Lembah Kebar Papua Menjadi Kenangan Akibat Perusahan Kelapa Sawit

Cinque Terre
Alexander Gobai

4 Bulan yang lalu
OPINI

Tentang Penulis
Pemimpin Umum dan Redakur Media Online Kabar Mapegaa (KM)

Oleh, Maximus Sedik-Syufi)*

 

OPINI, KABARMAPEGAA.com--Kebar terhampar lembah yang hijau dengan pemandangan alam yang mempersona membuat siapapun menginjak kaki di tempat ini jatuh cinta dan tidak meniggalkan tempat ini atau tidak ingin pulang segera. Cerita tentang pesona alam negri ini sedikit demi sedikit mulai pudar bahkan hilang. Suka atau tidak suka semua kondisi ini akan berubah karena tuntutan perubahan yang terjadi secara global. Bertambahnya jumlah penduduk dunia yang bertambah mengakibatkan kebutuhan semakin tinggi termasuk pangan, energy dan lainnya, semakin meningkat sehingga berdampak pada tanah, air, hutan sebagai ibu kitapun akan hancur akibat keserakahan anak-anaknya.

 

Bagimana dengan kebar saat ini ? Kebar saat ini berjalan menuju problem serius. Dahulu berbagai problem  yang terjadi di Papua seperti kerusakan hutan , kekerasan, pembunuhan, dan berbagai persoalan lain kita sering mendegar cerita bahkan menceritakan berbagai persoalan lain yang sering kita mendengar cerita bahkan menceritakan  berbagai persoalan yang terjadi di daerah lain seakan –seakan jauh dari jangkauan kita atau tidak akan terjadi di wilayah kita namun, saat ini semua kisah yan kita ceritakan telah mulai terjadi di depan mata kita atau dekat dengan pelukan kita dan kita tidak bisa menghindar .persoalan ini terjadi karena adanya sistem yang dibagun seperti matarantai antara pemangku kebijakan. Untuk melihat persoalan ini harus adanya kesadaran secara bersama, dari anak negri  semua sehingga adanya getaran suara kenabian untuk sesama. (Grup, Wa. ASTAM. Kaka. Paul Baru)

 

Persolan yang terjadi di kebar merupakan persoalan anak negeri sediri sebagai pemangku dan penentu kebijakan. Yang memutusan suatu kebijakan dengan konsep perubahan dan kemajuan suatu daerah. Kebijakan  yang diputuskan  oleh anak Negeri didasarkan pada berbagai alasan melalui analisis berbagai tinjuan yang berbeda, tujuan untuk menjawab apa disebut dengan kesejahteraan bagi masyarakat. Yang menjadi pertanyaan saya, apakah sistem kebijakan yang ini berdasarkan kebijakan sediri atau bisikan lain? atau berdasarkan butir yang terdapat pada dasar hukum dimana hak untuk mengursi daerahnya masing-masing. Ketika  kebijakan yang diputuskan atas dasar bisikan secara tidak langsung anak negri membunuh dirinya sediri.

 

Saya kategorikan persoalan yang terjadi di lembar kebar  termasuk sebagai kejahatan kerah putih atau white collar crime , suatu tindakan kecurigaan  yang dilakukan oleh seseorang yang memilki posisi dan wewenang cukup tinggi pada sektor pemerintahan maupun sektor swasta, sehingga dapat mempengaruhi suatu kebijakan  dan keputusan. Menurut Edwin H. Sutherland, white collar crime merupakan kejahatan yang dilakukan oleh seseorang yang sangat terhormat dan berstatus sosial tinggi di dalam pekerjaannya.

 

Dilihat dari penadapat Edwin, dalam persoalan perkebunan jangung atau dalam isu-isu yang berkemabang dari kalangan yang secara bijak adalah, perencanaan perkebunan kelapa sawit. Yang sudah dinyatakan mempunyai dasar hukum yang secara sah meliputi pertama: Rekomendasi Bupati Tambrauw Nomor. 551/296 Tahun 2015, tentang izin lokasi budidaya tanaman pangan dan pengolahan secara luas 19.368,77 ha di Distrik kebar dan senopi kepada PT Bintuni Agro prima perkasa. Dan kedua surat keputusan(SK) mentri kehutanan republik Indonesia No. 873/Menhut-II/2014, tentang pelepasan kawasan hutan produksi yang dapat dikonsevasi untuk perkebunan kelapa sawit atas nama PT Bintuni Agro Prima perkasa di kabupaten Tambrauw Provinsi papua barat seluas 19. 368,77 ha.

 

Dalam keputusan ini masih banyak perdebatan antara para politisi muda di Tambrauw, yang saling mencurigai antara sesama. Bahkan ada yang memberi respons bahwa yang membangun isu itu adalah kader yang mau mencalonkan diri pada PILEG 2019 mendatang “ mencari masa” untuk kedudukan dalam kursi parlemen. Ketika informasi yang berkembang berkaitan dengan persoalan kelapa sawit ini, kami dari mahsiswa Tambrauw Yogyakartapun sudah mendiskusikan bersama pada tanggal 11, November 2017 lalu di rumah belajar samuwuon. Selain diskusi ada juga yang menulis melalui media baik fb, wa, maupun majalah jaringan lainnya.  Tetapi perusahan bersangkutan tetap bekerja sesuai dengan perintah yang diperintahkan dari yang berwenag. Apakah itu perusahan atau pemerintah kami belum mengindentifikasi secara mendalam terkait apa yang terjadi. Untuk menyikapi kondisi ini saya secara pribadi sebagai anak Tambarauw memberi beberapa catatan:  yang pertama sebagai kader solusi yang berada di dalam rumah rakayat harus memediasikan antara yang berkepentinagn atau pihak-pihak yang berkepentingan bertatap muka secara langsung untuk memecahkan persoalan ini. Sehingga persoalan ini, tergamabar secara jelas dan mencari jalan keluar dan mengabil keputuasan yang tepat pada sasarannya. Yang kedua pihak-pihak yang berkepentingan seperti, LSM, Gereja, mahasiswa, dan masyarakat pemilik hak ulayat( pemilik tanah adat) maupun akademisi yang peduli tentang permasalahan ini, bersama dalam satu tujuan untuk membatasi dan membatalkan perusahan ini. Dan ketika mengadakan pertemuan dengan masyarakat dimana perusahan itu bekerja mendengar baik-baik apa yang disampaikan oleh masyarakat. Terkait dengan persoalan yang terjadi, dan dibuatlah suatu landasan yang sah seperti, surut penolakan yang ditanda tangi secara bersama dari pemilik tanah adat maupun pihak yang sebagai pemerhati persoalan ini. Dan diajukan surat penolakan  ini kepada yang bersangkutan, baik pemerintah setempat maupun kementerian terkait.

 

Untuk membagun suatu daerah, apakah dengan adanya perusahan seperti jangung, kelapa sawit, atau denagn cara mendatangi invertor-investor dengan modal yang besar sehingga memberi kontribusi untuk masyarakat ?. Atau dengan kebijakan yang tepat dan sesuai dengan apa yang dimiliki masyarakat setempat ? . Di kabupaten Tambrauw dilihat dari secara kondisi fisik daerahnya memiliki pontensi yang besar untuk memperdayakan masyarakat dan memajukan daerah. Segala sektor yang dirancang atau  menjadi tujuan utam kemajuan suatu dearah seperti Tambrauw ada sejak Tuhan ciptakan hutan dan manusia Tambruw. Dari semua sektor yang ada mempunyai lembaga yang bertanggung jawab secara hukum maupun administrasi sudah ada di pusat kabupaten. Yang menjadi persoalan adalah bagaiman lemabaga-lemabaga yang ada ini, bergeraka untuk mengeraki berbagai biadang yang ada di tubuh Kabupaten Tambrauw itu sediri. Sumber dana yang sebagai pembiayaan  sudah diberikan dari pihak yang berwenag untuk bagaimana mengerakan percepatan pemabagunan suatu daerah, melaluai bidang-bidangnya.

 

Ketika perusahan kelapa sawit diizikan untuk melakukan penanaman  di lemabah kebar, pertanyaan saya apakah  Tambrauw tidak memiliki potensi lain yang dikembangkan sehingga kelapa sawit sebagi solusi terakhir untuk dikembangkan dengan konsep kesejahteraan, dan kemajuan derah?.

 

Tetapi suatu perusahan seperti kelapi sawit tidak memberi kontribusi apapun untuk masyarakat local. Seluruh ekosistem baik flora maupun fauna hilang lenyap bersama lahan yang dikonversi dan akativitas warga di bumi dihanguskan . kehadiran perusahan kelapa sawit menghadirkan Transmigrasi yang cukup singnifikan dan akan menciptakan fenomena konflik  baru ditengah masyarakat. Musibah baru akan hadir ditengah masyarakat seperti, erosi, banjir, dan akan mengancam kehidupan masyarakat. Terjadinya degradasi hutan secara besar-besaran. Cara pandang(prespektif) tanah pertama: 1.tanah sebagai sumber budaya atau curtulre.2. tanah sebagai sumber ekonomi.3. tanah sebagai sumber politik. Pada point yang ketiga masyarakat harus waspada karena para kapitalis dan politisi sama-sama bermotif abau-abu jadi sulit untuk dibedakan.

 

 Sebagai generasi Tambrauw  yang memiliki wawasan tetang problem yang tejadi di papua, karena akibat dari suatu perusahan. Maka kita harus dengan bijak dan kritis untuk mengambil  keputusan sehingga keputusan tersebut tidak berakibat pada seluruh masyarakat Tambarauw. Dan segala keputusan yang berhubungan dengan kebijakan, harus berpikir secara jangka panjang untuk anak cucu kita yang berada di atas  tanah Tambrauw. Kita tidak menyesal atas kebijakan  kita sehingga mengakibatkan  seluruh masyarakat Tambrauw, baik secara sosial, politik, ekonomi maupun budaya setempat dan menimbulkan gejolak konfilik.

 

Mari kita selamatkan lembah kebar dari perusahan kelapa sawit.  “Kita masih hidup di atas tanah kita siapapun yang merampasnya kita lawan sampai kita ditelang”. 

 

“ Mengkrtik untuk memperbaiki bukan untuk menjatuhkan.

 

Penulis adalah mahasiwa Tambrauw kuliah di Yogyakarta)*

Baca Juga, Artikel Terkait