Ketimpangan dan Marginalisasi terhadap Masyarakat Papua

Cinque Terre
Manfred Kudiai

5 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Maxsimus Sedik. Ist

Oleh, Maximus sedik)*

 

ARTIKEL, KABARMAPEGAA.com--Kehidupan manusia di planet yang sempurna dengan segala isinya dari planet lain. Tetapai manusia masih berada pada persaingan antara sesama, baik bersaing secara pola pikir maupun bersaing dengan berbagai segi kehidupan baik, ekonomi, sosial, dan persaingan secara politik. Manusia menjadikan politik sebagai seni utama untuk mempermiankan antara ekonomi dan sosial. Dalam kehidupan yang berjalan sesuai dengan perekembangan yang dilakukan oleh sesama manusia itu sendiri. Hasil dari apa yang dicapai sangat membawa perubahan bagi kehidupan seluruh lapisan sosial masyarakat.

 

Tetapi apa yang di rancangan oleh manusia itu sendiri memberi dampak yang sangat besar. Karena akibat dari periodesasi awal kehidupan di suatu benua atau negara yang begitu lama wakunya. Terutama Negara-neagara yang mempunyai akar sejarah yang berhubungan dengan para pemikir-pemikir awal. Para pemikir berpikir bagaimana untuk menemukan sesuatu yang baru maupun bagaimana keadaan kehidupan manusia yang baik. Dan semua menjadi nyata dalam kehidupan manusia (masyarakat), dengan ini sehingga terbagai menjadi buah pokok pikiran utama meliputi ekonomi,sosial,dan politik.

 

Saya menempatkan politik dan ekonomi sebagai persaingan utama di seluruh dunia karena kedua kajian ini sebagai acuan utama suatu Negara atau benua untuk bersaing. Ketika politik dan ekonomi berjalan dengan baik, mampu menjawab beberapa dasar kehidupan lain. Tetapi keduanya berjalan dengan baik apabila adanya suatu dasar yang baik yaitu pendidikan. Pendidikan sebagai dasar utam untuk mencapai suatu perubahan dari seluruh aspek kehidupan.

 

Perkembagan kehidupan yang semakin cepat, meransang kehidupan manusia semakin gila akan segala hal. Baik manusia membunuh manusia, manusia menindas manusia, manusia menjajah manusia, dan berbagai hal yang dilakukannya. Mereka tidak sadar bahwa mereka semua adalah mahluk ciptaan yang istimewa sehingga saling menghargai sesama. Semua yang dilakukan hanya untuk mengejar kehidupan yang diperjuangkan sesuai dengan apa yang dipikirkan.

 

Bagaimana dengan kehidupan masyarakat Papua sesuai dengan kondisi ini, kondisi yang ada di tengah masyarakat Papua tidak menunjukan adanya keseimbangan kehidupan yang baik antara lapisan masyarakat. Karena terlihat adanya perberdaan yang nampak baik dari segi ekonomi, sosial, politik, dan secara khusus budaya. Akibat dari perbedaan ini, menunjukan adanya ketimpangan sosial karena terlihat pada akses untuk memproleh apa yang menjadi kebutuhan utama baik tersier maupun sekunder. Mengapa terjadi ketimpangan, ketimpangan terjadi karena akibata tidak adanya proses pemerataan yang baik di tengah kehidupan masyarakat. Terutama kehidupan pada aspek ekonomi dan poltik yang lebih terlihat dari cara permainan para pemegagng kibijakan publik.

 

Papua bereda pada indeks utama dalam ketimpangan. Mengapa, karena sejak awal papua dinyatakan sebagai daerah yang mempunyai administrasi secara pemerinatahan sendiri. Dengan adanya pemerintahan ini, Papua dijamian atau diberi kewenagan untuk dapat menjalankan seluruh roda kehidupan. Tujuan adanya kewengan yang diberikan berdasarkan apa yang sering diperdebatkan atau disebut dengan otonomi khusus dan secara langsung mampu menjawab kebutuahan dasar dari kehidupan masyarakat Papua. Kehidupan masyarakat Papua terbagai menjadi dua kelas utama, kelas bawah, dan kelas atas. Untuk yang diposiskan sebagai kelas atas merupakan mereka yang berada pada posis atau bagian-bagian penting dalam birokrasi pemerintahan. Kelas bawah adalah kelas yang  tidak terlihat karena dikategorikan sebagai orang yang mengalami ketmpangan sangat besar.

 

Saya lebih pada kaum yang menjadi sorotan utama yaitu mereka yang mempunyai arti dari sejahatera dan makamur yang diimpikan bersama. Yang ditujuakan oleh para pemikir maupun pemerhati yang mempunyai jiwa kemanusian untuk kehidupan yang benar-benar nyata. Semua pemikir muda Papua, berpikir bagaimana untuk menjawab segala persolan yang terselimut bersama rakyat Papua selama setengah abad ini. Tetapi seni mesin politik berjalan dengan kapasitas yang lebih tinggi sehingga sangat mempengaruhi dan meracun seluruh, kader-kader pemikir masa depan papua. Akibat dari seni bermainnya politik yang berjalan dari atas ke bawah akhirnya banyak yang korban maupun menggorbankan kehidupnya dan kehidupan masyarakat papua secara umunya.

 

Apakah ketimpangan dan marginalisasi terjadi di tengah kehidupan masyarakat Papua?

 

Secara kehidupan ekonomi, sosila, dan politik memperlihatkan apa yang disebut dengan ketersaingan maupun keterpinggiran terhadap kehidupan orang asli papua.Berdasarkan situasi yang terjadi di tengah kehidupan orang Papua sangat nampak dengan cara-cara yang sulit untuk diketahui orang Papua. Sistem yang dirancang sedemikan rupa untuk menghilangkan orang Papua dari tanah Papua, dengan cara ini kita melihat secara langsung mengapa orang Papua mati banyak, mengapa orang Papua miskin di atas tanahnya sendiri, mengapa orang Papua tidak menadapatkan askes pelayanan baik kesehatan maupun pendidkan dengan baik. Dan Papua menduduki indeks tertinggi sebagai pulau termiskin dan gizi buruk tertinggi bahkan penyakit HIV/AIDS, juga ikut menduduki posis yang sama.

 

Apakah semua ini kita persalahkan pada pemerinatah papua atau pemerintah pusat? Untuk mengetahui apa yang menyebabkan sehingga sekian tahun lamanya masyarakat Papua berada di tengah kehidupan negara yang di kategorikan sebagai Negara yang kaya akan sumber daya alam yang berlimpah. Dan Negara yang disebut seabagai Negara yang menghargai Nialai-nialai kemanusiaan maupun disebut sebagai Negara hukum. Tetapi persoalaan-persoalan sosial yang tetap bersahabat bersama kehidupan masyarakat papua. Dan diikut sertakan dengan pembunuhan, penganyianyaan, dan banyak aksi-aksi yang merugikan kehidupan masyarakat papua.

 

Sekian lama masyarakat papua berada bersama Negara ini, tetapi sekian banyak yang juga korban dan orang papua bukan orang pengemis tetapi kami punya kekayaan yang besar untuk menjawab semua kebutuahan.Papua dikatakan harata harapan dalam lirik lagunya putra papua Edo Konologit itu belum menyentuh dan mensejahaterakan rakayatnya. Sekala pembangunan yang dilakukan oleh pemerinatah belum sepenuhnya menjawab kebutuhan masyarakat papua.

 

Puluhan bayi mati gizi buruk di Asmat, penayakit HIV/AIDS meningkat, angka buta huruf meningkat, indeks kemiskinan tinggi karena roda perekonomian tidak berjalan dengan baik pembatasan ruang demokrasi dan pelanggaran hak asasi manusia (HAM) yang di lakukan pemerintah masih membalut bumi cendarawasih.

 

Miasalnya, samapai akhir 2017 dan memasuki Tahun 2018, provinsi papua dan papua barat masih berada pada presentase penduduk termiskin di indonesia. Indeks pembangunan manusia kedua provinsi yang berada di paling timur Negara ini, juga berada pada posisi papan bawah tidak sebanding dengan wilayah lain.Dari tahun ke tahuan tampaknya perubahan tak pernah beranjak di kedua daerah ini,menyebabkan gejolak ketimpangan tak pernah berakhir.

 

Kondisi kehidupan masyarakat papua,semakin lama, semakin menuai dengan keadaan yang sangat menusuk sanaubari setiap insan pemikir. Untuk mencari berbagai jalan sehingga menemukan jawaban yang sebenarnya berkaitan dengn semau yang terjadi. Masyarakat papua tidak menuntut  Negara untuk memabangun infastruktur yang bersegala eropa tetapi masyarakat papua menuntut Negara menhormati dan dan mengahargainya sebagai wargara Negara maupun sebagai manusia. Sebagai manusia yang memiliki kesamaan hidup yang harus dihormati dan diberikan keklelusan. Saya memang mengetahui bahwa Negara berjuang untuk membagun tanah papua, terutama di era kepemimpinan Presiden Jokowi-JK. Tetatpi yang perlu diketahui bersama adalah bagaimana Negara bisa mampu menyelesaikan persoalan-persoaln dasar yang dituntut dari masyarakat Papua. Kami kaya akan isi bumi, tetapi kehidupan kami sangat merangsang setiap orang yang berpikir tentang keberadaan kami. Negara melihat dan memanfaatkan kami dari isi buminya bukan melihat kami sebagai manusi yang isitimewa dan manusia yang layak untuk dihormati.

 

Negara denagan cara yang tersistem untuk mengkur daya berpikir masyarakat papua secara khusus kaum muda papua.Yang berada pada koridornya sistemnya sehingga, semua akativitas yang dilakuakan harus berdasarkan perintah yang diperintahkan. Seluruh pemangku kebijakan masyarakat papua, berada pada sistemnya denagn cara ini secara tidak langsung Negara sudah meranacang sedemikaian rupa untuk membawa masyarakat papua dengan apa menjadi tujaun utama mereka.

 

Tentu bukan saja manusia yang hidup seperti roda penadati, yang harus berputar, sebentar dibawah, sebentar di atas, sebentar di samping kiri maupun kanan bila digerakann. Dan bukan saja berbagai sejarah penderitaan yang kita baca di seluruh dunia. secara khusus Amerika Latin yang bisa mengenapi kata-kata bijak dari seorang novelis, pejuang dan dramawan Irlandia, Oliver Goldsmith (1730-1734). “Kemulian paling besar bukan karena kita tidak pernah terpuruk, tetapi karena kita selalu bangkit setelah terjatuh”. Tetapi papua juga sedang berada pada posisi perlombaan yang berat untuk mencapai itu. Papua hari ini, berada pada era yang gelap gulita, tetapi masih ada harapan untuk matahari akan bersinar di esok. Sinar dan cahayanya memberikan kesuburan baru bagi kehidupan di tanah yang penuh denagn susu dan madu. Matahari tidak pernah tunda untuk terbit, tetapi matahari selalua terbit, keadilan tidak pernah di halangi atau ditunda.

 

Yang membaca opini ini, ketika belum merasa adanya sentuhan perasaan yang menusuk karena cinta akan keadaan. Saya  belum cukup dengan memberikan diri untuk menganalisi sesuai dengan apa yang dipahami. Ketika tidak ada pensil untuk merangkai kata dan menceritakan tentang perasaan batin dan cinta terhadap semuanya. Air mata sebagai penghapus untuk mengahapus semuanya dan tinggalah cerita kuno.

 

"Bersama sadar dan berpikir untuk masa depan tanah yang kaya akan susu dan madu."

 

Penulis adalah mahsiswa Tambrauw kuliah di Yogayakarta)*.

 

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait