Kasus Rasis Sudah Ditanggungjawabkan, Lebih Baik Agendakan Deklarasi Stop Rasis dan Membuat Perda

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

4 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Alexander Gobai, Eks Tapol Rasisme.

 

 JAYAPURA, KABARMAPEGAA.com – Eks Tahanan Politik (Tapol) Korban Rasisme, Alexander Gobai menegaskan, penangkapan Tuan Viktor Yeimo, Juru Bicara (Jubir) Internasional Komite Nasional Papua Barat (KNPB) adalah kasus yang mengulang kembali terjadinya Rasisme tahun 2019 lalu. Persoalan Rasisme sudah ditanggung oleh Tahanan Politik (Tapol) Rasisme di meja hukum. Mestinya, Aparat dan pemerintah untuk mengagendakan untuk menyelenggarakan Deklarasi Stop Rasisme dan segera membuar Peraturan Daerah (Perda) Rasisme.

 

Tahanan Politik Rasisme diantaranya, Buchtar Tabuni (ULMWP), Agus Kosay dan Steven Itlay (KNPB), Alexander Gobai dan Feri Kombo (Mantan BEM Uncen dan USTJ) dan mahasiswa Papua lainnya yang pernah ditahan akibat rasisme.

 

“Kami sudah bertanggungjawab di Meja hukum, pengadilan Negeri (PN), baik di Papua, Kalimantan dan Jakarta atas kasus rasisme. Lebih baik tidak boleh menangkap Aktivis dan mahasiswa yang terlibat peristiwa Rasisem. Lebih baik buat Deklarasi Stop Rasisme dan membuat Perda Stop Rasisem di tanah Papua,” Kata Gobai Kepada awak media di Abepura, Selasa, (8/6/2021).

 

Menurut Gobai, Penangkapan dan penahan Tuan Viktor Yeimo oleh Polisi Republik Indonesia Perwakilan Daerah Papua  sudah sangat keliru. Viktor Yeimo hadiri pada saat  aksi merupakan bentuk kekecewaan orang asli Papua. Dan aksi yang dilakukan secara spontanitas dan berjalan aman dan damai pada saat 19 Agustus 2019 lalu.

 

“Saya pikir, keterlibatan Viktor Yeimo pada saat aksi tahap pertama pada 19 Agustus 2019 adalah bentuk kekecewaan bangsa Papua akibat hinaan orang Papua dengan sebutan Monyet dan usir Papua. Dan semua rakyat Papua protes,” Katanya.

 

Aksi tahap pertama, Kata Gobai, dimediasi oleh Mahasiswa Papua dan Cipayung (PMKRI, GMKI, HMI, GMNI) dan yang bertanggungjawab oleh BEM Sejayapura dan Cipayung Papua pula, dan melibatkan semua rakyat Papua di Jayapura. Dan Tidak ada unsur apapun di dalamnya yang memiliki niat jahat atau pun hal lainnya. Semua berjalan aman dan damai.

 

“Aksi aman dan damai pada aksi tanggal 19 Agustus 2019, tidak ada unusur yang  patut dicurigakan, ” Kata Mantan BEM USTJ itu.

 

Terkait, aksi kerusuhan akibat rasisme, kata Gobai, “Kami sudah bertangggungjawab di meja hukum. Jadi, tidak usa mengulangi kasus yang sama kepada Tuan Vitor Yeimo ataupun tahanan lainnya, seperti Frans Waisini dan yang sedang dalam daftar DPO,” Kata Gobai Eks Tapol itu.

 

“Sudah cukup. Mari kita damai kembali dan menciptakan Papua yang jauh lebih baik,” Katanya.

 

Gobai berharap, pemerintah Papua dan Aparat Keamanan mesti memfasilitasi agar dibuat Deklarasi Rasis di tanah Papua. Agar tidak lagi terjadi rasis diatas tanah Papua. Alangkah baik, membuat Peraturan Daerah (Perda), bila ada yang melecehkan harkat dan martabat Orang Asli Papua agar ditindak hukuman.

 

“Saya pikir, kita harus berpikir untuk menangendakan Deklarasikan Stop Rasisme di tanah Papua. Tidak usa tangkap orang akibat rasisme atau kriminalisasi dengan kasus Rasisme. Sudah cukup,” Tegas gobai.

 

“Lebih baik bebaskan Viktor Yeimo dan Frans Waisini dan tahan lainnya akibat Rasisme dan kita menggelar Deklarasi Stop Rasisme di tanah Papua dan membuat Perda Rasisme,” tambahnya.

 

Pewarta            : Yudas Nawipa

 

Editor               : Admin

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait