Kronologis Penangkapan  Pimpinan Bem PT Ternama di Papua "Tersangka"

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

1 Bulan yang lalu
HUKUM DAN HAM

Tentang Penulis
Presiden Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Alexander  Gobai dan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( Fisip ) Universitas Cenderawasih ( Uncen ), Ferry Kombo.

 

JAYAPURA, KABARMAPEGAA.com--Presiden Mahasiswa Universitas Sains dan Teknologi Jayapura (USTJ), Alexander  Gobai dan mantan Ketua Badan Eksekutif Mahasiswa ( BEM ) Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik ( Fisip ) Universitas Cenderawasih ( Uncen ), Fery Kombo diatangkap dengan tuduhan pihak yang memprovokasi massa aksi pada bulan Agustus l 2019 saat seluruh masyarakat Papua protes atas tindakan rasisme yang menimpah mahasiswa Papua di Surabaya, Malang dan Semarang, jelang HUT kemerdekaan RI, ke- 74 tahun, tepatnya pada tanggal 15-19 Agustus 2019.

 

Mahasiswa diteriaki ‘Monyet’ oleh ormas dan oknum aparat keamanan Indonesia, dan menggrebek asrama mahasiswaPapua  Surabaya. Dan  selanjutnya, menangkap puluhan mahasiswa. Masyarakat dan  Mahasiswa Papua seluruh Indonesia melakukan protes besar-besaran, terutama di wilayah Papua dan papua Barat. Sampai di beberapa tempat, Aparat melepaskan tembakan kepada massa aksi dan mengorbankan nyawa menggunakan senjata milik Negara [Deiyai dan Fakfak] .

 

Mahasiswa Jayapura, berseragam lengkap dengan Almamater warna Kuning, yang berasal dari USTJ dan Uncen tak gentar mendur walau dipukul mundur oleh aparat. Ketua BEM USTJ dan Mantan Bem Uncen,  dalam aksi tersebut sebagai koordinator yang memimpin  massa [mahasiswa].

 

Ribuan massa yang adalah masyarakat asli Papau dan beberapa warga pendatang yang dengan tegas menolak aksi rasisme itu berujung pada penangkapan yang oleh pihak–pihak berwenang [bantuan hukum] menilai telah melampui batas.

 

Dengan jumlah masa yang mencapai ribuan itu, di sisi lain tidak dapat di kontrol dengan baik. Baik itu secara emosional setiap individu yang ikut terlibat protes rasisme  itu. Massa menduduki kantor Gubernur Papua, Kabal telkom dipotong oleh massa dan kantor MRP di Jayapura dibakar massa.

 

Media nasonal menyiarkan peristiwa tersebut. Sementara menurut aktivis kemanusiaan di Papua,  aparat  sedang membangun isu yang tidak benar di media massa. Hal itu dikatakan setelah melihat dan membaca setiap berita yang ditayang. Menurut mereka, aparat sedang menciptkan horisontal [orang Papua menyerang pendatang]. Bahkan jauh sebelumnya, terdapat beberapa kelompok pendatang yang diduga dimilisi oleh aparat keaaman menyerang asrama milik mahasiswa asal Wamena di Jayapura. Dalam kejadian itu, terdapat tiga orang tertembak oleh peluruh api dan alat tajam.

 

Sebelumnya, ditegah situasi yang memanas itu, Kominfo  memutuskan sambungan Internet, alasannya untuk  supaya tidak tersebar luar  ujaran  Hoax. Namun lagi-lagi hal itu menjadi sorotan Dunia.

 

Massa aksi yang memutuskan kabel telkom dan dan membakar kantor  MRP itu, setelah akses internet diputus di wilayah Papua dan Papua barat. Sementara, Kantor MRP  yang oleh massa juga menjadi sasaran karena dinilai telah lalai dalam mengelurkan maklumatnya.

 

Koorditaor aksi massa yang berpakaian almamater [Alex dan feri] kembali jadi tersangkah. Dinilai telah memprovokasi massanya untuk membakar gedung tersebut. 16 Agustus 2018. Pukul : 15:59 waktu Papua adalah hari dimana penangkangkapan terhadap Ketua BEM Uncen: Ferry Kombo itu dilakukn oleh pihak kepolisian setempat tepatnya didepan Rumah Sakit dian harapan waena oleh polisi. Setelah itu, Alexander Gobai pun ditangkap pada tanggal 7 September 2019. Dengan tuduhan yang sama.

