Kata Siapa West Papua Itu Dua!

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

7 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Peta Papua. Ist

 

Oleh, Pius Tenouye]*

 

Terimkasih banyak Tuhan pencipta langit dan bumi atas waktu yang engkau berikan kepada saya sampai detik ini. Tuhan engkau tahu bahwa dunia ini butuh kontribusi dari saya maupun orang lain secara nyata berupa apapun. Untuk itu, kesempatan yang bahagia ini, saya ingin mencoba untuk mengkontribusikan kepada dunia ini lebih khususnya kepada para diskriminator antara orang Papua dengan orang Papua hanya karena kepentingan uang yang merujuk kepada penghancuran generasi anak muda bangsa Papua. Dengan wacana-wacana disriminator seperti ini, penulis tertarik untuk menulis sebuah artikel yang berjudul “Siapa yang Bilang Papua itu Dua” agar melalui tulisan ini dapat bersadar bahwa Papua itu satu (Papua is One). Untuk lebih jelas, para diskriminator Papuan to Papuan bisa baca dibawa ini agar koo paham secara holistik soal Papua yang sebenarnnya “jangan koo bikin Papua itu dua”.

 

Siapa yang Bilang Papua Itu Dua?

Sesungguhnya! Papua itu satu bukan dua atau tiga dan seterusnya. Penulis melihat bahwa Papua itu salah satu bagian dari pulau pasifik yang diuni oleh orang-orang Papua bagian pesisir dan Papua bagian pegunungan. Lebih lanjut, soal kehadiran Papua gunung dan Papua pantai itu sudah ada sebelum saya dilahirkan oleh mama tercinta saya sejak 1993, jadi para pembaca perlu mengali sejarah lagi soal Papua yang sebenarn-Nya agar kita sama-sama dapat mengetahui mengenai Papua yang benar dalam konteks Papua yang dulu sebelum Papua dianeksasikan kedalam Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sejak 1969. Sejarah masuknya Irian Barat (Papua) ke dalam wilayah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) sudah benar sehingga tidak perlu dipertanyakan dan diutak-atik lagi. Hal tersebut diungkapkan Tokoh Pejuang Papua, Ramses Ohee di Jayapura, Kamis menanggapi sejumlah kalangan yang masih mempersoalkan sejarah masuknya Papua ke dalam wilayah Indonesia yang telah ditetapkan melalui Penentuan Pendapat Rakyat (Pepera) pada 1969 silam. Ramses menegaskan, ada pihak-pihak yang sengaja membelokkan sejarah Papua untuk memelihara konflik di Tanah Papua. "Sejarah masuknya Papua ke dalam NKRI sudah benar, hanya saja dibelokkan sejumlah warga tertentu yang kebanyakan generasi muda," ujarnya. Lebih lanjut dijelaskannya, fakta sejarah menunjukkan keinginan rakyat Papua bergabung dengan Indonesia sudah muncul sejak pelaksanaan Sumpah Pemuda, 28 Oktober 1928. "Sayangnya, masih ada yang beranggapan bahwa Sumpah Pemuda tidak dihadiri pemuda Papua. Ini keliru, karena justru sebaliknya, para pemuda Papua hadir dan berikrar bersama pemuda dari daerah lainnya. Ayah saya, Poreu Ohee adalah salah satu pemuda Papua yang hadir pada saat itu," ujar Ramses.

 

Penulis beropini bahwa sebelum Papua masuk ke dalam Indonesia sejak 1969 itu memang benar Papua itu sudah ada antara orang-orang Papua yang belasar dari Pantai dan gunung. Na, yang memunculkan konsep antara Papua gunung dan Pantai adalah tidak terlepas dari perebutan jabatan seperti menjadi seorang Gubernur, Bupati dan DPR di tanah Papua itu sendiri. Selain itu, yang bikin Papua pantai dan gunung itu datang dari para pemekar Daerah Otonomi Baru (DOB) karena mereka mengedepankan kepentingan uang yang sifatnya menghancurkan anak muda masa depan bangsa Papua. Untuk itu, dalam tulisan ini, penulis lebih menekangkan dengan nada yang keras kepada semua anak muda yang dimana saja berada (dimuka bumi ini) bahwa  kita tetap bersatu dari segala aspek karena persatuan kita adalah kekuatan kita bersama sebagai generasi muda Papua untuk membangun Papua yang sesungguhnya, dari bidan-bidan yang kita sedang belajar  pada saat ini sesuai visi dan misi oleh Gubernur Propinsi Papua (Papua Bangkit, Mandiri, dan Sejahtera yang Berkeadilan).

 

Lebih lanjut, waktu saya kuliah S1 di Universitas Udaya Bali, saya sering dengar kalimat persatuan Nasional Papua. Kalimat ini sering diutarahkan oleh mahasiswa/I Papua di Bali. Misalnya, kontrakan yang dibayar oleh PEMDA Kab. Nduda untuk mahasiswa Nduga Bali, mereka sering sampaikan pada saat syukuran berlangsung bahwa teman-teman ini kontrakn milik kita Bersama “kontrakan mahasiswa Nduga itu hanya atas nama saja,” jadi, teman-teman juga bisa tinggal kontrakan ini. Konsep ini menunjukan bahwa persatuan nasional Papua adalah harus dibangun oleh semua anak muda Papua yang ada di muka bumi ini agar pembangunan masa depan Papua dari segala aspek dapat terwujud sesuai harapan kita Bersama sebagai anak muda Papua. Tambahan, natal dan konferensi IMAPA USA di Loss Angeles, California, 2019, Ketua mantan (Anies) ditekankan bahwa sesuguhnya Papua itu satu tidak ada yang Namanya Papua itu dua, tiga dan lainnya. Selain itu, dia juga sempat sampaikan dengan nada yang keras kepada para hadirin lebih dari 5 ratusan pada natal dan konferensi IMAPA USA 2019-2020 bahwa teman-teman, kita sebagai anak muda Papua, maka hari ini juga kita harus bersatu demi untuk membangun Papua yang lebih maju secara korperatif.

 

Kesimpulan

Berdasarkan penjelasan diatas, maka penulis menyimpulakna bahwa Papua itu satu bukan dua, tiga dan seterusnya, jadi penulis menekangkan kepada anak muda Papua yang ada di muka bumi bahwa kita akan tetap membangun persatuan nasionalime Papua menuju kepada pembanguna Papua sesuai visi dan misi oleh Pak Gubernur ( Father Lukas Enembe) di Propinsi Papua secara kulturatif Papua.

 

 

Daftar Pustaka

https://ekonomi.kompas.com/read/2009/08/21/06205938/sejarah.papua.dalam.nkri.sudah.benar

 

Penulis adalah Komisi Hak Asasi Manusia (HAM), Sport, dan Sprituality di IMAPA Amerika Serikat]*

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait