk keras segala  tindakan pemberangusan demokrasi yang dilakukan oleh kepolisian Resor Kota Yogyakarta berserta seuruh jajaranya.

 

Kedua, Mengecam penghadangan dan pemukulan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian Resor Kota Yogyakarta.

 

Ketiga, Mengecam perusakan terhadap perlengkapan aksi oleh Kapolres Yogyakarta, Armaini.

 

Keempat, Mengajak seleruh elemen gerakan demokrasi untuk membangun kekuatan dan merebut kembali demokrasi.

 

Kemduian, pantauan media ini, jumpa pers berjalan lancar. Jumpa pers dimulai pada pukul 13.00 WIT- 15.00 WIB diikuti sedikitnya  terdapat kurang lebih belasan awak media dari perwakilan media online.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#Jumpa Pers

Baca Juga, Artikel Terkait