 

Sementara, penyelesaian atas pelaku ujaran rasisme  tak kunjung ada, walau sempat menyebutkan salah satu pelaku yang menggerakan ormas di Surabaya dan beberapa oknum lainnya telah ditangkap  oleh Polisi dan  sedang dimintai keterangan. Sementara onkun TNI yang juga mengatakan mahasiswa Papua monyet itu belum ada angin segar, artinya belum mendapatkan benag merahnya. Dan bagi mereka yang menuntut haknya supaya dihaormati sebagai manusia yang mempunyai akal dan pikiran itu, akhirnya berujung pada penangkapan.

 

Rata-rata massa aksi tolak ujaran rasisme menuntut supaya negara Indonesia untuk memberikan kemerdekaannya bagi orang Papua. Kemerdekaan yang dimaksud itu, pun didukung oleh UUD 1945. “Kemerdekaan adalah hak segala bangsa....”.

 

Kronologi Penangkapan Ketua BEM USTJ

Selanjutnya, peristiwa penangkapan yang menimpah Ketua Bem USTJ yang juga sempak sebelumnya menyerukan mogok  dan meminta hak-haknya bagi mahasiswa di USTJ  itu,  akhirnya harus berada di  balik jeruji.

 

Sebagaimana informasi yang diihimpun media ini, terutama terkait kronologi penangkapan Presiden Mahasiswa USTJ, yakni:

 

Pada Hari Jumat 6 September 2019, Koalisi BEM se-Jayapura mengadakan rapat evaluasi terkait aksi Rasisme jilid ll yang telah berlangsung beberapa saat lalu (29/19). Rapat bertempat di asrama Tolikara, Jln. Kampung Yoka-waena. Beberapa koalisih BEM hadir dan mengikuti Rapat Evaluasi tersebut, termaksud Presiden Mahasiswa USTJ.

 

Selepas Rapat tersebut, Alexander hendak bepergian menuju kediamannya sekitar pukul 2.15. Siang bersama  dua  rekanya (Irwanus dan Agustinus) menggunakan Pickup. [warna, merek belum diketahui]  menuju Kotaraja. Setibanya di depan gang Jalan masuk kediamannya,  pada pukul 15. 35 waktu Papua. Sore, beliau di hadang oleh beberapa orang tak di kenal menggunakan pakaian preman bersebelahan Jalan Entrop,  Padang Bulan  Kotaraja, Jayapura depan kantor DPR kota Jayapura.

 

Kemudian Presiden Mahasiswa dan ke-2 rekannya di bawah ke-Mako Brimop melalui Skyland dengan keadaan mata tertutup menggunakan kain hitam. [Mobil yang mereka bahwa itu tidak belum diketahui]. Setelah tiba mereka bertiga dibawa masuk terbisah menuju MAKO BRIMOB Kotaraja. Presiden mahasiswa USTJ dan Ke dua  rekannya  ditempatkan di kamar yang terpisah.

 

Kronologi Penangkapan Mantan Bem Uncen

 

Sementara itu, Ketua BEM Uncen, Ferry Kombo yang ditangkap Aparat, menurut laporan, terkadi tepat pada hari ini Kamis, 16 Agustus 2018. Pukul : 15:59 waktu Papua telah penangkangkapan terhadap Ketua BEM Uncen: Ferry Kombo didepan Rumah Sakit dian harapan waena oleh polisi.

 

Menurut saksi mata, bahwa  Ferry menggunakan mobi keluar dari Sekret Kabesma dengan beberapa kawan-kawan; Ada satu motor KLX mengikutinya dari belakaang. bagian depan poster polisi p3, beberapa menit Kemudian ada 1 mobil strada dan ada 7 mobil kaca gelap mengikutinya. Tepat di Dian Harapan jalan proyek, alias presma sedang berkendara namun tiba-tiba anggota polisi palang tiba* menggunakan motor KLX Yg di kendarainya.

