KPA Papua Tutup, Matuan: Tidak Ada Pekerjaan Kantor

Cinque Terre
Aprila Wayar

12 Hari yang lalu
KESEHATAN

Tentang Penulis
Freelance Journalist
Kantor KPA Provinsi Papua, Dok II Jayapura (Image: Supply)

 

KABARMAPEGAA.comYanuel Matuan, Ketua Komisi Penanggulangan AIDS Provinsi Papua mengatakan kantornya ditutup sementara karena tidak ada pekerjaan kantor. Hal ini dikatakan melalui sambungan pribadi saat mengkonfirmasi pertanyaan KABARMAPEGAA.com terkait kondisi ODHA baru yang kesulitan mengakses informasi dari KPA pada Minggu (5/9) sore.

Awalnya Matuan menjawab bahwa staf KPA reaktif Covid-19 sehingga harus menjalani isoman selama 14 hari. Selanjutnya, pihaknya mengaku bila stafnya sedang melayani di lapangan, hal itu dilakukan karena tidak ada pekerjaan di kantor. Ia juga meyakinkan KABARMAPEGAA.com kalau stafnya itu akan kembali bekerja pada senin (6/9).

Susan, ODHA baru yang membutuhkan informasi terkait HIV/AIDS harus menelan kekecewaan saat mengunjungi Kantor Komisi Penanggulangan HIV/AIDS Provinsi Papua karena kantor tersebut dalam keadaan tutup dan tidak ada aktivitas.

“Ini ketiga kalinya saya berkunjung ke kantor ini dalam tiga minggu berturut-turut dan kondisinya masih sama. Tidak ada aktivitas, tidak ada orang yang bisa saya tanyai dan pintu kantornya terkunci,” kata Susan kepada KABARMAPEGAA.com melalui selular, Jumat (3/9) sore.

Dalam dua kunjungan sebelumnya, Susan mengaku sempat bertemu beberapa orang yang bertetangga kantor dengan KPA. Mereka mengatakan kalau mereka melihat kantor itu sudah tidak ada aktivitas sejak tahun lalu. Stafnya pun tidak kelihatan.

“Saya butuh informasi terkait HIV/AIDS sekarang. Ada banyak pertimbangan dan saya memilih KPA dibanding lembaga lain atau rumah sakit tetapi ternyata saya harus kecewa,” kata Susan lagi.

Menurutnya, apapun yang dilakukan KPA termasuk kerja lapangan, kantor yang beralamat di Jalan Kesehatan No. 2 Jayapura ini harus dilihat sebagai sentral informasi yang aktif agar memudahkan ODHA baru mendapat akses informasi dan pengetahuan. Apalagi tutupnya sampai setahun, Susan mengaku gagal paham dengan kondisi ini. Ia menyayangkan nasib ODHA lain yang tidak memiliki akses informasi apapun terkait HIV/AIDS ini.

“Tidak semua orang memiliki akses informasi dan sampai pada titik ini saya sedih. Lembaga yang dibangun negara dan juga dikelola orang asli Papua untuk menyelamatkan orang Papua justru begini. Semoga segera dibuka mengingat penyakit ini seperti fenomena gunung es,” pungkas perempuan Papua yang berdomisili di Abepura ini. (*)

Baca Juga, Artikel Terkait