Lika-Liku Perjuangan Pilot Alion Belau hingga Menerima Pangkat Capten

Cinque Terre
Manfred Kudiai

1 Bulan yang lalu
PENDIDIKAN

Tentang Penulis
Pemred Kabar Mapegaa (KM)
Capten Alion Belau. IST

 

NABIRE, KABARMAPEGAA.com--Bertepatan dengan hari Paskah tepatnya Sabtu Suci  hari setelah Jumat Agung dan sebelum Minggu Paskah yang merupakan hari terakhir dalam Pekan Suci yang dirayakan oleh orang Kristen sebagai persiapan perayaan Paskah memperingati pada saat tubuh Yesus Kristus dibaringkan di kubur setelah pada hari Jumat Agung mati disalibkan, Kabar Mapegaa melakukan wawancara dengan Capten Alion Belau. Sabtu, (11/04).

 

Dalam wawancara tersebut, Capten Alion Belau, melalui usaha dan kerja keras melayani masyarakat selama 75 jam terbang membuatnya naik pangkat dari garis tiga menjadi garis empat dan garis empat merupakan pangkat terakhir seorang pilot dan resmi menjadi seorang capten pertama asal Intan Jaya.

 

Wawancara ini dilakukan guna mengetahui kerja keras Capten Alion mencapai gelar barunya dan salah satu upaya memberikan motivasi kepada generasi muda Papua yang sedang menempuh sekolah di penerbangan maupun pendidikan yan lain.

 

Dalam wawancara singkat, kepada Kabar Mapega, Capten Alion Belau mengatakan saat ini dirinya  terbang di perusahan milik pemerintah daerah Puncak Papua, namanya PT. Aviasi Puncak Papua. PT. Aviasi saat ini berdiri di bawa perusahaan  PT. Dabi Air Nusantara.

 

Lika-Liku perjuangan Pilot Alion Belau sampai menjadi Capten

 

Alion Belau saat ini resmi diangkat menjadi Capten  dari  PT. Aviasi Puncak Papua, di bawa naungan PT. Dabi Air Nusantara, setelah kurang lebih lima tahun melayani di daerah  Timika.

 

“Saya, hampir lima tahun setelah lulus dari sekolah Pilot. Dan saya melayani di daerah Papua, dan kebanyakan saya melayani di daerah Timika; Ilaga;  Beoga;  Sinak;  Sugapa;  Mulia; Kenyam, Agimuga; Kokonao dan Potowai buruh,” jelasnya.

 

Untuk mencapai gelar Capten tidak semudah membalik telapak tangan. Capten Alion Belau mesti mengikuti prosedur yang ada di PT tersebut.

 

“Untuk menjadi seorang capten, saya harus melakukan penerbangan beberapa jam yang di tentukan di dalam Operetion Manual  dari perusahan di mana saya bekerja. Sehingga  saya diminta untuk lakukan beberapa simulator training dan line trening,” bebernya.

 

Kata Capt. Alion, dirinya melakukan Simolator Training di Amerika  pada bulan Desember tepatnya pada tanggal 1 Desember 2019 lalu  tepatnya di Play Safety Wichita.

 

“Saya melakukan beberapa simulator trening untuk menjadi seorang capten di sana dan saya lulus dengan nilai yang memuaskan di Amerika. Dan pada kesempatan itu, saya melakukan training tentang pengetahuan pesawat yang saya terbangkan  di kelas selama beberapa hari  dan selanjutnya saya lanjutkan Training  Simulator untuk beberapa hari,” kata Capt. Alion, Pilot pertama suku Migani dari Intan Jaya ini.

 

Tidak sampai di situ, pada tanggal 19 Desember 2019 lalu, Capt. Alion, lanjutkan Training Capten di gunung. Dan  dari perusaan atau Operation Manual memintanya menerbangkan pesawat selama 75 jam.

 

“Syarat ini saya harus penuhi, sehingga, saya harus terbang selama 75 jam tersebut dan  kemarin tanggal 10 April 2020,  Jam penerbangan saya masuk pada target yang ditentukan sebagai PIC (Pilot In Coment) dan jam itu telah saya penuhi dan tepatnya kemarin saya dilantik menjadi  seorang Capten. Pangkat saya yang tadinya tiga garis sekarang naik menjadi empat garis. Dan itu pangkat terakhir dari seorang pilot,” katanya kepada kabarmapegaa.com.

