Kematian VS Perjuangan Nasib Bangsa

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
keterangan Foto : Yunus Eki Gobai (Foto Dok KM)

Oleh:  Yunus Eki Gobai


Orang Asli Papua masih tetap mengalami kematian di mana-mana. Kondisi ini teramat memilukan hati dan mencemaskan OAP meskipun masih diperjuangkan Papua yang damai tanpa kekerasan oleh para pihak. Berdasarkan pengalaman Orang Asli Papua selama ini, jumlah kematian Orang Asli Papua lebih semakin tinggi ketimbang angka kelahirannya. Jika kita meneliti jumlah pasien di setiap rumah sakit umum dan daerah di seantero Papua, semua ruangannya hanya sudah hampir dipenuhi oleh para pasien Orang Asli Papua. 

 

Mereka mengalami penderitaan dengan berbagai macam penyakit yakni seperti sakit Malaria, FBC dan HIV/AIDS. Sementara itu, orang non Papua tak banyak ditemukan atau bisa dihitung dengan jari pada kedua tangan di sana. Selain itu, para pengunjung dan para pelayan juga dipadati oleh orang non Papua, meskipun tidak ada pasien yang harus dikunjungi dari keluarga mereka.

 

Entah cepat atau lambat, para pasien Orang Asli Papua di setiap rumah sakit itu sudah semakin tetap bertambah dan serentak bertambah pula peristiwa kematian mereka. Karena itu kita tidak heran hanya jika para pasien Orang Asli Papua biasanya meninggal dalam satu hari lebih dari lima orang di setiap rumah sakit yang ada di seantero Papua. Kematian berlapis Jika diteliti secara baik, semua penyakit yang dialami oleh Orang Asli Papua itu bisa disembuhkan.

 

Penyakit yang diderita mereka itu sudah tentu ada obatnya. Sakitnya bisa disembuhkan jika mereka sudah melewati proses pengobatan dan perawatan medis tersebut. Apalagi, ada sejarah mengajarkan bahwa Orang Asli Papua biasa menyembukan berbagai penyakit yang dideritanya sendiri. Obatnya, mereka sudah langsung ambil dan konsumsi dari alam yang biasa disebut obat tradisional. 

 

Alam Papua itu adalah produk obat bagi mereka dalam sepanjang sejarah. Itu sudah berada bagi Papua sekalipun kehadiran pemerintah Indonesia selama lebih dari lima dekade telah memusnahkan, menghancurkan dan tidak membantu masyarakat untuk membudidayakan obat tradisional Papua. Tapi anehnya, Orang Asli Papua gampang meninggal di rumah sakit yang katanya serba guna itu. Orang Asli Papua harus terpaksa menghembuskan nyawanya dalam proses perawatan para pelayan kesehatan pada setiap rumah sakit yang ada di tanah Papua karena minimnya pelayanan kesehatan.

 

Sambil kita menyadari konflik Papua secara umum di tanah Leluhur, Orang Asli Papua di atas tanah Papua masih tetap mengalami kematian secara berlapis-lapis. Sejarah telah mengajarkan bahwa Orang Asli Papua tidak luput dari kematian massal pada setiap tahun. Secara defakto, kematian atas Orang Asli Papua, diatas tanah Papua itu telah terjadi dari tiga tingkatan utama yakni tingkat usia anak dan remaja, tingkat pemuda dewasa dan yang sudah menikah serta masih tetap ada kematian Orang Asli Papua pada tingkat usia lanjut baik dari Provinsi Papua dan Papua Barat.

 

Dari hari ke hari, sistem kematian Orang Asli Papua di tanah Papua yang separah itu telah nampak terbukti melahirkan korban nyawa yang semakin memprihatinkan dan membisu. Hal lain yang membuat Krisis OAP secara kuantitas adalah meningkatnya angka kematian yang sangat signifikan. Salah satu penyebabnya karena Penyakit HIV/AIDS. Angka Orang Dengan HIV-AIDS (ODHA) terus meningkat setiap tahun.

 

Berdasarkan data dari Dinas Kesehatan Provinsi Papua: 31 Desember 2016 total 26.973 ODHA tahun berikutnya 31 Desember 2017 sebanyak 32.263 ODHA sementara data per-30 September 2018 sebanyak 38.874 ODHA. Selain itu, data yang dirilis oleh Rumah Sakit Umum Daerah (RSUD) Dok II Jayapura mengungkap jika sejak Januari hingga November 2018, OAP meninggal sebanyak 421 orang atau rata-rata 5-7 orang meninggal setiap hari. Kedua fenomena di atas ini sungguh menjelaskan bahwa OAP secara kuantitas sudah dan sedang mengalami penurunan yang sangat drastis di atas tanah leluhurnya sendiri.

 

Secara kualitas SDM OAP juga sedang berada pada urutan paling terakhir dari total 34 provinsi di Indonesia. Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik (BPS, 2017) Jakarta menunjukkan bahwa Papua masih berada pada tingkat terendah Indeks Pembangunan Manusia (IPM) dengan 59,09 dari total 34 provinsi di Indonesia. Selain itu, Papua juga memiliki tingkat buta aksara tertinggi dengan 71,04 untuk usia di atas 15 tahun (BPS, 2018). Data ini mengungkapkan bahwa pendidikan sedang menjadi salah satu isu sentral di Papua.

 

Selain kasus HIV/AIDS, Orang Asli Papua mati dengan sistem dan gaya baru, secara sistematis dan terstruktur oleh Negara Indonesia seperti, tabrak lari, pembunuhan masal, Miras, kurang gizi, TBC Paru, ginjal dan liver. Kematian orang asli Papua dari berbagai perspektif ini dipelihara, dikelola melalui adanya berbagai proses kebijakan pembangunan yang tidak memihak kepada Orang Asli Papua di atas tanah Papua.

 

Realitas berbagai problem di Papua yang tidak kunjung selesai ini adalah gambaran nyata dari bagaimana pemerintah Indonesia menggusur keberadaan Orang Asli Papua dan alam Papua menuju genosida. Dengan demikian, saya meramalkan bahwa Orang Asli Papua dan alam Leluhur Papua tidak akan ada masa depan yang baik dalam bingkai Negara Republik Indonesia. 

 

Penentuan Nasib bangsa adalah pilihan bersama untuk menghapus penderitaan di Papua dan sebagai titik balik untuk menatap masa depan Papua yang hidup bebas diatas tanah leluhurnya. Jadi, Presiden Negara RI, Jokowi harus perlu setia terhadap janjinya untuk menyelesaikan berbagai konflik Papua secara menyeluruh. 

 

Patut disimak oleh pemerintah Indonesia (Jokowi) bahwa apabila terjadi masalah di antara setiap anggota komunitas suku-suku bangsa Papua, seperti salah satu pihak melakukan masalah perebutan atas tanah milik anggota komunitas masyarakt atau bangsa lain. Maka biasanya menyelesaikan melalui pertemuan untuk mencari solusi. Sebenarnya masalah seperti ini sudah biasa ditindak tegas secara baik, adil dan jujur karena telah dianggap sebagai pelanggaran HAM berat terhadap keberadaan hidup Orang Asli Papua tentang kepemilikan dan sistem nilai hidup sejati bagi etnis Papua. 

 

Masalah ini pun tidak biasa berlangsung lama dan dapat segera diselesaikan secara menyeluruh melalui jalan yang tepat berdemokratis dan mengangkat martabat manusia. Biasanya dimediasi oleh satu pihak yang netral di lingkungan suku bangsa setempat demi mempertahankan hidup bagi Orang Asli Papua diatas tanah Papua. Guna menyelesaikan problem di Papua, tentunya memperoleh solusi menyeluruh yang teramat memuaskan yaitu berikan kebebasan yang damai, adil, benar dan bermartabat.

 

Hak Penentuan Nasib Bangsa ini bisa dialaksanakan berulang pada masa mendatang hanya jika masih belum memperlihatkan solusi. Intinya, setiap orang Papua dari berbagai suku bangsa telah diajarkan melalui budayanya bahwa dalam setiap peristiwa termasuk masalahnya, mereka biasanya selalu menyelesaikan melalui keadilan dan kebenaran guna mempertahankan hidup yang adil dan benar bagi Papua. 

 

Oleh karena itu, Hak penentuan Nasib Bangsa ini mengharapkan dan mendesak pemerintahan Indonesia, untuk tidak mengingkari janji kenegarawannya. Tidak lagi menipu kepada Orang Asli Papua dan sesegera menyelesaikan berbagai konflik Papua secara adil, benar dan bijaksana serta bertanggung jawab. Jikalau Negara gagal menyelesaikan semua persoalan di Papua. Maka, solusi bagi Orang asli Papua adalah Hak menetukan Nasib Sendiri diatas tanah Papua. 


Penulis adalah anak asli suku Mee yang membidangi Komisi HAM & Komsos di Paroki Kristus Sang Gembala Wedaumao.

#Budaya

#Pemerintahan

#Mahasiswa dan Pemuda

#Lingkungan dan Hutan

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

#Papua Bisa

Baca Juga, Artikel Terkait