Kita Semakin Banyak: Trima Kasih Arnold AP

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
The lyrics of the heart : Arnold C Ap

 

Oleh: Miquiel Takimai)*

Terlepas dari wacana lagu rakyat yang paling baik dan lagu modern tidak baik. Terlepas juga bahwa, anak-anak jaman sekarang hanya menang di kamar menggunakan aplikasi audio seperti Fl Studio dan sejenis lainya. Terlepas bahwa syair dulu lebih bermutu dari pada sekarang. Terlepas juga bahwa orang-orang kelahiran 1980 hingga 1990 masih menikmati lagunya Mitha Talahatu dari pada lagunya Vicky Slamour. Terlepas bahwa, musisi sekarang tidak bisa diandalkan karena menggunakan program  dari pada bermain langsung dengan alatnya.

 

Terlepas dari itu semua, saya ingin mengatakan bahwa Arnold Ap yang baru sudah banyak bermunculan dengan wajah baru sesuai zamannya. Dahulu, di era Arnold Ap, tidak banyak alat musik dan studio yang kita bisa temukan. Yang paling mudah terakses hannyalah gitar, ukulele, seruling, dan tifa yang paling simpel didapati. Oleh karena itu, alternatif terakhir adalah alat musik yang tersedia seperti yang telah disebutkan tadi. Di Uncen, mereka merangkai kata untuk merangkai dengan kata-kata dengan irama khas musik-musik populer country klasik  tahun 1990 hingga 1970an yang dibalut dengan irama khas Papua. Yang paling menonjol Musik Country ala James Travis Reeves, dan artis di eranya sekitar tahun 1948–1964. Juga dengan beberapa artis populer pada saat itu yang kemudian mempengaruhi beberapa orang Papua (salah satunya Arnold Ap, dkk) untuk memadukan dengan lagu tradisional dari beberapa daerah yang kemudian menjadi lagu rakyat yang kita kenal.

 

Demikian juga dengan sekarang. Dengan teknologi yang begitu cepat perkembangannya hingga menghasilkan gawai yang saat ini kita pegang telah membuat kita mengenal beribu kali lipat lagu yang kita konsumsi dari lagu-lagu zaman Ap. Di samping itu, alat musik yang dahulu kita harus memainkan dengan menyentuh alat tersebut telah berubah menjadi alat yang tidak ada bentuk tetapi kita tinggal klik saja. Tidak hanya berhenti di situ. Dahulu, untuk rekaman kita harus mencari orang yang memiliki radio, kaset, michrophone, dll. Bahkan “produser” yang  memiliki uang untuk mendanai rekaman tersebut. Tetapi, sekarang tidak perlu mencari itu semua. Sudah ada tersedia di dalam komputer. Salah menyanyi, tidak perlu ulang dari awal atau mengganti kaset baru. Sekarang, salah menyanyi, berhenti dan rekam ulang hingga seribu kali pun bisa. Itulah perbedaannya. Pasti banyak kelebihan dan kekurangan dari dua era yang telah digambarkan tetapi saya tidak akan mengarah ke sana tetapi mari kita lihat benih-benih baru itu.

 

Saya tidak akan mengarah pembicaraan kepada musik-musik elektrik yang pernah digemparkan oleh Black Brothers di Indonesia hingga di luar negeri yang proses produksi yang membutuhkan  kemampuan khusus dan finansial yang lebih. Tetapi di sini saya akan bicara mengenai prosesnya yang praktis dan otonom dalam penciptaan dan pemroduksian musik. Kemudian, lebih spesifik akan berbicara mengenai suara mereka untuk tanah Papua. Jika berbicara mengnai Arnold Ap tentu poin ini hanya lebih sedikit dari substansi yang telah diperjuangkan dan dihasilkan oleh Ap. Dengan demikian, dari posisi itu kita bisa melihat bahwa banyak anak  yang sudah mulai bersuara untuk melalui apa yang mereka miliki. Misalnya Epo dengan hip-hop khasnya, H2MC dengan lagunya “Dimi Neegawei”, dll, Viktor Yeimo dengan lagunya “Derita Negeri”, AMP dengan rekaman-rekaman sederhananya, Pace Santana dengan lagunya, “Aee mama sioo“, Roberta Muyapa dengan lagu-lagunya tentang “Paniai berdarah”, dan begitu banyak anak-anak Papua yang bersuara untuk Papua.

 

Jika berbicara mengenai suka tidak suka itu hanyalah keinginan yang tumbuh dari konstruksi dari lagu dari yang kita dengar. Bekas dengaran dari lagu-lagu 1980 hingga 1990an, orang-orang di masa ini akan lebih tertarik lagu2 melou ala Mitha, karena musik yang populer era itu musik yang khas Ballad ala Black Brothers, Black Sweet, yang dilanjutkan oleh beberapa artis, salah satunya Jhon Mofu, dst. Tetapi, kelahiran 1995 hingga sekarang terutama tahun 2000an mereka akan lebih tertarik ke lagu-lagu hip-hop, RnB, DJ, dst. Mengapa, kareba hanya lagu seperti inilah yang kebanyakan generasi sekitaran ini dengarkan dari pada lagu-lagu yang lama. Sebagai penjelasan, orang menyebut Pop, itu kepanjangan dari Populer atau bahasa kita adalah musiman. Sehingga, pada dasarnya musik yang berlalu lalang itu bersifat musiman untuk kalangan umum (tidak untuk orang yang secara khusus belajar musik secara khusus).

 

Berawal dari Arnold Ap, yang karyanya dan semangatnya yang membekas sebenarnya tidak pudar hingga saat ini. Apalagi syair-syairnya yang menyentuh telah banyak menghasilkan benih-benih baru. Walaupun, syair-syairnya yang khas mengalir lembut tak tergantikan juga jumlah dan keunikannya termasuk irama-irama khas yang semakin terabaikan. Tetapi, hal itu tidak mematikan identitas orang Papua dan suara orang Papua. Hanya tinggal dipoles, dan terus dikembangkan. Masalah-masalah orang Papua sedang terus dicatat melalui irama—irama modern masa kini. Suara perlu untuk kita apresiasi, mendukung, dan mendorong mereka agar suara-suara derita orang Papua ini tetap menyejarah. Sejarah dahulu mereka telah ukir, sejarah sekarang milik anak-anak sekarang. Biarkan mereka mengekspresikan kepekaan mereka seperti pendahulu kita Ap dengan cara mereka sendiri. Kita hanya perlu mendorong, mengoreksi, memperbaiki, supaya suara ini semakin menjalar hingga mengorek hati yang diam dan mengorek hati serigala yang lapar untuk berhenti memangsa.

 

Ap kita telah banyak tetapi hidup ini masih misteri

Kami masih terus diburu, dimasukkan di dalam jeruji

Ap kami masih ingat, hidup tidak hanya sekedar bernyanyi

Tetapi benar hidup  ini untuk kebebasan  pun dengan bernyanyi

 

Kami telah banyak, berlipat ganda.

Kami akan berjuang, hingga kami bebas

Kami akan terus berjuang hingga lepas

Kami akan bernyanyi lagi walaupun di dalam jeruji

Terima kasih Ap

 

*Penikmat dan pemain musik pernah berkuliah di Universitas Sanata Dharma Yogyakarta dan pernah bergabung di Sadhar Jazz, bermain alat musik tiup (Flute, Harmonica, dan Saxophone)*

#Mahasiswa dan Pemuda

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait