Kasus Nduga: Mantan Kepala Staf  Umum TNI Sebut Masalah Papua Kompleks “Perangi Semesta”

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

9 Hari yang lalu
KABAR PAPUA BARAT

Tentang Penulis
Dialog: Sulitnya Basmi Separatisme di Papua” bersama Letjen Purn. J. Suryo Prabowo, Mantan Kepala Staf  Umum TNI. (TVONE)

 

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com--Pendekatan Militer terus dilakukan di Papua.  Kamis (6/12) pasukan gabungan TNI dan Polri melakukan kontak senjata dengan  Tentara Pembebasa Papua Barat (TPM) dan Organisasi Papua Merdeka (OPM) yang bergerilyah di kawasan distrik Mbua, Kabupaten Nduga, Papua.  

 

Kejadian itu bermula saat TPM/OPM menyerang  pekerja  proyek  Trans Papua  yang diduga oknum TNI yang  datang memata-matahi lokasi  tersebut bertepatan dengan hari embiro lahirnya bangsa west  Papua yang diyakini Orang Papua.

 

Menanggapi hal tersebut, kini media masa ramai dibahas. Salah satunya adalah dialog Interaktif  yang ditayang oleh siaran TVONE dalam edisi kabar petang, Rabu (5/12). Yang kemudian dipublikasikan di Youtube.com pada tanggal yang sama, sampai detik ini saat berita ini ditayang sudah 24.680 kali  ditonton oleh penguna youtube.

 

Dalam dialog, TVONE memberikan tema “Dialog: Sulitnya Basmi Separatisme di Papua” bersama Letjen Purn. J. Suryo Prabowo, Mantan Kepala Staf  Umum TNI. Berikut adalah percakapananya:

 

Dari Peristiwa ini,  yang Bapak lihat garis merah apa?

 

Papua. Kita selalu berasumsi bahwa masalah Papua itu masalah keamanan, padahal masalah yang sangat kompleks. Ini masalah bagaimana integrasi. Semuanya harus paham betul bahwa Papua itu dalam banyak hal berbeda dengan Provinsi lain. Semuanya berbeda. "cara berpikirknya, sukunya, bahasanya, asal usulnya, bahasanya, proses bergabungnya."

 

Kita masih menanggap memeberikan stretmen atau penangan Papua ini dengan provinsi lain. "Pemerintah sudah membuat otonomi khusus, ada UP4 B dan sebagainya dan sebagainya, progaram perjabatan, tetapi masalah yang utama adalah kita tidak peka bahwa kita ingin membangun Papua tapi dianggap sukses jika sama dengan Jakarta."

 

"Jadi masalah Papua ini unik, kita berpikir, maaf bukan mengkritik ya, kita berpikir dia butuh jalan, padahal orang papuaa di gunung, jalan buat siapa? saya tidak butuh jalan, yang butuh jalan itu orang-orang pendatang itu yang pengen buka, untuk buka kebun dan lain-lainnya," jelasnya penuh percaya diri.

 

Menurut Bapak dengan adannya pembangunan di Papua yang cukup masib sekarang, mereka, orang-orang Papua yang tergabung dalam kelompok "Separatis" ini berkeberatan dengan adanya pembangunan itu?

 

 

"Yang jelas tidak semuanya senang, nyatanya selalu ditanya kan? yang bisa berhasil kan hanya satuan TNI yang di sana yang membangun jalan, itu pun nggak diganggu kerana punya senjata," jelasnya singkat

 

Aritinya kata Letnan, masyarakat Paua tidak welcome sepenuhnya dengan stretmen atau penanganan atau atensi dari pemerintah.

 

"Ini agak anomali , kita tahu Pak Jokowi dulu menang luar biasa yah, karena peserta Pilpresnya kan luar biasa yah, karena peserta Pilpresnya pun katanya jumanya 105 dari jumlah penduduk. 70  sekian persen semua memilih Jokowi.  Artinya senang dengan pemerintah sekarang. Dan lebih dari 10 kali mungkin Pak Jokowi datang ke sana, membangun jalan, membangun jembatan tetapi  kalau mo bicara angkah, bisa tanya Komnas HAM, Natalis Pigai."

 

 

Berbicara mengenai bagian terluar dari negeri Indonesia ini mungkin juga ada tanggungjawab pemerintah, tentu juga tanggungjawaba TNI. Kita  ini tahu susut pandang bapak soal itu? Artinya selama ini ada terus, bertahun-tahun masa "Separatis”  Papua gagal?

 

Yang jelas kalau dihitung dari dari hari ulang tahun hari integramei 1963. sudah 55 tahun, dari Pepera sudah hampir 50 tahun. Masa proses berbangsa kita begitu lamanya tidak membaik. karena kita menanagi selah-olah kerjanya TNI. Seolah-olah berpikir Papua bisa merdeka dengan senjata. Sampai kapan pun kalau memang ingin merdeka tidak pakai senjata, tetapi dukungan asing. Yang jalas, empat tahun ini gangguan keamaan meningkat! makin meningkat lagi ketika kasusu Papa minta saham.

 

Terkait OPM ada sokongan dengan pihak asing? lalu pendekatannya bagaimana? Apakah pendekatan Militer harus dilakukan di Papua?

 

“Ya, jelaslah, sosok Benny wenda yang bisa buka cabang di Australia dan inggiris itu kan lari dari tahanan mendapatkan visa.”

 

Pertama, yang jelas pelakunya harus ditangkap untuk mempertanggungjawabkannya.Entah menangkapnya harus oleh Polisi atau TNI saya tidak mengerti, tapi kalau bisara  ini bicara bukan operasi militer, harusnya Polisi.

 

Kedua, saya tidak setuju kalau dia bilang kriminal. Karena dia menembak bukan untuk mendapatkan duit,  bukan merampok. "Dia menimbulkan rasa takut supaya, lho jangan bikin jalan lagi dhe, jadikan teror. Jangan bikin jembatan lagi. Memang Presiden bilang kita tidak takut. Presiden nggak takut tetapi yang kerja takut kan gitu, apalagi teman-temannya meninggal begitu saja apalagi pelakunya nggak ketangkap.

 

Kita berharap, TNI kalau memang  yang dipercaya itu bisa menangkap tanpa haus menimbulkan kerusakan yang luas. "contohnya kelemahan dari Prajurit kita, kalau ngejar, musu kita masuk kampung, terus semua kampung dimarahi, mengapa kamu menampung padahal hal dia belum tentu dukung, bikin introgasi hal hasil sehinga menambah musuh lagi."

 

Jika bukan Kriminal tetapi dibadingkan dengan peristiwa-peristiwa sebelumnya, korbannya relatif sedikit, mungkin satu, dua TNI/Polri kemudan masyarakat sipil, kalau yang sekarang kan mereka dikumpulan di tempat yang terbuka? Mereka , katakanlah dibantai?

 

"Ya, Betul yah. Tetapi yang jelas kriminal kan tidak membantai begitu. Yang jelas ini kan kaitan dengan kasus yang ramai ratusan ramai di Surabaya. Yang ditangkapi orang demontrans, minta medeka, Papua. Mahasiswa Papua di Surabaya.  Jadi, kelompok yang pengen merdeka yang menamakan dirinya organisasi papua merdeka. Ya, inikan tidak bergerak di front bersenjata, ada di front Politik, ada di Front Luar Negeri, yang tadikan ada kantor-kantor di luar-luar negeri ada kator politik di provinsi lain akhirnya ada mahaiswa , ada orang pandai, ada kelompok bersenjata dan sebagainya. Nah, Ini rangkaian jadi satu yang utuh.

 

"Jadi, kita jangan terpancing, oh ini tangkap, selesai. seakar-akarnya. Akar yang Apa? Jadi, tugas menangkap silahkan tangkap. Tapi keamanan ini tugas pemerintah daerah juga, kan UU kan ada tuh. Ada tugas-tugas pemerintah pusat. kita dalam menangani masalah Papua ini belum utuh. Masih, itu urusan TNP/Polisi. Papua bukan urusan TNI/Polisi."

 

Nah, Kalau bapak melihat bagaimana dengan statemen yang disampaikan Presiden dan juga  Menteri Polhukham mengenai kasus ini bahwa pelaku akan ditangkap, tidak ada negosiasi, tidak ada ampun untuk mereka?

 

“Ya, harus ditangkap, kalau nggak rakyat tidak merasa aman.”

 

Tapi perlu tidak, daerah di Papaa ini diterapkan jadi daerah operasi Militer?

 

“Di sana, Emang ada, ada perang?”

 

Tetapi menimbulkan teror Pak! Bagi masyarakat Pak

 

"Teror yah, daerah operasi teror yah," ujarnya sambil ketawa .  Lanjut, tapi yang jelas begini, kasus ini bukan kriminal. Kasus ini, orang yang menunjukan eksistensinya, saya ada. Yang kedua: Apa yang kamu buat untuk saya tidak ada artinya, kalau  bermanfaat, dia tidak ganggu dong, gitu.”

Nah, sepanjang nggak bisa menjaga proses pembangunan kegiatan dan pelaku nggak ketangkap, Yah, mereka makin besar kepala dan rakyat makin takut. Itu saja. Kemudian kita tidak perlu membuat jalan yang bagus karena dia tidak membutuhkan itu. Pelibatan lokal itu harus yah. Kita jangan jadikan semua kegiatan itu mengklaim saya  sudah berbuat untuk papua.

 

 

Pak Suryo, akhir dialog interakif bersama reporter TVONE , mengaku dirinya lama hidup di Papua. Keluarga militer, ayahnya terlibat dalam Pepera anak Pak Suryo  masih di Papua.

 

Suryo minta kita harus menggap mereka bangian dari kita. "hal hasil mereka (Orang Papua) merasa saya kayaknya satu kelas dengan dia (pendatang). kita "pendatang"  biasa mengelompokan sendri. Sehingga kita bisa beradaptasi dengan mereka.

 

 Kondisi saat ini bagaimana cara kita untuk berbaur dengan mereka?

 

Nah, berarti anda paham bahwa ini bukan masalah TNI kan? TNI,  khusus untuk masalah bersenjata yang terorganisir. Tapi kalau terkait masalah hubungan antar manusia, hubungan mahasiswa Papua, jadi jangan berpikir ada orang dibunuh kita hajar pembunuhnya.  Itu harus sesuai hukumnya. Tapi tidak menyelesaikan masalah. Kamu bunuh semua yang bersenjata di Papua, tetap  saja akan ramai terus sehingga harus ada pendekatan yang lebih holistik.

 

"Perangi semesta, istilah saya.  Kita, 55 tahun masih belum ada hasil," tutup Suryo mengakhiri dialog interaktif kabar petang TVONE.

 

Tulisan ini dimuat  ulang berdasarkan  dialog  bersama Letjen Purn. J. Suryo Prabowo, Mantan Kepala Staf  Umum TNI bersama ditayang TVONE dalam program kabar petang, edisi  Rabu 5 Desember 2018.

 

Sumber:  Klik disini  

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait