Kronologi  Singkat Versi Ibu Korban  A dengan Terduga Pelaku AG

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

17 Hari yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Ilustrasi-IST

 

JAYAPURA, KABARMAPEGAA.com--Koalisi Masyarakat Sipil Anti Kekerasan Seksual telah menghimpun sejumlah informasi dan kronologis dugaan Kasus Pemerkosaan atas seorang Pelajar SMA berinisial “A” dengan terduga pelaku “AG” seorang ASN di lingkungan Pemerintahan Provinsi Papua.

 

Kronologi ini berdasarkan keterangan yang telah beredar diberbagai media dan hasil wawancara bersama Ibu Korban, termasuk diungkapkannya proses pelaporan dengan menempuh jalur hukum hingga proses atau jalur lainnya yang ditempuh oleh Keluarga Korban.

 

Pada 28 Januari ibu korban AN dihubungi oleh AG yang meminta nomor telepon A putri AN yang masih duduk di bangku Sekolah Menengah Atas (SMA) kelas XI. Tanpa menaruh Curiga nomor telepon A diberikan kepada terduga pelaku AG. Setelah mendapat nomor A, AG lalu mengajak  A untuk makan  disebuah hotel di kawasan Setiabudi, Jakarta Selatan.

 

A lalu diajak kekamar oleh AG dengan alasan ingin membicarakan sesuatu sebagaimana yang ditulis dimedia, namun ibu korban mengatakan alasan lainnya ketika diikonfirmasi oleh koalisi yakni tidak enak dilihat oleh orang karena A masih menggunakan seragam sekolah dan AG sendiri adalah pejabat. Sesampainya dikamar hotel yang terletak dilantai 5 hotel tersebut A lalu ditawarkan  segelas minuman yang diduga sudah dicampurkan obat tertentu kedalamnya yang membuat anak AN ini menjadi pusing dan tidak sadar. Berdasarkan keterangan AN ibu korban, minuman tersebut bahkan belum diminum sampai habis.

 

Kejadian pelecehan ini terjadi sekitar pukul 17.00 WIB, dan ketika A sadar ia baru mengetahui pakaiannya sudah terbuka. A langsung memutuskan untuk pulang sendirian dengan menggunakan ojek (sesuai keterangan pengacara AG yang dimuat di Cendrawasih POS).

 

(Catatan Tambahan dari Media Cetak Cepos 06 Februari 2020 : Ketemu iya benar, dan pertemua AG dan korban disalah satu hotel karena AG pernah berjanji akan memberikan korban uang jika ke Jakarta, selain itu pertemuan saat itu, korban masih menggunakan pakaian sekolah, juga tak berlangsung lama, setelah bertemu korban lalu pulang pakai ojek dan ada fotonya, korban menyampaikan jangan memberikan uang itu kepada sang ibu melalui transfer karena bisa jadi uang tak sampai kepada dia sehingga uang diberikan secara langsung, AG dipanggil tete oleh A )

 

Ibu Korban menerima telepon dari  ayah korban yang berada di jayapura pada sore hari ( “Sorean”  petang hari). Ibu korban lalu melapor bersama seorang guru dan sekitar 10 orang teman korban (menurut penuturan Ibu Korban). Saat melapor “mereka bagian PPA bilang kurang peluru asalannya mungkin uang atau apa, ya itu membuat saya marah dan jengkel. Makanya saya lihat wartawan minta diwaancara” kata ibu korban.

 

Menurut ibu korban mereka lalu pindah kekantor polisi Metro Jakarat Selatan (Jaksel) PPA I  dan duduk di Metro Jaksel sampai larut malam. Akhirnya, kasus ini lalu resmi diterima pada 29 Januari 2020 (januari) dengan Nomor Laporan Polisi : LP/199/K/I/2020/PMJ/ Restro Jaksel, tanggal 29 Januari 2020 atas nama Korban “A”(nama disamarkan). Informasi ini dibuktikan dengan foto dari usrat laporan polisi yabg dikirimkan oleh ibu korban.  

 

Berdasarkan informasi dari Ibu Korban barang bukti yang pertama diserahkan kepihak kepolisian adalah Celana Dalam Korban. Ibu korban juga saat dihubungi menjelaskan bahwa dia harus bolak-balik ke pihak kepolisian untuk terus mengecek sudah sejauh mana proses penyelidikan.

 

Sejak dilaporkannya kasus tersebut hingga 06 Februari 2020, kontak pertama koalisi dengan Ibu Korban, ibu korban masih mengeluhkan kerja kepolisian yang dinilainya lambat. Ibu korban juga menerangkan bawah mereka telah didampingi oleh pengacara yakni Peter El dan Rekan. Pada saat dihubungi tersebut keluarga korban meminta pertanggungjawaban  Hukum terduga Pelaku “AG”.

 

Pada 07 Februari 2020, berdasarkan keterangan ibu korban, korban kini sedang dalam tekanan akibat berbagai pemberitaan yang menyudutkan dan berbau negatif terhadap dirinya. Menurut keterangan AN ibu korban media sosial milik A telah dinonaktivkan dan tidak menggunakan Handphone untuk menghindari tekanan yang lebih besar terhadap kondisi kesehatan mental anaknya. Ibu korban juga menerangkan bahwa mereka telah melaporkan ke pihak Lembaga Perlindungan Saksi dan Korban (LPSK) untuk mengawal kasus mereka dan hendak mengadukan kasus ini ke Pihak KOMNAS Perempuan Indonesia. Ibu korban juga menerangkan bahwa barang bukti berupa hasil visum, rekaman cctv dan saksi telah berada dipihak kepolisian.

 

Sekitar pukul 15.18 WIT ibu korban telah berada diruang lobby KOMNAS Perempuan. Pada pukul 15.31 WIT  Koalisi menerima telepon dari Ibu korban, dimana ibu korban menjelaskan bawah ia sedang menunggu kuasa Hukum Korban di Komnas Perempuan namun ditelepon oleh kuasa Hukum Korban yakni Peter El dan Rekans untuk dikonfirmasi  terkait pemberitaan dan atau informasi yang beredar terkait Pemberian uang sebesar Rp. 20.000.000 untuk kepentingan membayar uang sewa kos korban dan keluarga korban. Pada kesempatan tersebut Ibu korban melakukan klarifikasi dan lalu merasa perlu untuk mengajak pengacara korban Peter El dan Rekan untuk melakukan klarifikasi tersebut dimedia. Ibu korban lalu menerangkan bawah mereka masih menunggu kuasa hukum korban Peter El dan Rekan agar dapat bersam-sama bergegas bertemu orang KOMNAS Perempuan.    

 

Pada 08 Februari 2020, pukul 11:37 WIT, ibu korban memberikan informasi bahwa segera keluarga besar Korban di Jayapura (Dabeduku Niniwen) akan melakukan siaran pers. Dan beritanya muncul dimedia pada hari itu juga di berita online media kawattimur.id dan menerangkan bahwa keluarga telah melaporkan dan mendaftarkan kasus “A” ke KOMNAS Perempuan.

 

Hingga pada 09 Februari 2020, Ibu korban menegaskan kembali bahwa anaknya tetap akan menutut melalui jalur Hukum didampingi Tim Kuasa Hukum yang ada.

 

Demikian kronologi singkat ini dibuat menurut keterangan Ibu Korban.

 

ADMIN

 

#Ekonomi, Sosial Budaya dan Pendidikan

Baca Juga, Artikel Terkait