KOMITMEN I MEI:  Tuntut Kemerdekaan, Kesetaraan, Kesejahteraan Rakyat dan mendukung Pembebasan Papua Barat

Cinque Terre
Alexander Gobai

3 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

YOGYAKARTA, KABARMAPEGAA.com—Komite 1 Mei untuk “Kemerdekaan, Kesetaraan, dan Kesejahteraan” (KOMITMEN 1 Mei) yang terdiri dari  PMD, PEMBEBASAN, SIEMPRE, SEBUMI, AMP, LBH, DEMA JUSTICIA FH UGM, KASBI, KPO PRP, LSS  gelar aksi damai peringati hari buruh  Internasional di titik nol Kilometer, Yogyakarta, Selasa (1/5/2018). Aksi kali ini diikuti kurang lebih 200-an peserta.

 

Dalam aksi ini, terdapat 32 tuntutan yang mengarah pada pencapaian kemerdekaan, kesetaraan dan kesejahteraan. KOMITEMN 1 MEI selain hari buruh nasional mereka juga mendukung pembebasan Papua Barat yang juga pada hari ini, 1 Mei sebagai hari aneksasi Papua kedalam Indonesia yang pernah terjadi pada 1 Mei  1961 di Holandia, sekarang Jayapura.

 

 

Humas Komiten 1  Mei Day  “Kemerdekaan, Kesetaraan, dan Kesejahteraan” Lutfy Mubarok mengatakan aksi Hari Buruh Internasional momentum menuntut kemerdekaan, kesetaraan, dan kesejahteraan bagi rakyat dan kaum buruh yang tertindas juga dengan kawan-kawan di Papua yang Hari  ini juga sebagai peringati   55 tahun Hari Aneksasi Papua kedalam Indonesia dan mendukung pembebasan  bagi Rakyat Papua.

 

“Sebenarnya mereka pengennya seperti itu, itu yang lebih baik  bagi mereka, itu adalah keputusan dari mereka sendiri, itu adalah hak mereka, mereka mau seperti apa itu hak mereka,” jelas Lutfy saat diwawancara media ini saat aksi berlangsung di Nol Kilometer, Selasa (1/5/2018).

 

Kata dia, Kesejahteraan buru sangat minim, apalagi di Papua.  “Papua saat ini melalui pernyataan kewan-kawan dari sana, bawasaan kesejahteraan mereka berbeda dengan kesejatraan yang dijaminkan oleh Indonesia.

 

“Papau saat ini dari keterangan kawan-kawan, kesejahteraan yang sangat jauh tetapi kesejataraan  mereka berbeda dengan kesejahteraan yang menurut Indonesia ini ada, jadi pandangan mereka menuntut menentukan nasib sendiri itu adalah bawasannya untuk mensejahterakan masyarakat Papua,” paparnya.

 

Menurutnya standar kesejahteraan masyarakat Papua saat ini tidak bisa mengunakan standar kesejahteraan yang di gunakan negara ini.

 

 

Dari tempat yang sama, Korlap aksi Front Rakyat Indonesia untuk West Papua (FRI-WP) Opik juga mengatakan tanggal 1 Mei kita memperongati hari buru secara Internasional, yang kedua kami yang tergabung dalam Komitmen 1 Mei  untuk kemerdekaan kesejatraan juga mengkat isu soal 55 tahun aneksasi Papua dalam Indonesia.

 

“Sebagian tuntutan, kami fokuskan pada persoalan-persoaln buruh dan juga terkait dengan persoalan-persoalan yang ada di Papua,   lebih spesipiknya ke persoalan Militerime dan persoalan pelanggaran HAM di masa lalu sampai saat ini,”

 

Harapannya untuk masyarakat kaun tertindas secara luas, baik itu orang asli Papua, orang Indonesia, maupun seluruh orang yang ada di muka bumi,  yang ditindas bangkit mewujudkan kesatuan dan persatuan.

 

“Mari kita bangun kesatuan, sama-sama bantu saudara kita yang ditindas, mari kita sama-sama dalam persatuan yang kuat tanpa ada elit politik borjuis. Yah sekali lagi tanpa ada elit berjuis kita lawan negara kolonial yang masih ada yaitu  negara Indonesia yang menjaja sodara-dodara kita bangsa Papua,” katanya kepada media ini.

 

Baca juga: 200-an Peserta Aksi Hari Buruh dan Aneksasi Papua Long March Menuju Titik Nol Kilometer Yogya

 

Sementara itu, petik dari pernyataan sikap KOMITMEN 1 MEI, sejarah adalah hasil, setelah melalui proses pertarungan kelas antara kelompok yang ada di masyarakat: yang kuat dan lemah.  Dengan uang dan kekuasaan , mereka yang kuat pada akhirnya selalu menjadi pemenang.

 

Lenjut, kesejahteraan jauh dari mayoritas rakyat. Kelas berkuasa menghancurkan kesetaraan dengan adu domba menggunakan sentimen agama, rasisme terhadap orang Tionghoa, Indonesia Timur maupun Papua; seksisme terhadap LGBT dan perempuan serta komunistophobia.

 

“Dalam sistem demikian , Buruh, Kaum Tani dan kaum Miskin Kota  paling banyak yang menjadi pihak yang disalahkan, merekalah yang disebut kaum tertindas,” paparnya dalam pernyataan sikap KOMITMEN 1 MEI.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

 

Baca Juga, Artikel Terkait