Kasus Dogiyai Dimata Internasional

Cinque Terre
Manfred Kudiai

2 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Korban penembakan di Mauwa, Dogiyai, Geri Goo bersama kakaknya, Lea Goo ketika ditemui Jubi di RSUD Jayapura – Jubi/Timo Marten. (Sumber: Tabloidjubi.com)


YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com-- Peristiwa 6 April 2018 pukul 19:00 Waktu Papua, Pasukan keamanan dimata internasional  dinilai telah menerapkan penggunaan kekuatan yang berlebihan terhadap sekelompok pemuda desa di Desa Mauwa, Distrik Kamu Kabupaten Dogiyai  di atas jembatan Kali Mauwa.


Hal ini dikatakan dalam  web resmi UN: Human Rights and Peace For Papua yang meliris dua berita dengan judul: Unprofessional behavior of security forces lead to shooting in Mauwa Village – two villagers sustain bullet injuries, edisi (16 April 2018) dan Update on shooting in Mauwa - Gerry Goo succumbs to his injuries, edisi (08 Mei 2018).


Seperti yang ditanyang web resmi UN, dalam laporan pertama dengan jelas mengatakan bahwa tindakan gabungan aparat di Dogiyai adalah tindakan yang tidak proesional.

 

Hal ini dilaporkan oleh Justice, Peace and Integrity of Creation Desk of the Papuan Tabernacle Church (JPIC KINGMI Papua) kepada Human Rights and Peace For Papua.


Kemudian, pada laporan kedua, tentang perjuangan Geri Goo (18) mempertahankan hidupnya hingga menyerah dengan luka-lukanya.

 

"Akibat peluru dalam tubunya yang tidak tertolong selama operasi pengendalian dilangsungkan pada awal April, akhirnya meninggal dunia kemarin (9 Mei 2017) di Desa Goodide, Kabupaten Dogiyai."


Kasus penembakan di Dogiyai sebagai perilaku tidak profesional dari pasukan keamanan yang bertugas di Kabupaten Dogiyai, Provinsi Papua. Pemuda Dogiyai, Geri Goo akhirnya meninggal dengan kondisi dua peluru dalam tubuhnya sedangkan Rudi Auwe sedang dalam perawatan lanjut.

 


Pewarta: Manfred Kudiai/antara

#Budaya

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait