Kemerdekaan Papua Menyelamatkan Bangsa Papua

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

7 Hari yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Maximus Sedik saat aksi menyempaikan ide didepan publik tentang ketidakadilan di tanah Papua.

 

 

 Oleh Maximus Sedik

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.COM--Sebelum saya menulis lebih lanjut topik saya diatas, saya mau sampaikan bahwa tulisan saya pasti tidak semua orang membacanya, dan juga membagikan di media sosial. Tapi ada yang baca dan membagikan ke media sosial, sa tulis gunakan bahas mudah dipahami, tra gunakan bahasa terlalu formal dan akademis, spekulasi saya. Tulisan ini sebagai analisis berdasarkan keresahan saya secara pribadi sebagai anak bangsa Papua. Saya tahu semua orang Papua pasti memiliki pertanyaan yang sama seperti saya, di diskusikan dan juga menulis. Cukup disini pengantar saya untuk tulisan ini, semoga dibaca hingga paragraf penutup, selamat membaca.

 

Dalam catatan sejarah semua bangsa yang memperoleh kemerdekaan, tidak diberikan secara langsung oleh bangsa penjajah, ingat ini. Seperti Indonesia yang sekarang menjajah kami bangsa Papua. Kemerdekaan suatu bangsa itu diperjuangkan, nyawa, darah dan pengorbanan ini nilai yang harus dibayar atas nama masa depan bangsa. Desakan dari dalam atau dari bangsa terjajah itulah menekan penjajah untuk memberikan kemerdekaan melalui mekanisme formal seperti referendum dan bentuk lain. Apa yang dilakukan dari dalam bangsa terjajah, membangun organisasi yang lebih progresif, terorganisir, terpimpin dan radikal dari semua lapisan. Lapisan itu tanpa memandang status apapun, prinsip paling utama, sama-sama merasakan penjajahan; karena penjajah tidak pandang kedudukan, jabatan dan seterusnya. Sistem yang dibangun penjajah atas bangsa Papaua, itu kolonilisme modern dan mengikuti perkembangan zaman. Semua orang Papua, seharusnya tahu ini terutama kaum terdidik dari semua kalangan.

 

Kolonial Indonesia cara kerjanya terhadap Papua itu seperti cara kerja kapitalisme yang merampok seluruh isi bumi untuk kepentingan kapitalnya. Kapitalisme itu sistem yang dikendalikan oleh manusia, begitu juga kolonialisme itu sistem yang di tetapkan oleh manusia. Bagaimana cara kerja-nya; kerjanya berubah setiap saat, bisa berbicara persoalan ekologi, humanisme dan kesetaraan. Dalam konteks kolonialismen Indonesia terhadap Papua siapakah yang berhak memahami itu, yang berhak memahami adalah bangsa Papua itu sendiri dan dari dirinya menyampaikan kepada bangsa lain atau kepada dunia. Seperti rakyat bangsa Papua menyamapikan kepada rakyat Indonesia bahwa bangsamu menjajah bangsaku, segera hentikan dan berikan hak bangsa saya sebagai bangsa merdeka, berdaulat atas bangsa saya seperti bangsamu.

 

Tugas apa yang dilakukan bangsa Papua untuk menentang kolonialisme Indonesia, yang paling esensial adalah memahami cara kerja kolonialisem itu sediri dengan jalan membangun politik alternatif. Propaganda politik secara terpimpin dan terdidik, maka tugas dari kita berjuang bersama rakyat, membaca buku menulis dan aksi masa bagian dari reaksi kami.

 

 Apa bentuk kolonialisem di Papua, sejak Papua dianeksasi hingga saat ini ribuan nyawa bangsa Papua hilang, beberapa luas hutan yang dirampok habis, adanya kesenjangan yang di sengaja. Hal ini telihat seperti beberapa hal: pendidikan yang buruk, angka kematian anak yang meningkat akibat dari kualitas kesehatan buruk dan masih bayak gejala-gejala yang menunjukan adanya pemusnahan atas bangsa Papua. Terjadi juga disparitas dalam persaingan pasar, karena tidak adanya kewenangan untuk mengatur, ini semua bentuk dari penjajahan.