 

Namun sebelumnya, selain 75 jam penerbangan, selama sekian tahun itu, Jam terbang Capten Alion sudah sudah mencapai kurang-lebih  2000 jam sebelum akhirnya menjadi seorang Capten.

 

“Jadi, kami di perusahan, ada perusahan yang terbang ada Single-Pilot Crew  (hanya satu pilot) dan Multi-Pilot Crew   (dua Pilot).”

 

 Di perusahan yang Capt. Alion kerja menggunakan Mult—Pilot Crew. “Saya selama training, saya di tuntun Instruktur yang training adalah Jesse Becker orang New Zealand. Dia juga sebagai salah satu yang dipercaya kan sebagai pilot yang punya kemampuan untuk cek seorang pilat yang mau  jadi capten di perusahan sehingga dialah orangnya  yang kemarin memberikan mandat kepada saya untuk menjadi seorang Capten.”

 

Yang dirasakan Capt. Alion saat terbang melintas Alam Papua

 

“Bagi saya terbang di Papua itu sangat-sangat mengesangkan. Saya sebagai anak  asli Papua, ketika  kembali berbakti untuk daerah saya,  Tanah Papua, saya selalu senang. Apalagi ketika saya terbang di gunung-gunung yang begitu  indah  ketika cuaca bagus, saya merasakan sesuatu yang berbeda dan saya bilang:  Tuhan terimakasih atas alam Papua yang indah dan  ini sungguh luar biasa.”

 

Capten Alion Belau mengaku saat dirinya mendarat di daerah-daerah gunung diatas, ketemu masyarakatnya pun selalu senang, karena dirinya bisa langsung lihat kondisi masyarakat di sana, bisa langsung memberikan motivasi secara tidak langsung ketika melihatnya. Dan saat  ketemu masyarakat di pedalaman rasa senang menyelimuti jiwa.

 

“Saat saya mendarat di gunung diatas, dan saat saya ketemu masyarakat di sana, sana pun selalu merasa senang. Karena kehadiran saya itu bisa memberikan motivasi secara tidak langsung, khususnya bagi gereasi muda Papua yang masih di bangku SD, SMP dan SMA sederajat,” bebernya.

 

Yang terkesan Capt. Alion Belau

 

“Ketika saya tiba daerah-daerah gunung di atas masyarakatnya pun saya selalu senang karena saya bisa langsung Lihat kondisi masyarakat di sana bisa langsung memberikan motivasi secara tidak langsung ketika mereka lihat saya.”

 

Kata Capt. Alion,  mereka (orang tua) juga harus  punya motivasi yang kuat memberikan dukungan ke anak-anaknya, saudara-saudaranya supaya dengan melihat saya mereka dapat tersentuh untuk mengejar kesuksesan dikemudian hari.

 

 “Lebih lagi sukses dalam rangka mencapai cita-cita yang mereka cita-citakan sehingga saya selalu merasa berkesan Ketika saya selalu melihat Kampung-kampung di daerah gunung. Dan terkesan adalah saat saya mendarat di kampung kehadiran saya (Intan Jaya), saya menyapa  masyarakat di kampung menggunakan bahasa daerah dan melihat alam yang sungguh luar biasa itu bagi saya adalah sesuatu yang terkesan dan itu tidak akan pernah saya lupakan.”

 

Pesan Capt. Alion Belau

 

Kemudian, lanjut Capt. Alion, saya pesan  kepada kita semua khususnya kita yang sudah terpanggil untuk melayani, saya mengucapkan  terima kasih karena telah melayani  masyarakat kita di Tanah Papua melalu panggilan kita masing-masing.

 

Sementara itu, Capt. Alion Belau juga mengatakan yang dulunya terisolasi sekarang mereka bisa punya akses yang baik untuk kesehatan dan ekonomi yang lain sehingga saya mau mengucapkan terima kasih buat seluruh Papua yang selalu senantiasa menolong menerbangkan pesawat.

 

“Saya pesan selalu patuh pada savety  dan selalu ikut aturan yang ada.  Jangan paksakan kalau cuacanya sudah tidak memungkinkan karena Papua itu satu kali kita mis atau satu kali kita  lalai membaca suasana/keadaan  alam serta  salah langkah maka tidak ada harapan lagi untuk hidup.  Itulah kenapa saya pesankan sebelum terbang selalu pastikan dalam  keadaan aman agar  selamat sampai tujuan.”

 

Motivasi Capt. Alion Kepada anak-anak muda Papua

 

“Kemudian saya berikan satu motivasi lagi untuk anak Papua.  Saya Alion Belau saya  anak gunung dari suku Moni, Kabupaten Intan Jaya saya juga berangkat dari orang tua yang tidak punya apa-apa, orang tua saya dulu Selama saya sekolah juga susah uang untuk membayar saya punya sekolah, sehingga saya juga harus bikin jerat di hutan potong makanan sapi untuk cari saya punya jajan dan lain-lain.”

 

Saya berangkat dari situ, sehingga saya punya komitmen yang besar sehingga Tuhan mengabulkan doa saya. Ketika saya berubah untuk menjadi yang lebih baik, otomatis keluarga saya juga akan berubah.

 

“Saya punya komitmen yang besar untuk mengubah kebiasaan dan cara hidup untuk menjadi orang yang luar biasa, orang yang sukses di kemudian hari. Sehingga komitmen itu  saya buat. Saya harus tetap fokus pada apa yang sudah menjadi tujuan saya. Soal ada  uang dan tidaknya urusan belakang yang terpenting adalah kita berusaha kerja keras,” katanya.

 

Kata Capten Alion, Ketika kita punya niat untuk  kerja keras maka  di situ pasti ada jalan keluar dan sebaliknya jika kita tidak kerja keras kita hanya mengharapkan orang dan lain-lain tidak ada lagi akan membantu kita untuk menjadi sukses.

 

“Orang jadi sukses itu ditentukan dari diri kita sendiri,  sehingga saya makan ubi,  Saya makan sayur, makan singkong setiap hari. Dan saya waktu ke sekolah, selalu  jalan kaki dari Kwamki Narama, Timika,  ke kota tapi lihat, akhirnya saya sekarang sudah menjadi kapten yang terbang di Papua daerah Timika.”

 

Capten Alion juga berpesan kepada mahasiswa yang sedang menempuh pendidikan penerbangan di luar negeri maupun dalam negeri ataupun dalam pendidikan apapun agar tetap semnagat, fokus pada tujuan dan buatlah komitmen diri agar memacu kita untuk mencapai cita-cita yang sudah kita mimpikan.

 

Kesulitan Capten Alion Belau  saat menerbangkan Pesawat

 

Terbang di wilayah pegunungan tengah Papua, khususnya di Timika, menurut Capt. Alion,  kelas-kelas yang paling sulit. “Kelas yang menurut saya, salah sedikit langsung mati tapi saya percayakan terbang di sini dan mendapat Kapten pangkat Kapten. Ini bagi saya sungguh luar biasa dan  kebanggaan buat saya sendiri serta keluarga.”

 

Capten Alion melayani dua Pasien PDP dari Puncak ke Timika

 

Setelah Lockdown, Alion masih melakukan penerbangan dari puncak Papua ke Timika membawa dua pasien PDP Covid-19  beserta satu orang Dokter yang menangani kedua pasien tersebut.

 

“Saya bawa lalu, dua orang, serta ditemani oleh satu  dokter, jadi tiga orang yang saya bawa dari Puncak (Ilaga) ke Timika. Dua orang ini pasien dalam pengawasan, diatasnya ODP. Saat itu, saya kemudian pesawat dalam kondisi  terlindungi lengkap menggunakan APD  lengkap yang dipakaikan oleh team medis,” katanya.

 

Capten Alion juga memberikan kabar terkait dua pasien yang dirinya antar dari Puncak ke Timika. “setelah dikonfirmasi oleh perusahan kami, mengikuti perkembangan mereka dua."

 

 Ternyata, kata Capt. Alion,  setelah beberapa hari kemudian, status mereka turun jadi ODP.  "Setelah ODP Puji Tuhan, kemarin saya ada lihat mereka dua sudah sembuh. Ternyata  mereka berdua bukan Covid-19, tetapi sakit biasa. Dan,  puji Tuhan mereka dua sudah kembalikan ke tempat masing-masing. Dan Kondisi terakhir, keadaan mereka dua juga baik-baik dan kami jugadalam keadaan yang  baik-baik,” jelasnya mengakhiri.

 

Pewarta: Manfred Kudiai/KM

 

 

 

#Mahasiswa dan Pemuda

#Papua Bisa

Baca Juga, Artikel Terkait