 

Kemudian saat itu juga president Mahasiswa Uncen Ferry bom kombo & agus Helembo ditangkap, dan dibawa ke kapolres kota jayapura.

 

Persitiwa yang menimpa pimpinan mahasiswa Papua di Jayapura itu, menjadi  sorotan pengamat hukum. Dengan mudahnya Kepolisian Papua menyatakan ‘tersangkah’ atas kericuhakan yang terjadi belum lama ini.

 

Bunyi Surat Perintah Penahanan Ketua Bem USTJ

 

Dalam surat Perintah Penahanan yang diterima media kabar Mapega,  Kepolisian Papua, dengan nomor: SP. Han/270/IX/RES. 1.24/2019/Dit Reskrim menulisaskan penangkapan Alexander itu berdasarkan hasil pemeriksaan yang katanya telah diperoleh bukti yang cukup.

 

Surat penangkapan yang diperitakan kepada 6 pimpinan di Keolisian Papua untuk mengkap Alexander karena pihak kepolisian menilai  Alexander telah melakukan tindakan melanggar hukum.

 

"...tindak pidana kejahatan terhadap keamanan negara/makar dan atau menyiarkan suatu berita atau mengelurakan pemberitahuan  yang dapat menimbulkan keonaran dikalangan masyarakat dan atau menyiarkan kabar yang tidak pasti atau kabar yang berlebihan serta penghinaan terhadap bendera, bahasa , lambang negara serta lagu kebangsaan," papar dalam surat penagkapan yang ditangdatangi oleh  Komisaris Besar Polisi di Papua.

 

Sementara itu, surat perintah penahan terhadap mantan Bem Uncen, sampai saat ini, redaksi belum mendapatkan dan belum bisa memastikan tuduan yang diutarakan oleh Kepolisian setempat, walau dalam beberapa media menyebutkan telah melakukan tindak pidan melanggar keamaaman negara. Serupa dengan yang menimpah Alexander Gobai.

 

Tindakan Kepolisian di Mata Penegak Hukum

 

Walaupun demikian, menurut hukum yang ada, Polisi dilarang masuk kampus dan apalagi mencoba menghadan massa aksi yang juga adalah mahasiswa. Massa aksi [mahasiswa] didukung oleh UU hak  menyampaikan pendapat, sebagaimana amanah UU yang berlaku. Hak menyampaikan pendapat juga sebagai bagian yang tidak terlepas dengan hak asasi manusia.

 

Seperti yang disampaikan oleh Komna HAM, alih-alih mencegah ketegangan, keputusan pemerintah memblokir internet di Papua justru menambah ketegangan. "Yang pasti itu melanggar hak, itu melanggar hak asasi manusia. Kalau itu ditujukan untuk mencegah ketegangan yang ada semakin tegang," kata Choirul kepada Kompas.com, Senin (26/8/2018).

 

Massa aksi dibawa koordinator kedua Bem diatas juga adalah saat menyampaikan pendapat di muka umum. Mreka [mahasiswa] meminta supaya adili pelaku ujaran rasisme. Dan dalam keadaan yang membuat rakyat papua protes itu,  dan minta merdeka atau massa aksi meneriaki Papua Merdeka juga adalah bagian dari hak menyampaikan pendapat yang hatus dilingdungi oleh semua pihak, terutama aparat keamanan. Jika ada masyarakat Papua yang  marah, dan merusak fasilitas umum adalah bentuk dari perlawan mereka. Saat harkat dan martabatnya dilebelkan dengan binatang.

 

Jika, Kedua Pimpinan Mahasisw tersebut, sampai dijatuhi hukuman tindak pidana, maka itu kemungkinan akan menimbulkan masalah lain. Sebab, setiap kata dan tindakan  yang dilakukan  saat dalam aksi adalah bagian dari bentuk protes.  Jika dugaan seperti yang dipaparkan dalam surat perintah penahanan itu, sebagai alasan yang kuat maka, sejak surat itu dikeluarkan kepolisian telah melakukan tindakan yang keliru dalam penyelesaian kasus ujaran rasisme yang menimpah mahasiswa Papua di Jawa, tepatnya di asrama mahasiswa Papua Surabaya.

 

Pewarta: Manfred Kudiai dan Yudas Nawipa

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait