Kolonialisme Elektronik

Cinque Terre
Manfred Kudiai

3 Bulan yang lalu
ARTIKEL

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Eletronik. Ist. (Sumber: Era Muslim)

 

Oleh, Izahk Bofra)*

 

Mendekatkan yang jauh, menjauhkan yang dekat adalah antitesa dari problem sosial yang lagi menjadi penomema yang sedang lagi maraknya di Indonsia, maupun dunia pada umumnya.efek dari kemajuan arus perkembangan  inovasi Teknologi Informasi seperti Hp, Gadget, maupun Internet. Menjadi pemandangan menarik sekaligus menjadi pemandangan duka cita.karena menghilangkan arti interaksi social secara langsung antar individu dengan individu secara rill dan nyata dalam habitus interaksi sosial manusia akan tetapi yang berkembang yaitu seakan kita bermain di ruang kosong yang terisi hanya ilusi bayangan, walaupun nyata  secara bayangan akan tetapi absrak berada dalam sublimasi pandangan dan pikiran kita,ada tetapi sebenarnya tidak ada. Karena dihubungkan oleh jaringan Internet akan tetapi secara  realitas individu yang berada disekitar kita itu lebih nyata karena keberadaan dia, bukan keberadaan yang dipisahkan hanya dipertemukan lewat bayangan itu tidak real seakan kita hanya bermain di alam pikiran kita sendiri dan itu adalah potret yang hari berkembang dan makin mengila karena mengilas manusia terhipnotis dengan bayangan dan melupakan esensi kehadiran manusia yang berada disamping dia sehingga Intenaksi social menjadi tantangan hari ini memang di akui bahwa kita tidak bisa menafikan perkembangan Globalisa, yang point utama yaitu arus informasi tanpa ruang, waktu serta melampau sekat-sekat Negara, bangsa, etnis, dinding kamar, dan jenis kelamin. Seperti yang diutarakan oleh sosiolog Simmel bahwa moderniasi telah menciptakan manusia tanpa kualitas karena manusia terjebak pada rasionalitasnya sendiri,dan melupakan hubungan interaksi social yang itu merupakan wujud dari rasionalisasi keberadaan kita sebagai manusia social,bukan manusia mendsos.


Perkembangan mendsos di Indonsia mengalami lompatan cukup cepat seiring dengan perkembangan Globalisasi,yang mengkonstruksi dunia terlihat seperti Village Globalisasi (Desa Global ),sehingga mempengaruhi pada cara pandang,cara berpikir,dari segenap generasi muda yang terkesan irasionalitas bukan rasionalitas dalam memaknai manfaat mendos bagi kemudahan untuk mempermudah akses komunikasi maupun lainya.tetapi seakan kita lupa,atau memang masa bodoh dengan arti penting dari  interaksi social, sebagai mahluk social yang butuh interaksi secara langsung, mengalami kehilangan pemaknaannya,karena terjebak pada  fenomema mendsos yang mengakibatkan terkesan asik sendiri . Yaitu orang lebih asyik dengan Hp,gadget maupun lainya sehingga terlihat seakan orang di sekitar mereka adalah fana,atau kosong karena penguna mendsos lebih asik obrolan,chating,maupun game.akibatnya interaksi secara verbal tidak terjadi dan dalam durasi waktu yang cukup lama kita melupakan orang disekitar kita atau bisa dibilang secara  radikal  orang disekitar kita kita anggap hilang untuk sementara waktu karena kita sibuk dengan bayangan kita sendiri dalam dunia mendsos.

 

Teknologi Informasi mengakibatkan  penguna mendsos adalah objek dari teknologi,mengapa dikatakan objek, karena kita tidak mampu untuk menyeimbangkan antar pergaulan, interaksi,komunikasi,yang menjadi identitas orang timur,namun yang terjadi kita terkooptasi secara langsung pengaruh dari mendsos yang mengarahkan  kita ,menjadi  objek .Objek untuk di mainkan  dalam dunia maya, sehingga  melupakan  interaksi social  yang  rill  atau nyata di  sekitar  kita. memang di akui mendsos mampu memperpendek interaksi antar Negara ,kabupaten ,kecamatan ,kampung ,maupun antara kamar ke kamar.tetapi yang menjadi pertanyaan ruang interaksi verbal menjadi tidak ada.kalau ruang interaksi verbal (langsung) tidak terjadi maka akan tercipta budaya  bisu,karena tidak ada interaksi secara langsung.sangat di sayangkan sekali,kalau kondisi ini berkembang dan terus-menerus menjadi kebiasan maka,orang akan menjadi asing satu sama lain,karena kita lebih asyik dengan orang di dunia maya,dunia manipulasi ,dunia bayangan. Maka kita telah terkonstruksi ke manipulasi ruang yang oleh Anthony Giddens bahwa kita sedang digempur habisan-habisan oleh modernitas yang diumpamakan seperti kereta raksasa yang mengilas segala sesuatu yang ada dijalannya,yang pada tingkat tertentu tidak terkontrol.sehingga kita sebagai penguna kalalu tidak terkontrol dan mengontrol aktifitas kita diMendos maka secara otomatis kita telah tergilas oleh kereta raksasa yang bernama Modernitas.hal tersebut menjadi tanda bahwa kita telah kehilangan eksistensi dan identitas kita sebagai manusia,karena kita menjadi budak dari setan yang bernama Mendsos.

 

EFEK DARI MENDSOS

Hilangya Interaksi sosial

Karena menurut Prof.Dr.Soerjono Soekamnto mengatakan bahwa interaksi social adalah kunci semua kehidupan sosial, tidak ada interaksi berarti tidak mungkin ada kehidupan.yaitu interaksi antara individu dengan, individu dengan kelompok,kelompok dengan kelompok. Walaupun mendsos adalah bagian dari interaksi namun yang menjadi kritikan ialah teknologi menciptakan individu menjadi objek yang hilang dari habitat aslinya, karena melihat Indonesia adalah bangsa yang  memiliki beragam etnis yang tersebar dari Sabang sampai Merauke, maka interaksi harus di bangun melalui komunikasi langsung, saling sapa, bercanda gurau, maupun sharing sehingga kita mampu mengenal perbedaan yang ada, memahami karakter etnis yang berbeda-beda.bukan asyik sendiri dengan mendsos, kita mengenal tetapi tidak memahami karena tidak mengenal langsung individu, atau seseorang yang kita kenal di dunia mendsos.berbeda kalau interaks terjadi secara langsung kita mengenal dan memahami individu atau seseorang secara langsung, karena ada komunikas verbal, yang akan membantu kita lebih memiliki refrensi tentang seseorang yang kita ketemu.

 

Hilangya  Eksistensi Manusia

Efek dari mendsos yang tanpa kita sadari, tetapi sudah menjadi bagian dari kehidupan kita dewasa ini, melihat potret dari kebiasan yang mengantarkan Individu menjadi seseorang yang indvidualistik, materialistik, mentalitas instan, menjadi malas bersosialisasi pada lingkungan sekitar, kurang religious, egois, tidak memiliki rasa empati pada problem sosial yang terjadi pada lingkungan sekitar, mengurangi produktifitas, merasa terisolasi, menciptakan jarak, dan apatis karena asyik sendiri, pada ruang manipulasi yang di ciptakan oleh kolonialisme elektronik yang sudah mengendalikan gaya hidup dan juga kesadaran, menurut Thomas L.mCphiall. Pada konteks kesadaran ada hal yang aneh seperti tertawa sendiri, senyum sendiri, sedih sendiri, marah sendiri, seakan seperti orang gila.kejangalan yang luar biasa karena manusia bisa menjadi objek permainan Teknologi dan di kendalikan oleh Teknologi. Potret tersebut   menjalar di hampir semua aktifitas manusia baik di ruang public maupun ruang privat.

 

Keseimbangan Pemakai Mendsos 

Harus ada keseimbangan,karena perkembangan mendsos memaksa kita untuk harus siap beradaptasi pada perkembangan,karena kalau tidak siap maka  akan tertingal oleh perkembangan yang semakin hari semakin pesat dan kencang.maka penguna mendsos harus menjadi subjek bukan objek dari Teknologi,karena kalau menjadi objek akan menjadi naïf,oleh karena itu penguna mendsos harus mengatur keseimbangan agar tercipta masyarakat Teknologi yang sadar,mengapa karena nilai,norma,adat kebiasaan,suka menolong,peduli pada lingkungan sekitar,gotong royong,silaturahmi,interaksi antara sesama manusia secara langsung adalah hal-hal positif yang di miliki oleh masyarakat Indonsia,sehingga penting untuk di pertahankan oleh lintas Generasi,dan terkhususnya generasi muda,baik yang tingal di kota,maupun desa.mendsos penting,tetapi harus ada check and balance ( keseimbangan) karena ada hal-hal positif yang dapat kita petik dari perkembangan mendsos,sehingga menuntut kita harus menjadi subjek bukan objek,karena kalau kita menjadi objek maka akan tercipta masyarakat bisu.semoga tidak terjadi pada generasi muda harapan bangsa,bukan mainan Teknologi yang akan teralienasi oleh perkembangan Teknologi tersebut.

 

Daftar Pustaka:
Widjono, Haryo, Roedy.Jurnal. Materi Pelatihan Ansos dan kekerasan berbasic Gender.2018. Papua Barat.
Radar Sorong,27/04/2018


Penulis adalah Pengurus Pemuda Katolik Komisariat Cab.Kabupaten Tambrauw Kordinator Kaderisasi periode 2018-2021.
 

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

#Politik

Baca Juga, Artikel Terkait