 

Sejak bangsa Papua dipaksakan oleh Indonesia bergabung higgga saat ini tidak ada keselamatan bagai bangsa Papua. Kapan kolonialisme itu berakhir ? berakhir dengan satu jalan kemerdekaan bangsa Papua diraih, bintang fajar bekibar, bunyi hai tanahku Papua di seluruh pelosok Papua. Apakah rakyat Indonesia memahami bahwa Indonesia menjajah Papua ! rakyat Indonsia mulai sadar terhadap apa yang di lakukan sistem Negara Indonesi  sifatnya kolonilistik terhadap bangsa Papua berjalan selama setegah abada ini. Tergerak secara nurani kemanusiaan, secara personal maupun membangun organisasi gerakan politik dengan dasar manifesto yang jelas yakni, mendukung kemerdekaan Papua dari kolonialisme Indonesia.

 

Rakyat Indonesia, terutama kawan-kawan bergabung dalam gerekkan politik dan secara individu terbukti siap untuk di buang dan dipenjara, hanya karena ikut berjuang dan menyuarakan situasi yang kritis dan menuju pemusnahan terhadap rakyat bangsa Papua. Bangsa Papua Prinsip Politiknya jelas dan dasar berpikir juga jelas adalah bebas dari kolonialisme Indonesia. Perjuangan yang di perjuangkan  berdasarkan asa kemanusiaan, menjunjung tinggi perbedaan, membangun kehidupan sosial, politik, ekonomi dan budaya berprikemanusiaan tanpa batas sekat-sekat.

 

Papua merdeka itu menyelamatkan bangsa Papua dari semua aspek kehidupan, menunjukan kepada dunia, kami adalah bangsa bermartabat. Bangsa yang besar adalah, berjuang mempertahankan harga diri bangsanya bukan membiarkan penderitaan bercorak kolonialisme atas bangsanya. Bangsa Papua harus menunjukan kepada dunia, perjuagan yang di gagas sejak Indonesia belum merdeka hingga saat ini bukan perjuangan meminta makan minum dari kolonialisme Indonesia, tetapi berjuang untuk merdeka. Narasi yang terbangun  dari orang Papua sendiri maupun orang Indonesia, apakah Papaua merdeka bisa mampu urus diri sendiri atau dikuasai oleh bangsa asing ? Mahatma Gandhi, Seokano, Videl Castro dan tokoh lain masih hidup mendengar pertanyaan ini pasti tertawa, karena tidak logis.

 

Ini orang berjuang untuk nasib bangsa  dan rakyat bukan minta piring makan. Ingat rakyat Indonesia waktu berjuang menentang kolonialisme Belanda mendapatkan pertanyaan yang sama baik dari sesama-nya maupun oleh Belanda sendiri. Semangat perjuangan berkobar-kobar seluruh nusantara, kecuali Papua, tujuannya menentang kolonial Belanda. Indonesia mempolitisir Papua mengangkat beberapa nama seperti Frans Kaisepo dkk ikut berjuang, ini adalah kompromi politik untuk mempetahankan Papua. Papua bukan dijajah Belanda tetapi diduduki sehingga cara pandang kami bangsa Papua terhadap Belanda berbeda dengan Indonesia. Bangsa-bangsa yang pernah mengalami kolonialisme atas bangsanya menghadapi tantangan perjuangan yang sama seperti sekarang di hadapi bangsa Papua.

 

Jabatan, kedudukan dan berbagai hal diberikan semua itu upaya politik untuk menghentikan perjuangan dan mendukung adanya kolonialisme seperti sekarang dan akan datang di Papua. Otonomi Khusus ditetapkan, bupati orang Papua, Gubernur orang Papua dan semua atas nama anak asli. Secara logika demokrasi itu bertentangan dengan demokrasi kerena prinsip hak asasi manusia dan demokrasi adalah setiap orang berhak untuk berkompentisi atau memperoleh pekerjaan dimanapun.

 

 Analisis lain bisa ditemukan, kami orang Papua yang dijajah juga ikut mendukung penjajahan terhadap bangsa kami sendiri. Prinsip perjuangan masih kaku dan ganda, tidak seutuhnya membela bangsa sendiri, ini terlihat sangat jelas seperti lain berjuang lain meminta pemekaran. Secara asasi itu hak, tetapi untuk menyebut diri sebagai bangsa itu bukan asasi tetapi membiarkan pemusnahan manusianya, budaya-bahasa dan mendukung adanya genosaid terhadap Papua.

 

Apa yang mendasari Papua harus merdeka sebagai solusi yang paling demokratis dan fundamental, yang utama Papua adalah bangsa seperti Indonesia, kedua proses sejarah kami berbeda dan paling penting seperti penjelasan saya diatas bahwa mengakhiri penderitaan dan juga seluruh tatanan kehidupan: manusia, hutan, budaya dan semua.

 

Papua merdeka itu untuk semua orang; yang lahir, hudup, sekolah, menikah, bekerja, menghirup udara dan semuanya tanpa memandang perbedaan etnis, suku, rasa, agama dan antragolongan. Yang berhak menikmati kemerdekaan Papua anak cucu yang lahir dengan damai tanpa melihat penderitaan seperti sekarang kami menghadapi. Bentuk penderitaan nyata adalah sekarang terjadi operasi militer dimana-dimana, Pendeta ditembak mati dihadapan umatanya, anak bangsa pemilik negri Papua mengungsi di Nduga, persistiwa kematian di Timika indikasinya berbeda-beda dan banyak kematian tidak habis untuk menulis.

 

Membiarkan sesama dibunuh, dibantai, ditangkap, dipenjara dan tindakan represifitas berwatak militeristik adalah bagian dari mendukung adanya pemusnahan dan merendahkan dirinya sebagai bangsa. Papua itu bangsa besar, ada manusia membangun hidup dan kehidupanya, bukan setiap hari diperhadapkan dengan operasi militer, pembunuhan, tabrak lari, racun dan menuju pemusnahan. Kami semua ikuti menyaksikan penderitaan dan merasakan, apakah berdoa supaya Tuhan datang untuk user penjajah Indonesia; saya pikir tidak, berdoa dang berjaung. Berjuang dengan banyak cara, bukan aspek politik yang menjadi basis perjuangan; tetapi semua perjuangan bermuara pada politik yakni Papua merdeka. Kami semua pasti tahu penjajah selalu ada dimana-diman ikut memantau seluruh aktifitas yang dilakuan. Banyak tokoh-tokoh berpengaruh yang diculik, diracun dan penyakit baru di Papua adalah penyakit jatuh.

 

Kami dijajah secara sistem juga dijajah secara mental dan karakter, terus menurus terjadi. Yang praktis menumpuk dalam akal pikiran watak sentiment melebihi argumentasi secara logis untuk bertengkar terutama soal-soal yang menyangkut keselamatan dan kepentingan bangsa Papua. Jual- beli Nasionalisme berkembang, terbukit bahwa menghianati bangsanya sendiri, penghianatan itu hal yang biasa terjadi terutama soal-soal perjuangan. Secara abstraktif argumentasi ini, tetapi analisis dengan logika yang tajam ditemukan relasi kuasa berjalan menginjak darah yang mengalir setiap saat, minta makan-minum tanpa merasa bersalah. Kemerdekaan Papua jalan terbaik dan mengantar Papua menuju  Papua baru.

 

Saatnya, bukan lagi bertanya Papua merdeka mampu mengatur negaranya; optimisme untuk mencapai tujuan adalah hakiki dalam perjuangan merebut kemerdekaan. Konteks bangsa Papua, kami merebut kembali kemedekaan kami yang dibawa lari oleh kolonial Indonesia. Setiap detik, menit, jam, hari dan seterusnya kami orag Papua meninggal akibat kecelakaan, penyakit menular dan penyakit baru oleh negara yakni oprasi militer, penangkapan, penyiksaan, diculik dan intimidasi secara verbal maupun secara fisik.

 

  1. Papua Merdeka

 

Kemerdekaan itu hak semua bangsa di dunia, kemerdekaan adalah jalan terbaik untuk menentukan dan menyelamatkan bangsa. Misi utama bangsa-bangsa terjajah di dunia bebas dan merdeka, bangsa terjajah seperti Papua. Meraih kemerdekaan Papua secara total: politik, ekonomi dan sosial dengan jalan kemerdekaan bangsa, berhak mengatur dirinya sebagai bangsa bermartabat. Kami semua generasi muda-tua menyaksikan, melihat darah manusia Papua mengalir setiap menit, detik dan tak berhenti atas tanah ini. Hutan Papua dibabat, gunug digusur dan semua sel-sel hidup secara alamih dikeruk bahkan musnah. Jiwa-jiwa tak bersalah lenyap sejak bangsa (Papua) di aneksasikan melalui politik yang tidak bermoral dan cacat secara hukum. Awal mulanya, politik kolonial Indonesia mensabotase kemerdekaan orang Papua melalui tekanan militer untuk menekan kondisi psikis (Posese penentuan pendapat rakyat 1969) untuk memilih bergabung dengan Indoneia.

 

Sejarah kelam ini membekas dalam diri setiap anak Papua lahir dari mama Papua, membaca dan berdiskusi tentang Papua. Mengapa Papua harus merdeka, saya yakin hati kecil semua orang Papua setuju Papua harus merdeka. Perjuangan kemerdekaan bagian dari hakikat demokrasi yang demokratis, setiap bangsa  berhak dan/atau individu berhak untuk bebas dari penindasan. Papua itu sebuah pulau dalamnya ada wilayah kartografi, budaya, kultur dan manusia. Adanya kumpulan dalam etnisitasnya maupun di luar dari kelompk, membangun kehidupan antara masyarakat aman dan damai. Kami orang Papua ikut berperan penting membiarkan penjajahan tetap ada hidup, ini sangat bobrok. Papua merdeka, seperti penjelasan saya di awal tulisan ini, kemerdekaan Papua secara total, merdeka secara politik, ekonomi, sosial kemasyarakatan tidak dikuasai oleh imperialis asing serta koleganya. Manusia Papua seharusnya memahani hakikat sejarahnya dan totalitas hidupnya, dan menyusun Papua baru.

 

Kebebasan itu diperjuangkan untuk bebas dari belenggu penjajahan; penjajahan itu sangat buruk tidak bermoral. Kita sama-sama bangsa manusia, yang membedekan kita terletak pada fisik. Fisik bukan parameter perjuangan bangsa Papua, kita bersama berjuang untuk bebasa dari sistem, asas utama adalah humanisme yang berlandaskan perbedaan apapun. Kita semua bersepakt bahwa yang terjadi di Papua itu suatu sistem untuk mendukung adanya kapitalisasi alam dan kehidupan manusia. Kekerasan bersifat kapitalisme itu berbahaya; seperti menimbulkan gejolak  sosial dalam kehidupan masyarakat, kemiskinan tidak pernah luput, demokrasi memburuk dan ekologis mengalami ekosida. Papua akhir-akhir ini dilihat segi analisis yang baik, terdapat adanya siklus kehidupan cepat berubah. Perubah baru tanpa kita pahami dan sadari masuk pada sistem kehidupan bangsa Papua. Papua, mengalami degredasi moral secara bertahap akibat pengaruh dari gejala-gejala sosial kita  tidak memahami bersama menunjukan adanya pembiaran akan berakibat pada pemusnahan baik secara mental, karakter dan otak manusia bangsa Papua.

 

Kami orang Papua sendir pasti menempatkan komprehensif masing-masing terkait masalah Papua, semua berespekulasi bahwa Papua lebih baik berada dalam sistem Indonesia, ini berlaku untuk kaum oportunis lokal banyak memproduksi logika formal. Bagi rakyat biasa yang tersentuh langsung kekerasan sosial, ekonomi dan politik yang kehidupannya, pasti memilih untuk meredeka. Dan juga bagi kaum mudayang tersentuh dengan literasi (membaca, diskusi ,menulis, meneliti dan aksi) berargumentasi bahwa kami bangsa Papua harus merdeka. Masyarakat Papua memahami dan terbentuk dari peristiwa-peritiwa berkecimpung dan memberikan satu jalan pikiran untuk keselamatan Papua, yakni Papua segera merdeka.

 

Negara meluncurkan banyak program beragam istilah seperti, memberikan otonomi khusus (otsus), kebijakan fisikal yang dikuncurkan ke Papua, itu bagian dari diskriminasi sistematik. Sekarang otonomi khusus sudah mau berakahir, Jakarta mulai mendikte kebijakan tidak logis seperti penerimaan khusus, tes khusus, pengawai khusus dan kahusus-khusus lain. Bila kita meletakan logika berpikir baik ini bagain dari diskriminasi ! mengapa karena semau warga negara memiliki hak yang sama dihadapan hukum dan negara. Setiap warga negara berhak mendapatkan jaminan kehidupan dari negara, tanpa narasi kekhususan. Kebijakan dalam bentuk apapun tidak menjamin keselamatan bangsa Papua, hanya kemerdekaan Papualah yang menyelamatkan Papua. Keselamatan, manusia, tanah, udara, hutan, air, batu, gunung, pohon, bunga, burung dan semua yang ada di Papua itu hanya satu jalan yakni Papua Merdeka.

 

Penulis Adalah Mahasiswa Jalanan di Kota Yogyakarta.

 

#Mahasiswa dan Pemuda

#Politik

#Mahasiswa Papua

Baca Juga, Artikel Terkait