KNBP Wilayah Mnukar Peringati Hari Kemerdekaan Bangsa Papua Dengan Dua Materi

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

6 Bulan yang lalu
POLITIK DAN PEMERINTAH

Tentang Penulis
KNBP Wilayah Mnukar Peringati Hari Kemerdekaan Bangsa Papua Dengan Dua Materi. Bertempat di Amban sekitar pukul 10.20 WPB. Selasa (1/12/202). Foto: Yecko Gobai.

 

 

MNUKWAR, KABARMAPEGAA.COM--Komite Nasional Papua Barat (KNPB), wilayah Menukar telah memperingati hari deklarasi manifesto Negara Republik West Papua yang di cetuskan pada 1 Desember 1961 dan 1 Desember 2020  ke- 59 Tahun dengan dua materi. Bertempat di Amban sekitar pukul 10.20 WPB. Selasa (1/12/202).

 

Kegiatan ini dirayakan bersama seluruh aktivis KNPB, mahasiswa dan masyarakat berupa diskusi dengan dua topik materi. Pertama "Sejarah Perjuangan Bangsa Papua" oleh Ketua 1 KNPB Wilayah dan kedua "Penjajahan Abad Moderen" oleh Ketua KNPB Wilayah Menukar.

 

Kegiatan tersebut di dasari dengan tema "Rebut Kembali Kedaulatan Melalui Mogok Sipil Nasional".

 

Kemudian, dalam materi pertama ketua 1 KNPB, mejelaskan kilas balik sejarah  Papua sejak abad ke-14 dimana orang luar menemukan Papua pada tahun 1365 hingga pada masa PEPERA 1969 hingga kini.

 

"Sejak orang asing mulai masuk dari China, Spanyol, Portugis, Jepang dan Belanda ada perlawanan pribumi Papua untuk mempertahankan identitas, karena mereka menilai kedatangan mereka mengambil kekayaan alam serta pandangan hidup yang berbeda dengan kehidupan orang Papua" jelasnya.

 

Ia menambahkan, Pemerintah kolonial Belanda mempersiapkan dan mengizinkan deklarasi negara republik west Papua sejak 1 Desember 1961 yang di akui secara defacto, namun karena kepentingan ekonomi, pemerintah kolonial Indonesia dan Amerika membungkam dan mencaplok Papua kedalam negara kesatuan republik Indonesia melalui berbagai tindakan operasi Tri komando dan Trikora, pungkasnya.

 

Lanjut, Pelaksanaan New York Agreement dan Roma Agreement pun tidak melibatkan orang asli Papua sebagai hak untuk menentukan nasib negeri sendiri, sehingga kami menilai Indonesia memaksakan orang Papua bergabung dalam negara kesatuan republik Indonesia, katanya.

 

Lanjut, selain itu pelaksanaan (PEPERA) 1969 juga tidak melaksanakan sesuai mekanisme hukum internasional bahwa satu orang satu suara namun satu kelompok satu suara. Itu artinya Indonesia memaksakan orang Papua demi kepentingan ekonomi di Papua.

 

Sementara itu, ketua KNPB Wilayah Mnukwar mengutarakan dalam materi diskusi, saat ini orang Papua dipengaruhi oleh penjajahan moderen  dalam sektor pendidikan, kesehatan, sosial, budaya, ekonomi dan politik. Misalnya orang Papua mempunyai pakaian adat koteka, namun dengan adanya perkembangan zaman lama kelamaan orang mengikuti kebudayaan berpakaian moderen.

 

Lanjut, Hal tersebut menjadi terbiasa dalam kehidupan orang Papua terutama dalam konsumsi pangan juga. Dahulu nenek moyang mengkonsumsi pangan tradisional seperti keladi, petatas dll. Namun kini sudah berubah petatas dan keladi di gantikan dengan makanan nasional seperti beras, supermi dll.

 

"Kami berharap orang Papua harus kembali mengelola sumber daya alam, meningkatkan kebudayaan tradisional. Jangan terpangaruh dengan kebudayaan moderen. Karena nanti ada ketergantungan hidup dan penjajahan akan terus berjalan" kata ketua KNPB.

 

Lanjut, kondisi seperti ini akan terus terjadi dalam kehidupan orang Papua sehingga kami mengajak orang Papua jangan mudah terpangaruh kita akan habis dan punah diatas tanah kita. Oleh sebab kita harus sadar dan lawan dalam setiap tindakan-tindakan kolonial.

 

Dalam kesempatan itu, salah satu anggota KNPB Y. Aliknoe mengatakan, penjajahan dan penderitaan akan berakhir ketika kita melakukan mogok sipil nasional sebagai solusi untuk menentukan nasib bangsa Papua, jelasnya.

 

Selain itu, Dalam pertengahan kegiatan, ada pantauan dan kujungan 9 Mobil Dalmax dari polisi dan 4 Mobil Avanza dari polisi dan intelijen. Namun kegiatan tersebut, berjalan secara baik dan terkendali,  kata pantauan militan Wilayah.

 

Pewarta: Yecko Gobai

Editor: Admin/KM

 

#Politik

#Komite Nasional Papua Barat (KNPB)

Baca Juga, Artikel Terkait