Kronologi Penembakan Frans Kbarek di Sorong

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

5 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Frans Krabek dalam kondisi terbaring, seorang nelayang yang ditembak oleh aknum Bribob, Rabu (13/6/2018) belum lama ini. (Doc. Frengki.Ist)

 

SORONG, KABARMAPEGAA.com—Kasus Penembakan nelayan atasnama Frans Kbarek oleh aknum anggota Brimob, Rabu (13/6/2018) di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Kota Sorong. Terkait dengan peristiwa ini,  Frengki Syufi, mahasiswa kerjasama dari keuskupan Manokwari-Sorong dan keuskupan Agats-Asmat yang mengenyam pendidikan di Universitas Sanata Dharma (USD) Yogyakarta ini melaporkan Kronologi kepada media ini,  Selasa (19/6/2018).

 

Kronologi Penembakan Frans Kbarek Yang Dilakukan  Oleh Brimbob Indonesia Di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jembatan  Puri, Klademak 2 Kota Sorong.

 

Pada hari Rabu tanggal 13 Juni 2018 pukul 06.23 – 06.53 WIT yaitu terjadi penembakan terhadap seorang nelayan di Jembatan Puri Kota Sorong yang dilakukan oleh aparat keamanan Negara Kesatuan Republik Indonesia (Brimob).

 

Kejadian ini bermula ketika korban bersama seorang rekan dari keluarganya pergi ke Jembatan Puri Kota Sorong untuk membeli ikan agar menjualnya di Pasar. Ketika sampai di Tampat Pelelangan Ikan (TPI) Jembatan Puri Klademak 2 Kota Sorong, Frans Kbarek bersama seorang rekannya melihat bahwa ada nelayan bersama anak buahnya yang baru saja kembali dari melaut dengan perahu dan membawa hasil tangkapan ikannya.

 

Korban dengan rekannya mau membantu nelayan  bersama anak buahnya untuk memindahkan ikan dari perahu tetapi karena pada saat itu juga, ada seorang Brimob dan seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang berada di lokasi kejadian melarang dan menyampaikan kepada mereka bahwa kamu tidak boleh membantu nelayan  untuk memindahkan ikan hasil tangkapan, melainkan anak buah dari nelayan itu  yang memindahkan ikan dari dalam perahu untuk dibawa dan jual di pasar.

 

Berdasarkan hasil keterangan yang dilaporkan  oleh John Bisai sebagai keluarga korban yang diwawancarai langsung oleh Paul Finsen Mayor, S.IP selaku Ketua Dewan Adat (DAP) wilayah III Doberay pada hari Kamis,14 Juni 2018 dirumahnya korban. Ketua Dewan Adat (DAP) wilayah III Doberay menyampaikan bahwa wawancara yang dilakukan untuk menjelaskan kronologi kejadian penembakan yang dilakukan oleh seorang anggota Brimob dan seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI). Dari hasil interview   dengan seorang rekan yang mengikuti korban untuk membeli ikan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jembatan Puri, Klademak 2 Kota Sorong menyatakan bahwa Frans Kbarek bersama rekannya pun meninggalkan lokasi tersebut dan pergi ke tempat baru yang berdekatan dengan lokasi pertama mereka dilarang oleh anggota TNI dan anggota Brimob untuk membantu nelayan agar  memindahkan ikan dari dalam perahu. Dalam perjalanan pergi, sempat terjadi dialog antara korban dengan seorang rekannya bahwa ini ada uang Rp 200.000,00 yang bisa kita gunakan untuk membeli ikan untuk menjualnya lagi ke Pasar.  Pada tempat yang baru, korban bersama kedua rekannya melihat bahwa ada seorang nelayan dengan perahunya yang baru kembali dari melaut dan membawa hasil tangkapan ikannya.

 

Korban langsung menghampiri  seorang nelayan dan bertanya berapa harga ikan tersebut tetapi masih dalam keadaan dialog datanglah seorang Brimob dan seorang anggota Tentara Nasional Indonesia (TNI) yang sebelumnya melarang mereka untuk membantu nelayan memindahkan ikan. Oknum Brimob dan oknum Tentara Nasional Indonesia (TNI) sering kali melakukan pungutan liar (Pungli) di Tempat Pelelangan Ikan (TPI)  Jembatan Puri, Klademak 2 Kota Sorong dengan besarnya uang yang ditarik sebesar Rp 300.000,00/perahu setiap hari.  

 

Anggota Brimob dan anggota TNI mendekati korban yang lagi berdialog dengan nelayan,   Brimob tersebut meneriki korban dengan kata-kata yang tidak santun dan tidak etis kepada korban sehingga ia bersama rekannya meninggalkan tempat tersebut serta tidak jadi membeli ikan dan pergi ke temapt yang masih satu lokasi dengan Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jembatan Puri Kota Sorong. Disana korban bersama rekannya membeli ikan seharga RP 100.000,00 tidak lama kemudian anggota Brimob dan anggota TNI mengejar mereka dan menghampiri korban kemudian korban mendapatkan pukulan langsung dari  Brimob dengan laras senjata dan tangan yang dikepal oleh Brimob,  namun pada saat kejadian pemukulan tidak ada pemukulan balasan dari korban kepada oknum Brimob dan oknum TNI.

 

Frans Kbarek bersama rekannya menghindari dan kembali ke Pasar yang merupakan tempat penjulan ikan. Dalam perjalanan pulang ke Pasar atau tempat penjualan ikan dan setibanya disana maka korban masih terbawa oleh amarah terhadap Brimob dan TNI yang memukulnya sehingga korban mengambil ikan yang dijual oleh seorang nelayan non Papua yang berasal dari daerah Buton yang memiliki hubungan kekeluargaan dengan Brimob dan membuagnya ke tanah. Melihat aksi tersebut, Brimob datang dan menghampiri korban kemudian melepaskan tembakan yang tertuju kepadanya. Lepasan tembakan pertama yang dilakukan oleh Brimob tidak mengenai korban, akhirnya Brimob melepaskan dentuman peluru yang kedua pun kelur dari moncong senjata sehingga mengenai korban bagian perut sebelah kanan dan pada saat itu juga korban jatuh tersungkur ke tanah. Tanpa berpikir panjang, Brimob tersebut melepaskan timah panas yang membabi buta keluar dari moncong senjata dengan empat kali tembakan sasaran adalah ke arah korban tetapi peluru tersebut tidak mengenainya. Korban pun dibawa oleh keluarga dan rekannya untuk mendapatkan perawatan medis di rumah sakit Tentara Nasional Indonesia Angkatan Laut (TNI AL) di Sorong.

 

Melihat aksi penembakan yang dilakukan oleh Brimob maka pada saat itu juga empat pemuda yang merupakan rekan kerja dan memiliki hubungan kekeluargaan yang dekat dengan korban merampas senjata dari tangan Brimob dan menahan senjatanya lalu memukul Brimob tetapi tidak terjadi luka fatal yang dialami oleh pelaku penganiayaan dan penembakan terhadap Frans Kbarek.

 

Perampasan senjata yang dilakukan oleh ke empat pemuda tujuannya hanya satu yaitu mengamankan senjata agar Brimob tidak melepaskan tembakan yang membabi buta sehingga peluru tersebut bisa menyasar dan mengenai warga masyarakat yang berada disekitarnya maupun masyarakat yang berada di lokasi kejadian. Upaya perampasan senjata yang dilakukan oleh ke empat pemuda dari korban bukan untuk menembak Brimob dan anggota TNI melainkan mengamankan senjata agar tidak terjadi kejadian-kejadian yang fatal bagi masyarakat yang dilakukan oleh aparat Brimob selaku penegak hukum di NKRI.

 

Senjata yang dirampas oleh ke empat pemuda langsung diserahkan kepada anggota Polres Sorong yang berada dilokasi kejadian. Anggota Polres tersebut datang ke pasar penjualan ikan di Jembatan Puri, Klademak 2 Kota Sorong untuk mebeli ikan dan tidak memiliki niat untuk membantu oknum Brimob yang sudah menembak Frans Kbarek.  Pemuda yang merampas senjata dari tangan Brimob dalam keadaan normal artinya tidak mabuk atau tidak minum  minuman beralkohol yang diberitakan oleh media daerah Sorong, media daerah  berusaha untuk menutup kasus penganiayaan dan menyampaikan berita hoax ke publik yang tidak objektif terkait kasus  penembakan yang dilakukan oleh anggota Brimob sebagai kaki tangan dari Negara Indonesia untuk menindas orang asli Papua (OAP) di tanah kelahirannya sendiri.

 

Tindakan-tindakan tidak berperikemanusiaan yang dilakukan oleh TNI dan Polri bukan hanya hal baru yang dilakukan, melainkan menjadi hal biasa yang dilakukan oleh TNI-Polri yaitu melakukan  tindakan pembantaian, penembakan, penangkapan, penganiayaan, penghilangan nyawa dan diskriminasi terhadap orang asli (OAP) dari Merauke sampai Sorong dari tahun 1961 – hingga kini dan termasuk masalah-masalah pelanggaran Hak Asasi Manusia (HAM) terberat yang tidak diselesaikan oleh Negara Indonesia.

 

Berdasarkan hasil wawancara pada hari Sabtu, 16 Juni 2018 dengan Paul Finsen Mayor, S.IP selaku Ketua Dewan Adat (DAP) wilayah III Doberay yang menanggapi mengenai kasus penganiayaan dan penembakan yang dilakukan oleh anggota Brimob dan anggota TNI terhadap Frans Kbarek (28 tahun) di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Jembatan Puri Klademak 2 Kota Sorong, ia merasa sangat kecewa dengan tindakan penganiayaan dan penembakan yang hampir menewaskan nyawa seorang nelayan yang bernama Frans Kbarek. Aksi koboy yang dilakukan oleh oknum aparat ini merupakan pelanggaran HAM dan pelaku segera harus diproses hukum dan dipecat dari kesatuannya sebab telah mencederai institusinya.

 

Kami mendesak segera dijatuhkan hukuman seberat-beratnya  kepada pelaku jangan sampai ada tindakan tebang pilih dalam penanganan kasus ini maka kami mau melihat sejauh mana keseriusan aparat keamanan dalam memproses kasus ini.

 

Kasus penganiayaan dan penembakan terhadap Frans Kbarek ditangani langsung oleh Ketua Dewan Adat (DAP) wilayah III Doberay, Ketua Majelis Rakyat Papua (MRP) Papua Barat,  anggota Dewan Perwakilan Rakyat Daerah Sorong (DPRD) Sorong, pengacara dari pihak korban untuk terus mengawal dan mendorong kasus ini sampai di meja hijau agar memberikan efek jera hukum bagi para aparat baik TNI maupun Polri yang bertugas di seluruh daerah Papua.

 

 

(Admin/KM)  

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait