Kronologis Aksi 1 Mei 2019 oleh KAMRAT di Yogyakarta

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

2 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Masa aksi yang tergabung dalam Komite May Day untuk Rakyat (KAMRAT) membentuk pagar betis di depan Asrama Kamasan 1 Yogyakarta untuk mendobrak polisi yang menghadangi aksi masa. Doc.(Francisko Raimon Mofu). Yogyakarta, 1 Mei 2019.

 

Oleh, Frengky Syufi)*

 

SORONG, KABARMAPEGAA.com--Pada tanggal 1 Mei 2019 dapat diperingati sebagai Hari Buruh Internasional yang dirayakan oleh semua buruh di seluruh belahan dunia. Selain itu juga, 1 Mei 2019 diperingati sebagai Hari Aneksasi Papua ke Negara Indonesia mulai dari 1 Mei 1963 sampai 1 Mei 2019. May Day dapat dirayakan oleh para buruh di Indonesia sebagai hari buruh dan seluruh masyarakat Papua untuk melawan lupa Hari Aneksasi Papua ke Negara Indonesia dalam kurun waktu 56 tahun. Negara Indonesia semestinya memberikan jaminan keamanan dan membuka ruang demokrasi seluas-luasnya bagi para buruh yang memperingati May Day sebagai hari buruh dan masyarakat Papua yang melawan lupa Hari Aneksasi Papua ke Negara Indonesia untuk menyampaikan pendapatnya di muka umum yang telah di jamin dalam Undang-Undang Dasar 1945 Pasal 28e ayat (3) yang menyatakan bahwa “setiap orang berhak atas kebebasan berserikat,  berkumpul dan  mengeluarkan pendapat”. Untuk mewujudkan kemerekaan berserikat dan berkumpul, mengeluarkan pikiran dengan lisan dan tulisan dan sebagainya ditetapkan dengan undang-undang (Pasal 28 UUD 1945) sehingga dibentuklah Undang-Undang Nomor 9 Tahun 1998 tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum.

 

Negara Indonesia seharusnya memberikan kepastian hukum dan membuka ruang demokrasi yang seluas-luasnya bagi Warga Negara Indonesia yang menyampaikan pendapat atau berekspresi secara damai di muka umum tanpa ada rasa takut ataupun cemas. Hal tersebut sangat bertolak belakang dengan negara Indonesia yang menganut sistem demokrasi dan merupkan negara hukum ( Pasal 1 ayat (3) UUD 1945. Praktik-praktik Negara Indonesia pada saat ini melalui para militernya Tentara Nasional Indonesia (TNI) dan Kepolisian Negara Republik Indonesia (POLRI) merupakan praktik-praktik militer yang bersifat otoriter dan diktator yang dipraktikkan dari zaman Orde Baru (ORBA) hingga era reformasi ini.

 

Praktik-praktik militer Indonesia (TNI dan POLRI) yang lebih otoriter dan diktator dapat kita jumpai pada May Day 2019 di kota studi Yogyakarta. Peristiwa serupa tidak hanya terjadi di kota Yogyakarta tetapi terjadi di berbagai kota studi yang lain dan sering kali terjadi pada beberapa dekade sebelumnya di Indonesia dan di Papua. Peserta aksi May Day yang tergabung dalam KAMRAT ( Komite Aksi May Day untuk Rakyat) yang memperingati Hari Buruh Internasional dan melawan lupa 56 Tahun Aneksasi West Papua ke Indonesia telah menyepakati secara bersama untuk melakukan aksi damai dari Asrama Kamasan 1 Yogyakarta menuju Titik Nol Kilo Meter. Aksi May Day dapat dihadangi oleh para militer (TNI dan POLRI) di depan Asrama Kamasan 1 Yogyakarta agar masa yang tergabung dalam Komite Aksi May Day untuk Rakyat (KAMRAT) tidak boleh keluar dari Asrama Kamasan dan berjalan kaki ke titik nol kilo meter untuk melakukan aksi secara damai. Masa yang tergabung dalam aksi mendapat penghadangan, tindakan represif, pemukulan dan perusakan oleh aparat Kepolisian Resort Kota Yogyakarta terhadap masa aksi.

 

Pada pukul 07.00 WIB, masa aksi berkumpul di titik kumpul Asrama Kamasan 1 Yogyakarta untuk mempersipkan perangkat aksi May Day. Pukul 09.45 WIB, masa aksi bersiap kemudian berbaris lalu keluar dari Asrama Kamasan untuk melakukan long march menuju Titik Nol Kilo Meter. Pukul 10.00 WIB, Kapolresta Yogyakarta dan seorang Polisi yang bernama Armaini menghalangi masa aksi yang menuju ke Titik Nol Kilo Meter untuk melakukan aksi damai memeringati Hari Buruh Internasional dan Hari Aneksasi Papua ke Indonesia, kata Kapores dengan alasan bahwa ada masa tandingan dari Ormas Paksi Katon dan FJR. Kapolres bersikeras agar masa aksi yang tergabung dalam KAMRAT berpindah lokasi aksi. Jam 10.10 WIB, negosiator, koordinator aksi dan pendamping hukum dari Lembaga Bantuan Hukum (LBH) Yogyakarta melakukan perundingan dengan Kapolres agar masa aksi tetap bisa bergerak menuju Titik Nol Kilo Meter. Pukul 11.00 WIB, perundingan  berjalan alot dengan aparat keamanan dan pada akhirnya masa aksi dari KAMRAT berkompromi dan akan berpindah titik aksi menuju ke Monumen Tugu Jogja namun para aparat keamanan (Polisi) tidak menerima permintaan yang ditawarkan oleh masa aksi melainkan para aparat keamanan memaksa agar masa aksi yang tergabung dalam KAMRAT agar melakukan aksi di Balai Kota Yogyakarta. Pukul 11.15 WIB, masa aksi membangun barisan dan tetap bergerak keluar dari Asrama Kamasan namun masa aksi dihadang dan dipukuli oleh Sabhara. Tepat pada pukul 12.00 WIB, saling dorong kembali terjadi antara aparat kemanan dengan masa aksi yang tergabung dalam Komite May Day untuk Rakyat (KAMRAT). Masa aksi berhasil menerobos barikade Sabhara di pagar depan Asrama Kamasan 1 Yogyakarta, namun Polisi memblokade Jalan Kusumanegara menuju Titik Nol Kilo Meter dengan truk polisi. Polisi yang bernama Armaini juga merusak ampli mobil komando dari masa aksi KAMRAT. Pada pukul 12.15 WIB, peristiwa saling dorong kembali terjadi dan pemukulan yang dilakukan oleh aparat Kepolisian Resort Kota Yogyakarta terhadap masa aksi sangat bruntal dan polisi mulai menembakan gas air mata terjuju ke masa sehingga masa aksi berhamburan masuk kembali ke Asrama Kamasan 1 Yogyakarta. Pukul 13.00 WIB, masa aksi mengatur barisan lagi di dalam Asrama Kamasan 1 Yogyakarta. Tepat pada pukul 14.00 WIB, masa aksi yang tergabung dalam Komite May Day untuk Rakyat tetap melakukan aksi dalam bentuk menyampaikan orasi politik di depan Asrama Kamasan 1 Yogyakarta. Masa aksi yang tergabung dalam Komite May Day untuk Rakyat (KAMRAT) pun mengakhiri aksi pada pukul 15.30 WIB dengan membacakan pernyataan sikap politik terkait Hari Buruh Internasional dan Hari Aneksasi Bangsa West Papua ke Indonesia di depan Asrama Kamasan 1 Yogyakarta.

 

Korban pemukulan yang dilakukan oleh aparat kemananan (Polisi Resort Kota Yogyakarta) terhadap masa yang tergabung dalam aksi Komite May Day untuk Rakyat (KAMRAT) di kota studi Yogyakata antara lain sebagai berikut:

  1. Jhon Nawipa (21) luka di bibir dan jidat;
  2. Gasrul (22) ditendang di organ vital (organ kemaluan);
  3. Junior Ireuw (19) luka di leher;
  4. Wahyu (20) dipukul dan dicekik leher;
  5. Yoseph Sakof (21) luka di tangan;
  6. Yulianus Degei (21) luka robek di hidung;
  7. Fabby Pigome (22) luka di kaki (tulang kering dan jidat);
  8. Remis Praha (20) luka di bibir;
  9. Aris Yeimo (32) luka di jidat;
  10. Imam (21) luka di kaki
  11. Ali (25) luka di leher dan pelipis
  12. Fatihah (18) luka di kaki, sedangkan yang menjadi kerugian materil dari masa aksi yang tergabung dalam Komite May Day untuk Rakyat (KAMRAT) ialah ampli mokum dirusak oleh Polisi.

Pemerintahan yang Otoriter dan Diktator ialah Wajah Negara yang tidak Menjunjung Tinggi Hak Asasi Manusia (HAM)”

 

Penulis adalah Alumni Universitas Sanata Dharma Yogyakarta)*

Baca Juga, Artikel Terkait