KNPB Mnukwar Tolak New York Agreement dan Minta Bebaskan Victor Yeimo Tanpa Syarat

Cinque Terre
Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
TANAH PAPUA

Tentang Penulis
Ketua KNPB Alexander Nekenem didampingi rakyat Manokwari saat membacakan pernyataan sikap usai Ibadah bersama, Manokwari Minggu (15/08/2021). (Foto:PY/KM. Doc.ist).

 

MANOKWARI, KABARMAPEGAA.com---Puluhan rakyat Mnukwar bersama  Komite Nasional Papua Barat (KNPB) Wilayah Mnukwar dengan tegas menolak  New York Agrement 1962 dan menegaskan segera bebaskan Juru Bicara Internasional KNPB, Victor F Yeimo, Minggu,  (15/08), Amban Manokwari, Papua Barat.
 

Penyataan tersebut dikatakan KNPB wilayah Mnukwar usai  menggelar ibadah bersama. Ibadah kali ini, mengusung tema, 'Lawan Rasisme, Bebaskan Victor Yeimo dan Berikan Hak Penentuan Nasib Sendiri.”

 
Ketua KNPB Mnukwar, Alexander Nekenem mengatakan pihaknya dengan tegas menolak 15 Agustus 1962 sebagai hari 'New York Agreement'.
 

Dikatakan Nekenem, rakyat Papua sebagai pemilik tanah namun sama sekali tidak  dilibatkan dalam rapat New York Agrement tersebut.

 
"Jadi, rakyat Papua dinomorduakan negara sampai saat ini adalah bukti bahwa negara Indonesia adalah Negara penjajah bagi rakyat Bangsa Papua,"  katanya kepada awak media.


Sehingga, kata dia,  sebagai hak politik sebuah Bangsa, segera berikan hak penentuan nasib sendiri bagi rakyat Bangsa Papua Barat.

 
Selain itu, KNPB wilayah Mnukwar juga meminta Polda Papua agar segera  bebaskan jubir KNPB Internasional,  Victor F Yeimo.

 
"Polda Papua segera bebaskan Tuan Victor F. Yeimo (Juru bicara Internasional KNPB dan PRP). Apalagi, Tn. Victor F. Yeimo ditahan tanpa bukti yang jelas. Victor Yeimo murnih korban rasisme. Bukan lagi pelaku rasisme," tegasnya.

 
Menurut Alex Nekenem,  rakyat bangsa Papua sebagai pemilik tanah Papua yang sedang dijajah Indonesia.

 
"Rakyat Papua, terus membangun persatuan dan kesatuan sebagai kekuatan bangsa melumpuhkan sistem penguasa yang menindas ini," ajaknya.

 
Sementara itu, mewakili masyarakat adat Arfak di Mnukwar, Kelly Dowansiba mengatakan pihaknya pun menolak New York Agreement.
 

Pihaknya menilai bahwa 15 Agustus 1962 adalah hari tidak dihargainya martabat orang Papua sebagai pemilik negeri.

 
"Jadi,  Indonesia , Belanda dan Amerika segera bertanggung jawab menyelesaikan persoalan untuk menggugat dimakamah Internasional berdasarkan hukum internasional yang ada," pintanya.

 
Kata dia, orang Papua adalah manusia yang hidup diatas tanah leluhur mereka sendiri. "Kami bukan bukan binatang, akyat harus bersatu melawan sistem Indonesia yang menindas ini."

 
Pada kesempatan yang sama, Logo, mewakili Perempuan Papua dengan senada mengatakan,  "Kami sebagai perempuan Papua merasa terjajah karena Anak-anak kami yang menyampaikan kesakitan kami sebagai mama Papua selalu mereka ditangkap, dibunuh dan lain sebagainya."
 

"Kami sebagai mama merasa kecewa karena Victor F. Yeimo sebagai anak kami yang ditangkap tanpa alasan yang jelas. Bahkan kondisi tubuhnya pun memprihatinkan sehingga tolong bebaskan Victor Yeimo tanpa syarat," pinta Logo kepada awak media.

 
Pewarta : Petrus Yatipai
Editor: Manfred Kudiai
 

#Politik

#Komite Nasional Papua Barat (KNPB)

Baca Juga, Artikel Terkait