Mahasiswa Kecewa atas Buruknya Pelayanan Kesehatan di Dogiyai

Cinque Terre
Admin Kabar Mapegaa

1 Tahun yang lalu
KESEHATAN

Tentang Penulis
Puskusmas Modio, kab Dogyai, dibakar oleh warga setempat. (Foto: Fb/Ist)

 

DOGIYAI, KABAR MAPEGA.com --Mahasiswa Distrik Mapia Tengah Kabupaten Dogiyai sangat kecewa atas buruknya pelayanan kesehatan kepada masyarakat di Kabupaten Dogiyai, khususnya di  Distrik Modio  yang dari bulan Januari hingga pada bulan Juni  2018 aktivitas pelayanan tidak jalan semestinya. Hal ini disampaikan oleh Leo Kedeikoto sebagai anak daerah asal dari Modio kepada wartawan kabar mapega melalui pesan singkat pada hari Sabtu, (16/6/2018).

 

Dia menjelaskan saya sebagai putra daerah dari Modio tahu persis maka informasi ini berawal dari Istri Yohanes Kotouki, Albina Tekege mau melahirkan namun, takdir berkehendak lain akhirnya sang ibunya yang hamil itu meninggal dunia dengan plasenta bayi di dalam rahim. Sesampai disana saat proses kelahiran ini tidak ada petugas satupun di puskesmas yang ada di ibu kota Distrik sebagai pusat pelayanan sentral ini.

 

Untuk itu, mahasiswa asal Tota Mapiha meminta kepada pemerintah kabupaten Dogiyai dalam hal ini kepada Eksekutif, Legislatif, Dinas kesehatan segera melakukan evaluasi total jalannya pelayanan kesehatan di Kabupaten Dogiyai lebih khusus pada Puskesmas Modio

 

“Karena setiap manusia punya kerinduan dan harapan untuk ingin hidup sehat dan selamat dari berbagai penyakit yang datang menyerang pada tubuh manusia untuk menyatakan itu hanya kita bisa dapat teratasi lewat Puskesmas dan lewat doa puasa kepada Ugatee, Yesus, dan kepada Roh Kudus,” ujaranya.

 

Mantan kepala Puskesmas Modio mantri Dainel Tatago ketika dihubungi menyatakan bahwa kalau seandainya petugas ada, maka pasti ibu hamil itu bisa dapat tertolong oleh mantri dan Suster-Suster yang ada di puskesmas disitu.

 

Mantan kepala Puskesmas ini, kecewa atas aksi pembakaran puskesmas tersebut. Saat itu Bapak Tatago ini menjelaskan sambil menjujurkan air mata atas terjadi atas kejadian kebakaran puskesmas ini.

 

“Bukan hanya gedung saja yang dapat di bakar melaingkan juga habis terbakarnya penunggu puskesmas, semua terbakar hangus. Maka saya sebagai mantan kepala Puskesmas meminta kepada pemerintah daerah bersama Dinas terkait segera evaluasi kinerja tim medis yang bertugas di Puskesmas Modio,” pintanya.

 

Sekarang, lanjut Daniel,  gedung sudah seperti itu kita tidak bisa kembalikan oleh karena itu, pemerintah di anggarkan dana untuk membangun puskesmas yang layak.

 

Sementara itu, Intelektual Dogiyai Musa Boma dengan tegas menyatakan bahwa, pembakaran puskesmas bisa terjadi hanya karena semua petugas hilang dari tempat tugas rakyat menderita sakit berunjung pada kematian ibu hamil dan balita.

 

Oleh sebab itu, Kepada Dinas Kesehatan, Eksekutif, Legislatif bersama Intelektual yang ada di wilayah Dogiyai dan Tota Mapiha jangan salah paham atas pembakaran puskesmas ini tapi, betul-betul kita mengerti dulu siapa yang salah dan siapa yang benar.

 

“Gedung Puskesmas yang ada di Modio itu bukan sebuah perhiasan kampung tidak tapi itu harus di isi dengan petugas kesehatan dengan tujuan melayani rakyat setempat. Karena kepala puskesmas mantri suster-suster itu secara otomatis di biaya dan di gaji oleh Negara karena mereka menjalankan tugas Negara namun tidak menjalankan tugas terima gaji buta hal itu pun amat vital sekali di pertimbangkan oleh pihak yang terkait,” tegasnya mengakiri.

 

Pewarta: Manfred Kudiai

#Mahasiswa dan Pemuda

Baca Juga, Artikel Terkait